NovelToon NovelToon
Satu Wajah Dua Kehidupan

Satu Wajah Dua Kehidupan

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:947
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Tak ada yang menyangka bahwa seorang jenius kepolisian seperti Song Lang akan lenyap dari dunia yang pernah ia kuasai. Namun setelah sebuah peristiwa kelam yang dipicu oleh musuh bebuyutannya, ia menghilang tanpa jejak—dan muncul kembali bertahun-tahun kemudian dengan nama baru: Chen Shi, seorang sopir biasa di kota yang tak pernah berhenti bergerak.
Chen Shi hanya ingin hidup tenang, jauh dari sorotan, jauh dari masa lalu. Namun takdir seolah menolak memberinya ketenangan. Suatu malam, sebuah kasus pembunuhan mengusik hidupnya, dan semua bukti justru mengarah kepada dirinya. Dalam sekejap, orang yang berusaha melupakan dunia kriminalitas kembali menjadi pusat perhatian.
Dipaksa membuktikan bahwa ia bukan pelaku, Chen Shi bekerja sama dengan seorang polisi muda yang gigih. Namun semakin dalam mereka menggali, semakin jelas bahwa kasus tersebut bukanlah kebetulan. Ada tangan-tangan gelap yang bergerak, dan jejaknya terasa terlalu familiar bagi Chen Shi. Terlalu mirip dengan seseorang ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Orang yang Kukagumi

Setelah selesai makan sup pedas mala, bibir Chen Shi tampak memerah karena kepedasan. Lin Dongxue memandangnya dengan tatapan penuh jijik. Chen Shi justru menggoda, “Aku tahu aku tampan, tapi kau tidak harus menatapku terus begitu, kan?”

Lin Dongxue menepuk lengannya. “Kau tahu aku tadi setakut apa di restoran? Aku khawatir sekali kalau dia…” Pandangannya berpindah ke Gao Xiaohui yang duduk di kursi belakang. “Aku takut tersangkanya kabur!”

“Baik, baik, baik. Aku ingat lain kali.”

Dalam perjalanan kembali ke kantor polisi, ponsel Lin Dongxue berdering tiga kali—semuanya dari Lin Qiupu yang mendesaknya untuk segera kembali. Jelas ia takut ada sesuatu yang berubah.

Setengah jam kemudian, mobil mereka mendekati gerbang kantor polisi. Di sana, Lin Qiupu dan beberapa petugas tampak berdiri tanpa makan siang, sengaja menunggu di depan—pemandangan yang langsung membuat Lin Dongxue sadar bahwa Chen Shi sengaja mengulur waktu sebagai balas dendam atas kejadian sebelumnya.

Mobil berhenti. Begitu Lin Dongxue dan Chen Shi turun, tatapan Lin Qiupu langsung menusuk Chen Shi. Ia mendengus dingin dan berjalan mendekat.

“Ada pepatah: gunung memang tak bergerak, tetapi air mengalir dan berputar juga, bukan?” ujarnya sinis. “Tuan Chen, bagaimana rasanya datang dua kali ke kantor polisi? Masuk ke ruang interogasi dan bicaralah di sana!”

Chen Shi tersenyum kecil dan menunjuk ke mobil.

“Kapten Lin, sepertinya Anda butuh kacamata. Masih ada seseorang di dalam mobil. Anda tidak melihatnya?”

Lin Qiupu menoleh, lalu memandang adiknya dengan bingung. Lin Dongxue menjelaskan cepat, “Kapten Lin, itu adalah pelaku sebenarnya. Ia sudah mengaku.”

“Tapi… kenapa perempuan? Kalian sudah membuat seluruh catatannya?”

“Oh… itu…” Lin Dongxue menjulurkan lidah malu.

Chen Shi mengeluarkan ponsel. “Rekamannya ada di sini. Nanti saya kirimkan.”

Lin Dongxue memuji, “Wah, benar-benar memperhatikan detail kecil ya!”

