"Ambil, ambillah dia! Aku ikhlaskan dia untukmu."
Suara seorang wanita terdengar begitu nyaring ketika berada di depan rumah wanita yang menjadi selingkuhan suaminya.
Didepan keluarga besar sang pelakor dia tak gentar meski pun sendirian.
Hancur hati Arundari saat mengetahui bahwa gadis yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu tega menjadi duri dalam daging pada biduk rumahtangganya.
Tampilannya yang religius sungguh tidak berjalan lurus dengan perbuatannya.
Tak ingin sakit hati terlalu lama, Arundari memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya dengan Heri.
Apakah Arundari bisa kembali merasakan cinta setelah dirinya disakiti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Luar Nalar 08
Pembicaraan selesai, semuanya lancar bahkan bisa dibilang sangat lancar. Sehingga tak butuh waktu lama bagi mereka ada di sana.
Dengan perasaan yang begitu bahagia, Heri terus saja tersenyum sepanjang pulang ke rumah. Dia juga memutuskan untuk tidak kembali ke kantor dan memilih membahasnya dengan timnya besok saja.
Dan setelah itu hubungan Heri dengan Arundari berjalan baik. Tapi bukan berarti Arundari memaafkan Heri. Hingga suatu hari, Arundari menemukan bukti valid perselingkuhan Heri dan Jelita.
Heri yang pamit untuk kembali menemui Adyaksa Gumilar setelah diadakannya pengajian, tidak kembali hingga larut malam. Tapi sinyal ponse Heri tidak ada di alamat yang dikatakannya padanya.
Ternyata Heri saat ini tengah berada di sebuah alamat yang mana itu merupakan rumah milik Jelita.
Arundari pun bergegas menuju ke rumah tersebut. Sesampainya di sana, dia tidak terang-terangan datang tapi memilih untuk mengintip demi melihat apa yang Heri lakukan.
"Astagfirullah," ucap Arundari sambil membungkam mulutnya sendiri. Matanya membelalak, hatinya terasa remuk redam ketika melihat apa yang suaminya dan wanita itu lakukan sesuatu yang sangat keterlaluan.
Berciuman, ya itulah yang dilakukan Heri dan Jelita. Dimana itu dilakukan mereka di teras rumah.
Dengan tangan gemetar, Arundari pun merekam kejadian itu. Dia juga langsung pulang setelah mendapat bukti rekaman.
Malam itu Heri ternyata tidak pulang ke rumah. Lagi-lagi dia beralasan karena ada yang dibahas dengan tim. Pagi harinya dengan langkah tegas dan juga amarah yang memuncak, Arundari mendatangi kantor suaminya dan melihat pria yang sudah dinikahinya selama tiga tahun itu sibuk memangku jin dasim yang berpenampilan sholihah.
"Tega kamu Mas!" itu lah yang diucapkan Arundari di depan suami dan juga wanita selingkuhan yang sangat dikenalnya.
Hiks
Arundari menenggelamkan wajahnya ketika mengingat semua kejadian tersebut. Dari awal dia merasa Heri berselingkuh hingga memang nyata bahwa suaminya berselingkuh.
Di dalam kamar di rumah kedua orangtuanya, Arundari meluapkan semua rasa sakit hatinya. Angin dingin yang berhembus itu tak lagi terasa dingin karena hatinya yang terlalu dingin.
tok tok tok
"Neng, udah sore. Makan yuk, Abah kamu juga udah pulang dari kebun tuh."
Lintang sedikit khawatir kepada putrinya yang tak jua keluar kamar sejak datang tadi. Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, tanda magrib akan segera datang.
Meski Lintang tahu bahwa putrinya sedang menstruasi, tapi tentunya tidak baik juga jika masih tidur hingga jam ini.
"Iya Ummi, udah bangun kok. Bentar aku keluar,"sahut Arundari dari dalam kamar.
Cekleek
Wanita berusia 26 tahun itu menunjukkan senyumannya ketika membuka pintu. Dia juga langsung menggamit lengang ibunya lalu kemudian berjalan bersama menuju ke ruang makan.
Disana ternyata sang ayah sudah duduk. Pria yang usainya sudah lebih dari lima puluh tahun itu tersenyum ke arah putri semata wayangnya.
Arundari pun membalas senyuman ayahnya. Dia menghampiri Fikri Ahmad Mustofa, meriah tangannya dan mencium punggung tangan itu dengan hikmat.
"Gimana kabar kamu, Nak?" tanya Fikri sambil mengusap lembut kepala Arundari.
"Baik Abah, alhamdulillah,"jawab Arundari.
