Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Tepi Kolam Berdarah
Suasana hangat dari rumah Abel sangat kontras dengan kediaman Raendra, hawa dingin dan mencekam saat Arslan melangkah masuk ke dalam rumah mewah keluarga Raendra. Belum sempat ia meletakkan kunci mobil di atas meja, sebuah benda kristal meluncur cepat di udara.
PRANK!
Asbak kaca berat itu menghantam pelipis Arslan sebelum jatuh hancur berkeping-keping di lantai marmer. Arslan tersentak, rasa panas dan perih langsung menjalar di sisi wajahnya. Cairan merah kental mulai mengalir perlahan, menetes di kerah kemeja putihnya.
"ANAK TIDAK TAHU DIUNTUNG!"
Suara menggelegar Yuda Raendra mengguncang ruangan. Pria paruh baya itu berdiri di tengah ruang keluarga dengan wajah merah padam dan napas yang memburu. Di tangannya, ia meremas laporan tahunan perusahaan yang tampak berantakan.
"Papa sudah bilang berkali-kali, lepas jabatan dokter konyol itu! Buat apa kamu belajar bertahun-tahun kalau akhirnya cuma jadi pelayan masyarakat di rumah sakit, sementara aset triliunan milik keluarga kita terbengkalai karena kamu tidak pernah mau duduk di kursi direktur?!"
Arslan tidak bergerak. Ia memejamkan matanya sejenak, menahan denyut di pelipisnya yang kian hebat. Ia mengusap darah yang hampir mengenai ujung matanya dengan punggung tangan.
"Aku sekarang seorang dokter, Pa. Itu pilihan hidupku sejak awal," suara Arslan terdengar rendah namun penuh penekanan. "Perusahaan Papa punya ribuan manajer profesional yang bisa mengurusnya. Tapi pasien-pasienku, termasuk bayi-bayi yang masih memiliki kesempatan untuk hidup, mereka semua butuh aku."
"PASIEN?! Kamu lebih peduli pada anak orang lain daripada masa depan keluargamu sendiri?" Yuda melangkah maju, mencengkeram kerah baju anaknya yang bernoda darah. "Papa dengar kamu bahkan berkelahi dengan rekan bisnis Reno Oliver demi membela adiknya? Kamu mau jadi pahlawan kesiangan, Arslan? Ingat, tanpa nama Raendra di belakang namamu, kamu bukan siapa-siapa!"
Arslan menatap mata ayahnya dengan keberanian yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Justru karena aku seorang Raendra, aku tidak ingin hidup hanya untuk menimbun uang. Aku ingin hidup untuk menyelamatkan nyawa."
Yuda mendorong Arslan hingga terhuyung ke belakang. "Keluar! Kalau kamu masih mau jadi dokter sampah itu, jangan pernah pakai fasilitas Papa lagi. Serahkan kunci mobil dan kartu kreditmu. Kita lihat seberapa lama kamu bisa bertahan hidup dengan gaji dokter mu itu tanpa sokongan dana dariku!"
Arslan terdiam sejenak. Ia melihat kunci mobil di tangannya, lalu meletakkannya dengan tenang di atas meja hias. Tanpa kata, ia melepas jam tangan mewahnya dan meletakkannya di samping kunci.
"Aku akan pergi, Pa. Tapi aku tidak akan pernah berhenti menjadi dokter," ucap Arslan tegas.
Arslan melangkah gontai menuju kamarnya, mengabaikan teriakan Papanya yang masih menggema di lantai bawah. Setiap langkahnya terasa berat, bukan hanya karena luka di pelipisnya yang berdenyut, tapi karena beban kenangan yang mendadak menyeruak naik ke permukaan.
Di dalam kamar, Arslan duduk di tepi ranjang. Tak lama, pintu terbuka perlahan. Mamanya masuk dengan mata sembab, membawa kotak P3K. Tanpa suara, sang Mama mulai membersihkan luka di pelipis Arslan dengan kapas yang telah dibasahi alkohol.
"Maafkan Papa, Lan," bisik Mamanya parau. "Dia hanya... dia hanya belum bisa merelakan segalanya."
Arslan terpejam. Sentuhan lembut tangan Mamanya seolah membuka kotak pandora dalam ingatannya. Di rumah ini, Arslan memang dianggap sebagai kegagalan karena menolak meneruskan takhta bisnis. Ia adalah tekanan bagi Mamanya yang selalu terjepit di tengah konflik, dan ia adalah luka terdalam bagi Papanya yang tak pernah bisa memaafkan takdir.
Pikiran Arslan melayang jauh ke masa emat belas tahun yang lalu. Saat itu, rumah ini tidak sedingin makam.
Tahun itu, Arslan berusia sepuluh tahun. Di tengah dominasi laki-laki dalam silsilah keluarga besar Raendra Dirgantara yang kaku, lahirlah seorang malaikat kecil bernama Via. Ia adalah mutiara satu-satunya, keturunan perempuan pertama setelah tiga generasi.
Arslan masih ingat betul betapa Papanya—yang sekarang begitu kasar—dulu bisa berubah menjadi pria paling lembut saat menggendong Via. Kakek dan Neneknya, bahkan tante dan pamannya akan membawakan mainan paling mewah dari luar negeri hanya untuk mendengar tawa bocah berumur tiga tahun itu.
