NovelToon NovelToon
The Shadowed Psyche

The Shadowed Psyche

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Balas Dendam
Popularitas:604
Nilai: 5
Nama Author: De Veronica

Sinopsis Bab

Kedatangan Alexey Liebert ke kampus elite Icheon langsung mengguncang keseimbangan yang selama ini mapan. Sosoknya yang dingin, tertutup, dan mencolok dengan aura berbahaya segera menarik perhatian, sekaligus memicu bisik-bisik kagum dan rasa terusik di kalangan mahasiswa. Namun di balik statusnya sebagai mahasiswa baru rekomendasi internasional, Alexey menyimpan masa lalu kelam: putra pewaris dunia bayangan yang kembali ke Icheon bukan semata untuk kuliah, melainkan untuk tujuan tersembunyi yang berakar pada kematian ibunya delapan tahun lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Veronica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Catatan Harian Seoyon

Saat Alexey dan Kang Mira kembali ke ballroom, Haerim langsung menghampiri mereka dengan wajah cemberut dan tangan terlipat di dada.

"Kalian lama banget!" gerutu Haerim kesal sambil menatap bergantian ke arah ibunya dan Alexey. "Aku sampai bosen nunggu sendirian di sini. Kalian ngobrolin apa sih sampai selama itu?"

Nada suaranya terdengar ngambek, tapi matanya penuh kekhawatiran, seolah takut ada sesuatu yang buruk terjadi di antara mereka.

"Jangan desak ibumu," ucap Alexey dengan nada datar namun lembut sambil menatap Haerim. "Aku akan menceritakan semuanya sendiri padamu nanti."

Tangannya terangkat sejenak, seolah ingin menyentuh pipi Haerim namun ditahannya karena masih di tempat umum.

"Haerim sayang, temani Alexey dulu ya," pinta Kang Mira sambil mengelus lengan putrinya dengan lembut. "Mommy harus ketemu Daddy kamu sebentar. Dia pasti kewalahan menangani tamu sendirian."

Kang Mira tersenyum tipis ke arah Alexey sebelum berbalik pergi mencari suaminya di antara kerumunan tamu.

Haerim menarik tangan Alexey dengan lembut, membawanya keluar dari keramaian ballroom menuju taman hotel yang tenang dan sejuk.

"Ayo duduk di sini," ajak Haerim sambil menepuk bangku taman di sampingnya. "Hirup udara segar dulu. Aku tahu pasti kamu capek, apalagi habis ngobrol sama Mommy. Pasti berat banget ya pembicaraan kalian..."

Saat Alexey duduk di bangku taman, Haerim langsung memeluknya dari samping dengan lembut. Kepalanya bersandar di bahu Alexey, tangannya melingkar erat di lengan pria itu.

"Aku nggak akan maksa kamu cerita sekarang," bisiknya pelan di telinga Alexey, suaranya lembut dan penuh pengertian. "Aku bakal nunggu, sampai kamu siap. Sampai kamu merasa aman buat cerita semuanya ke aku. Aku nggak kemana-mana, Alexey..."

Pelukannya mengerat sedikit, seolah ingin ngasih kenyamanan dan kehangatan yang Alexey butuhkan.

"Terima kasih, Haerim," ucap Alexey pelan dengan nada tulus, tangannya menggenggam tangan Haerim yang memeluknya.

"Jangan!" larang Haerim tiba-tiba sambil melepaskan pelukannya, air matanya mulai mengalir deras. "Jangan bilang terima kasih padaku, Alexey!"

Suaranya bergetar penuh emosi.

"Dengan terungkapnya fakta bahwa kamu anak Bibi Seoyon," isaknya semakin keras, tangannya menutupi wajahnya yang basah. "Seharusnya aku, seharusnya aku udah dari awal ada di sampingmu! Nemenin kamu, dukung kamu, lindungin kamu. Tapi aku nggak tahu apa-apa! Aku bahkan nggak ngapa-ngapain buat kamu selama ini!"

Ia menatap Alexey dengan tatapan hancur, air matanya terus mengalir.

"Jadi kumohon, jangan bilang terima kasih. Aku yang harusnya minta maaf..."

Alexey mengangkat tangannya dan menghapus air mata Haerim dengan ibu jarinya secara perlahan, tatapannya melunak melihat wajah Haerim yang basah.

"Berhenti menangis," ucapnya dengan nada datar namun ada sedikit nada main-main di suaranya. "Kamu sangat jelek kalau menangis. Hidungmu merah, matamu bengkak, tidak cocok untukmu."

"Aku nggak jelek!" bantah Haerim cepat sambil ngusap hidungnya yang merah. "Justru aku makin imut kan kalau hidungnya merah begini? Kayak kelinci, atau, atau..."

Ia menatap Alexey dengan mata yang masih berkaca-kaca, tapi ada sedikit cemberut di bibirnya.

"Kamu aja yang nggak ngerti estetika nangis!" tambahnya dengan nada ngambek sambil mukul pelan lengan Alexey.

"Kamu tetap cantik," ucap Alexey datar namun tulus.

Ia bangkit dari bangku taman dan mengulurkan tangannya.

"Ayo pulang," ajaknya dengan nada lembut. "Aku akan mengantarmu. Sudah malam, kamu pasti lelah..."

Haerim menerima uluran tangan Alexey dengan lembut, jari-jari mereka saling bertautan. Mereka berdua berjalan menuju parkiran dalam keheningan yang nyaman. Setelah masuk ke dalam mobil, mereka langsung melaju menuju rumah Haerim.

Tiga puluh menit kemudian, mobil Alexey berhenti tepat di depan gerbang rumah keluarga Kang.

"Tidur yang nyenyak," perintahnya dengan nada datar namun penuh perhatian. "Jangan memikirkan apapun malam ini. Besok aku akan menjemputmu."

