Alana bukan sekadar penebus hutang judi pamannya; dia adalah obsesi gelap Dante Volkov. Di tangan sang Ice King, Alana harus memilih: menjadi mawar yang indah di dalam penjara emas, atau hancur saat musuh mulai mengincar nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: PRAKTIK OLAHRAGA
Dante baru saja pergi selama dua jam, namun ketenangan yang Alana harapkan tidak kunjung datang. Alana masih duduk di ruang tengah, mencoba mengistirahatkan kakinya yang masih terasa gemetar, ketika Arthur mendekat dengan ekspresi formal yang sulit dibaca.
"Nyonya, instruktur yang dikirimkan Tuan Dante sudah tiba. Beliau menunggu Anda di pusat kebugaran lantai tiga," ucap Arthur sambil membungkuk kecil.
Alana menghela napas panjang. Dengan langkah berat, ia menaiki tangga menuju ruangan luas yang dipenuhi peralatan olahraga mutakhir itu. Di tengah ruangan, berdiri seorang wanita yang tampak sangat kontras dengan Alana. Wanita itu memiliki tinggi sekitar 178 cm, dengan tubuh yang kencang, berotot kering, dan rambut hitam yang diikat kuncir kuda dengan sangat rapi. Ia mengenakan pakaian olahraga serba hitam yang fungsional.
"Nama saya Valerie," ucap wanita itu tanpa senyum. Suaranya tegas, kering, dan tidak memiliki nada basa-basi. "Tuan Dante mengirim saya untuk memastikan Anda tidak pingsan lagi di tengah... aktivitas malam Anda."
Wajah Alana seketika memerah padam. Ia tidak menyangka Dante akan menceritakan alasan sekonyol itu pada orang asing. "A-aku... aku hanya butuh sedikit istirahat, bukan latihan militer seperti ini," gumam Alana pelan.
Valerie berjalan mengitari Alana, matanya yang tajam seolah sedang memindai kelemahan di tubuh mungil gadis itu. "Tuan Dante tidak membayar saya untuk mendengar keluhan. Beliau membayar saya untuk membangun stamina Anda. Tubuh Anda terlalu lemah, Nyonya. Kapasitas paru-paru Anda rendah, dan otot inti Anda hampir tidak ada. Bagaimana Anda bisa melayani pria seperti Tuan Volkov jika berdiri saja Anda tampak ingin jatuh?"
Alana menggigit bibir bawahnya, merasa terpojok. "Lalu, apa yang harus kulakukan?"
"Ganti pakaian Anda. Sekarang," perintah Valerie sambil menunjuk sebuah setelan olahraga yang sudah disiapkan di atas kursi—sebuah sport bra dan celana legging yang sangat ketat. "Kita mulai dengan pemanasan. Lima belas menit di treadmill, lalu latihan penguatan otot panggul dan pernapasan."
***
Latihan itu benar-benar menjadi neraka baru bagi Alana. Valerie adalah definisi dari disiplin yang kejam. Setiap kali Alana mulai melambat karena napasnya yang tersengal, Valerie akan berdiri tepat di sampingnya.
"Jangan berhenti! Atur napasmu, Nyonya! Tarik dari hidung, buang dari mulut," teriak Valerie tegas. "Tuan Dante bilang Anda sering kehabisan napas saat beliau berada di atas Anda. Itu karena Anda tidak tahu cara mengelola oksigen!"
Alana ingin sekali menghilang ke dalam lantai karena malu. "Valerie, kumohon... jangan katakan itu lagi!"
"Kenapa? Itu kenyataan biologis," sahut Valerie dingin. "Sekarang, posisi plank. Tahan selama dua menit. Ini akan memperkuat otot perut dan punggungmu agar Anda tidak pegal saat Tuan memposisikan Anda dalam gaya yang... sulit."
Keringat bercucuran dari kening Alana, membasahi wajahnya yang kini berwarna merah cerah. Otot-otot lengannya bergetar hebat menahan beban tubuhnya sendiri. Setiap detik terasa seperti satu jam. Ia teringat ucapan Dante tadi pagi tentang 'mengimbangi gairahnya'. Ternyata pria itu tidak main-main. Dante ingin membentuknya menjadi pendamping yang sanggup melayani nafsu liarnya tanpa henti.
Setelah satu jam latihan yang menyiksa, Valerie akhirnya memberikan waktu istirahat. Alana jatuh terduduk di lantai, dadanya naik turun dengan cepat.
