NovelToon NovelToon
GERBANG YANG SAMA

GERBANG YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 - Serangan Kedua

Suasana di dalam bus 4 mendadak berubah menjadi kabin komedi berjalan. Begitu mesin bus menderu dan roda mulai menggelinding meninggalkan area parkir Borobudur, keheningan yang baru tercipta selama dua menit langsung pecah oleh suara yang tidak asing.

Groook... Krrr-psssst...

Adrian dan Reno, yang posisi duduknya berseberangan di barisan paling belakang, seolah sedang melakukan simfoni dengkur yang saling bersahutan. Suaranya begitu nyaring dan ritmis, membuat seluruh siswa yang tadinya juga sudah mulai mengantuk kembali terjaga dan meledak dalam tawa serentak.

"Gila, itu suara orang tidur apa suara mesin bus yang rusak?" bisik Sammy sambil menahan tawa sampai bahunya berguncang.

Dion, sang ketua kelas, segera berdiri di lorong bus. Ia menaruh telunjuk di depan bibirnya, memberikan instruksi dengan isyarat tangan agar teman-temannya meredam tawa mereka. "Ssttt! Woi, pelan-pelan ketawanya! Biarin mereka istirahat.

Stamina mereka beneran habis tadi, dari main basket subuh-subuh sampai naik turun tangga candi sambil ngejar-ngejar grup foto. Kasian, biar mereka tidur sampai Jakarta kalau perlu," ucap Dion setengah berbisik, yang perlahan membuat suasana kembali kondusif.

Gery menyandarkan punggungnya, menikmati guncangan pelan bus yang terasa menenangkan. Namun, ia menyadari bahwa lengan kirinya masih "disandera" dengan erat. Vanya duduk dengan nyaman di sampingnya, memeluk lengan Gery seolah tidak mau kehilangan sedikit pun kehangatan di tengah dinginnya AC bus yang mulai menusuk.

Vanya sedikit mendongak, menatap profil samping wajah Gery yang tampak tenang. Ia melempar lirikan menggoda—tatapan penuh kemenangan yang mengingatkan Gery pada kejadian "Investigasi Facebook" di bawah pohon beringin tadi.

"Kenapa lirik-lirik gitu?" tanya Gery pelan tanpa menoleh, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.

"Nggak apa-apa," bisik Vanya tepat di dekat telinga Gery, hembusan napasnya membuat Gery sedikit bergidik. "Cuma lagi mikir aja... ternyata seru juga ya liat lo panik gara-gara 'malaikat penyelamat' lo itu. Muka lo tadi beneran nggak ternilai harganya, Ger."

Gery akhirnya menoleh, menatap mata Vanya yang berbinar jenaka. "Puas lo ya? Untung jantung gue kuat. Kalau nggak, mungkin lo udah nggak punya pacar kontrak buat diajak pulang ke Jakarta."

Vanya terkekeh lirih, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Gery dengan lebih mantap. "Ya makanya, karena lo udah lulus ujian kesabaran hari ini, gue kasih bonus. Gue nggak akan nanya soal Angela lagi... sampai kita masuk tol Cipularang nanti."

Gery hanya bisa menggelengkan kepala. Di belakang, suara dengkur Reno dan Adrian masih terdengar stabil, menjadi latar suara yang mengiringi bus menembus senja Magelang menuju jalur pantura. Perjalanan pulang yang panjang baru saja dimulai, namun bagi Gery, perjalanan kali ini terasa jauh lebih ringan dibandingkan saat ia berangkat beberapa hari yang lalu.

Lampu utama bus sudah lama dipadamkan, menyisakan keremangan cahaya biru dari lampu tidur yang memantul di kaca jendela. Jalanan Pantura yang panjang dan bergelombang membuat bus bergoyang pelan, layaknya ayunan raksasa yang meninabobokan seluruh isi kabin. Hanya terdengar deru mesin yang stabil dan sesekali suara klakson dari kejauhan. Keheningan ini benar-benar total; bahkan Reno yang tadi mendengkur keras kini sudah masuk ke fase tidur yang lebih tenang.

Gery sebenarnya berada di ambang antara sadar dan tidak. Pipinya bersandar nyaman di atas kepala Vanya, sementara lengannya masih dipeluk erat oleh gadis itu. Kehangatan di tengah dinginnya AC bus membuat Gery merasa sangat rileks. Namun, kenyamanan itu terusik saat Vanya sedikit menggeliat dalam tidurnya untuk mencari posisi yang lebih enak.

Gerakan itu membuat kepala Vanya bergeser, dan secara otomatis kepala Gery merosot jatuh lebih dalam ke arah ceruk leher dan bahu Vanya. Efek guncangan bus yang tiba-tiba membuat mereka berdua tersentak bangun secara bersamaan.

