NovelToon NovelToon
Terpisah Oleh Dinding Agama

Terpisah Oleh Dinding Agama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: abangku_ss

Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7 pengakuan

# TERPISAH OLEH DINDING AGAMA

## BAB 7: Pengakuan

Senin pagi, Alek berdiri di depan papan pengumuman OSIS. Mata lelahnya membaca poster yang terpasang:

**"KEGIATAN SOSIAL #2: KUNJUNGAN PANTI ASUHAN AL-IKHLAS**

**Sabtu, 21 Februari 2026**

**Bekerja sama dengan Pesantren Putri Al-Hikmah**

**Pendaftaran dibuka hari ini!"**

Tangannya terkepal. Ini kesempatan kedua. Kesempatan untuk ketemu Khansa lagi. Tapi lebih dari itu... kesempatan untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang terus menghantui: *Apa ini hidup yang gue cari?*

"Lo mau ikut lagi?" suara Riki dari belakang.

Alek menoleh. "Iya."

"Serius? Bukannya lo udah bilang mau keluar dari geng? Kalau lo ikut lagi, Dimas bakal—"

"Gue tau resikonya," potong Alek. "Tapi gue tetep ikut."

Riki menatap sahabatnya dengan tatapan heran. "Lo berubah, Lex. Gue nggak tau ini bagus atau buruk. Tapi lo... beda."

Alek tidak menjawab. Dia langsung menuju ruang OSIS, menulis namanya di kertas pendaftaran.

**Alexander Panjaitan - XII IPA 2**

Untuk kedua kalinya.

***

Rabu siang, saat Alek sedang istirahat di kantin, Dimas datang. Wajahnya dingin. Diikuti Bagas dan Kevin.

Semua siswa di kantin langsung diam. Mereka tahu—kalau Dimas datang ke sekolah dengan muka begitu, ada masalah besar.

"Lex, keluar," kata Dimas singkat.

Alek berdiri, mengikuti Dimas ke belakang gedung sekolah. Tempat yang sepi. Riki ikut dari jauh, khawatir.

"Lo masih ikut kegiatan bareng pesantren?" tanya Dimas langsung to the point.

"Iya."

"Kenapa?"

"Gue suka kegiatan kayak gitu."

Dimas tertawa sinis. "Lo suka? Atau lo suka sama salah satu cewek di sana?"

Alek tersentak. Tapi dia menjaga ekspresi wajahnya tetap datar.

"Gue cuma ikut kegiatan sosial, Bang."

"Bullshit," kata Kevin dari samping. "Lo udah berubah, Lex. Lo lemah. Lo nggak fokus pas tawuran. Sekarang lo malah sibuk sama kegiatan sosial? Lo pikir kita bodoh?"

Dimas mengangkat tangan, menyuruh Kevin diam. Lalu menatap Alek tajam.

"Lex, gue kasih lo kesempatan terakhir. Minggu depan, Minggu malam, ada rapat besar di markas. Semua anggota wajib dateng. Itu rapat buat nentuin siapa yang loyal dan siapa yang... nggak."

"Maksud lo?"

"Lo dateng, berarti lo masih bagian dari kita. Lo nggak dateng... lo jadi musuh."

Hening.

"Bang, gue udah bilang—"

"Gue nggak mau denger alasan," potong Dimas. "Minggu malam. Dateng atau jadi musuh. Pilihan ada di lo."

Dimas berbalik, pergi bersama Bagas dan Kevin. Alek berdiri sendirian, termenung.

Riki menghampiri. "Lex... lo bakal dateng?"

"Gue nggak tau."

"Kalau lo nggak dateng, mereka bakal... lo tau sendiri kan gimana geng kita nge-treat pengkhianat?"

Alek tahu. Pengkhianat dipukuli sampai babak belur. Atau lebih parah lagi. Ada yang sampai masuk rumah sakit.

"Gue mikir dulu, Rik."

***

Sabtu pagi. Alek datang ke sekolah dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, dia excited karena bisa ketemu Khansa lagi. Di sisi lain, ancaman Dimas terus membayangi.

"Minggu malam," gumamnya. "Besok malam gue harus putuskan."

