ON GOING | UPDATE SETIAP HARI
Hari dimana seharusnya Ayra Rayana bertemu klien pertamanya justru membuat dia terjatuh ke dalam kehidupan klien pertamanya itu. Regana Satya terpaksa menarik Ayra dalam kehidupannya tanpa rencana dan terjadi secara tiba-tiba.
"Bagaimana Pak Rega? Proposal ini apakah sudah sesuai?"
"Sepertinya kamu harus mengganti semuanya" Ucap Rega
"ganti jadi proposal pernikahan sepertinya cocok" Lanjut Rega
"cancel aja pak makasih!!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azrinamanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Bersama
Langit mulai berubah menjadi lebih gelap di Basadingen. Lampu-lampu rumah menyala hangat, berbanding terbalik dengan hati rega yang masih terasa kosong.
ia duduk di balkon penginapan, menatap gelap yang memisahkan dirinya dengan Diessenhofen. Sungai Rhein mengalir tenang di antaranya. Gio keluar membawa dua cangkir kopi.
"lo yakin cuma mau nungu?" tanya gio, meyodorkan satu cangkir.
rega menerima tanpa menoleh. "gua lagi belajar, yo."
"belajar apaan?" tanya gio
rega menghela nafasnya "ngelepas kalo memang harus. nahan kalo memang masih bisa." ucapnya agak berat
gio mendesis pelan."cih... itu namanya galau berkepanjangan."
rega tersenyum tipis. "ya mungkin."
***
Keesokan paginya, kabut tipis menyelimuti tepi sungai. rega berjalan sendiri tanpa gio. Ia berjalan di sekitar diessenhofen tangannya masuk ke saku mantel. langkahnya pelan.
Dari kejauhan, ia melihat sosok yang familiar baginya yang sedang berdiri di tepian dengan mantel krem dan rambut tergerai.
ayra sedang meregangkan ototnya sambil menatap sungai. Langkah rega terhenti. diam-diam ia memperhatikan ayra yang tersenyum di sebrang sana.
Rega masih diam di tempat. dan saat pandangan mereka bertemu ayra hanya diam mematung lalu rega berjalan pelan ke arahnya.
"kamu ngapain mas? ngikutin aku?" tanya ayra
"enggak. Cuma kebetulan aja."
hening. Suara air sungai jadi satu-satunya pengisi jarak.
"kemarin kamu bahagia banget" ucap rega namun pandangannya ke arah sungai
ayra menaikan alisnya heran.
"mas lihat kemarin?" tanya ayra penasaran
rega hanya menganggukan kepalanya lalu tersenyum tipis
"Arda memang masa lalu aku tapi sekarang dia masa depan Aruna adik aku" jelas ayra
"terus kemarin kamu sampe loncat-loncat begitu kenapa?" tanya rega penasaran menoleh ke arah ayra
ayra tersenyum. "arda mau melamarnya"
"hah? melamar kamu?" tanya rega yang agak meninggikan suaranya
ayra menoleh ke rega lalu memukul bahunya pelan namun rega mengaduh kesakitan
"kamu ga dengerin aku mas?" tanya ayra kesal
"becanda sayang" jawab rega
mereka akhirnya terbuka menceritakan satu sama lain saat sudah hening akhirnya ayra membuka suara.
"aku bertemu nadin 2 minggu lalu." ucap ayra
rega menoleh "buat apa dia kesini?" tanya rega
"entahlah dia ngucapin sesuatu yang ngebuat aku sakit hati dan membekas"
"dia bilang kamu bahagia balik dengannya. di saat aku sudah menerima fakta dari masalah kita tapi dia dateng dengan ngucapin kata-kata itu ngebuat aku menarik diri aku dari kamu"
"jadi itu yang membuat kamu mau cerai?" tanya rega
ayra menganggukan kepalanya
Rega mengusap wajahnya gusar "kamu lebih percaya dia di bandingkan mas?" tanya rega putus asa
"kita jauh mas! aku gak tau kenyataannya seperti apa disana" jelas ayra
"gimana kamu mau tau? kamu aja membatasi mas untuk hubungin kamu" ucap rega
"nadin itu gak bisa kamu percaya sayang... dia itu licik" lanjut rega menggenggam tangan ayra
kini ayra tidak menghempas atau bahkan menolak. ia menyimak penjelasan dari rega dengan fokus.
"perempuan yang kamu lihat di kantor-"
"aku tau! audry kan?" tebak ayra lalu rega menggangguk
"dia kerja sama dengan nadin. dan sekarang dia sudah di amanin oleh tante reni mamanya" jelas rega
"lalu nadin?" tanya ayra
"entahlah. Mas gak tau kabarnya sekarang gimana dan itu gak penting"
"dan dia yang ngasih tau mas kalo kamu disini bahagia dengan arda" lanjut rega
ayra menghela nafasnya lalu tersenyum.
