NovelToon NovelToon
Sebelah Mata

Sebelah Mata

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dunia Masa Depan / Keluarga / Karir / Persahabatan / Mengubah Takdir
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: joekris

Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.

Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.

Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: SIDANG ETIK DAN PERTARUNGAN INTEGRITAS

Ruang sidang dewan etik universitas itu terasa lebih mencekam daripada aula presentasi tempo hari. Dindingnya yang dilapisi kayu jati gelap dan potret-potret mantan rektor yang menatap dingin dari bingkai emas seolah menambah beban di pundak siapa pun yang masuk ke sana. Di tengah ruangan, sebuah meja bundar besar menjadi batas antara para pengadil dan terdakwa.

Jonatan duduk di salah satu kursi kayu yang keras, tangannya diletakkan di atas pangkuan. Di seberangnya, Rendy duduk dengan dagu terangkat, didampingi oleh seorang pria paruh baya yang tampak seperti penasihat hukum atau kerabat berpengaruh. Di ujung meja, tiga profesor senior dengan kacamata bertengger di ujung hidung menatap tumpukan berkas di depan mereka dengan raut wajah tanpa ekspresi.

"Sidang etik ini dibuka untuk menindaklanjuti laporan Saudara Rendy Pratama mengenai dugaan plagiarisme dan ketidakjujuran akademik dalam proyek riset mandiri Saudara Jonatan Oetimu," suara Ketua Dewan Etik, Prof. Sumitro, menggema berat.

Rendy segera mengambil kesempatan pertama. Ia berdiri, membuka laptopnya, dan memproyeksikan sebuah dokumen ke layar besar. "Terima kasih, Profesor. Saya menemukan bahwa desain kontroler hidrolik yang diklaim Jonatan sebagai inovasi orisinalnya memiliki kemiripan struktur delapan puluh persen dengan sebuah draf jurnal dari peneliti Israel tahun 2012 yang tidak sempat dipublikasikan secara luas. Jonatan hanya mengubah material fisiknya, namun logikanya identik. Ini adalah pencurian intelektual yang dibungkus dengan narasi kemiskinan."

Jonatan merasa udara di ruangan itu mendadak menipis. Ia melirik ke arah Pak Johan yang duduk di kursi pengamat. Pak Johan hanya mengangguk kecil, memberi isyarat agar Jonatan tetap tenang.

"Saudara Jonatan, apa tanggapanmu?" tanya Prof. Sumitro sambil menatap tajam ke balik kacamatanya.

Jonatan berdiri perlahan. Ia tidak membawa laptop canggih seperti Rendy. Ia hanya membawa sebuah tas kain lusuh yang diletakkan di samping kakinya.

"Profesor, saya mengakui bahwa saya membaca jurnal tersebut. Pak Johan sendiri yang memberikannya kepada saya sebagai referensi," suara Jonatan tenang, namun ada getaran ketegasan di dalamnya. "Tetapi, menuduh saya melakukan plagiasi logika adalah sebuah kekeliruan besar. Matematika dan hukum fisika memang universal, namun penerapan dalam konteks sosial adalah sebuah penemuan baru."

"Halah! Bicara saja kau, Jon!" potong Rendy sinis. "Logika sirkuit itu tetap sama. Kau hanya mengganti kabelnya!"

"Diam, Saudara Rendy! Tunggu giliranmu," tegur Prof. Sumitro keras. Ia kembali menatap Jonatan. "Lanjutkan, Jonatan."

Jonatan merogoh tas kainnya. Ia mengeluarkan botol plastik berisi air dari Oetimu dan meletakkannya di atas meja jati yang mengkilap itu. Kehadiran botol plastik bekas itu tampak sangat kontras dan hampir menghina kemewahan ruangan tersebut.

"Jurnal tahun 2012 yang disebut Rendy menggunakan sistem katup elektronik yang membutuhkan stabilisator tegangan konstan. Di Oetimu, tegangan dari panel surya kami tidak stabil karena debu dan perubahan cuaca yang ekstrem. Jika saya hanya 'mencuri' logika itu, alat saya pasti sudah terbakar di hari pertama," Jonatan menjelaskan sambil membuka buku catatannya.

Ia membentangkan sebuah skema yang digambar tangan, penuh dengan noda oli dan bekas hapusan. "Inovasi saya terletak pada 'Logika Kegagalan'. Saya merancang kontroler yang justru memanfaatkan fluktuasi arus untuk menggerakkan katup secara mekanis. Saya menghilangkan komponen elektronik rumit yang ada di jurnal itu dan menggantinya dengan prinsip gravitasi dan massa air. Saya tidak mencuri logika mereka; saya meruntuhkan logika mereka yang terlalu canggih untuk diterapkan di tempat yang tidak punya toko listrik dalam radius seratus kilometer."

Jonatan menunjuk ke botol air itu. "Air ini adalah buktinya. Jika saya melakukan plagiasi, air ini tidak akan pernah keluar dari sumur Oetimu karena sistem Israel itu butuh pemeliharaan teknisi ahli. Sistem saya bisa diperbaiki oleh Bapak saya dengan seutas kawat jemuran jika mendesak. Apakah jurnal itu bicara soal kawat jemuran? Apakah mereka bicara soal bagaimana pasir merusak segel karet?"

Rendy tertawa meremehkan. "Profesor, ini hanya pembelaan emosional. Riset adalah soal akurasi data, bukan soal kawat jemuran atau air dalam botol bekas!"