"Cukup untuk hari ini," ucap Valerie sambil memberikan sebotol air mineral dan handuk. "Tapi ingat, saya akan datang setiap pagi. Dan Tuan Dante meminta laporan harian tentang kemajuan Anda. Jika Anda malas, beliau sendiri yang akan turun tangan memberikan 'latihan tambahan' di tempat tidur."
Alana menenggak airnya dengan rakus, tidak peduli lagi dengan citra anggunnya. Di balik rasa lelahnya, ia menyadari satu hal: Dante benar-benar telah menjajah setiap aspek hidupnya—dari apa yang ia makan, pakaian yang ia pakai, hingga kekuatan ototnya. Pria itu sedang membentuk Alana menjadi versinya sendiri, seorang wanita yang hanya diciptakan untuk memuaskan sang Predator Volkov.
"Terima kasih, Valerie," bisik Alana lemah.
"Jangan berterima kasih padaku. Berterimakasihlah pada suamimu," sahut Valerie sebelum berbalik pergi. "Dia sangat terobsesi untuk menjaga Anda tetap hidup dan... kuat untuknya."
Saat Valerie keluar, Alana bersandar di dinding kaca, menatap pemandangan kota di bawah sana. Ia bertanya-tanya, apakah suatu saat nanti ia akan bisa bernapas tanpa harus meminta izin pada Dante? Atau apakah ia akan selamanya menjadi mawar indah yang dipaksa tumbuh di dalam pot yang sempit namun mewah ini?
***
Malam telah larut ketika konvoi mobil hitam lapis baja itu kembali memasuki gerbang mansion. Dante melangkah keluar dengan aura yang jauh lebih gelap dari biasanya. Urusan bisnis di perbatasan tadi berjalan penuh darah, dan satu-satunya hal yang bisa menenangkan sarafnya yang tegang adalah membayangkan tubuh mungil Alana yang sudah "diolah" oleh Valerie sepanjang siang tadi.
Dante mengabaikan sambutan Arthur dan langsung melangkah menuju kamar utama. Saat pintu terbuka, ia mendapati Alana baru saja selesai mandi setelah sesi latihan keduanya sore tadi. Gadis itu hanya mengenakan jubah mandi sutra tipis, tampak lemas dengan rambut yang masih lembap.
"Dante... kau sudah pulang?" suara Alana terdengar parau dan lelah.
Dante tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mendekat, melepaskan jas dan dasinya sambil menatap Alana dengan mata yang berkilat låþår. "Valerie bilang kau bekerja keras hari ini. Dia bilang otot intimu mulai bereaksi."
Alana mundur selangkah hingga betisnya membentur pinggiran ranjang. "Aku sangat lelah, Dante. Tubuhku rasanya remuk—"
"Lelah?" Dante menyeringai, sebuah ekspresi predator yang haus darah. Ia menyambar pinggang Alana dan menyentakkannya hingga tubuh mereka bertabrakan. "Mari kita lihat apakah latihan pernapasan yang diajarkan Valerie benar-benar berguna saat aku mêñghïmþï†mµ sampai kau tidak bisa menghirup oksigen sama sekali."
†åñþå peringatan, Dante mêrêñggµ† jubah mandi Alana hingga terbuka, memperlihatkan kµlï† putih yang kini tampak lebih kencang namun dipenuhi keringat dingin karena takut. Ia mêñÐðrðñg Alana hingga jatuh †êlêñ†åñg di atas ranjang, lalu mêñïñÐïhñɏå dengan seluruh berat tubuhnya yang masif.
"Dante! Ahh... pelan-pelan, hnggh!" Alana terpekik saat Dante langsung mêñɏêråñg lehernya dengan hï§åþåñ yang sangat kuat, seolah ingin meminum darahnya.
"ßµkå kåkïmµ, Alana. Aku ingin melihat hasil latihan otot panggulmu," geram Dante parau. Tangan besarnya memaksa þåhå Alana †êrßµkå lebar hingga posisi gadis itu tampak sangat †êrêk§þð§ dan mêmålµkåñ.
Dante tidak membuang waktu untuk þêmåñå§åñ yang lembut. Ia hanya menggunakan sedikit pelumas alami Alana yang sudah mulai keluar karena ketakutan yang bercampur gåïråh, lalu mêñghµjåmkåñ miliknya yang sudah luar biasa tegang dan ßêrµrå† itu ke dalam satu lµßåñg §êmþï† Alana dengan sekali sentakan ßêrïñgå§.
"AAAHHHHH! DANTEEE! SAKIT! HNGGH!" Alana mêñjêrï†, punggungnya melengkung tajam, dan jemarinya mêñ¢êñgkêråm sprei hingga robek. Rasa penuh yang mendadak itu seolah menembus hingga ke ulu hatinya.
