NovelToon NovelToon
REINKARNASI ISTRI TERBUANG: Balas Dendam Sang Cleaning Service

REINKARNASI ISTRI TERBUANG: Balas Dendam Sang Cleaning Service

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Dulu aku membangun tahtamu dengan cinta, sekarang akan kuruntuhkan kerajaanmu dengan sisa tenaga sebagai tukang sapu!"
Clarissa mati sebagai istri yang dikhianati. Namun, dia bangun kembali sebagai Lestari, seorang cleaning service yang dianggap sampah oleh mantan suaminya, Kenzo, dan adiknya yang licik, Angelica.
Rencananya sederhana: Menyusup, sabotase, dan hancurkan!
Tapi rencana itu kacau saat Devan Mahendra—CEO tampan yang merupakan musuh bebuyutan suaminya—tiba-tiba menarik kerah seragamnya.
"Gadis pelayan sepertimu tahu apa soal pencucian uang pajak? Ikut aku!" seru Devan angkuh.
Kini, Clarissa terjebak di antara misi balas dendam yang membara dan bos baru yang sangat menyebalkan tapi selalu pasang badan untuknya. Bagaimana jadinya jika sang rival jatuh cinta pada "si tukang sapu" yang ternyata adalah otak jenius yang pernah mengalahkannya dulu?
"Kenzo, selamat menikmati hari-harimu di puncak. Karena aku sedang menyiapkan jurang terdalam untukmu... dibantu oleh musuh terbesarmu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Sang Pelindung di Balik Bayang

​Api berkobar hebat di area parkir, menjilat langit malam yang hitam. Ledakan mobil Kenzo menciptakan kekacauan masal. Di balkon, Clarissa terpaku dengan jantung yang berdegup kencang. Ia bisa mendengar suara sirine polisi mendekat dalam hitungan detik.

​"Seseorang sengaja melakukan ini tepat setelah aku mengancam Kenzo," bisik Clarissa, wajahnya pucat pasi di bawah pantulan cahaya api. "Jika aku tertangkap di sini, semua orang akan menuduhku!"

​Devan tidak membuang waktu. Ia mencengkeram pergelangan tangan Clarissa dengan kuat. "Jangan lepaskan tanganku. Ikut aku!"

​"Tapi Devan, polisi akan—”

​"Diam dan lari!" bentak Devan pelan namun tegas.

​Pria itu menarik Clarissa masuk kembali ke dalam gedung, namun bukan melalui pintu utama yang kini dipenuhi tamu histeris. Devan membawa Clarissa melewati lorong dapur yang sempit dan berbau uap panas. Para koki yang bingung hanya bisa melongo melihat bos besar Mahendra Group menarik seorang wanita cantik dengan gaun mewah melewati tumpukan piring kotor.

​Mereka keluar melalui pintu pembuangan di belakang hotel. Sebuah mobil SUV hitam dengan kaca gelap sudah menunggu dengan mesin menyala.

​"Masuk!" perintah Devan.

​Begitu pintu tertutup, mobil itu melesat membelah kegelapan, menjauh dari kerumunan polisi yang mulai mengepung hotel. Clarissa menyandarkan punggungnya di jok kulit yang empuk, napasnya masih tersengal-sengal.

​"Ponselmu," Devan mengulurkan tangan.

​Clarissa memberikan ponsel bututnya dengan tangan gemetar. Devan membaca pesan misterius itu: “Lihat ke bawah, Kakak. Hadiah kecil untukmu.”

​Rahang Devan mengeras. "Pesan ini dikirim menggunakan server terenkripsi. Siapa pun pengirimnya, dia tahu kau bukan Lestari yang biasa. Dan dia tahu kau ada di sana malam ini."

​"Apa kau pikir Kenzo yang melakukannya? Mencoba mencelakaiku tapi malah terkena mobilnya sendiri?" tanya Clarissa.