Dalam kegelapan yang temaram, kedua mata mereka terbuka dan langsung bertemu. Karena posisi kepala yang merosot tadi, wajah mereka kini berada dalam jarak yang sangat tipis—begitu dekat hingga ujung hidung mereka bersentuhan. Gery bisa merasakan embusan napas Vanya yang hangat di kulitnya. Jantungnya seolah berhenti berdetak selama satu detik penuh.

Dalam suasana yang begitu intim dan sunyi, insting jenaka nan genit Vanya mendadak bangkit. Bukannya menjauh karena canggung, Vanya justru melihat ini sebagai peluang emas.

Cup!

Dengan gerakan secepat kilat, Vanya memajukan bibirnya dan mendaratkan sebuah kecupan singkat namun telak di bibir Gery.

Gery membeku. Matanya membelalak lebar, dan dalam sekejap, seluruh wajahnya terasa panas membara seperti kepiting rebus. Detak jantungnya meledak, berpacu begitu kencang seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Ia benar-benar tidak menyangka Vanya akan seberani itu di tengah bus yang penuh orang.

Melihat ekspresi Gery yang syok berat dengan wajah merah padam, Vanya tidak bisa menahan kegeliannya. Ia melepaskan pelukan lengannya dan mulai tertawa terbahak-bahak.

"Pfftt—hahaha! Muka lo, Ger! Aduh..."

"Sssttt!" Gery yang panik setengah mati langsung bereaksi secara refleks. Ia membekap mulut Vanya dengan telapak tangannya, menekan tawa gadis itu agar tidak pecah lebih keras lagi.

Gery melirik ke depan dan ke belakang dengan waspada, takut kalau-kalau Dion atau Bu Ratna terbangun karena suara tawa Vanya. Di bawah bekapan tangan Gery, mata Vanya masih terlihat menyipit jenaka, memancarkan kepuasan karena telah sukses membuat "pacar kontrak"-nya itu kehilangan kewarasan sesaat.

"Lo gila ya, Van?" bisik Gery pelan, suaranya serak karena sisa keterkejutan. "Gimana kalau ada yang liat?"

Vanya menyingkirkan tangan Gery dari mulutnya perlahan, lalu menjulurkan lidahnya dengan jahil. "Nggak ada yang liat, Ger. Semuanya udah pingsan gara-gara kecapekan. Lagian, itu kan reward karena lo udah jujur soal Angela tadi."

Gery hanya bisa mengelus dadanya, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdebar tak karuan, sementara Vanya kembali menyandarkan kepala di bahunya dengan senyum kemenangan yang tak kunjung hilang.

Remang cahaya lampu neon dari rumah makan di rest area menyambut kedatangan Bus 4. Begitu pintu pneumatik bus terbuka dengan suara mendesis, satu per satu siswa turun dengan langkah gontai. Wajah-wajah bantal dengan mata sayu mendominasi rombongan; ada yang masih mengucek mata, ada yang meregangkan otot yang kaku, dan hampir semuanya mencari aroma kopi atau teh hangat untuk mengusir sisa kantuk.

Gery, yang sejak tadi menahan gejolak di dadanya—baik karena kecupan Vanya maupun karena tekanan di kandung kemihnya—menjadi orang pertama yang melompat turun dari tangga bus. Tanpa memedulikan penampilannya yang berantakan, ia langsung melesat lari sekencang mungkin menuju arah toilet umum.

Cara lari Gery yang sedikit aneh, dengan langkah kaki yang rapat seolah sedang menjepit sesuatu, langsung memancing perhatian Reno dan Dion yang baru saja menapakkan kaki di aspal.

"Woi, Ger! Pelan-pelan! Nggak bakal lari itu toiletnya!" teriak Reno sambil tertawa keras, rasa kantuknya hilang seketika melihat pemandangan langka itu.

Dion menggelengkan kepala sambil terkekeh. "Gila si Gery, lari udah kayak anak TK yang mau mengompol di celana. Padahal tadi di bus anteng-anteng aja."

Vanya dan Nadia yang berjalan di belakang mereka pun tidak bisa menahan tawa. Vanya, yang tahu persis bahwa "tekanan" yang dirasakan Gery mungkin juga karena efek panik dan salah tingkah setelah kejadian di bus tadi, tertawa paling kencang hingga memegangi perutnya.

"Gery kenapa, Van? Kebelet banget ya?" tanya Nadia sambil tertawa geli melihat sahabatnya begitu puas menertawakan pacarnya sendiri.

"Mungkin dia lagi butuh air dingin buat mendinginkan otaknya yang baru saja korslet, Nad!" sahut Vanya dengan nada penuh arti, membuat Nadia menatapnya curiga namun tetap ikut tertawa.