Makan malam yang telah disajikan, dinikmati bersama dengan hangat. Beberapa kata yang sekedar tanya jawab juga sesekali dilontarkan agar suasana lebih terasa menyenangkan.
"Sudah adzan, abah ke masjid dulu. Nanti kita ngobrol ya,"ucap Fikri.
Arundari menganggukkan kepalanya. Ada debaran yang tidak karuan dalam dadanya ketika sang ayah bicara demikian.
Entahlah, meski tatapan Fikri begitu lembut namun seperti menyimpan sesuatu yang misterius. Atau dengan kata lain, seolah dia tahu tentang sesuatu.
"Abah mau bicara apa ya? Aku kok jadi deg-degan gini. Nggak mungkin abah tahu kan?" tanya Arundari dalam hati.
Perasaan gelisah yang dirasakan Arundari saat ini adalah khawatir jika ayahnya tahu. Dia memang ingin memberitahu tentang Heri kepada kedua orangtuanya, tapi bukan saat ini.
Sekarang ini yang ingin dilakukan oleh wanita itu adalah istirahat. Dia ingin mengistirahatkan hati dan pikirannya agar menjadi lebih tenang.
Berbeda dengan Arundari yang tengah gelisah dan mencari ketenangan, Heri malah melampiaskan rasa kesalnya dengan menemui Jelita yang masih ada di rumahnya. Dia menarik wanita itu ke luar rumah dan berjalan sedikit lebih jauh dari rumah agar apa yang mereka bicarakan tidak terdengar oleh siapapun.
"Apaan sih, Mas?" tanya Jelita sambil mengibaskan tangan Heri yang mencengkeram tangannya.
"Bilang ke Arundari, telpon dia sekarang juga dan katakan kalau kita nggak punya hubungan apa-apa,"jawab Heri dengan mata yang menyorot tajam.
"Nggak enak aja. Nggak mau lah aku. Enak aja, kita udah banyak melakukan sesuatu berdua terus aku suruh bilang ke Mbak Arun kalau kita nggak ada hubungan apa-apa. Nggak mau! Aku yang rugi. Dan kamu nggak lupa kan, aku mau kamu nikahin aku. Secara resmi."
Ucapan Jelita pun tak kalah tajamnya. Dia tak mau rugi sendiri. Dia tak ingin kehilangan Heri karena sudah banyak yang diberikannya pada pria itu.
Terlebih janji Heri terhadap keluarganya untuk menikah dengannya.
"Aku nggak bisa, Jelita. Aku nggak bisa nikah sama kamu. Aku masih sangat cinta sama Arundari,"ucap Heri kukuh.
"Kamu juga kemarin bilang cinta sama aku, Mas. Mas aku beneran nggak bisa hidup sama kamu. Aku udah bener-bener cinta sama kamu. Banyak hal yang udah kita lewati berdua Mas, jadi ayo kita nikah ya. Lagian kalau kamu nikah sama aku, pasti usaha kamu akan semakin maju. Aku selama ini yang bantu kamu kan? Berkat kemampuan aku, usaha kamu nggak hanya melulu soal travel tapi juga merambah ke kajian. Suaraku bagus dan aku punya banyak penggemar. Itu adalah aset, Mas."
Heri seketika terdiam mendengar semua ucapan dari Jelita. Otaknya berkata bahwa semua itu memang benar adanya.
Jelita adalah wanita yang punya banyak talenta. Terlebih suaranya yang merdu dan wajahnya yang cantik cukup menjadi daya tarik.
Itu terbukti dari video yang diunggah timnya di youtube. Setiap ada penampilan Jelita pasti yang menonton banyak sekali.
Dan pada akhirnya Jelita bersama tim yang dadakan dibuat seting membuat cover lagu-lagu religi. Dan itu memang sungguh berhasil. Viewer semakin banyak lalu nama Hidayah Travel Umrah dan Haji semakin dikenal.
"Nah, kamu mikir juga kan Mas? Aku lebih banyak membawa manfaat buat kamu. Dari segi apapun. Jadi menikahi aku merupakan hal yang sangat baik kan?" ucap Jelita sambil mengerlingkan matanya.
Heri tidak mengiyakan dia juga tidak membantah. Pria itu hanya diam, dan hingga meninggalkan tempat itu pun diam.
"Aku nggak akan pernah ngelepasin kamu, Mas. Aku harus jadi istrimu. Jika ada yang harus pergi maka dia lah yang pergi, bukan aku."
TBC
Ada maksud tersembunyi nih dari Adyaksa😄
Apakah Anis nanti nya akan berjodoh sama Beni yaa..? hhmmm... 🤣🤣