Via adalah pusat semesta mereka. Pipinya yang kemerahan, rambutnya yang dikuncir dua, dan suaranya yang cadel saat memanggil "Kak Alan" adalah kebahagiaan terbesar Arslan. Arslan rela melakukan apa saja untuk adiknya. Ia akan membiarkan Via mencoret-coret buku tugasnya atau mendandani rambutnya dengan jepit rambut bunga-bunga.
"Via harus jadi dokter nanti, biar bisa jaga Papa sama Mama kalau sudah tua," canda Papanya suatu sore di taman belakang. Ucapan yang saat itu dianggap doa, namun kini menjadi kutukan yang menghantui Arslan.
Kenangan itu mendadak terputus saat Mamanya menekan luka di pelipisnya sedikit lebih keras dengan plester. Arslan meringis, kembali ke kenyataan yang pahit.
"Semua berubah sejak kejadian itu, kan, Ma?" tanya Arslan lirih, suaranya tercekat.
Mamanya terhenti, tangannya bergetar. Ia tidak sanggup menatap mata Arslan. Kejadian empat belas tahun lalu—saat kebahagiaan keluarga Raendra direnggut paksa dalam sekejap—adalah alasan mengapa Papanya begitu membenci profesi dokter yang tak mampu menyelamatkan nyawa putrinya sendiri, dan alasan mengapa Arslan begitu terobsesi menjadi dokter anak.
Arslan mengemas satu tas ransel. Ia hanya membawa stetoskopnya, beberapa potong pakaian, dan satu lembar foto usang yang memperlihatkan dirinya sedang menggendong Via yang tertawa lebar.
"Aku harus pergi, Ma. Kalau aku tetap di sini, aku hanya akan menjadi pengingat atas kegagalan kita semua," ucap Arslan sambil berdiri.
Luka di pelipis itu belum ada apa-apanya dibanding lubang menganga di dada Arslan saat ia menatap foto kecil Via di tangannya. Kenangan itu kembali berputar, memutar waktu ke sebuah sore musim panas empat belas tahun yang lalu—hari di mana langit seolah runtuh menimpa pundak anak laki-laki berusia sepuluh tahun.
...____Flashback____...
Saat itu, rumah sedang ramai oleh pesta perayaan keberhasilan proyek besar Papa. Arslan kecil ditugaskan menjaga Via di area taman bermain belakang. Via, dengan gaun putih dan pita merah jambunya, sedang asyik mengejar kupu-kupu.
"Kak Alan! Lihat, ada sayap warna emas!" seru Via sambil berlari kecil.
Arslan tertawa, namun perhatiannya teralih sejenak. Seorang pelayan memanggilnya untuk mengambilkan kado yang tertinggal di ruang depan. Hanya tiga menit. Arslan berpikir tiga menit tidak akan mengubah dunia. Ia meninggalkan Via sendirian di dekat kolam hias yang baru saja dibersihkan dan permukaannya sangat licin.
"Via, tunggu di sini ya. Jangan dekat-dekat air," pesan Arslan sebelum berlari masuk.
Namun, rasa ingin tahu anak berusia tiga tahun tidak mengenal rasa takut. Saat Arslan kembali dengan kado di tangannya, yang ia temukan hanyalah permukaan air kolam yang beriak tenang dan satu pita merah jambu terapung di sana.
"VIA!"
Jeritan Arslan membelah keriuhan pesta. Ia melompat ke air, menyeret tubuh mungil yang sudah lemas itu ke permukaan. Namun, meskipun tim medis datang dan dokter berusaha melakukan resusitasi berulang kali, Via tetap tidak membuka matanya. Paru-paru kecilnya sudah terlalu banyak menelan air.
Kematian Via bukan hanya sebuah duka; itu adalah eksekusi bagi Arslan. Di pemakaman, tidak ada tangan yang mengusap kepalanya.
"Harusnya kamu yang ada di dalam sana, bukan adikmu!" Teriakan histeris Yuda saat itu menjadi kalimat yang terpatri di otak Arslan seumur hidup. Papa yang dulu lembut, berubah menjadi monster yang dingin. Ia menyalahkan Arslan atas hilangnya masa depan keluarga Raendra Dirgantara.
Mamanya? Kehilangan Via membuat jiwanya mati. Ia menjadi wanita kaku yang lebih banyak diam, menatap Arslan dengan tatapan kosong yang jauh lebih menyakitkan daripada makian. Ia tidak membela Arslan saat suaminya memukul atau menghina anak laki-lakinya itu.
"Kamu lalai, Arslan. Kamu egois," hanya itu yang keluar dari bibir Mamanya di malam setelah tujuh hari kepergian Via.
Sejak saat itu, Arslan hidup dalam penjara rasa bersalah. Ia belajar kedokteran bukan untuk mencari uang, tapi untuk menebus dosa tiga menitnya. Ia memilih spesialis anak agar tidak ada lagi kakak yang harus menangis di tepi kolam karena kehilangan adiknya. Ia ingin menjadi orang yang selalu ada tepat waktu, sesuatu yang gagal ia lakukan untuk Via.
...Flashback end...
Arslan menutup matanya rapat-rapat. Air mata setetes jatuh mengenai kaca foto itu. Di rumah ini, ia bukan seorang dokter hebat; ia tetaplah Arslan sepuluh tahun yang membunuh permata keluarga.
Ia menyampirkan tas ranselnya, melewati koridor yang sunyi menuju pintu keluar. Ia harus pergi. Bukan hanya dari rumah ini, tapi dari bayang-bayang yang terus menghakiminya.
Tujuannya sekarang hanya satu: tempat di mana ia merasa benar-benar dibutuhkan tanpa dihakimi masa lalunya.