Empat tahun Kevin Haris menjadi suami yang sah. Namun tidak pernah sekalipun mendapat giliran sebagai pria yang dipilih.
Ia menikah demi taruhan, lalu bertahan demi cinta. Sayangnya, istrinya hanya menjadikannya rumah, bukan tujuan. Di balik satu pintu tertutup, Kevin akhirnya paham. Kesetiaan yang terlalu lama ditunggu hanya akan menghabiskan harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Keadaan di dalam apartemen itu semakin memanas. Napas keduanya tidak lagi teratur, dan beberapa kancing kemeja Iren sudah terlepas tanpa benar-benar ia sadari. Jarak yang semula masih menyisakan ruang kini nyaris tak ada, sementara sentuhan Vano terasa hangat dan mendesak, seolah ingin memastikan Iren tidak lagi punya kesempatan untuk berpikir.
Untuk sesaat Iren membiarkan dirinya larut dalam kedekatan itu, dalam rindu lama yang pernah ia simpan rapat dan tak pernah benar-benar selesai. Namun ketika bibir Vano hampir kembali menyentuhnya, sebuah bayangan lain justru melintas di benaknya. Sorot mata yang tenang dan sulit ditebak itu muncul begitu saja, membuat dadanya mendadak sesak.
Tubuh Iren menegang. Ia mendorong pelan dada Vano dan menjauh, napasnya memburu bukan lagi karena gairah, melainkan kebingungan yang tiba-tiba menyeruak.
“Apa yang terjadi?” tanya Vano dengan nada tak rela, tangannya masih mencoba menahan pinggang Iren agar tetap dekat.
Iren segera berdiri dan membenarkan kemejanya yang terbuka, berusaha menenangkan gemetar di jemarinya. “Van, seharusnya kita tidak seperti ini. Aku… aku ini—”
“Iren,” potong Vano dengan suara lebih rendah, “aku tahu kamu menjaga dirimu untukku. Sekarang ada kesempatan, kenapa kamu justru menghindar?”
“Aku hanya…” Iren menggigit bibirnya, kalimat yang ingin ia ucapkan terasa tertahan di tenggorokan. Ini yang dulu ia tunggu, ini yang dulu ia bayangkan akan terjadi ketika Vano kembali, tetapi hatinya justru tidak lagi sepenuhnya berada di tempat yang sama.
Nama itu kembali terngiang dalam pikirannya, Kevin Haris.
“Kamu ingat suamimu?” tebak Vano tajam, sorot matanya berubah, tidak lagi selembut beberapa menit lalu.
“Maaf, Vano. Kita tidak seharusnya terburu-buru seperti ini,” jawab Iren pelan, mencoba tetap tenang meski hatinya berantakan.
“Apa kamu sudah mulai menyukainya?” lanjut Vano, suaranya kini terdengar lebih menekan. “Selama ini kamu bilang menungguku. Jangan bilang sekarang kamu sudah berpindah hati.”
“Stop, Vano,” Iren mengangkat wajahnya, kali ini suaranya lebih tegas. “Bukan itu. Aku hanya belum siap. Dulu kamu meninggalkanku. Meski aku menjaga diriku untukmu, bukan berarti aku bisa memberikannya dengan cara seperti ini.”
Ia meraih tasnya dan melangkah menuju pintu, merasa perlu keluar sebelum pikirannya semakin kacau.
Vano menyadari ia hampir kehilangan kendali atas situasi. Ia tidak bisa membiarkan Iren pergi dalam keadaan seperti ini, sebab rencananya belum berjalan sebagaimana mestinya. Dengan cepat ia menyusul dan memeluk Iren dari belakang sebelum perempuan itu mencapai pintu, menahan tubuhnya dengan pelukan yang kali ini lebih hati-hati.
“Maaf,” ucapnya lebih pelan, menundukkan wajahnya di dekat telinga Iren. “Aku tidak bisa mengontrol diri. Aku janji tidak akan mengulanginya.”
Tubuh Iren tetap kaku dalam pelukan itu. Ia tidak langsung melepaskan diri, tetapi juga tidak lagi bersandar seperti sebelumnya. Ada sesuatu yang berubah di antara mereka, sesuatu yang tak bisa lagi ditutupi hanya dengan sentuhan dan kata-kata manis.
***
Beberapa jam kemudian, Iren akhirnya sampai di rumah. Ia memilih pulang segera setelah mendengar permintaan maaf Vano, sebelum situasi kembali memanas dan melampaui batas yang tidak sanggup ia hadapi.
