Perasaan Kaylee Lumiere didasari oleh kasih sayang yang begitu besar sehingga ia rela menomorduakan kebahagiaannya sendiri.
Ia lebih memilih mendengarkan cerita cinta Atlas Theodore dengan wanita lain daripada mengambil risiko menyatakan cinta dan kehilangan kehadiran Atlas selamanya. Baginya, "memiliki Atlas sebagai sahabat" jauh lebih baik daripada "kehilangan Atlas karena cinta yang ditolak."
Kaylee Sudah ahli Menekan rasa cemburu, sesak napas, dan teriakan di dalam hati yang ingin mengatakan, "Seharusnya aku yang ada di posisi itu."
Kaylee merasa seperti berdiri di balik kaca bening. Ia bisa melihat Atlas dengan sangat jelas, menyentuhnya, dan mengetahui setiap rahasia terkecilnya, namun ada penghalang tak kasat mata yang mencegahnya untuk melangkah lebih jauh. Ia adalah orang paling dekat, sekaligus orang paling jauh dari hati Atlas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibalik Suara Yang Berisik
Minggu pagi di Helsinki biasanya tenang, diselimuti kabut tipis yang menyapu permukaan danau di taman pusat kota. Bagi Niel Theodore, ini adalah waktu suci untuk menjernihkan pikiran dari tumpukan desain arsitektur yang mulai ia pelajari secara otodidak. Mengenakan setelan hoodie hitam dan celana jogger senada, Niel berlari dengan ritme yang konstan, napasnya keluar sebagai uap putih di udara dingin.
Namun, ketenangan itu hancur berkeping-keping saat ia melewati area paviliun terbuka.
Dari kejauhan, ia sudah bisa melihat sebuah tripod berdiri kokoh dengan kamera profesional di atasnya, serta lampu ring light portabel yang sangat kontras dengan pencahayaan alami pagi itu.
Di depan lensa tersebut, seorang gadis sedang melakukan gerakan peregangan yang sangat tidak natural, lebih mirip pose majalah daripada olahraga sungguhan.
"Halo followers-ku tercinta! Lihat, Elizaveta sedang berolahraga di taman pagi ini. Sporty outfit yang kupakai ini adalah koleksi terbaru dari kolaborasiku, bahannya sangat lembut dan... oh my God, warnanya sangat serasi dengan kulitku yang glowing," ucap Eliza dengan nada suara yang ditinggi-tinggikan, lengkap dengan senyum lebar yang memperlihatkan bibir merah menyalanya.
Niel memperlambat larinya. Ia memutar bola mata dengan rasa muak yang sudah sampai ke ubun-ubun. "Dasar narsis," gumamnya rendah, suaranya nyaris tertelan suara angin.
Niel bermaksud melewati area itu dengan cepat, namun sial baginya, Eliza justru menyadari kehadirannya. Gadis itu segera mengarahkan sudut wajahnya ke arah kamera agar rahangnya terlihat sempurna, lalu melambaikan tangan dengan centil.
"Oh, lihat siapa yang datang! Ada Pangeran Es kita yang selalu suram. Niel! Sini, masuk ke frame-ku! Followers-ku pasti suka melihat kontras antara si cantik Eliza dan si manusia batu sepertimu," teriak Eliza tanpa memedulikan tatapan tajam Niel.
Niel berhenti tepat di depan kamera Eliza, menghalangi pandangan lensa tersebut. Ia berdiri tegak, tangannya dimasukkan ke dalam saku hoodie, menatap Eliza dengan pandangan yang sanggup membekukan air danau.
"Singkirkan benda-benda sampah ini dari jalanan umum, Petrovna," ucap Niel dingin. Kalimatnya singkat, namun penuh penekanan yang membuat Eliza tersentak.
Eliza berkacak pinggang, bibir merahnya mengerucut kesal. "Sampah? Kamu bilang alat kerjaku sampah? Kamu tidak tahu berapa banyak orang yang menunggu konten estetikku pagi ini? Tidak semua orang mau hidup membosankan seperti kamu yang hanya tahu lari dan membaca buku tua!"
"Estetik?" Niel mendengus sinis, tawa pendek yang meremehkan keluar dari mulutnya. "Berlari dengan lipstik setebal itu dan membawa lampu di tengah taman publik bukan estetik, Eliza. Itu namanya haus perhatian. Kamu terlihat seperti badut yang tersesat di hutan," ucapnya tanpa ampun.
Wajah Eliza memerah, bukan karena lelah berolahraga, tapi karena amarah yang meluap. Ia melangkah maju, mendekati Niel hingga aroma parfum mawarnya yang kuat menusuk indra penciuman Niel.
"Setidaknya aku punya kehidupan! Aku bekerja, aku menghasilkan uang sendiri sebagai model. Bukan seperti kamu yang hanya bersembunyi di balik nama besar Theodore dan tidak punya emosi!"
