"Dulu aku membangun tahtamu dengan cinta, sekarang akan kuruntuhkan kerajaanmu dengan sisa tenaga sebagai tukang sapu!"
Clarissa mati sebagai istri yang dikhianati. Namun, dia bangun kembali sebagai Lestari, seorang cleaning service yang dianggap sampah oleh mantan suaminya, Kenzo, dan adiknya yang licik, Angelica.
Rencananya sederhana: Menyusup, sabotase, dan hancurkan!
Tapi rencana itu kacau saat Devan Mahendra—CEO tampan yang merupakan musuh bebuyutan suaminya—tiba-tiba menarik kerah seragamnya.
"Gadis pelayan sepertimu tahu apa soal pencucian uang pajak? Ikut aku!" seru Devan angkuh.
Kini, Clarissa terjebak di antara misi balas dendam yang membara dan bos baru yang sangat menyebalkan tapi selalu pasang badan untuknya. Bagaimana jadinya jika sang rival jatuh cinta pada "si tukang sapu" yang ternyata adalah otak jenius yang pernah mengalahkannya dulu?
"Kenzo, selamat menikmati hari-harimu di puncak. Karena aku sedang menyiapkan jurang terdalam untukmu... dibantu oleh musuh terbesarmu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Retakan di Atas Kepercayaan
Hening yang mencekam menyelimuti kamar rumah sakit itu. Suara detak jantung Clarissa yang terpantau di monitor mesin medis terdengar seperti hitungan mundur bom waktu. Genggaman tangan Devan yang tadinya terasa seperti pelindung, kini terasa seperti borgol yang dingin bagi Clarissa.
"Devan... jawab aku," suara Clarissa bergetar, namun matanya menatap tajam, menembus manik mata hitam Devan. "Apakah kecelakaan lima tahun lalu itu adalah bagian dari rencanamu? Apakah kau membunuhku... hanya untuk memilikiku dalam raga yang bisa kau kendalikan?"
Devan berdiri tegak, bayangannya jatuh menutupi tubuh Clarissa yang rapuh di atas ranjang. Wajahnya yang biasanya tenang kini mengeras. "Clarissa, dunia bisnis adalah tempat yang kotor. Kau tahu itu lebih baik dari siapa pun. Tapi menuduhku merencanakan kematianmu... itu sudah keterlaluan."
"Lalu kenapa pria itu menyerahkan diri?! Kenapa dia menyebut namamu?!" Clarissa berteriak, mengabaikan rasa sakit di dadanya yang kembali berdenyut. "Selama ini kau selalu muncul di saat yang tepat. Kau tahu tentang Proyek Eternal Rose, kau tahu tentang Lestari, kau bahkan tahu jiwaku berpindah! Bagaimana mungkin orang asing tahu semua itu jika dia bukan pelakunya?!"
Devan mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. "Aku tahu karena aku tidak pernah berhenti mencarimu! Saat mobilmu jatuh ke jurang, aku adalah orang pertama yang turun ke dasar sana menggunakan tanganku sendiri! Aku menemukan tubuhmu yang sudah dingin, dan aku menemukan dokumen proyek itu di dalam tas kerjamu yang hancur!"
"BOHONG!" Clarissa menyentak selimutnya. "Kau ingin aku percaya bahwa kau adalah pahlawan? Pria bermuka terbakar itu... dia adalah tangan kanan ayahku. Jika dia bilang kau pelakunya, dia pasti punya bukti!"
"Bukti bisa dipalsukan, Clarissa! Naga Hitam sedang terpojok, mereka ingin menghancurkan kita dari dalam!" Devan mencoba mendekat, namun Clarissa mundur hingga punggungnya menabrak sandaran ranjang.
"Jangan mendekat!" Clarissa menunjuk pintu dengan jari yang gemetar. "Keluar. Aku ingin bicara dengan pria itu. Sekarang juga."
"Kau tidak akan pergi ke kantor polisi dalam kondisi begini," ucap Devan dingin, aura dominasinya kembali muncul. "Aku tidak akan membiarkanmu masuk ke jebakan mereka."
"Oh, jadi sekarang kau benar-benar menjadi sipir penjaraku?" Clarissa tertawa getir. "Ternyata benar kata Julian. Kau mencintaiku sebagai aset, sebagai koleksi yang harus kau simpan di dalam kotak kaca agar tidak ada yang bisa menyentuhmu. Kau tidak mencintaiku, Devan. Kau mencintai kekuasaanmu atas diriku!"
Kata-kata itu menghantam Devan tepat di ulu hati. Ia menatap Clarissa dengan pandangan yang terluka, namun ia tidak bergeming. "Jika menjadi sipir adalah satu-satunya cara untuk menjagamu tetap hidup, maka biarlah begitu. Kau tetap di sini. Penjagaan akan diperketat."
Tanpa menoleh lagi, Devan keluar dari kamar. Terdengar suara kunci otomatis yang berbunyi klik, mengunci Clarissa di dalam kamar mewah yang kini terasa seperti sel isolasi.
Clarissa tidak duduk diam. Ia tahu Devan meremehkan satu hal: ia bukan lagi Clarissa Wijaya yang lemah secara fisik, ia adalah Lestari yang memiliki kelincahan alami.
Ia segera bangkit, mencabut kabel monitor medis dari tubuhnya satu per satu. Ia menuju ke lemari kecil dan menemukan pakaian pelayan yang belum sempat dibuang oleh staf rumah sakit. Dengan cepat, ia berganti baju. Rambutnya ia ikat kuncir kuda dan ditutupi dengan topi perawat yang ia temukan di meja samping.