Begitu pintu tertutup di belakangnya, tubuhnya terasa lelah bukan hanya secara fisik, tetapi juga batin. Ia berjalan ke ruang tamu dan menjatuhkan diri ke sofa.
Tanpa sadar, tangannya terulur ke depan, telapak tangannya terbuka seperti meminta sesuatu. Sebuah kebiasaan kecil yang selama ini terasa begitu wajar. Setiap kali ia pulang, Kevin akan muncul entah dari dapur atau dari tangga lantai atas, lalu menyodorkan segelas air dingin ke tangannya sambil menatapnya dengan ekspresi datar yang sulit ditebak.
Namun kali ini, tidak ada siapa pun. Tangannya tetap menggantung di udara selama beberapa detik sebelum perlahan ia menoleh ke sekeliling. Rumah itu terlalu sunyi.
“Kevin!” panggilnya, sedikit lebih keras dari biasanya.
Tak ada jawaban.
Baru saat itu ia benar-benar menyadari, rumah itu kosong. Tidak ada suara langkah, tidak ada bunyi pintu dibuka, tidak ada sosok yang diam-diam memperhatikannya dari kejauhan seperti biasa.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka. Fatwa keluar dengan wajah masih sedikit pucat dan setengah mengantuk setelah mendengar teriakan Iren dari ruang tamu.
“Iren, suami kamu benar-benar tidak kembali. Ibu di rumah sendirian, tidak ada yang mengurus Ibu,” ucap Fatwa dengan nada kesal yang sulit disembunyikan.
Tatapan perempuan itu turun dari kepala hingga kaki Iren, memperhatikan jam di dinding lalu kembali menatapnya tajam. “Dan kamu, jam segini baru pulang?”
Iren berdiri dari sofa, rasa lelahnya seketika tergantikan oleh kegelisahan yang menyesakkan. “Apa, Bu? Kevin belum kembali?”
Fatwa yang semula tampak kesal kini justru terlihat ragu. Ia menunduk sejenak sebelum akhirnya berkata pelan, “Sebenarnya… Ibu yang menyuruh dia pergi.”
Iren membeku. “Maksud Ibu?”
“Ibu mengusirnya,” lanjut Fatwa dengan suara lebih pelan. “Ibu pikir dia tidak akan benar-benar meninggalkan rumah ini. Ibu kira dia hanya akan pergi sebentar lalu kembali seperti biasa. Tapi sampai sekarang dia tidak pulang. Ibu cek kamarnya… beberapa barangnya sudah tidak ada.”
“Apa?” Iren memijit pelipisnya yang mulai berdenyut. Kejadian di parkiran rumah sakit tadi siang kembali terlintas di benaknya, termasuk sosok perempuan yang berdiri di dekat Kevin dan cara lelaki itu menatapnya saat itu. “Apa dia pergi bersama wanita itu?”
Fatwa tidak langsung menjawab, dan diamnya justru membuat dada Iren semakin sesak.
“Bagus sekali, Kevin,” ucap Iren dengan nada getir yang sulit disembunyikan. “Katanya hanya adik-kakak. Semalam juga mengajakku bertengkar seolah aku yang salah karena bersama Vano. Sekarang dia malah meninggalkan rumah ini dan pergi dengan wanita itu.”
Ia berbicara lebih seperti sedang melampiaskan amarahnya sendiri daripada benar-benar menyalahkan seseorang.
Dengan tangan yang masih gemetar, Iren meraih ponselnya dan menyalakan layar. Tidak ada pesan masuk dan tidak ada panggilan tak terjawab. Ia membuka aplikasi pesan dan memeriksa satu per satu, berharap ada satu notifikasi darinya, namun tetap tidak menemukan apa pun.
Semakin ia menatap layar yang kosong itu, semakin jelas rasa gelisah yang menjalar di dadanya, karena untuk pertama kalinya Kevin pergi tanpa meninggalkan satu pun kabar untuknya.
Iren langsung mengalihkan fokusnya pada Fatwa. “Ibu kenapa tidak bilang padaku?”
“Kamu sendiri yang bilang, biarkan saja,” sahut Fatwa tak ingin disalahkan.
Ucapan itu membuat Iren terdiam. Ia mulai menyesali sikapnya sendiri. Kenapa tadi ia justru lebih memilih fokus pada Vano, padahal mungkin ibunya sudah berusaha memberitahunya sejak awal.
“Bu, sebelum Kevin pergi dia bilang apa?”
Fatwa terdiam sejenak, mengingat kejadian tadi pagi. Setelah beberapa detik, ia pun menjawab, “Katanya dia bebas dan bilang bertemu di pengadilan.”
“Apa… pengadilan?”