Rombongan pesantren datang. Mobil pick-up yang sama. Sepuluh santriwati turun dengan seragam putih-putih. Alek langsung mencari tas punggung cokelat.

Ada. Khansa.

Jantungnya berdegup lebih cepat.

***

Pembagian kelompok. Lagi-lagi, entah kebetulan atau takdir, Alek sekelompok dengan Khansa dan Maryam. Riki juga sekelompok.

"Assalamu'alaikum," sapa Khansa.

"Wa'alaikumsalam," jawab Riki. Alek cuma mengangguk—tapi senyum tipis terukir di wajahnya.

"Senang ketemu lagi, Mas Alexander," kata Khansa. Suaranya lembut seperti biasa.

"Iya... gue juga," jawab Alek—untuk pertama kalinya menjawab dengan jujur.

Mereka naik mobil pick-up menuju Panti Asuhan Al-Ikhlas di daerah Cicadas. Perjalanan sekitar tiga puluh menit. Kali ini, Alek duduk di samping Riki. Khansa dan Maryam duduk di seberang.

Sepanjang perjalanan, Alek sesekali melirik Khansa. Dia sedang membaca buku kecil—sepertinya Al-Qur'an saku. Jemarinya membalik halaman dengan lembut, bibirnya bergerak pelan seperti sedang membaca dalam hati.

"Dia selalu kayak gitu," pikir Alek. "Tenang. Damai. Seperti... hidup punya tujuan."

***

Panti Asuhan Al-Ikhlas adalah bangunan sederhana dua lantai yang sudah agak tua. Cat temboknya mengelupas di sana-sini. Tapi halaman depannya bersih, penuh dengan tanaman.

Mereka disambut oleh Ibu Hana, pengurus panti yang sudah berusia 50-an.

"Alhamdulillah, terima kasih sudah datang. Anak-anak pasti senang," kata Ibu Hana sambil tersenyum hangat.

Di ruang tengah, sekitar dua puluh anak yatim piatu duduk menunggu. Usia mereka beragam—dari 5 tahun sampai 15 tahun. Mata mereka berbinar melihat tamu datang.

"Assalamu'alaikum!" sapa para santriwati.

"Wa'alaikumsalam!" jawab anak-anak kompak.

Kegiatan dimulai. Mereka main bersama anak-anak—puzzle, menggambar, bernyanyi. Alek yang biasanya kaku, kali ini mencoba ikut bermain.

Seorang anak laki-laki kecil, mungkin usia 7 tahun, menghampiri Alek. Wajahnya bulat, matanya besar, senyumnya polos.

"Kakak... main sama aku?" tanyanya sambil menyodorkan mainan mobil-mobilan.

Alek terdiam. Anak itu... mirip David. David waktu kecil. Wajah yang polos, senyum yang tulus.

"Kakak?" panggil anak itu lagi.

Alek tersadar. "Iya... Kakak main sama kamu."

Mereka bermain mobil-mobilan di lantai. Anak itu tertawa riang. Alek... untuk pertama kalinya sejak lama, tersenyum tulus. Bukan senyum sinis. Bukan senyum palsu. Tapi senyum dari hati.

"Kakak, nama aku Rizki. Nama Kakak siapa?" tanya anak itu.

"Alek."

"Kak Alek... Kakak punya orang tua?"

Pertanyaan itu menohok.

"Iya. Kenapa?"

"Aku nggak punya. Mama Papa aku udah di surga. Tapi kata Ibu Hana, mereka jaga aku dari sana."

Alek merasakan sesuatu mencekik tenggorokannya. Anak sekecil ini sudah kehilangan orang tua. Tapi dia masih bisa tersenyum. Masih bisa bahagia.

"Kamu... nggak sedih?" tanya Alek pelan.

"Sedih. Tapi Ibu Hana bilang, kalau aku sedih terus, Mama Papa di surga jadi sedih juga. Jadi aku harus kuat."

Alek menatap anak itu lama. Kuat. Anak sekecil ini sudah belajar untuk kuat. Sementara dia—yang punya orang tua lengkap, punya rumah, punya segalanya—malah hidup dalam kegelapan.

"Lo... lo hebat, Rizki," kata Alek tulus.