​"Tidak. Kenzo terlalu pengecut untuk melakukan ledakan sebesar itu di depan umum. Ini adalah perbuatan seseorang yang ingin menghancurkan Kenzo sekaligus menjebakmu sebagai tersangka," analisis Devan dingin. Matanya menatap tajam ke arah Clarissa. "Siapa lagi yang tahu identitas aslimu, Clarissa?"

​Clarissa menggeleng. "Seharusnya tidak ada. Tapi sebutan 'Kakak' di pesan itu... hanya Angelica yang memanggilku begitu."

​"Angelica tidak sepintar itu untuk meretas server," balas Devan. Ia kemudian mengetuk kaca depan. "Supir, jangan ke apartemenku. Bawa kami ke Villa Black Diamond di puncak."

​Clarissa tersentak. "Villa di puncak? Itu terlalu jauh! Aku harus kembali ke kantor besok pagi untuk menyusup ke data Kenzo!"

​"Kau tidak akan pergi ke mana-mana, Ratu," Devan memutar tubuhnya, mengunci pandangan Clarissa. "Mulai malam ini, kau adalah buronan tidak resmi. Polisi akan memeriksa CCTV hotel. Mereka akan melihatmu berbisik di telinga Kenzo tepat sebelum ledakan. Jika kau muncul di kantor, kau akan langsung diborgol."

​"Jadi kau menculikku?"

​"Aku melindungimu!" suara Devan naik satu oktav. "Berhentilah bersikap seolah kau masih memegang kendali atas segalanya. Di mata dunia, kau hanyalah Lestari, seorang pelayan yang tiba-tiba dekat denganku. Kau tidak punya kekuatan hukum!"

​Clarissa terdiam. Kata-kata Devan menghantamnya tepat di ulu hati. Ia lupa bahwa ia bukan lagi CEO yang punya pengacara di setiap langkahnya. Ia hanyalah jiwa yang meminjam tubuh orang lain.

​Tiga jam perjalanan dalam keheningan akhirnya membawa mereka ke sebuah mansion megah yang tersembunyi di balik hutan pinus. Villa Black Diamond. Tempat ini sangat terisolasi, dikelilingi pagar tinggi dengan penjagaan ketat.

​"Turun," ucap Devan pendek.

​Clarissa mengikuti Devan masuk ke dalam mansion. Interiornya sangat maskulin—didominasi warna hitam, abu-abu, dan marmer putih. Devan membawanya ke sebuah kamar luas di lantai dua.

​"Ini kamarmu. Semua kebutuhanmu sudah ada di lemari. Jangan mencoba keluar dari gerbang tanpa seizinku," Devan berbalik hendak pergi, namun Clarissa menahan ujung jasnya.

​"Kenapa kau melakukan ini, Devan? Kita hanya partner bisnis. Kau mempertaruhkan reputasimu dengan membawaku kabur," tanya Clarissa pelan.

​Devan berbalik, jarak mereka begitu dekat hingga Clarissa bisa mencium aroma wiski dan parfum mahal dari tubuh pria itu. Devan mengulurkan tangannya, menyelipkan beberapa helai rambut Clarissa ke belakang telinga.

​"Karena aku sudah kehilangan Clarissa sekali," bisik Devan, suaranya kini terdengar parau dan penuh luka yang terpendam. "Aku tidak akan membiarkan 'jiwa' yang mirip dengannya menghilang lagi di depan mataku, siapa pun kau sebenarnya."

​Jantung Clarissa seolah berhenti berdetak. Apakah Devan selama ini mencintaiku? Pria yang selalu ia anggap rival bebuyutan itu... ternyata menyimpan perasaan sedalam ini?

​Sebelum Clarissa bisa menjawab, Devan menarik tubuhnya dan mendaratkan sebuah ciuman yang menuntut di dahi Clarissa. Ciuman yang tidak hanya berisi gairah, tapi juga janji perlindungan.