Lin Qiupu menatap tajam. “Apa sebenarnya yang terjadi? Kalian mengusut kasus ini bersama? Kenapa kau bersama Dongxue?”

Chen Shi mengabaikan nada permusuhan itu.

“Kasus ini diselesaikan oleh Nona Lin. Saya hanya membantu sedikit. Kapten Lin, menurutku Anda sering meremehkan kemampuan adik Anda. Instingnya tajam. Setelah ini selesai, Anda mungkin merasa kalah olehnya.”

Wajah Lin Dongxue memerah menahan senang, sementara Lin Qiupu tertegun.

Ia menoleh kepada adiknya. “Bagaimana bisa kau bertindak tanpa izin lagi?”

“Tidak akan terulang, tidak akan terulang!” Lin Dongxue berujar sambil tersenyum kaku.

“Satu kali saja sudah cukup. Tunggu hukumannya,” jawab Lin Qiupu dingin.

Chen Shi menepuk pintu mobil. “Sisanya serahkan pada Anda. Segera bawa dia masuk, saya harus bekerja. Oh, dan nanti beri tahu saya kalau saya harus menjadi saksi. Jadwal saya padat.”

Setelah Chen Shi pergi, Lin Qiupu memutar rekaman percakapan mereka. Jujur saja, seluruh rangkaian kejadian benar-benar berada di luar ekspektasinya. Namun satu hal mengganggunya. Ia bertanya,

“Bukankah dia bilang hanya membantu sedikit? Kenapa dalam rekaman hanya dia yang bicara? Siapa sebenarnya yang membantu siapa?”

Lin Dongxue menelan ludah. Ia malu sekaligus bingung.

“Kalau kukatakan yang sebenarnya, tolong percaya. Hampir seluruh kasus ini—diselesaikan olehnya.”

“Dia? Sopir taksi?” Lin Qiupu terdiam beberapa saat.

Setelah pengakuan dan bukti-bukti diverifikasi, kasus itu langsung diproses. Media dengan cepat melaporkannya menggunakan judul sensasional seperti: “Cinta Terkoyak yang Memicu Niat Membunuh”, atau “Sahabat Tikam Sahabat Sendiri”. Nama Chen Shi tidak pernah disebut. Mereka hanya menulis “kasus diselesaikan dengan bantuan warga negara yang baik hati”.

Lin Dongxue mendapat penghargaan besar dari kepolisian. Untuk pertama kalinya ia menerima plakat prestasi. Namun perasaannya bercampur—ada bangga, tapi juga ada rasa bersalah, karena ia tahu prestasi itu sebagian besar bukan hasil kerjanya.

Usai upacara pujian, wajah Lin Qiupu tampak gelap.

“Ikuti aku ke kantor,” katanya datar.

Di dalam kantor, Lin Dongxue memberi hormat.

“Kapten, apakah saya akan dikenai disiplin karena bertindak tanpa izin?”

“Disiplin? Kau baru saja meraih prestasi, bahkan mendapat apresiasi dari kepala kepolisian. Kalau aku menghukummu sekarang, bukankah orang-orang akan bilang aku pendendam?”

“Lalu… kenapa Kapten memanggil saya?”

“Aku ingin tahu satu hal. Siapa sebenarnya pria itu? Bagaimana mungkin seorang sopir tanpa pelatihan profesional bisa memecahkan kasus? Dan dia bahkan…”

Lin Qiupu menahan sisanya—malu mengakui bahwa Chen Shi menyalip seluruh tim penyidik.

Lin Dongxue menimbang kata-katanya. “Menurut saya, dia bukan orang biasa. Pengetahuannya tentang investigasi luar biasa. Saya malah sempat berpikir… apakah dia agen yang sedang menyamar?”

“Bodoh! Mana ada penyamaran dengan menjadi sopir?” omel Lin Qiupu. “Selidiki latar belakangnya. Semakin kupikir, semakin mencurigakan. Baik sebagai abang maupun atasanmu, aku tidak bisa diam melihatmu dekat dengan orang yang tidak jelas asal-usulnya.”

