Mereka pikir, bercerai adalah pilihan terbaik untuk mengakhiri pernikahan yang terasa jauh dan hambar tanpa rasa. Namun siapa menyangka, Jika setelah pahit perceraian justru terbitlah madunya pernikahan... rasa rindu yang berkepanjangan, kehilangan, rasa saling membutuhkan, dan manisnya cinta?
Sweet after divorce...manis setelah berpisah.
"Setelah berpisah, kamu jadi terlihat menawan dimataku."
"Setelah berpisah, kamu jadi manis terhadapku."
"Mau rujuk?"
.
.
.
Cover by Pinterest and Canva
Dear pembaca, bijaklah memilih bacaan. Jika hanya ingin mampir dan tidak berniat membaca sampai akhir, maka jangan berani membuka ya 🤗 kecuali kalau sudah tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Sesuatu yang kembali utuh
Nyatanya panci yang biasa dipakai untuk membuat kopi oleh para karyawan disini, kini dipakai oleh Desti, Yahya dan Maulana untuk membuat mie.
Dan Anye, masih menunggu giliran memasak mienya serta Ganesha. Emang para bawahan kurang ajar jika sudah menyangkut perut. Seharusnya atasan yang mereka dahulukan.... bukannya atasan yang justru mengalah.
Anye masih duduk, di samping tapi agak berjauhan dari Ganesha, menjaga jaraknya sebab sudah bukan mahram.
Berusaha untuk terlihat sibuk, apapun Anye lakukan, seperti sekarang....ia memainkan kuku jarinya yang sudah mulai kusam, lalu membaca font-font kecil di belakang bungkus mie, atau meraih ponsel dan memainkannya, pokoknya yang penting ia tidak mau notice dengan kehadiran Ganesha disana atau terlihat canggung.
Kenapa pula ia malah memilih duduk di sana, yang seketika sofa itu terasa panas untuknya. Hawa panas sebadan-badan yang bikin demam.
Ganesha, apa yang dirasakan Anye pun ternyata sama dengannya. Merasa jika kecanggungan itu semakin menyesaki ruangan, antara dirinya dan Anye...yang seharusnya tidak ada rasa apa-apa lagi justru mendadak begitu--grogi.
Seperti remaja laki-laki dan perempuan yang baru berkenalan. Padahal, selama pernikahan setahun itu, hampir setiap harinya ia memandang dan berdekatan dengan Anye. Jangankan hanya duduk, saling menin dih dan bergu mul dalam satu selimut dan keringat yang sama pun tak jarang.
"Mau saya pesankan makanan lain?" tawarnya memecah keheningan diantara suara dapur yang bertolak belakang. Ketiga manusia di belakang sana ditambah pak Yaris justru terdengar begitu ramai persis lagi demo masak.
Pada akhirnya, Anye menoleh juga, "emh? Ngga usah bang...mie ini cukup, Desti juga udah susah-susah bawain." Jawab Anye berusaha menghargai usaha orang lain untuknya, terlebih Desti adalah asisten yang sudah lama bersamanya.
Ganesha mengangguk, hm..."pake rawit, pakai telur, right?"
Anye terkekeh kecil mendengar ucapan Ganesha, hal kecil----favoritnya.
"Kamu paling suka rawit hijau." kembali tambah Ganesha disenyumi Anye sambil manggut-manggut, "kalo Abang lebih suka saos cabai."
Aroma menyeruak yang sukses membuat lambung tergaruk-garuk gas asam lambung membawa serta 3 manusia durjana yang sudah siap dengan mangkok masing-masing.
Alis Ganesha terangkat sebelah, "baru tau saya. Kalo posisi atasan itu ada di bawah. Bukan lagi prioritas...."
Yahya nyengir, Desti menelan saliva sulit begitupun Maulana yang justru berbelok ke arah halaman.
"Pak, Bu, biar saya bikinin mienya..." Desti baru bersuara, kenapa ia sampai melupakan hal sepenting ituuuuu!
Anyelir tertawa melihat wajah panik dan pucat Desti, Yahya yang turut menyerahkan mangkuk mie miliknya, "punya pak Ganesha." Ucapnya.
Anye menggeleng, "punya pak Ganesha, biar saya yang buatkan, mas Yahya... Des, ngga apa-apa, saya tau kalian udah pada laper. Lanjut makan deh..."
Namun Desti, ia benar-benar merasa bersalah, "ngga apa-apa Bu, ini punya ibu..." Desti menyerahkan mie plus telur yang ia bunyi cabai bubuk dan rawit merah.
Pandangan Ganesha ikut tertumbuk ke arah mangkok di tangan Desti, air mukanya itu seperti, malas, jengah dan.... "sejak kapan Anyelir suka pakai cabe bubuk sama rawit merah? Kamu ngga tau kah Des?" tanya Ganesha, membuat Desti semakin gosong disana, karena merasa terbakar oleh sorot mata panas nan tajam Ganesha.
Lagi-lagi Anye tersenyum, "ngga apa-apa santai aja. Silahkan makan..." Anye beranjak ke dapur untuk membuat mie, tapi Desti mengekori untuk membantunya, "Bu..." ia menaruh sejenak mangkok mie miliknya.
Ganesha ikut-ikutan beranjak, Yahya...ia menyerahkan mienya untuk Ganesha yang digelengi atasannya itu, "mie Lo udah Lo icip juga mau kasih ke atasan."
Yahya terkekeh, "bilang aja mau liatin Anye masak, pak...pak, modus apa kardus?"
