(Bukan Novel yang awalnya benci jadi cinta ya, alur sesuai imajinasi Mimin)
Rania, seorang perantau dari Indonesia, datang ke negeri asing hanya untuk bertahan hidup. Ia tidak pernah menyangka langkah nekatnya akan mempertemukannya dengan Marco seorang mafia besar, dingin, berbahaya, dan bucin tingkat dewa.
Pertemuan mereka menyeret Rania ke dunia gelap penuh kekuasaan, obsesi, dan perlindungan berlebihan. Cinta yang salah, pria yang salah... tapi terlalu sulit untuk ditolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu pada anak
Indonesia 08.35 Pagi.
Seorang Gadis muda berdiri dibelakang tiang bendera sambil bersedekap dada, matanya tajam bibirnya mencurut menatap orang didepan nya, seorang laki-laki dengan pakaian berantakan, dasi yang tidak dipakai, baju yang keluar dari celana tapi senyum bodoh itu terus terlihat.
"Sean Lo telat lagi!" ujar Rania kesal.
Xavier tersenyum senyum cerah yang hanya ia tujukan untuk gadis didepannya.
"Kesiangan gue hehehe" cengirnya.
"Balapan ya Lo semalam?" tuduh Rania.
Xavier menggeleng cepat. "Ngak Ra.. Sumpah gue semalam gak balapan" ujar ujar Xavier mengacungkan kedua jarinya tanda peach.
"Oh berarti Lo nonkep!" tuduh Rania langsung.
Xavier melototkan matanya menggeleng keras dan tegas. "Ngak! Gue gak nonton Ra, emang semalam gue dan Gali ke bar tapi gak ada nonton gak juga main cewek!" ujar Xavier tegas.
Rania semakin tajam menatap nya. "Oh ke bar ternyata" ujar Rania dingin.
Xavier langsung kicep, sial dia keceplosan.
Xavier langsung mendekat dan merangkul bahu Rania.
"tenang Ra, didunia ini cuma Lo yang paling cantik" ujar Xavier tersenyum.
"Halah buaya-buaya" dengus Rania.
Rania melepaskan rangkulan Xavier lalu berjalan terlebih dahulu, Xavier mengikuti dibelakang nya sambil menatap Rania dari belakang dengan dalam dan senyum manis bukan senyum bodoh.
Di Jam istirahat Rania tetap dikelas, Xavier duduk disamping nya juga tidak keluar ia meletakkan kepalanya diatas meja menghadap Rania yang sedang fokus menyalin catatan karna kemarin ia tidak masuk.
Rania sudah selesai menyalin catatan nya ia hendak keluar namun tangan nya ditahan oleh Xavier.
"Kenapa?" Tanya Rania bingung.
Xavier tersenyum lalu menarik tangan Rania menuju taman belakang sekolah.
"Ra..gue mau ngomong sesuatu" ujar Xavier menggaruk tengkuknya.
"Iya, ngomong aja gak biasanya Lo ngomong dulu ke gue" ujar Rania bingung.
Xavier menatap Rania dalam lalu melangkah maju ia meraih tangan Rania dan menggenggam nya.
"Ra... " Xavier menangkup wajah Rania mengusap pipinya membuat Rania mematung.
"Gue boleh cium Lo?" tanya Xavier yang berhasil membuat Rania mematung sepenuhnya.
Xavier tersenyum lalu mengusap bibirnya. "Gue anggap diam Lo sebagai tanda Lo setuju ya" ujar nya pelan.
Cup!
Xavier mengecup bibir Rania singkat, melihat Rania yang tidak bergerak senyum nya semakin lebar. Xavier kembali mencium bibir Rania kali ini tidak singkat ciuman nya sedikit bertahan lama.
Rania perlahan memejamkan matanya membalas ciuman Xavier,namun itu hanya beberapa detik saat Rania tiba-tiba membuka matanya dan mendorong Xavier.
"I love you Rania..." ujar Xavier menatap Rania.
Rania terdiam ia menatap Xavier terkejut,selama ini mereka hanya teman dekat kenapa Xavier tiba-tiba mengungkapkan perasaan nya.
"Rania gue_"
"Gue sudah mencintai orang lain Sean" Potong Rania cepat.
Kali ini gantian Xavier yang mematung, ia menatap Rania dalam.
"Apa?"
"Gue udah jatuh cinta sama orang lain" ujar Rania.
"S-siapa Ra? Siapa orang itu?" tanya Xavier.
"Hendri Dian" jawab Rania.
Xavier mengeraskan rahangnya ia melangkah mendekat.
"Ngak Ra!. Lo gak boleh sama dia, dia brengsek Ra! Dia bakal nyakitin Lo" ujar Xavier marah.
"Apa maksud Lo, Sean. Hendri sangat baik hanya saja dia sedikit dingin" ujar Rania.
Xavier mendekat meraih tangan Rania. "Ra, please Lo percaya sama gue, Hendri bukan cowok baik-baik dia tukang selingkuh, Lo gak bahagia sama dia" ujar Xavier.
