Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.
Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.
Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.
Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.
Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?
"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Satu Kamar Hotel
Pagi hari setelah kejadian di kamar Daviko, Saliha kembali membangun tembok yang jauh lebih tebal dan tinggi. Ia merasa sangat berdosa dan lemah karena telah membiarkan hatinya luruh dalam pelukan pria itu.
Maka, sepanjang hari, ia bersikap sedingin es. Ia hanya bicara seperlunya, menunduk saat berpapasan, dan sebisa mungkin tidak berada di ruangan yang sama dengan Daviko jika tidak ada Kaffara di antara mereka.
Namun, Daviko bukanlah pria yang mudah menyerah. Sejak "meriang" semalam, ia justru semakin bersemangat. Ia mulai sering melibatkan Saliha dalam urusan-urusan kecil di rumah, mulai dari memilihkan warna kemeja hingga menanyakan menu makan malam, semua itu ia lakukan saat Kaffara sudah terlelap, memaksa Saliha untuk tetap berada di dekatnya.
Hingga suatu hari, sebuah undangan acara dari kolega bisnis Daviko di luar kota datang. Acara itu diadakan di sebuah resort mewah di kawasan pegunungan yang asri.
"Saliha, bersiaplah. Kita akan ke luar kota besok pagi. Ada acara kolega yang harus kudatangi, dan aku tidak mungkin meninggalkan Kaffara di rumah tanpa pengawasanmu," ujar Daviko dengan nada perintah yang tidak bisa diganggu gugat.
Sejenak Saliha mematung, ia bingung harus melakukan apa, antara menolak dan menerima.
Namun, Saliha tidak punya pilihan. Sebagai pengasuh, ia harus mengikuti ke mana pun Kaffara pergi.
Sebelum pergi, Saliha berpamitan pada Bi Tita yang justru senang melihat Saliha bisa pergi menemani Daviko dan Kaffara.
"Pak Saga, tolong jaga pintu gerbang, jangan sampai mantan Ibu mertua atau Tari datang dan masuk rumah ini selama saya tidak ada," perintah Daviko tegas pada penjaga rumah sebelum ia pergi.
Perjalanan menuju luar kota memakan waktu beberapa jam. Suasana di dalam mobil cukup tenang, hanya ada suara ocehan bayi Kaffara yang sesekali menghidupkan suasana.
Daviko menyetir dengan tenang, sementara Saliha duduk di kursi belakang bersama Kaffara, menatap pemandangan di luar jendela dengan pikiran yang berkecamuk.
Sesampainya di hotel resort, matahari sudah mulai terbenam. Daviko melangkah menuju meja resepsionis, sementara Saliha menunggu di lobi sambil menggendong Kaffara.
"Maaf, Pak Daviko. Seperti yang sudah kami informasikan di telepon, saat ini ada high season dan ada kesalahan teknis pada sistem pemesanan kami. Kamar yang tersedia saat ini hanya satu unit Junior Suite," ujar petugas resepsionis dengan raut wajah penuh penyesalan.
Daviko mengernyitkan dahi. "Hanya satu? Saya memesan dua kamar yang berdekatan."
"Mohon maaf sekali, Pak. Semua kamar sudah penuh dipesan oleh tamu undangan acara yang sama. Namun, Suite ini sangat luas, memiliki ruang tengah dan satu tempat tidur berukuran King Size," lanjut resepsionis itu. Ia kemudian melirik ke arah Saliha yang berdiri tidak jauh dari sana.
"Lagi pula, Pak Daviko dan Ibu adalah sepasang suami istri, bukan? Kamar ini sangat cocok untuk keluarga kecil Bapak."
Daviko terdiam sejenak. Ia melirik Saliha yang tampak terkejut mendengar ucapan resepsionis itu. Saliha hendak maju untuk membantah, namun Daviko lebih dulu memberikan isyarat agar Saliha tetap diam.
"Baiklah, kami ambil satu kamar itu saja," ujar Daviko singkat sambil menerima kunci berbentuk kartu.
Saliha menatap Daviko dengan tatapan tidak percaya saat mereka berjalan menuju lift. Begitu pintu lift tertutup, Saliha langsung membuka suara.
"Pak, apa maksudnya ini? Tadi resepsionis bilang kita suami istri, kenapa Bapak tidak membantahnya? Dan satu kamar? Saya tidak mau!" bisik Saliha dengan nada tertahan namun penuh amarah.
Daviko menatap pantulan dirinya di cermin lift dengan tenang. "Kalau aku membantah, mereka akan curiga. Seorang Kapten membawa pengasuh ke acara kolega bisnis dan memesan kamar terpisah di tengah hotel yang penuh? Itu akan mengundang gosip yang tidak perlu bagi citraku, Saliha. Dan soal satu kamar, ini darurat. Semua hotel di sekitar sini pasti penuh."