Ada pemandangan menggelitik hati saat Ganesha sampai di gawang pintu. Anye yang berdiri di depan kompor sederhana itu memasukan mie instan ke dalam air rebusan. Kenapa sekarang hal itu justru terlihat menyenangkan, padahal dulu di apartemen Anye biasa begitu, dan baginya terlihat biasa saja?
Sementara Desti, ia begitu sibuk megambilkan mangkuk dan menggunting bungkus bumbu.
"Asli Des, udah kamu makan aja...biar punya saya sama pak Ganesha biar saya yang bikin." Sekali lagi Anye mencoba mengusir rasa tak enak Desti, kasihan sekali asistennya itu, hari ini sudah dilanda syok terapi berkelanjutan.
"Jangan gitu lah, Bu...ini naf su makan aku jadi ilang loh, Bu...asli! Gemeteran aku pas pak Ganesha ngomong gitu, kaya---ulu hati lagi ditusuk." akuinya tak tau jika di belakang sana orang yang digemakan justru tengah mendengarkannya mengoceh.
Anye tertawa kecil, "ngga usah dimasukin hati. Atasan kamu kan saya. Masih ngerasa kalo Ganesha suami saya, ya?"
Kedua wanita ini saling tatap, Desti mengangguk, "caranya dia ngomong emang gitu, kan kamu tau. Dari dulu kamu udah sama saya... ngga apa-apa, dia bukan lagi marah. Mas Yahya aja ngga apa-apa kan?" Anye menepuk-nepuk punggung Desti, "udah. Nanti mie kamu keburu dingin terus ngembang."
"Ngga enak." cicitnya lagi merasa tak enak hati menatap Anye berkaca-kaca. Namun, senyum teduh Anye itu----"enakin aja. Pakein kuah mie kamu biar jadi enak. Gih sana."
Desti mengangguk, "bener Bu?" sekali lagi ia memastikan kemudian Anye mengangguk, sebelum keduanya menyadari kehadirannya, Ganesha terlebih dahulu berbelok ke toilet untuk kemudian setelah Desti berlalu ia kembali ke dapur.
Anye berniat memotong-motong rawitnya, tapi saat ia sudah meraih pisau, mendadak pisau itu beralih kuasa.
"Biar saya yang potong-potong. Langsung masuk ke mangkuknya?" tanya Ganesha membuat Anye mengangguk cukup terkejut dengan kehadirannya, "biar aku aja bang."
Namun, pria itu mana dengar. Ia selalu bertindak sesukanya hingga akhirnya Anye menyerah, membiarkannya melakukan pekerjaan sepele itu.
Ganesha, lengan kemeja yang sudah dilinting itu memegang rawit kecil dan memotongnya, pekerjaan yang teramat mudah untuk siapapun.
Sempat khusyuk dengan pekerjaan masing-masing, arah langkah kaki keduanya justru tak seirama yang membuat keduanya justru saling bertubrukan. Dimana Ganesha ingin menaruh pisau di tempatnya, Anye ingin menumpahkan mie yang sudah matang ke dalam mangkuk.
"Eits, sorry---sorry..." ujar Ganesha lagi-lagi refleksnya baik menahan yang otomatis turut memegang tangan Anye di yang tengah memegang panci bersama pinggang wanita itu agar mie panas tak tumpah.
Hoffft! Anye ikut merasa dingin sebadan-badan padahal sedang ada di depan kompor.
/
Dua mangkuk berisi mie instan dengan asap yang mengepulkan aroma enak membuat perut semakin berontak, entah sejak kapan di meja itu kini ada kerupuk juga. Sudah pasti Desti yang membawa.
Beginilah seharusnya kehidupan normal pernikahan, memberikan ruang dan waktu untuk membangun bonding dan kebersamaan. Meskipun, hanya hal receh dan kecil. Kedua manusia pintar ini telat menyadari saat sesuatu telah hilang.
Desti membawa beberapa mangkuk bersama Maulana ke dapur untuk kemudian ia cuci. Sementara di luar, hujan sudah mulai reda.
"Pak Yaris, besok saya masih shoot lagi ya disini." Ucap Anye diangguki divisi pemasaran itu, "siap Bu Anye."
Ganesha menatap langit yang sudah mulai menggelap, lalu mereka berpisah disana.
Anye bersama timnya masuk ke dalam mobil sementara dirinya dan Yahya.
*Ganesha*
Ia merasa ada sesuatu yang kembali utuh saat ini. Ada sesuatu yang menurutnya seperti----sudah pada jalurnya, dan memang seharusnya ia lakukan sejak dulu.
Lampu-lampu pertokoan, jalanan dan kendaraan lain mulai menyala mengisi kegelapan malam, seperti hatinya yang mulai terisi lagi rasa hangat.
Yahya berdehem, menyadari diamnya Ganesha sejak tadi. Ia tau jika teman sekaligus atasannya itu lebih banyak diam, namun diamnya Ganesha kali ini, sungguh berbeda, dari raut wajahnya bisa ia tebak jika Ganesha----tengah berpikir, mencerna, dan memutar berulang moment barusan.
"Tadi di dapur cuma bikin mie doang kan, pak?" godanya jahil, sukses bikin Ganesha menghela nafasnya malas, ia menunjukan wajah gengsinya itu, "terus apa yang Lo harapkan? Gue balikan sama Anye? Cipo kan?"
Yahya tertawa renyah, "heyy...gue ngga bilang begitu, ya Nesh....otak Lo refleks tuh!"
.
.
.
.
.
dahlah mw nyemangatin bang Ganesh buat berjuang ngeyakinin Anye bahwa dia tuh pantas dan mw merubah sifat jeleknya buat Anye... moga Anye nerima
cinta di tolak fitnah bertindak