"Aku lebih suka tidak punya emosi daripada punya emosi yang palsu hanya demi likes di internet," gumam Niel, matanya menatap tajam ke arah Eliza.
"Setiap kata yang keluar dari mulutmu hanya tentang pamer. Apa kamu tidak punya isi otak lain selain harga tas dan jumlah pengikut?"
Eliza terdiam sejenak, matanya berkaca-kaca karena tersinggung, namun ego besarnya segera menutupi kerapuhan itu. "Kamu tidak tahu apa-apa tentangku, Niel! Kamu hanya laki-laki arogan yang merasa paling pintar karena nilaimu selalu sempurna. Tapi di mata sosial, kamu itu nol besar!"
Niel mendekat selangkah lagi, membuat Eliza harus mendongak. Di jarak sedekat ini, Niel bisa melihat pori-pori kulit Eliza yang sebenarnya bersih tanpa riasan tebal itu.
"Terserah apa katamu. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu..." Niel menggantung kalimatnya, ia sedikit merunduk, berbisik tepat di samping telinga Eliza dengan suara bariton yang dalam. "Lipstik merah itu... benar-benar mengganggu pemandangan pagi ini. Hapus saja, kamu terlihat lebih lumayan tanpa itu."
Setelah membisikkan kalimat yang membuat jantung Eliza berdetak tidak keruan, Niel kembali tegak. "Minggir. Kamu menghalangi jalur lariku," ucapnya lagi, kali ini lebih datar.
Eliza mematung, ia hanya bisa melihat punggung lebar Niel yang kembali menjauh dengan lari kecilnya. Ia baru tersadar saat ponselnya di atas tripod berbunyi karena notifikasi baterai lemah.
"Niel Theodore! Sialan kamu! Berhenti mengatakan aku berisik!" teriaknya pada punggung Niel yang kian menjauh.
"Sangat cerewet," gumam Niel di sepanjang sisa jalurnya. Namun, kali ini, ada senyum tipis yang hampir tidak kentara di sudut bibirnya. Ia merasa puas bisa membuat gadis Rusia yang biasanya selalu menang bicara itu bungkam meski hanya beberapa detik.
Bagi Niel, Eliza adalah gangguan paling berisik di dunianya yang sunyi. Tapi entah kenapa, gangguan itu mulai terasa seperti sebuah keharusan di setiap paginya. Ia membencinya, sungguh membencinya, atau setidaknya, begitulah cara Niel mencoba membohongi dirinya sendiri.
Malam harinya, Niel duduk di meja makan bersama Atlas dan Kaylee. Ia terlihat lebih banyak diam dari biasanya, mengaduk-aduk supnya tanpa minat.
"Niel, ada apa? Sejak pulang dari taman tadi pagi, mukamu makin terlihat seperti bongkahan es," ucap Kaylee sambil meletakkan sepotong roti di piring Niel.
Niel meletakkan sendoknya. "Gadis Petrovna itu lagi, Ma. Dia membawa kamera dan lampu ke taman. Berisik sekali. Aku tidak mengerti bagaimana orang bisa tahan dengan wanita sepertinya," gumamnya dengan nada kesal.
Atlas tertawa kecil, ia melirik istrinya dengan tatapan yang penuh arti. "Kamu tahu, Niel? Dulu Papa juga pernah merasa sangat terganggu dengan seseorang yang terus muncul di sekitar Papa. Orang itu selalu berisik dan keras kepala."
Niel mendongak. "Lalu apa yang Papa lakukan?"
"Papa menikahinya," ucap Atlas santai, yang langsung dibalas cubitan kecil oleh Kaylee di lengannya.
"At! Jangan mengajari Niel yang tidak-tidak," ucap Kaylee sambil tertawa. Kemudian ia beralih ke Niel. "Niel, terkadang orang bersikap berisik untuk menutupi sesuatu yang sepi di dalamnya. Mungkin Eliza tidak seburuk yang kamu pikirkan."
Niel terdiam. Ia teringat tatapan mata Eliza tadi pagi saat ia menghinanya. Ada kilat kemarahan, tapi ada sesuatu yang lain yang tidak bisa ia jelaskan. "Terserah. Dia tetap saja menyebalkan," ucapnya pendek, mengakhiri pembicaraan.
Namun, sebelum tidur malam itu, Niel tanpa sengaja membuka aplikasi media sosialnya. Akun Elizaveta Petrovna muncul di urutan pertama karena gadis itu baru saja mengunggah video.
Di sana, Eliza terlihat sedang tertawa dengan tas barunya, namun di akhir video, saat ia mengira kamera sudah mati, Eliza menghela napas panjang dan menatap kosong ke arah danau dengan wajah yang terlihat sangat... lelah.
Niel segera menutup aplikasi itu dengan kasar. "Benar-benar mengganggu," gumamnya pelan sambil mematikan lampu kamar, mencoba mengusir bayangan gadis berisik dengan bibir merah menyala itu dari pikirannya yang mulai kacau.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍😍😍