Setelah urusannya di kamar kecil selesai, Gery keluar dengan wajah yang jauh lebih lega, meski pipinya masih sedikit merona saat melihat Vanya sudah berdiri menunggunya di depan kios minuman hangat.

"Udah lega, Tuan Pelari Cepat?" goda Vanya sambil menyodorkan segelas teh manis hangat yang baru saja ia beli.

Gery mengambil gelas itu, merasakan kehangatannya merambat ke tangannya. Ia menatap Vanya dengan tatapan 'awas-lo-nanti', namun akhirnya ia hanya bisa tersenyum pasrah. "Gara-gara lo, Van. Jantung gue kaget, ginjal gue juga ikutan kaget."

Reno yang tiba-tiba muncul langsung merangkul pundak Gery. "Dah, jangan bahas ginjal. Ayo makan, gue laper banget! Habis liat lo lari tadi, tenaga gue malah ikutan habis gara-gara ketawa."

Di bawah lampu-lampu rumah makan yang terang, mereka semua berkumpul di satu meja panjang. Rasa lelah perjalanan tertutupi oleh kehangatan sup ayam dan obrolan ringan yang terus mengalir, sementara Vanya sesekali masih melirik Gery dengan senyum jahil yang membuat Gery tidak berani menatap balik terlalu lama.

Meja panjang di rumah makan itu penuh dengan piring kosong dan sisa uap teh hangat. Di tengah keramaian suara piring yang beradu, Vanya justru sibuk dengan dunianya sendiri. Ia menyandarkan dagu di atas kedua tangannya, matanya tidak lepas dari Gery yang duduk tepat di depannya. Setiap kali Gery mencoba bernapas tenang, Vanya akan melemparkan kerlingan mata yang penuh arti, membuat Gery serba salah.

Nadia yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik sahabatnya itu mulai merasa ada yang tidak beres. Ia menyenggol lengan Vanya pelan. "Van, lo kenapa sih? Gery kenapa lagi? Kok lo liatin dia kayak mau dimakan gitu?" tanya Nadia heran.

Gery yang mendengar pertanyaan Nadia langsung membuang muka ke arah samping, berpura-pura sangat tertarik melihat menu makanan di dinding rumah makan. Namun, Vanya tidak menyerah. Ia ikut memiringkan kepalanya, mengejar arah pandangan Gery agar mereka tetap bertatapan.

"Nggak ada apa-apa, Nad," jawab Vanya sambil terus menggeser posisi duduknya demi bisa menangkap mata Gery. "Gue cuma baru sadar kalau muka Gery itu... dinamis banget. Lucu aja liat dia dari tadi kayak orang abis liat hantu, padahal kan tadi cuma liat 'pemandangan' di bus."

Gery membuang muka lagi ke arah berlawanan, kali ini sampai lehernya terasa kaku. Tapi Vanya lebih cepat; ia mencondongkan tubuhnya ke depan meja, memaksa Gery untuk melihat wajahnya yang sedang memasang ekspresi paling menggoda yang ia punya.

"Woi, Ger! Leher lo nggak patah apa buang muka terus?" celetuk Reno sambil mengunyah kerupuk. "Vanya tuh, diperhatiin malah kabur. Biasanya juga lo yang nyariin dia."

Gery berdeham keras, mencoba mengembalikan wibawanya yang sudah runtuh berkeping-keping akibat kecupan mendadak tadi. "Gerah banget ya di sini, gue mau cari angin dulu di luar," gumam Gery sambil berdiri terburu-buru, membawa gelas tehnya yang tinggal separuh.

Vanya tertawa renyah, suara tawanya terdengar sangat puas. Ia menatap punggung Gery yang berjalan cepat menuju arah bus dengan langkah yang masih sedikit kaku.

"Dia kenapa sih, Van?" tanya Nadia lagi, kali ini benar-benar penasaran.

Vanya menyandarkan punggungnya ke kursi, memutar-mutar sedotan di gelasnya dengan wajah berbunga-bunga. "Nggak apa-apa, Nad. Gery cuma lagi 'korslet' dikit. Kayaknya sistem di otaknya perlu di-restart gara-gara kejadian tadi."

Di luar, di bawah lampu merkuri rest area yang kekuningan, Gery menarik napas dalam-dalam. Dinginnya angin malam Magelang ternyata tidak cukup kuat untuk mendinginkan wajahnya yang masih terasa panas. Ia tahu, sisa perjalanan menuju Jakarta ini tidak akan mudah, karena Vanya sepertinya baru saja menemukan "mainan" baru: yaitu menggoda mental Gery sampai titik penghabisan.

1
Shintara
iya 👍
only siskaa
pertama Thor jngn lupa mmpir ke karya aku juga yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!