Salah satu profesor penguji, seorang wanita tua yang sejak tadi diam, tiba-tiba angkat bicara. "Saudara Rendy, dalam dunia teknik, adaptasi radikal terhadap lingkungan ekstrem seringkali dianggap sebagai penemuan baru. Jonatan, kau bilang kau merubah sistem elektronik menjadi sistem mekanis-hidrolik?"

"Benar, Prof. Saya menyederhanakan algoritma digital menjadi variabel fisik. Logika 'If-Then' pada perangkat lunak saya ubah menjadi 'Buka-Tutup' pada katup pegas. Itulah mengapa efisiensinya naik meski biayanya turun," jawab Jonatan mantap.

Profesor wanita itu memeriksa berkas Jonatan dengan lebih teliti. "Ini menarik. Ini bukan plagiasi. Ini adalah dekonstruksi teknologi. Kamu mengambil esensi, lalu membangun kembali sesuatu yang berbeda total dari puing-puingnya."

Wajah Rendy mendadak pucat. Ia mulai menyadari bahwa argumen 'kecanggihan' yang ia banggakan justru menjadi bumerang. Di dunia akademis yang sejati, kesederhanaan yang berfungsi jauh lebih dihargai daripada kerumitan yang gagal.

"Satu hal lagi, Profesor," Jonatan menambahkan, suaranya kini memenuhi setiap sudut ruangan. "Rendy menuduh saya tidak jujur. Namun, dia sendiri tidak pernah menginjakkan kaki di tanah merah. Dia melihat riset sebagai angka di layar, sementara saya melihatnya sebagai nyawa. Jika kejujuran akademik diukur dari seberapa banyak kita menyalin jurnal, maka mungkin saya salah. Tapi jika kejujuran diukur dari seberapa besar manfaat ilmu kita bagi manusia, maka saya berdiri di sini dengan tangan bersih."

Jonatan duduk kembali. Keheningan yang panjang mengikuti kalimat terakhirnya. Prof. Sumitro saling berbisik dengan kedua kolega lainnya. Rendy tampak gelisah, tangannya sibuk mengetik sesuatu di laptopnya, mungkin mencari celah lain, namun penasihat hukum di sampingnya sudah menggelengkan kepala pelan.

Setelah lima belas menit diskusi yang sangat menegangkan, Prof. Sumitro melepas kacamatanya.

"Dewan Etik telah mencapai keputusan," ujarnya. "Tuduhan plagiarisme terhadap Saudara Jonatan Oetimu dinyatakan tidak terbukti. Sebaliknya, dewan menemukan bahwa adaptasi teknologi yang dilakukan Jonatan merupakan kontribusi orisinal yang sangat berharga bagi pengembangan teknologi tepat guna di Indonesia."

Jonatan memejamkan mata. Ia merasakan air mata panas mendesak keluar, namun ia menahannya.

"Dan untuk Saudara Rendy," lanjut Prof. Sumitro dengan nada lebih tajam. "Kami memberikan teguran keras karena laporan ini terkesan tendensius dan kurang memiliki dasar kajian teknis yang kuat. Universitas bukan tempat untuk menjatuhkan rekan sejawat demi persaingan pribadi."

Sidang ditutup. Rendy segera menutup laptopnya dan keluar dari ruangan tanpa menoleh ke belakang, wajahnya menanggung malu yang luar biasa.

Pak Johan berjalan mendekati Jonatan, menepuk pundaknya dengan sangat bangga. "Kau lihat, Jon? Cahaya tidak perlu berteriak untuk membuktikan kegelapan itu salah. Dia cukup bersinar."

Jonatan berdiri, mengambil botol airnya yang tadi diletakkan di meja. Saat ia hendak keluar, Profesor wanita tadi mendekatinya. "Jonatan, bisakah kau tinggalkan botol air ini di sini? Aku ingin menunjukkannya pada mahasiswa tingkat satu besok. Agar mereka tahu bahwa skripsi bukan soal tumpukan kertas, tapi soal apa yang kau bawa pulang dari sana."

Jonatan memberikan botol itu dengan senyum tulus. "Tentu, Prof. Di dalamnya ada doa orang-orang Oetimu."

Malam itu, Jonatan berjalan menyusuri trotoar kampus dengan langkah ringan. Ia melihat ke langit Surabaya yang masih sama, penuh polusi dan tanpa bintang. Namun di kepalanya, ia melihat langit Oetimu yang jernih.

Ia telah memenangkan integritasnya. Ia telah membersihkan namanya. Dan yang terpenting, ia telah membuktikan bahwa anak tanah merah tidak bisa lagi dipandang sebelah mata, tidak di ladang, dan tidak pula di ruang sidang paling elite di universitas ini.

"Besok adalah wisuda," bisiknya pada angin malam. "Dan lusa, petualangan yang sesungguhnya dimulai."

1
Kustri
terharu qu😳
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
Kustri
pa johan, smoga kebaikanmu membuat jon smakin bersemangat
Kustri
ya Allah... sepatu pinjaman, itu tetangga baik hati'a
Kustri
penasaran bawa sepatu gk dr oetimu
Kustri
sumpah, setiap baca sedih bgt😭
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
joekris: Amin kak
total 1 replies
Kustri
💪💪💪jon
Kustri
merinding baca'a
kasian
Kustri: insya Allah, thor
total 2 replies
Prabu Hangku
Gila gila asoy bener cerita nya
sendi syam
Keren
🦊 Ara Aurora 🦊
thor gue mampir nih 😅 maaf terlambat mampir yah baru sekarang bisa 🙏
Rizky Rahmat
Alur cerita nya dari kisah nyata kah?
Tarno Hangku
Keren
sendi syam
Semoga bisa bawa nama ntt ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!