"pada intinya kita sama-sama terlalu percaya perkataan orang."
"jadi bagaimana hubungan kita aya?" tanya rega
ayra mengigit bibirnya, menahan tangis yang hampir jatuh lagi.
"kalau aku tetap pilih cerai?" tanyanya pelan
rega menatap lurus ke depan. "mas tetap doain kamu bahagia"
air mata ayra jatuh tanpa suara.
"kenapa sekarang mas jadi begini?" bisiknya
"karna mas hampir kehilangan bahkan sudah pernah merasakan kehilangan."
ayra menutup matanya sesaat. Lalu pelan, sangat pelan, ia melangkah mendekat. tidak memeluk bahkan menyentuh. hanya berdiri lebih dekat dari sebelumnya.
"jika kamu masih butuh waktu. mas akan tetap menunggu" ucap rega
ayra menarik nafasnya lalu mengangguk "makasih mas." ucap ayra
untuk pertama kalinya sejak tiga bulan itu, mereka berdiri tanpa dinding di antara mereka.
***
sudah dua hari berlalu sejak pertemuan mereka yang membahas banyak hal bahkan hingga ke hubungan mereka. rega benar-benar memberi ayra waktu dan ia menepati janji itu.
Rega sibuk dengan tab nya. mengerjakan pekerjaan jarak jauh bersama gio. Suara ketukan pintu penginapan membuat mereka menghentikan pekerjaannya.
gio membuka pintu. ia terdiam beberapa detik "ra.." ucap gio
Rega yang sedang menatap tabnya lalu terdiam. nafasnya tercekat.
"Mas rega ada?" tanyanya pelan.
"masuk dulu ra dingin di luar" ucap gio mempersilahkan masuk
ia melihat rega sedang fokus ke tabletnya. sebenarnya rega hanya pura-pura sibuk.
"gua keluar dulu," ucap gio singkat lalu pergi tanpa banyak bertanya
keheningan menyelimuti mereka. ayra duduk di sofa sambil memainkan jari-jarinya menahan gugup sedangkan rega membuatkan coklat hangat untuk ayra.
"di minum dulu," ucap rega menyodorkan gelas yang berisi coklat hangat
"makasih mas" ucap ayra
lalu hening kembali.
"setelah aku pikirkan. aku memang marah dan kecewa tapi aku gak bisa bohong... aku berharap mas menjemputku." ucap ayra memecahkan keheningan
"aku capek mas nunggu kamu dateng dan berharap kamu dobrak semua ego kamu." lanjut ayra. perkataannya tenang namun penuh penekanan
"maaf mas salah, mas pikir kamu memang butuh ruang"
ayra tersenyum hambar. "kadang perempuan bilang butuh waktu... bukan berarti ingin di tinggal sendirian." jelas ayra
hening beberapa detik
"aku memang nunggu kamu mas, tapi saat ini aku belum siap balik" ucap ayra jujur
"aku belum siap cerai" lanjutnya
rega mengangkat wajahnya cepat.
"aya..."
"dengerin dulu," potongnya lembut. "kalo kita mau lanjut, bukan karena kasihan. bukan karena takut kehilangan tapi karena kita memang mau tanpa alasan apapun." ucap rega
"aku takuk kalo balik... semuanya bakal sama lagi" lirih ayra.
"gak akan," jawab rega tegas tapi lembut.
"kalo kamu ngerasa sendirian lagi, kamu boleh marah. kamu boleh teriak tapi mas mohon jangan hukum mas dengan kamu pergi jauh ninggalin mas seperti sekarang" lanjut rega
mata ayra memanas.
"mas gak akan ajak kamu pulang jika kamu belum siap. mas yang akan kembali ke kamu karna kamu rumah mas untuk kembali pulang." ucap rega tulus
"makasih mas sudah mengerti aku. maaf kalo permintaan aku terlalu egois" ucap ayra sambil menangis tanpa suara.
rega mengelus punggung tangan ayra untuk menenangkannya.
"kita mulai tata kembali ya" ucap ayra
rega mengangguk lalu tersenyum lega "kita mulai pelan-pelan ya sayang. makasih udah kasih mas kesempatan"
ayra mengangguk lalu menghapus air matanya yang sudah membasahi pipi.
"mas..." panggilnya lirih.
"iya sayang kenapa?" tanya rega lembut
"aku kangen"
kalimat itu begitu sederhana namun cukup membuat rega menutup matanya sesaat menahan haru.
"mas juga." ucap rega lalu memeluk ayra
pelukan yang selama ini mereka rindukan namun tidak bisa mereka rasakan selama tiga bulan terakhir karna jarak dan ego mereka yang memisahkan mereka.
dan untuk pertama kalinya sejak kata cerai itu terucap, harapan mereka tidak lagi rapuh. ia mulai tumbuh kembali. namun kali ini dengan harapan yang berbeda menjadi lebih baik dan lebih dekat dengan kebahagiaan di antara mereka.