"Bapak sengaja, kan?" tuduh Saliha, matanya berkaca-kaca.
"Saliha, lihat aku," Daviko berbalik, memojokkan Saliha di sudut lift. "Kaffara sedang butuh istirahat. Dia sudah lelah di perjalanan. Apa kamu tega membawanya berkeliling mencari hotel lain di malam hari yang dingin ini?"
Saliha bungkam. Kelemahan terbesarnya adalah Kaffara. Ia akhirnya hanya bisa pasrah saat pintu kamar terbuka. Kamar itu memang mewah dan luas. Namun tetap saja, hanya ada satu ranjang besar di tengah ruangan yang seolah mengejek status mereka.
Saliha segera membaringkan Kaffara yang sudah mengantuk di tengah ranjang, menggunakan bantal-bantal sebagai pembatas. Ia sendiri duduk di kursi pojok ruangan, berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dari Daviko.
"Saliha, tidurlah di ranjang. Aku akan tidur di sofa ruang tengah," ujar Daviko sambil melepas jam tangannya dan menggantung kemejanya.
"Tidak perlu, Pak. Saya di sini saja," jawab Saliha dingin.
"Saliha, jangan keras kepala. Tubuhmu butuh istirahat agar bisa menjaga Kaffara besok. Ini perintah."
Malam semakin larut. Udara di luar kamar terasa sangat dingin, membuat AC di dalam ruangan pun terasa semakin menusuk tulang. Saliha yang hanya mengenakan piyama tipis mulai menggigil. Ia mencoba memejamkan mata di kursi, tapi gagal.
Tiba-tiba, ia merasakan sebuah selimut tebal disampirkan ke bahunya. Saliha tersentak dan melihat Daviko sudah berdiri di sampingnya.
"Pindah ke ranjang, Saliha. Di sana lebih hangat. Aku tidak akan menyentuhmu tanpa izinmu, aku berjanji," suara Daviko terdengar sangat tulus malam ini.
Dengan langkah ragu, Saliha akhirnya menurut. Ia berbaring di sisi paling pinggir ranjang, memunggungi Kaffara yang ada di tengah. Namun, rasa dingin di pegunungan itu benar-benar luar biasa. Selimut setebal apa pun rasanya tidak cukup.
Daviko yang melihat Saliha masih gemetar, akhirnya naik ke atas ranjang. Ia berbaring di sisi kiri Kaffara. Namun, karena udara yang semakin dingin, Kaffara terbangun dan mulai merengek.
Saliha segera memeluk bayi itu agar hangat, namun tangis Kaffara tidak kunjung reda.
"Dia kedinginan, Saliha. Sini, biar kupeluk kalian berdua," ujar Daviko.
Saliha hendak menolak, namun Daviko sudah lebih dulu merapatkan tubuhnya. Ia melingkarkan tangannya melewati tubuh Kaffara, hingga tangannya menyentuh punggung Saliha.
Kehangatan dari tubuh Daviko seketika menjalar ke tubuh Saliha dan Kaffara. Ajaibnya, bayi itu langsung tenang dan kembali terlelap.
Dalam remangnya kamar, Saliha bisa merasakan detak jantung Daviko yang beradu dengan punggungnya. Jantung Saliha sendiri berdegup sangat kencang. Posisi ini terlalu intim, terlalu berbahaya bagi pertahanan hatinya.
"Saliha...." bisik Daviko tepat di belakang telinganya. "Terima kasih sudah mau bertahan sejauh ini."
Saliha memejamkan mata erat-erat. Air mata jatuh membasahi bantal. Ia benci pada situasi ini, namun ia tidak bisa memungkiri bahwa dekapan Daviko malam ini adalah hal paling hangat yang ia rasakan setelah bertahun-tahun hidup dalam kedinginan.
Keheningan malam itu diisi oleh suara napas mereka yang teratur. Saliha merasa dirinya sedang berjalan di atas tali yang tipis. Di satu sisi, ada harga dirinya yang menuntut untuk menjauh. Namun di sisi lain, ada rasa cinta dan rindu yang begitu besar yang menariknya untuk luruh kembali ke pelukan pria yang pernah menghancurkannya dengan jerat sumpahnya.
"Tidurlah, Saliha. Aku di sini. Tidak akan ada yang menyakitimu lagi," gumam Daviko lembut sebelum ia sendiri menutup mata.
Malam itu, dalam satu kamar, dan ranjang, mereka tertidur layaknya sepasang suami istri yang sedang menidurkan buah hati mereka.
Daviko tersenyum, hatinya gembira karena bisa berada di posisi seperti ini, meskipun Saliha masih jaga jarak darinya.
kalo mau bulan madu ke Bali dan Lombok.. sekalian bawa bi tita dan kaffra ..biar sekalian jalan2 keluarga 😊
Ayo..... kondangan. Jangan lupa amplopnya🤭🤭🤭🤭