Katanya sakit hati seseorang itu adalah ketika dia diam dan pergi tanpa banyak bicara. Itu yang di lakukan Anjas, dia sakit hati pada istrinya yang selingkuh, tapi bukan pergi untuk menata hati yang hancur, dia justru pergi ke dukun untuk membalas sakit hati.
"Saya ingin dia mati Mbah"
"Ada penyiksaan yang lebih mematikan dari kematian"
"Apa itu Mbah?"
"Rasa cinta yang tak berbalas"
"Bagaimana saya melakukannya?"
"Teluh... Pelet mati"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khal tahu tentang Kinasih
"Aaakhhh! Mbah kenapa kulit saya perih semua dan gatal!" teriak Mariska yang sedang di obati Kunto.
Mariska mengalami luka yang begitu parah di wajahnya, kulitnya melepuh dan mengeluarkan nanah yang berbau busuk, beberapa bagain tubuhnya juga memerah terutama di bagian dada, pinggul, pinggang dan bagian inti Mariska, susuk yang di pasang Kunto di beberapa titik tubuhnya sudah luruh terlepas dari tempatnya bahkan membuat tubuh Mariska sama sekali tidak bisa di kenali.
"Mbah kenapa wajah Mariska jadi rusak begitu Mbah?" tanya Hengki
"Dia melakukan pantangan, dia pasti sudah menyinggung orang yang mampu meluruhkan susuk dan bedak gaib yang aku berikan padanya" jawab Kunto masih terus berusaha mengobati Mariska.
"Mbah....." lirihnya
"Sudah kamu bersabar, tahan rasa sakitnya, aku akan menghilangkan semua pengaruh gaib dalam tubuh kamu" jawab Kunto.
Hengki merinding, dia baru pertama kali melihat orang yang memakai banyak susuk dan setelah melihat Mariska, keinginannya untuk menjadi lebih tampan dari Anjas jadi hilang, dia takut wajahnya jadi seperti Mariska.
"Mas Anjas, kenapa perempuan itu?" tanya Triana
"Dia sakit sayang, ayo kamu jangan melihatnya, nanti anak kita jadi terpengaruh" jawab Hengki
"Iihh... aku takut" keluh Triana memeluk Hengki
Mariska sekilas mendengar Triana menyebut nama Anjas dan itu cukup membuatnya jadi curiga dengan apa yang terjadi pada Triana, Mariska tahu Triana adalah mantan istri Anjas yang selingkuh, tapi dia tidak tahu kalau Triana sekarang menganggap Hengki adalah Anjas.
"Aakhhhh! Mbah, darah... ada darah di hidung saya!"
"Itu wajar, setelah darah itu habis wajah dan tubuhmu akan kembali, tapi bukan seperti saat kamu memakai susuk, tapi sama dengan saat sebelum kamu memakai susuk" jawab Kunto memberikan air minum pada Mariska.
"Bagaimana dengan syuting saya Mbah, karir saya bisa hancur" lirihnya
"Aku sudah tidak bisa memasang susuk di tubuhmu ini Mariska, tumbuh kamu dalam keadaan rusak, dan tidak boleh di pasangi hal gaib apapun" jawab Kunto
"Hiks... apa tidak bisa bantu saya lagi Mbah?" tanya Mariska
"Tidak bisa Mariska kalau kamu menyayangi tubuhmu, sebaiknya jangan pasang apapun" jawab Kunto tegas.
Kunto bahkan mengerahkan semua ilmunya untuk menolong Mariska, entah dukun dari mana yang sudah di buat tersinggung oleh Mariska, tapi Kunto yakin orang itu bukan orang biasa.
"Siapa yang sudah kamu singgung?" tanya Kunto
"Saya tidak menyinggung siapapun Mbah, hanya mencoba mendekati pak Anjas dan adiknya" jawab Mariska membuat Kunto terkejut.
"Anjas... kenapa dua kali ini Anjas yang justru membuat dua muridku mengalami kejadian gaib padahal dia tidak memiliki ilmu apapun" gumam Kunto
"Istrinya, istri Anjas adalah perempuan darah wangi, dia punya khodam seorang nenek tua bertubuh bungkuk, jin itulah yang melindungi Anjas" bisik Khal
"Istrinya ... hm.. menarik" gumam Kunto
"Martini, perempuan yang menjadi tangan kanan ratu Kinasih, perempuan yang mampu mengambil manusia ke dalam alam Kinasih untuk di jadikan budak" bisik Khal
"Siapa ratu Kinasih?" tanya Kunto
"Pemilik sebuah ilmu yang aku sendiri tidak tahu, tapi Suro temanmu, dia sudah di bawa ke alam Kinasih yang tidak bisa di masuki sembarang jin" jawab Khal
"Suro dia bawa... pasti Suro sudah mati"
"Mungkin...."