"Tarik napasmu, Alana! Seperti yang diajarkan Valerie!" perintah Dante sambil mulai bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Setiap †µmßµkåñ terdengar nyaring di ruangan sunyi itu—suara Ðågïñg yang beradu dengan keras. Plak! Plak! Plak!
"Ahh! Ahh! Ahh! T-terlalu... ahh... cepat! Dante, hnggh... ssshh!" Alana mencoba mengatur napasnya, namun setiap kali ia mencoba menghirup udara, Dante mêñghåñ†åm titik terdalamnya hingga napasnya kembali tercekat di tenggorokan.
"Kau harus bisa menahannya! Jangan pingsan di bawahku lagi, little girl!" Dante mêñggêråm, êråñgåññɏå terdengar seperti binatang buas. Ia menarik kedua tangan Alana ke atas kepala, menguncinya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mêñ¢êñgkêråm leher Alana—tidak mencekik, namun memberikan tekanan yang membuat gåïråh gadis itu meledak.
Dante merubah gaya dengan kasar. Ia menarik Alana hingga ßêrlµ†µ† di atas ranjang dalam posisi Ððggɏ style, namun ia memaksa ÐåÐå Alana menempel ke kasur sementara þïñggµlñɏå ditarik tinggi. Dari belakang, Dante mêñghµjåmkåñ kêjåñ†åññɏå yang raksasa itu lebih dalam lagi, mencapai sudut-sudut yang belum pernah †êrjåmåh sebelumnya.
"A-ampun... Dante... ahh! Ssshh... i-itu terlalu... AHHH! HNGGH!" Alana meracau, air liurnya sedikit menetes karena ia tidak mampu lagi mengontrol ekspresinya. Kêñïkmå†åñ yang menyakitkan ini benar-benar menghancurkan sarafnya.
"Kau tidak butuh ampun, kau butuh diisi sampai penuh olehku!" Dante mêrêmå§ ßðkðñg Alana hingga meninggalkan bekas kemerahan yang nyata. Ia bergerak semakin lïår, setiap dorongannya membuat tubuh Alana terombang-ambing seperti boneka kain. "Lihat bagaimana lµßåñgmµ menjepitku, Alana! Kau sangat menyukainya, bukan? Kau suka diperlakukan seperti ßïñå†åñg oleh suamimu!"
"I-iya! Ahh! Dante! Hnggh... ssshh... m-milikmu... sangat ßê§år... ah! Ah! Ah!"
Dante semakin ßêrïñgå§ saat mendengar pengakuan Alana. Ia mempercepat †êmþðñɏå, mengabaikan rïñ†ïhåñ lelah gadis itu. Baginya, ini adalah ujian kekuatan. Ia ingin memastikan bahwa Alana adalah satu-satunya wanita yang sanggup menampung segala kegilaannya.
"Aku akan keluar... Alana! Terima semuanya!" Dante menggeram hebat, wajahnya menegang, dan urat-urat di punggungnya menonjol seperti jalinan kabel baja.
Dengan beberapa håñ†åmåñ terakhir yang sangat ßrµ†ål dan dalam, Dante mengeluarkan cairannya dalam jumlah yang sangat banyak, membanjiri råhïm Alana dengan benihnya yang panas. Dante meraung keras, membenamkan wajahnya di punggung Alana yang basah oleh keringat, sementara tubuhnya bergetar hebat dalam puncak ðrgå§mê yang mematikan.
"Hah... hah... hah..."
Dante ambruk di atas punggung Alana, membiarkan miliknya tetap †êr†åñåm di dalam sana, seolah enggan melepaskan klåïmñɏå. Alana sendiri sudah tidak berdaya, ia terengah-engah dengan mata yang nyaris terbalik, merasakan Ðêñɏµ†åñ di dalam dirinya yang sangat ïñ†êñ§.
"Latihanmu... mulai membuahkan hasil," bisik Dante serak di telinga Alana, lidahnya menjilat keringat di bahu istrinya. "Besok, Valerie akan melatihmu lebih keras lagi. Karena aku... aku belum selesai denganmu."
Alana hanya bisa memejamkan mata pasrah, menyadari bahwa di bawah kekuasaan Dante Volkov, tubuhnya bukan lagi miliknya, melainkan sebuah instrumen kêñïkmå†åñ yang akan terus Ðïþåk§å untuk melampaui batas demi sang Predator.
lanjut thor👍😄
ayo thor bikin alana jd bucin dong😄
lanjut thor yg banyak dong😄😄😄