“Tenang saja, Kapten Lin. Kami hanya bekerja sama dalam penyelidikan. Tidak ada hubungan lain.”

Lin Qiupu menatapnya lama. Lin Dongxue akhirnya memberi hormat lagi.

“Saya akan menyelidikinya secepat mungkin!”

“Dan… satu lagi.” Nada Lin Qiupu melembut, berubah menjadi nada keluarga. “Hari Minggu ini, kau akan ikut kencan buta.”

“Hah?” Lin Dongxue membelalakkan mata. “Kencan buta apa?”

“Ya kencan buta! Bibimu yang mengaturnya. Bagaimana aku bisa menolak?”

“Jadi Kakak mengkhianati aku?”

“Apa yang kau bicarakan? Bagi perempuan, pernikahan adalah hal besar dalam hidup. Ikuti saja acaranya.”

“Kenapa Kakak tidak pergi sendiri?”

“Dasar keras kepala. Tolonglah, kerja sama sedikit!”

“Sungguh! Apa mereka pikir aku tidak laku?”

“Kesuksesan tidak diraih dengan kenyamanan. Orang yang nyaman biasanya tidak sukses.”

(Ucapan favorit Lin Qiupu.)

“Baiklah, baiklah… Siapa orangnya? Kakak sudah mengeceknya?”

Lin Qiupu mengambil sebuah foto, mengelap bingkainya.

“Seorang insinyur perangkat lunak. Pernah sekolah di luar negeri. Pendidikan tinggi. Dari fotonya, lumayan.”

“Setampan Kakak?”

Lin Qiupu tersenyum bangga. “Beda gaya.”

Lin Dongxue ikut tersenyum. Tapi kemudian matanya mengerling bingkai foto itu.

“Oh iya, aku selalu ingin bertanya. Kenapa Kakak selalu menyimpan foto pria ini di meja? Jangan-jangan Kakak…”

“Nonsense!” Lin Qiupu mendengus. “Ini orang yang kukagumi. Dia polisi.”

“Oh?” Lin Dongxue melihat potret itu lebih dekat. Seorang pria berusia dua puluhan atau tiga puluhan, memakai mantel panjang, berdiri dengan tangan di pinggang dan senyum penuh keyakinan. “Siapa dia?”

“Namanya Song Lang. Senior-ku. Waktu aku baru menjadi polisi, dialah yang banyak membimbingku. Saat kau masih SMP, kau tentu tidak tahu. Orang ini luar biasa. Setiap kasus yang ia tangani pasti tuntas. Ia dijuluki detektif jenius. Di Long’An, semua polisi yang sudah bekerja lima tahun ke atas pasti tahu namanya. Banyak universitas ingin merekrutnya sebagai dosen tamu, tapi dia orangnya rendah hati, menolak semua tawaran.”

“Kenapa aku tidak pernah melihatnya? Apa dia sudah pindah ke instansi lain?” tanya Lin Dongxue.

Lin Qiupu menggeleng pelan.

“Tidak. Dia hilang.”

“Hilang? Karena seseorang membalas dendam?”

“Sulit dipastikan. Ada kabar bahwa dia membunuh seseorang. Saat kami mendapat perintah untuk menangkapnya, aku ikut dalam tim itu. Tetapi sampai sekarang… aku tidak percaya dia bersalah. Aku menyimpan fotonya sebagai pengingat. Aku berharap suatu hari bisa menjadi polisi sehebat dia.”

Lin Qiupu mengusap bingkai foto itu dengan jempolnya. Ada kesedihan samar di matanya.

Lin Dongxue menatap foto Song Lang. Senyum pria itu—tatapan matanya—ekspresinya…

Ada sesuatu yang sangat familiar.

Ia bergumam dalam hati,

Di mana aku pernah melihat senyuman seperti ini…?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!