Rania menarik tangannya lalu melangkah mundur. "Gue yakin Hendri cowok baik Sean, sorry gue gak bisa balas perasaan Lo" ujar Rania berbalik pergi meninggalkan Xavier.
Rania membuka matanya ia merasakan tubuhnya berat, ia menunduk melihat Marco yang masih tidur Kepala pria itu diletakkan di dadanya, selimut masih menutupi tubuh telanjang mereka.
Rania mengusap Rambut Marco, ia masih terngiang perkataan Marco bahwa Xavier adalah Sepupu nya.
Rania melepaskan pelukan Marco ia mendorong Marco kesamping dan bangun. Rania masuk kedalam kamar mandi.
Pintu kamar mandi tertutup pelan, menyisakan bunyi klik yang terdengar jauh lebih keras di telinga Rania dibanding seharusnya. Ia menyalakan shower tanpa menyalakan lampu. Biarlah remang pagi yang masuk dari ventilasi menjadi saksi kegelisahannya.
Air dingin jatuh membasahi wajahnya, bercampur dengan pikiran yang tak mau diam.
Xavier adalah sepupu Marco.
Nama itu kembali berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak, pria yang beberapa minggu terakhir membuat hidupnya jungkir balik. Tatapan dingin, cara bicaranya yang tenang tapi menekan, dan rahasia yang ia sembunyikan.
Dan sekarang… Marco.
yang dingin namun selalu hangat padanya, yang lembut, yang tadi malam memeluknya seakan dunia akan runtuh jika ia melepaskan.
Rania menggigit bibirnya. Air semakin deras. Dadanya terasa sesak.
“Kenapa Sean nggak bilang dari awal…” gumamnya lirih.
Bayangan saat pertama kali ia bertemu Xavier muncul begitu jelas. Cara pria itu menatapnya mengenalnya dulu. Seolah ada sesuatu yang sudah direncanakan.
Apa semua ini kebetulan? Atau ia sedang masuk ke dalam lingkaran permainan keluarga yang tidak ia pahami?
Rania mematikan shower. Nafasnya memburu. Ia meraih handuk, membungkus tubuhnya, lalu menatap bayangannya di cermin yang berembun.
Matanya terlihat berbeda pagi ini. Lebih waspada. Lebih takut.
Sementara itu, di luar kamar mandi Marco terbangun perlahan. Tangannya meraba sisi tempat tidur yang kosong. Dingin.
Ia membuka mata, mengerjap, lalu duduk. Rambutnya berantakan, wajahnya masih setengah sadar. Tapi begitu ia mendengar suara shower berhenti, kesadarannya kembali sepenuhnya.Ia mengusap wajahnya kasar. Ia tahu momen ini akan datang.
Semalam ia melihat perubahan di mata Rania saat ia menyebut nama Xavier.
Marco bangkit dari tempat tidur, mengenakan celana training dengan cepat. Ia berdiri di depan pintu kamar mandi, tanpa ragu untuk mengetuk.
“Rania…” panggilnya pelan.
Di dalam, Rania memejamkan mata.
Suara itu. Hangat. Tapi sekarang terasa seperti pertanyaan yang menuntut jawaban.
Ia membuka pintu,tatapan mereka bertemu.
Sunyi.
Marco melangkah mendekat Rania mundur satu langkah.
“Hubby…” panggil Rania , “Siapa nama Asli Sean?” tanya Rania.
Marco menajamkan mata sebentar, lalu kembali melembut
“Sayang, kenapa tiba-tiba kamu ingin tau nama asli nya? Bukankah kalian teman sekolah?” tanya Marco lembut berusaha menyembunyikan kecemburuan nya.
Jantung Rania terdiam, Marco melangkah mendekat lagi menarik pinggang Rania mendekat lalu mengusap Pinggang Istrinya.
"Sayang jangan bicarakan laki-laki lain denganku, aku tidak suka" ujar Marco lembut.
Rania tersenyum lalu mengangguk pelan.
"Maaf..."
Marco tersenyum kali ini, ia mendekatkan wajahnya dan hendak mencium Rania lalu pintu kamar tiba-tiba terbuka.
Vano dan Cantika masuk menatap mereka berdua. "Kalian lagi ngapain?" tanya Vano pelan.
Rania tersentak kaget dan segera mendorong Marco menjauh.
"Eh anak-anak, kalian sudah bangun?" tanya Rania gugup.
Marco langsung mendekat dan menyembunyikan tubuh Rania di belakang nya.
"keluar dulu Son" ujar Marco ada Vano.
Vano keluar membawa Cantika, lalu Marco berbalik.
"Sayang kau harus dihukum karna memperlihatkan tubuh mu pada laki-laki lain" ujar Marco menggendong Rania.
Rania melotot, ia lupa hanya mengenakan handuk. "Tapi Vano kan anak ku" ujar Rania.
"anak kita sayang! Meski begitu dia tetap seorang laki-laki" ujar Marco dingin.
Dan Yap, Rania benar-benar harus menjinakkan serigala lapar pencemburu ini, dengan anak nya saja dia cemburuan.