"Kau pikir gelang ini bisa menghentikanku, Devan?" Clarissa menatap gelang perak di kakinya.
Ia mengambil sebuah penjepit kertas dan sebotol alkohol pembersih luka. Dengan ingatan teknisnya, ia membongkar penutup kecil di sisi gelang tersebut. Ia tidak mencoba memutusnya, tapi ia melakukan bypass pada sensor detak jantungnya menggunakan konduktor dari jarum infus.
Bip.
Lampu gelang itu berubah menjadi hijau stabil, menandakan sensor "merasa" Clarissa masih tidur dengan tenang di kasur.
Ia menyelinap keluar melalui balkon. Dengan bantuan tali dari sprei yang ia sambung-sambungkan, ia turun ke lantai bawah yang merupakan area parkir ambulans. Hanya butuh waktu sepuluh menit bagi Clarissa untuk mencuri sebuah motor matik milik salah satu perawat dan melesat menuju Kantor Polisi Pusat Jakarta.
Di ruang interogasi yang gelap, pria bermuka terbakar itu duduk dengan tenang. Namanya adalah Bram, mantan kepala keamanan keluarga Wijaya yang dikira sudah mati dalam ledakan gudang lima tahun lalu.
Begitu Clarissa—yang menyamar sebagai pengantar makanan—masuk ke ruangan itu melalui celah kelalaian petugas yang sudah disogoknya dengan sisa perhiasan Lestari, Bram mendongak.
"Kau datang juga, Nona Kecil," suara Bram parau, seolah pita suaranya pernah terbakar.
"Bram... ceritakan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi malam itu?" Clarissa melepas topinya, menatap wajah hancur pria di depannya.
Bram tersenyum miris. "Tuan Wijaya sudah tahu bahwa nyawanya terancam. Dia menitipkanmu pada Devan Mahendra karena dia pikir Devan adalah satu-satunya orang yang cukup kuat untuk melindungimu. Tapi dia salah."
Bram mengeluarkan sebuah rekaman audio kecil yang ia sembunyikan di dalam jahitan bajunya. "Dengarkan ini."
Suara di rekaman itu terdengar jelas. Itu suara Devan, lima tahun lalu.
"...Pastikan rem mobilnya blong di tikungan KM 92. Aku butuh dia 'mati' secara publik agar aku bisa mengambil alih jiwanya melalui proyek yang sedang dikerjakan ayahnya. Jangan ada kesalahan."
Clarissa merasa dunianya runtuh. Suara itu... tidak salah lagi, itu suara berat milik Devan Mahendra.
"Dia tidak menyelamatkanmu, Clarissa," bisik Bram. "Dia menciptakan kecelakaan itu agar kau tidak punya pilihan selain bergantung padanya dalam tubuh yang baru. Kau adalah eksperimen cintanya yang paling gila."
Tiba-tiba, pintu ruang interogasi didobrak terbuka. Puluhan polisi masuk, diikuti oleh Devan yang wajahnya tampak seperti iblis dari neraka paling dalam.
"ANGKAT TANGAN!" teriak polisi.
Devan melangkah maju, matanya tertuju pada Clarissa yang sedang memegang rekaman itu dengan tangan gemetar.
"Clarissa... itu tidak seperti yang kau dengar," ucap Devan, suaranya mengandung keputusasaan yang nyata.
Clarissa mundur, air mata mengalir deras di pipinya. Ia mengangkat rekaman itu tinggi-tinggi. "KAU MEMBUNUHKU, DEVAN! KAU BENAR-BENAR MEMBUNUHKU!"
"Dengarkan aku dulu!" Devan mencoba meraih tangan Clarissa, namun Clarissa justru menodongkan pisau kecil yang ia ambil dari nampan makanan ke lehernya sendiri.
"Jangan mendekat! Kalau kau maju satu langkah lagi, aku akan menyelesaikan apa yang kau mulai lima tahun lalu!" ancam Clarissa dengan histeris.
Di tengah ketegangan itu, Bram tiba-tiba tertawa keras. Tawa yang sangat menyeramkan. "Pemandangan yang indah. Cinta yang hancur oleh kebenaran. Devan, kau kalah."
Tiba-tiba, lampu di kantor polisi padam total. Ledakan keras terdengar dari arah gerbang depan.
BOOM!
Dalam kegelapan, seseorang menarik tangan Clarissa dengan paksa. "Ikut aku jika kau ingin hidup!" suara itu bukan Devan, tapi suara Julian.
Clarissa yang sedang dalam kondisi emosional yang hancur, tidak melawan. Ia membiarkan Julian membawanya pergi melalui pintu belakang di tengah kekacauan tembakan.
Devan berteriak memanggil nama Clarissa, namun suaranya tertelan oleh suara ledakan kedua.
Saat Clarissa masuk ke dalam mobil Julian, ia melihat ke arah kantor polisi yang terbakar. Ia menatap rekaman di tangannya. Hatinya yang dulu mulai terbuka untuk Devan, kini tertutup rapat oleh lapisan es yang lebih tebal dari sebelumnya.
"Bawa aku pergi dari sini, Julian," ucap Clarissa dingin. "Bawa aku ke Naga Hitam. Aku akan menghancurkan Mahendra Group dengan tanganku sendiri."
Julian tersenyum penuh kemenangan di kegelapan mobil. "Selamat datang di rumah, Ratu Naga."