"Hehe, makasih Kak Alek!"

***

Setelah kegiatan selesai, saat semua sedang membereskan, Alek melihat Khansa sedang duduk sendiri di teras panti, menatap langit sore.

Alek memberanikan diri menghampiri. Maryam ada di dekat, tapi memberi jarak sopan.

"Khansa," panggil Alek pelan.

Khansa menoleh. "Ya, Mas?"

"Boleh... boleh ngobrol sebentar?"

Khansa melirik Maryam. Maryam mengangguk—tanda dia akan jadi mahram dari jarak agak jauh.

"Boleh, Mas. Ada yang mau ditanyakan?"

Alek duduk—dengan jarak aman sekitar satu meter dari Khansa. Hatinya berdebar. Ini pertama kalinya dia mengajak Khansa ngobrol secara langsung.

"Khansa... gue mau tanya sesuatu."

Khansa menunggu, tatapannya penuh perhatian.

"Kenapa lo... maksud gue kamu, baik banget sama gue? Padahal kita... beda."

"Beda gimana, Mas?"

Alek menghela napas. "Lo dari pesantren. Hidup teratur, religius, penuh aturan. Gue dari... dunia yang gelap. Gue anggota geng motor. Sering tawuran. Sering luka-lukain orang. Hidup kacau. Berantakan."

Khansa terdiam sebentar. Alek mengira dia akan takut, atau jijik. Tapi tidak.

"Justru karena itu, Mas," kata Khansa lembut.

"Maksudnya?"

"Kalau Mas sudah baik, Mas nggak butuh bantuan. Tapi kalau Mas masih mencari... berarti Mas masih bisa diselamatkan."

Alek tersentak. Kata-kata itu—lagi-lagi—menohok.

"Lo... lo nggak takut sama gue? Nggak jijik?"

Khansa menggeleng pelan. "Kenapa harus takut? Mas kan datang di sini buat berbagi kebaikan. Itu artinya... ada bagian baik dalam diri Mas yang masih hidup."

"Khansa... boleh gue tanya sesuatu?"

"Silakan, Mas."

"Lo... lo lihat gue gelisah nggak?"

Khansa mengangguk perlahan. "Iya. Mas terlihat... seperti sedang mencari sesuatu. Tapi belum tahu apa yang dicari."

Alek tertawa miris. "Lo bener. Gue... gue lagi bingung sama hidup gue. Gue ngerasa... kosong. Ngerasa hidup gue nggak ada artinya. Cuma... berantem, luka, berantem lagi. Sampai kapan?"

Khansa mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Mas... boleh saya kasih saran?"

"Iya, please."

"Kalau Mas merasa gelisah... coba cari kebenaran. Jangan berhenti sampai Mas menemukan jawaban yang benar-benar bikin hati tenang."

"Kebenaran... yang mana?"

Khansa tersenyum lembut. "Itu yang harus Mas cari sendiri, Mas. Saya nggak bisa paksa. Tapi saya percaya, setiap orang yang tulus mencari kebenaran... akan diberi petunjuk."

"Petunjuk dari siapa?"

"Dari Yang Maha Tahu. Tinggal... kita mau buka hati atau nggak."

Alek terdiam lama. Kata-kata itu sederhana. Tapi menohok.

"Khansa... lo yakin gue masih bisa... berubah?"

"Saya yakin, Mas. Selama Mas masih hidup, selama Mas masih punya hati yang mau mencari... pasti ada jalan."

Hening sejenak. Hanya suara angin sore dan anak-anak bermain di kejauhan.

"Saya doakan semoga Mas menemukan jalan yang benar, Mas," kata Khansa tulus. "Jalan yang membawa ketenangan. Jalan yang... membuat hidup Mas punya makna."

Alek menatap Khansa lama. Ada air mata yang ingin keluar, tapi dia tahan.

"Terima kasih," bisiknya.

"Sama-sama, Mas."

Mereka duduk dalam diam yang nyaman. Tidak perlu banyak kata. Kadang, kehadiran seseorang saja sudah cukup untuk menenangkan hati yang gelisah.

***

Malam itu, Alek berbaring di kasurnya. Pikiran penuh dengan percakapan tadi.

