NovelToon NovelToon
Satu Derajat Celcius

Satu Derajat Celcius

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Diam-Diam Cinta / Fantasi Wanita / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Bagi Zayden Abbey, dunia adalah medan tempur yang bising dan penuh amarah, sampai suatu siang di perempatan kota, ia dipaksa berhenti oleh lampu merah. Di tengah deru mesin motor yang memekakkan telinga dan kepulan asap knalpot yang menyesakkan, Zayden melihatnya—Anastasia Amy.
Gadis itu berdiri tenang di trotoar, seolah memiliki dunianya sendiri yang kedap suara. Saat Amy menoleh dan menatap Zayden dengan pandangan dingin namun tajam, jantung Zayden yang biasanya berdegup karena adrenalin tawuran, tiba-tiba berhenti sesaat. Di mata Zayden, Amy bukan sekadar gadis cantik; dia adalah "hening yang paling indah." Dalam satu detik itu, harga diri Zayden sebagai penguasa jalanan runtuh. Pemuda yang tak pernah bisa disentuh oleh senjata lawan ini justru tumbang tanpa perlawanan hanya karena satu tatapan datar dari Amy. Zayden menyadari satu hal: ia tidak sedang kehilangan kendali motornya, ia sedang kehilangan kendali atas hatinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jarak Satu Senti meter

Malam di apartemen Zayden terasa sangat panjang. Ia tidak menyentuh gir motornya, tidak pula membalas pesan di grup gengnya yang menanyakan jadwal patroli malam.

Zayden justru duduk di lantai balkon, dikelilingi oleh potongan kertas yang berserakan.

"Gue beneran kena mental," gumam Zayden. Ia menatap langit malam yang mendung. "Kenapa cinta sama orang dingin rasanya kayak meluk gletser? Sakit, beku, tapi nggak mau lepas."

Zayden mengambil sebuah buku catatan baru. Kali ini, ia tidak mencoba melucu. Perasaannya sudah terlalu dalam untuk sekadar komedi.

"Amy... aku tidak pernah takut pada luka yang diberikan lawan di jalanan. Tapi kenapa aku begitu gemetar menghadapi diammu? Jika diammu adalah hukuman, maka aku adalah narapidana yang paling pasrah. Aku rela membeku, asal itu di sampingmu."

Ia meremas kertas itu. "Alay banget, Zay. Tapi beneran itu yang gue rasain," ucapnya frustrasi.

Keesokan harinya, Zayden melakukan hal yang membuat Dio, Hendi, Bima, dan Gara hampir pingsan karena syok. Zayden datang ke sekolah dengan tangan yang bersih dari luka baru, baju yang disetrika licin (dia melakukannya sendiri sampai ada bekas setrikaan sedikit di lengan), dan yang paling gila, dia membawa buku paket pelajaran.

"Bos... lo beneran mau tobat atau lagi nyamar jadi intel?" tanya Dio sambil meraba dahi Zayden.

Zayden menepis tangan Dio. "Gue mau nunjukin ke Amy. Kalau dia mau cowok yang nggak kasar, gue bakal jadi cowok paling lembut sedunia. Kalau dia mau cowok pinter, gue bakal makan itu buku matematika sampai hafal."

"Tapi Bos, tawuran nanti sore gimana? Sekolah sebelah nan tangin lagi," ujar Gara.

Zayden berhenti melangkah. Ia menatap teman-temannya dengan serius.

"Mulai hari ini, jabatan gue sebagai Panglima kalian... gue vakumkan. Gue nggak akan berantem kecuali nyawa gue atau nyawa kalian terancam. Gue nggak mau Amy liat monster lagi."

Di perpustakaan, Amy sedang menyusun buku di rak tinggi. Ia terlihat kesulitan menjangkau barisan paling atas. Tiba-tiba, sebuah tangan kokoh mengambil buku dari bawah dan meletakkannya tepat di rak yang dituju Amy.

Amy tersentak. Ia mencium aroma parfum maskulin bercampur wangi sabun, bukan aroma bensin yang biasanya menempel pada Zayden.

"Biar gue aja," ucap Zayden pelan.

Amy menoleh.

Jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Zayden tidak mundur, tapi ia juga tidak berani menyentuh Amy. Ia menjaga jarak aman, menghormati benteng yang dibangun gadis itu.

"Kamu lagi apa?" tanya Amy dingin, meski matanya sedikit bergetar.

"Lagi belajar," jawab Zayden jujur. "Belajar sabar. Belajar nahan diri buat nggak manggil nama lo setiap detik. Dan belajar... jadi orang yang layak buat sekadar berdiri di samping lo."

Amy menatap mata Zayden. Ia melihat lingkaran hitam di bawah mata pemuda itu, tanda bahwa Zayden juga tidak tidur nyenyak.

Ia melihat kejujuran yang begitu murni sampai-sampai hatinya yang "Satu Derajat Celcius" itu mulai retak.

"Zayden, kamu cuma buang-buang waktu," bisik Amy, suaranya mulai goyah.

"Hidup saya sudah diatur. Tidak ada ruang untuk orang seperti kamu."

"Kalau nggak ada ruang, gue bakal nunggu di teras. Kalau terasnya ditutup, gue nunggu di gerbang. Sampai lo sadar, Amy... gue satu-satunya orang yang nggak akan pergi meski lo usir berkali-kali."

Zayden memberikan sebuah gantungan kunci kecil berbentuk matahari kepada Amy. "Buat lo. Biar lo tahu, meski dingin, matahari bakal tetep muncul besok pagi. Kayak gue."

Zayden pergi tanpa menunggu jawaban. Ia takut kalau dia tinggal lebih lama, dia akan kehilangan kendali dan memohon pada Amy.

Amy menggenggam gantungan kunci itu erat-erat. Di balik punggung Zayden yang menjauh, Amy akhirnya tersenyum tipis, kali ini bukan di depan cermin, tapi nyata untuk laki-laki yang baru saja memporak-porandakan dunianya.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading 😍🥰🥰😍

1
Marine
mantap kak buat chapter pembukaannya, janlup mampir yaww
Marine
mantap kak buat chapter pembukaannya, janlup mampir yaww
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!