NovelToon NovelToon
Istri Pelampiasan Tuan Dirga

Istri Pelampiasan Tuan Dirga

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Poligami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Weny Hida

Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.

Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.

Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Vitamin

Sementara itu, di dalam kamar utama, suasana memanas. Dirga berdiri di dekat jendela, rahangnya mengeras. Jas kerjanya belum sempat dilepas sempurna.

“Aku nggak nyaman.”

Celine yang baru saja menutup pintu menatapnya tajam.

“Nggak nyaman kenapa?”

“Kamu bawa asisten tinggal serumah, sebenarnya nggak pantas.”

Celine tertawa kecil, tapi tanpa kehangatan.

“Sejak kapan kamu peduli urusanku?”

Dirga berbalik menghadapnya.

“Ini bukan soal kerjaan. Ini rumah kita, kehidupan rumah tangga kita!”

Celine menyilangkan tangan di dada.

“Dia cuma staf kok, kenapa kamu yang harus keberatan?”

Dirga menarik napas panjang, berusaha menahan emosi.

“Staf nggak harus tinggal di sini, kan?”

“Tapi, aku butuh dia 24 jam. Proposal kerja sama itu penting. Revisi terus. Targetnya besar. Aku nggak bisa sendirian.”

Dirga menggeleng pelan.

“Kamu punya kantor. Punya tim.”

“Timku nggak cukup.”

Hening sejenak, Dirga menatap Celine dalam-dalam.

“Kenapa kamu ngotot banget? Apa ini bukan cuma soal kerja?”

Pertanyaan itu membuat Celine menyipitkan mata.

“Maksud kamu apa?”

Dirga terdiam beberapa detik sebelum menjawab, "Bagiku, hal ini cukup aneh.”

Celine melangkah mendekat.

“Aneh menurut siapa? Kamu?”

Nada suara Celine berubah, lebih tajam.

“Atau kamu keberatan karena alasan lain?”

Dirga membalas tatapannya.

“Apa maksud kamu?”

Celine tersenyum tipis, cukup terlihat sinis.

“Kamu yang kelihatan gelisah sejak dia datang.”

Dirga langsung membantah, “Jangan dibalik.”

“Aku cuma bilang aku butuh asisten. Dan aku memilih Amira.”

Dirga mengusap wajahnya kasar.

“Setidaknya jangan suruh aku seolah-olah harus beradaptasi dengan situasi yang kamu ciptakan sendiri.”

“Dirga, ini urusan pekerjaanku. Kamu nggak pernah ikut campur sebelumnya. Kenapa sekarang kamu jadi gini?”

Pertanyaan itu menggantung. Dirga tak langsung menjawab, hanya menghembuskan napas panjang. Lalu, beberapa saat kemudian, berkata pelan, “Aku nggak mau ada masalah di rumah ini.”

Celine menatapnya beberapa detik.

Lalu berkata dengan tegas, “Karena itu, jangan buat masalah.”

Ketegangan di antara mereka masih menggantung beberapa detik setelah kata-kata terakhir terucap.

Dirga berdiri diam, napasnya masih berat. Celine pun tak bergerak, hanya menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak.

Beberapa saat kemudian, bahu Dirga perlahan turun, mencoba meredakan emosinya.

Dirga mengusap wajahnya, lalu mendekat pelan.

“Aku minta maaf,” ucapnya lebih tenang.

“Aku cuma, nggak mau keadaan jadi rumit.”

Celine tidak langsung menjawab. Dirga kemudian menarik tubuh Celine ke dalam pelukannya. Dekapan itu awalnya kaku, seolah masih ada sisa gengsi dan ego di antara mereka.

Namun perlahan, pelukan itu menghangat.

“Aku cuma nggak mau sesuatu terjadi di antara kita. Aku juga ngrasa sedikit terganggu, karena biasanya kita cuma berdua,” lanjut Dirga pelan di dekat telinga istrinya.

Celine mengembuskan napas panjang.

“Kamu aneh hari ini,” gumamnya.

Dirga tersenyum tipis, nada suaranya melembut. “Mungkin karena aku capek.”

Dia merajuk sedikit, menyandarkan dagunya di bahu Celine. Lalu, dengan lebih lembut, Dirga mengecup kening istrinya.

Celine akhirnya mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu. Dirga kembali mendekat, kali ini mencium Celine dengan perlahan, bukan dengan amarah, melainkan dengan usaha memperbaiki suasana. Celine membalas, meski ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.

Beberapa saat kemudian, mereka berpelukan dalam diam. Keduanya sibuk dalam pikiran masing-masing, meskipun raga keduanya berdekatan.

Tak berapa lama, pelukan itu perlahan berubah arah. Dirga mengusap lengan Celine, jemarinya bergerak lebih intim. Nada suaranya melembut, mencoba merayu.

“Udah lama kita nggak benar-benar punya waktu berdua,” bisiknya.

Dia mengecup pelipis istrinya, lalu turun ke pipi. Celine tahu ke mana arah pembicaraan tersebut.

Dia melepaskan diri perlahan. Lalu berkata, “Dirga, aku capek.”