"Terima kasih, Alexey," ucap Haerim dengan senyum lembut. Ia mendekat dan mengecup pipi Alexey dengan cepat, lalu segera membuka pintu mobil untuk turun.

Namun sebelum kakinya menyentuh tanah, Alexey menarik lengannya dengan cepat, membuatnya kembali masuk ke dalam mobil. Tanpa peringatan, Alexey langsung mencium bibirnya dengan lembut namun penuh intensitas.

Haerim yang awalnya kaget, perlahan mulai membalas ciuman itu dengan lembut, gerakannya sudah tidak sekaku dulu, lebih natural dan penuh perasaan.

Setelah ciuman itu berakhir, Haerim menarik napas dengan wajah memerah padam.

"Kamu selalu aja tiba-tiba begini!" protesnya. "Bikin kaget terus! Jantungku nggak kuat, tau..."

"Masuklah," perintah Alexey dengan nada lembut.

Haerim mengangguk pelan dan keluar dari mobil. Ia berdiri di depan gerbang rumahnya, menatap mobil Alexey.

"Dia pasti menanggung beban yang berat banget selama hidupnya," gumamnya pelan. "Mulai sekarang, aku janji bakal terus ada buat dia."

Ia melambai pelan ke arah mobil Alexey sebelum berbalik masuk ke dalam rumah.

Di kamar, Haerim melepaskan gaun elegannya dengan gerakan lelah. Ia langsung merebahkan tubuhnya ke kasur.

"Semoga Alexey selalu baik-baik aja," gumamnya pelan. "Ya Tuhan, tolong jaga dia. Kumohon..."

Air matanya kembali mengalir pelan di pipi, namun kali ini ia membiarkannya mengalir begitu saja hingga akhirnya matanya perlahan terpejam, tenggelam dalam tidur yang lelah.

Pagi harinya, mobil Alexey memasuki halaman kediaman keluarga Kang tepat waktu. Ia turun dari mobil dengan setelan kasual namun tetap rapi dan berjalan menuju pintu utama.

Kang Mira yang sudah menunggu bersama Haerim di ruang makan langsung menyambutnya dengan senyum hangat.

"Alexey, pagi," sapa Kang Mira dengan ramah sambil berdiri dari kursinya. "Kamu datang tepat waktu. Ayo, sarapan dulu."

"Betul kata istriku," ucap Taesok sambil tersenyum hangat dari ujung meja makan. "Jangan sungkan. Anggap saja rumah sendiri."

Mereka berempat sarapan bersama dengan suasana yang tenang dan hangat. Sesekali Taesok bertanya ringan tentang kuliah, dan Kang Mira tersenyum melihat putrinya yang sesekali melirik malu ke arah Alexey.

Setelah selesai, Alexey dan Haerim beranjak dari kursi, bersiap berangkat ke kampus.

"Alexey, tunggu sebentar," panggil Kang Mira sambil berdiri dari kursinya. "Ada yang ingin Mommy berikan padamu..."

Ia berjalan menuju ruang kerjanya sebentar, lalu kembali dengan sebuah buku catatan berkulit cokelat tua yang terlihat sudah usang namun terawat dengan baik.

"Ini, catatan harian ibumu, Seoyon," ucapnya pelan dengan suara bergetar. "Dia menitipkan ini padaku beberapa minggu sebelum, kejadian itu. Mungkin di sini ada jawaban yang kamu cari selama ini..."

Alexey menerima buku catatan itu dengan kedua tangannya, menatapnya sejenak dengan tatapan yang sulit dibaca.

"Terima kasih sudah menjaganya dengan baik selama ini, Bu," ucapnya dengan nada datar namun penuh rasa hormat dan ketulusan. "Ini, sangat berarti bagi saya..."

Alexey dan Haerim pun berpamitan dengan sopan, lalu berangkat menuju kampus dengan mobil Alexey.

Tak lama setelah mereka pergi, Rektor Minsook tiba-tiba datang dengan tergesa-gesa.

Kang Mira yang masih duduk di meja makan bersama Taesok langsung menoleh dengan alis terangkat.

"Minsook?" tanya Kang Mira sambil meletakkan cangkir tehnya. "Apa yang membuatmu terburu-buru datang di pagi buta begini? Ada masalah apa?"

"Kak," ucap Minsook terdengar cemas. "Apa Kakak masih mencoba mencari tahu tentang kematian Seoyon?"

Ia menatap kakaknya dengan tatapan serius dan khawatir.

"Sebaiknya jangan lakukan itu lagi," lanjutnya dengan nada memohon namun tegas.

"Kenapa harus dihentikan?" tanya Kang Mira dengan nada curiga sambil berdiri dari kursinya.

Minsook menelan ludah dengan gugup, tangannya meremas ujung jasnya.

"Karena, Nyonya Kim Hwaran tidak suka kalau ada yang mengungkit kasus itu kembali," jelasnya dengan nada pelan namun tegang. "Putrinya sudah lama tiada. Beliau bilang tidak ada gunanya membuka luka lama. Ini perintah langsung dari beliau, Kak. Jangan buat masalah dengan keluarga Kim..."

Taesok yang sejak tadi diam tiba-tiba angkat bicara dengan nada dingin dan penuh sindiran.

"Sepertinya dari dulu keluarga Kim selalu menolak penyelidikan kasus itu," ucapnya. "Padahal yang meninggal itu anggota keluarga mereka sendiri. Aneh sekali."

"Sekalipun aku tidak menyelidikinya," gumam Kang Mira dengan nada dingin dan penuh makna. "Mungkin akan ada orang lain yang melakukannya. Seseorang yang punya alasan lebih kuat dariku..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!