*"Cari kebenaran. Jangan berhenti sampai Mas menemukan jawaban."*

Kebenaran. Apa itu kebenaran?

Dia menatap Alkitab di meja belajarnya—sudah berdebu, lama tidak dibuka. Alek bangun, mengambil Alkitab itu, membukanya.

Dia membaca beberapa ayat. Tapi entah kenapa... rasanya tidak "nyambung". Seperti ada jarak yang tidak bisa dijelaskan.

"Kenapa gue ngerasa... jauh?" gumamnya.

Dia menutup Alkitab. Menatap langit-langit kamar.

Besok malam. Minggu malam. Dia harus putuskan. Datang ke rapat geng atau tidak.

Kalau datang, dia harus loyal ke geng lagi. Harus tawuran lagi. Harus hidup dalam kegelapan lagi.

Kalau tidak datang... dia jadi musuh. Dipukuli. Mungkin lebih parah.

"Gue harus milih," bisiknya.

Dan di sudut hatinya yang paling dalam, dia sudah tahu jawabannya.

Dia tidak akan datang.

Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia ingin mencari... kebenaran.

Apapun konsekuensinya.

***

**Bersambung ke Bab 8...**

*"Kebenaran itu seperti cahaya. Kalau kamu tulus mencarinya, meski dalam kegelapan sekalipun, kamu akan menemukannya." - Anonim*

1
Hana Agustina
saranny.. apapum kondisi like n komentar nya.. tlg teteo bwrkarua thor.. krn banyak sekali pelajaran dlm kisah ini, utk sy yg msh tertatih belajar utk perbaiki diri ini.. tetep semangat y thor.. cerita ini indah sekali
Hana Agustina
saya baca tiap kata demi kata sambil menahan haru, tenggorokan sy serasa tertahan krn menahan berbagai macam perasaan.. seolah sy ikut menjadi saksi bgmn perjalanan seorang Alex memcari jati diri nya.. trimakasih thor.. cerotamu ini bener bener a masterpiece buat sy
Hana Agustina
kenapa cerita sebagus ini sepi pembaca.. sy setia nungguin setiap update kamu .. tetep semangat ya sampai selesai..dr cerita ini banyak pembelajaran itk sy belajar
Almun
alur menarik,tulisan rapi,dan cukup detail dalam men deskripsikan. KALIAN HARUS COBA BACA🥳
Alfina Assovah
sumpah..ceritanya bagus banget😍
Almun
Demi apapun kak,aku jatuh cinta sama tulisan kakak.Semoga suatu saat lebih banyak orang yg kenal karya karya kakak.🤍🤍SEMANGAT💪
Hana Agustina
alex... trus semangat ya mencari kebenaran yg hakiki.. sy ikut belajar loh dr kisahmu. kopi ya.. ini buat nemenin kamu
Hana Agustina
indah sekaliii... tiap narasi yg tercipta dr perjalanan alex .. indah sekali... masyaAllah
nabila(khansa?)
awas loh sampe sad ending 😤😤😌
Nazril Ilham: kalau di bikin sad emang kamu mau ngapain aku
total 1 replies
nabila(khansa?)
keren sih cerita kamu👍
Nazril Ilham: mana cerita mu
total 1 replies
Hana Agustina
pantas saja.. cerita yg dipaparkan terasa smp kerelung hati sy..
Hana Agustina
ikut nyesek🥺
Hana Agustina
semangat alex...
Hana Agustina
ya Allah Alex.. 🥺
Hana Agustina
ditunggu upny thor.. saya sukaa banget n penasaran
Hana Agustina
masyaAllah.. indah sekali ceritanyaaaa... 🙏
Cahaya. R. P
seriusan nih sepi banget...?? 0adahal bagus lohh cerita nya
Cahaya. R. P: 🗿🗿 kwkwkw
total 2 replies
Cahaya. R. P
yahh bersambung... sedihh dehh...jangan sampe sad ending donggg ngga tegaa
Cahaya. R. P
akhirnya upload... makasihh author... bagusss bangett ihh😍😍😍
hehe semangat bangg
Cahaya. R. P
kapan lanjut lagi nihh author..??
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg
PAGMA: Peter punk❓😱😱🤩
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!