Dirga masih mencoba tersenyum. “Cuma sebentar.”

Celine menggeleng. “Besok presentasi. Revisi belum selesai. Aku benar-benar lelah.”

Dirga menatapnya beberapa detik. Ada perubahan di wajahnya. Bukan lagi lembut, melainkan kecewa.

“Aku suami kamu, Celine.”

“Nggak ada yang menyangkal itu, tapi bukan berarti setiap saat aku harus siap. Kamu juga harus ngerti keadaan aku.”

Nada itu menusuk. Dirga seketika mundur satu langkah.

“Jadi sekarang aku harus minta jadwal juga?”

Celine menghela napas. “Jangan dramatis.”

“Aku cuma minta hakku.”

“Aku cuma minta kamu ngerti.”

Hening, tatapan mereka kembali beradu, tapi kali ini bukan soal pekerjaan, bukan soal Amira. Melainkan tentang jarak yang entah sejak kapan muncul di antara mereka.

Dirga tertawa pendek, terdengar sinis, “Oke. Fine.”

Dia meraih jasnya dari kursi dengan gerakan cepat.

“Kamu istirahat aja.”

Nada suaranya dingin. Celine tidak mengejar. Hanya berdiri diam saat Dirga membuka pintu kamar.

BRAK.

Pintu kembali tertutup cukup keras. Langkahnya menjauh di lorong. Rumah kembali sunyi. Namun malam itu, sunyinya berbeda. Bukan sunyi karena ketenangan, tapi penuh emosi yang belum selesai.

Celine masih berdiri di tengah kamar setelah pintu dibanting. Beberapa detik dia hanya menatap pintu itu, lalu menghela napas panjang.

“Capek juga."

Celine kemudian duduk di tepi ranjang, membuka ponselnya, menatap layar kosong tanpa benar-benar fokus. Pertengkaran tadi bukan yang pertama, tapi entah kenapa, malam ini terasa lebih melelahkan.

Dirga terlihat mudah tersulut. Celine menyandarkan punggungnya ke headboard ranjang.

“Lebih baik malam ini aku tidur di hotel aja. Aku nggak mau Dirga nuntut ini itu lagi.”

Setelah beberapa menit berpikir, Celine berdiri. Dia membuka lemari, mengambil tas kecil. Beberapa pakaian dimasukkan dengan cepat.

Selesai berkemas, Celine keluar dari kamar dengan tas kecil di tangan. Langkahnya terarah menuju kamar Amira.

Tok. Tok.

“Amira?”

Amira yang sejak tadi sulit memejamkan mata langsung bangkit dan membuka pintu.

“Iya, Bu?”

“Aku ada meeting pagi banget. Jadi malam ini aku nginap di hotel dekat kampus ”

Amira sedikit terkejut. “Sekarang, Bu?.”

“Iya."

Celine lalu merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah tablet kecil yang terbungkus plastik bening. Dia menyerahkannya pada Amira.

“Kalau Dirga pulang nanti, tolong kasih tablet ini ya. Campurkan ke minumannya.”

Amira menerima benda kecil itu dengan ragu.

“Ini apa, Bu?”

“Vitamin khusus buat Dirga,” jawab Celine ringan.

“Dia lagi gampang capek akhir-akhir ini.”

Nada suaranya terdengar biasa saja. Namun entah kenapa, Amira merasa ada sesuatu yang janggal.

“Langsung diminumkan malam ini?” tanya Amira pelan.

“Iya. Biar dia istirahatnya lebih nyenyak.”

Celine menatapnya dalam.

“Kamu bisa kan?”

Amira menelan ludah.

“Iya, Bu.”

Celine tersenyum tipis, lalu menepuk bahu Amira.

“Makasih ya. Kamu memang bisa diandalkan.”

Kalimat itu terdengar seperti pujian, tapi tatapan Celine sulit ditebak.

"Hati-hati, Bu Celine."

"Iya, titip rumah ya."

Amira mengangguk. Beberapa menit kemudian, suara mobil Celine meninggalkan halaman.

Rumah kembali sunyi. Amira berdiri di lorong, menatap tablet kecil di telapak tangannya.

"Vitamin?" gumamnya lirih.

1
falea sezi
siap siap. gigit jari lu celine. saumi. di. kasih ke madu siap2 gigit jari. lu
Airene Roseanne
yp
falea sezi
honeymoon ma amira aja Dirga biar cpet dapetin bayi tp awas lu nyakitin amira
falea sezi
awas aja klo. suami. mu oleng km. ngamuk dih
falea sezi
bini kayak celine di cerai aja aneh bgt malah fokus krja g fokus suami jangan jangan dia mandul
falea sezi
celine egois lu g mau layanin suami malah nyalahin Amira istri. tolol ya elu ini nanti suami lebih cinta istri muda kapok deh lu gigit jari
falea sezi
kasian amat amira
Susi Ermayana
kamu waras celine..?
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..
Aniza
lanjut thooor,klo lebih mntingin karir tuk apa kmu nikah celin?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!