​"Istirahatlah. Besok, kita akan mulai memburu siapa pengirim pesan itu," Devan pergi dan mengunci pintu dari luar.

​Clarissa tidak bisa memejamkan mata. Ia berjalan menuju meja rias dan melihat sebuah laptop yang sudah disiapkan Devan. Dengan jari-jarinya yang lincah, ia mulai mengetikkan serangkaian kode. Ia tidak bisa hanya duduk diam menunggu perlindungan pria itu.

​Ia berhasil masuk ke dalam jaringan CCTV pribadi di apartemen Kenzo—sebuah backdoor yang dulu ia pasang sendiri tanpa sepengetahuan Kenzo.

​Layar laptop menampilkan gambar hitam putih. Di sana, Kenzo tampak sedang mengamuk di ruang tamu, membuang semua barang. Namun, bukan Kenzo yang menarik perhatian Clarissa.

​Di sudut ruangan, Angelica sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Wajahnya yang tadi tampak sedih di pesta, kini tersenyum lebar dan licik.

​"Ya, semuanya berjalan lancar. Mobil itu meledak tepat waktu. Kenzo ketakutan setengah mati, dan si jalang itu pasti sedang dikejar polisi sekarang," Angelica tertawa kecil. "Terima kasih, Tuan. Tanpa bantuanmu, aku tidak akan bisa menyingkirkan 'bayangan' kakakku yang terus menghantuiku."

​Clarissa mencengkeram pinggiran meja. Angelica bekerja sama dengan seseorang!

​Tiba-tiba, suara di seberang telepon Angelica terdengar samar melalui speaker laptop. Suara itu berat, tenang, namun sangat dingin.

​"Pastikan Kenzo menandatangani surat itu besok. Aku ingin K-Corp hancur sebelum fajar menyingsing. Dan soal Lestari... biarkan dia tetap bersama Devan. Itu akan mempermudahku untuk menghancurkan mereka berdua sekaligus."

​Clarissa membeku. Ia mengenali suara itu. Suara pria yang seharusnya berada di luar negeri. Pria yang selama ini dianggap sebagai mentor oleh keluarganya.

​"Paman... Hendrawan?" bisik Clarissa dengan tubuh gemetar.

​Tiba-tiba, laptopnya mati total. Layarnya berubah menjadi merah dengan satu kalimat yang berkedip:

[I SEE YOU, CLARISSA.]

​Clarissa tersentak mundur hingga kursinya terjatuh. Ia menatap ke arah jendela kamar yang gelap, merasa seolah ada ribuan mata yang sedang mengawasinya dari balik hutan.

​"Dia tahu aku hidup..."

1
Mommy Ayu
masak iya secepat itu bakal terungkap siapa lestari sebenarnya
Mommy Ayu
sepertinya insting Devan lebih tajam dari pada mantan suami Clarissa
Mommy Ayu
aku mampir Thor ..
Leebit
hehe.. nggak apa-apa.. makasih ya udah berkunjung ke novel ku, masih juga untuk komentarnya😁
shabiru Al
apa anak kecil yang dcoret itu adalah pria dengan wajah yang terbakar ? bara... adik dari clarissa... ? benar2 membingungkan,, dan organisasi naga hitam,, apa sebelumnya lestari membuat perjanjian ya...
shabiru Al
hadeuh perebutan harta dan kekuasaan yang bikin pusing
shabiru Al
dan laki2 misterius itu adalah anak yang wajahnya dcoret dala foto lama,, ya kaan
shabiru Al
ceritanya bagus,, sayang belum bisa ngasih poin,, ntar ya thor besok ta kasih vote
shabiru Al
nah ini baru ceweknya badas gak menye menye gak selalu berlindung d bawah ketiak laki2
Leebit
Makasih.. jangan hanya mampir, singgah juga boleh, hehe😁😊
shabiru Al
mampir ya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!