Kunto semakin tertarik dengan Kinasih, apa yang di miliki Kinasih dan bagaimana cara mendapatkan perhatian Kinasih, tapi Kunto tidak tahu, Kinasih hanya akan terhubung dengan satu orang dan orang itu adalah pemilik ilmu Pelet Mati.
×××××××××
Di rumah Anjas.
"Bagaimana tidurnya kak?" tanya Juno saat pagi itu mereka sedang sarapan dengan keluarga baru mereka karena sekarang ada tambahan Aisyah dan Marwan.
"Alhamdulillah nyenyak, tidak seperti seseorang yang terus menguping di balik pintu" jawab Anjas yang sedang menyuapi Adisti
Juno memang ketahuan mengintip di balik pintu kamar Anjas, dia ingin tahu bagaimana kakaknya itu menghabiskan malam pertama bersama Aisyah, tapi dia ketahuan Marwan dan langsung di minta untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Siapa yang menguping, lagipula kamar kita itu kedap suara kecuali kamar Adisti, mungkin Kak Anjas nanti mau perang kasur di sana" jawab Juno tanpa filter
Plak.
"Sekali lagi kamu berulah, kakak akan bawa cacing satu truk!" ancam Anjas yang karena adiknya itu mengintip jadi gagal melakukan malam pertama dengan Aisyah.
"Jangan! Juno tidak akan melakukan itu lagi, jangan bawa cacing, yang kemarin saja masih membuat Juno merinding" mohon Juno sambil memeluk Marwan
"Makanya jangan nakal, kamu ini usianya berapa sih kenapa kelakuannya sama dengan Adisti" ledek Marwan
"Usianya hanya beda satu tahun dengan Adisti pa, mungkin harus masuk TK lagi" jawab Anjas terkekeh
"Iya Opa, Om Juno seling usil pada Adis, kalau jalan beldua, seling bilang kalau Om Juno itu duda anak satu dan cali istli di taman" adu Adisti
"Cari istri itu ke biro jodoh, aplikasi kencan buta, atau ke pesantren, malah ke taman, di taman yang ada cimol, cireng sama basko" ledek Anjas
"Mungkin Juno cari janda karena dia bilang kalau dia duda" ledek Marwan
"Saat itu Juno sedang melakukan eksperimen pa, kira kita kalau Juno bilang Juno itu duda anak satu, masih ada perempuan yang mau Juno dekati atau tidak, ternyata mereka semua menjauh" ungkap Juno
"Kenapa begitu? Kamu kan tampan?" tanya Anjas heran
"Kalena Om Anjas lupa bawa dompet di mobil pa, Om Anjas ngutang nasi goleng dan di lihat banyak Tante Tante dan kakak kakak yang pakai selagam sekolah" jawab Adisti membuat semuanya tertawa.
"Astagfirullah, pantas saja kamu di tolak, karena miskin ternyata, percuma tampan kalau tidak punya uang, paling mentok kamu akan jadi simpanan Tante Tante" ledek Anjas
"Padahal Juno sudah berusaha sekeren mungkin jadi duda, eh.. malah lupa bawa dompet, mana belum di bayar hutangnya, terima kasih ya Adisti sudah mengingatkan Om, nanti kita ke taman lagi, kita jadi pasangan ayah dan anak lagi, Om akan jadi CEO duda yang berpura pura miskin, pasti banyak perempuan yang mendekat" ungkap Juno
"Malah jadi seperti judul novel" ucap Aisyah
"Kalau aku bukan CEO duda berpura pura jadi miskin" bisik Anjas
"Terus apa?" tanya Aisyah
"Duda dingin milik Aisyah" bisik Anjas membuat Aisyah tersipu malu.
"Kamu semakin cantik saat tersipu begini" ungkap Anjas menggenggam tangan Aisyah
"Pa, jangan cari istri dulu supaya Juno punya teman jomblo di sini" cibir Juno kesal melihat kemesraan Anjas dan Aisyah.
"Tapi papa sedang pendekatan dengan janda tetangga sebelah" celetuk Anjas membuat Juno shok.
"Hahaha... maaf ya" ledek Marwan bercanda