NovelToon NovelToon
Pernikahan Paksa Dengan Pembullyku Di Masa Lalu

Pernikahan Paksa Dengan Pembullyku Di Masa Lalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Cinta Murni
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Rania Wiratama seorang gadis yang dipaksa menikahi pembully-nya di Masa lalu atas keinginan terakhir Eyang Kartika, Rania bekerja sebagai Photography dan penjual foto lewat website.
Arga Prananda seorang pria yang bekerja di anjungan laut lepas, nampak menyesali perbuatannya pada Rania. Rasa bersalah selama bertahun-tahun mengubahnya menjadi obsesi sekaligus cinta. Rania yang sudah memendam rasa benci dan trauma tak mampu menatap apalagi bersama Arga. Tapi Arga selaku suami dan Imam bagi Rania berjanji untuk membimbing dan menuntun istrinya ke jalan agama, sekaligus mencintai Rania. Bagaimana akhir pernikahan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Keramaian di alun-alun bertambah banyak, senja yang tenang perlahan terngiang kembali rasa trauma.

Rania yang sedang menikmati gula-gula bersama sang suami, tiba-tiba merasa teringat soal masa lalu---suara tawa dari sekelompok remaja tertawa keras mengingatkannya soal Arga dan gengnya.

Dadanya mengencang seketika, napasnya tersangkut di tenggorokan.

Kepala dan telinganya mengingat memori kelam.

Lorong sekolah dengan suara mengejek, juga Karin yang menarik rambutnya.

Arga yang tadi bahagia saat menghabiskan senja bersama Rania, menyadari apa yang terjadi pada sang istri.

Rania menutup telinganya, seolah tawa mengejek masih terlintas.

Arga melihat sang istri dengan aneh, Rania langsung berdiri dan berlari meninggalkan kerumunan.

"Rania?!" jerit Arga, yang ikut berlari saat melihat istrinya menjauh dari kerumunan.

Rania terus berlari tanpa mau menghiraukan ataupun mendengarkan panggilan sang suami, gadis berambut ikal tersebut terus berlari.

Sampai tangan Arga meraih tangan gadis berambut ikal itu.

"Rania! hey...hey," ucap Arga melihat Rania, rambutnya sudah tertiup angin.

Rania masih belum bisa tenang, nafasnya kembang kempis, keningnya berkeringat.

"Arga...jangan," ucap Rania seolah memohon.

Arga amat heran sebenernya apa yang terjadi dengan Rania, apa traumanya kumat lagi.

"Rania lihat aku," kata ARga cepat namun tenang.

Beruntungnya Rania lari ke tempat sepi dekat parkiran mobil, gadis ini memang tiba-tiba berlari setelah mendengar tawa sekelompok anak remaja.

Seolah ingatannya terbayang saat tawa mengejek dari gengnya Arga, dan kekasihnya----Karin.

Angin senja menerbangkan helai rambut Rania yang keriting, "Arga jangan...Karin Ampun...," ujar Rania yang meronta-ronta.

"Rania."

Arga berusaha menenangkan istrinya, nampak gadis malang ini ketakutan---mendengar tawa mengejek itu pasti selalu teringat oleh Arga.

Pantas saja, selama ini waktu Rania di habiskan di alam dan lebih memilih melakukan pemotretan di alam daripada tempat umum yang ramai.

"Lepasin Arga! Ampun! Demi tuhan aku nggak nganggu Karin...," ujar Rania yang bicara seperti orang diancam.

"Arga...demi tuhan Karin...Fitnah gua, gua nggak---nggak macem-macem Karin, Karin cewek lo maksa gua ngasih contekan... Tolong!!" jerit Rania.

Arga menyadari dulu kesalahannya sangat fatal pada Rania, gadis malang ini dulu korbannya. Rania menjerit minta tolong.

Orang sekitar langsung melihat ke arah keduanya, Arga segera mengambil tindakan melihat istrinya ketakutan.

"Rania! Tenang lihat aku!" ucap tegas Arga sebagai suaminya.

Mendengar teriakan dan marahan Arga, Rania akhirnya diam tanpa ekspresi seperti sebelumnya, Rania akhirnya diam seperti biasa tanpa ekspresi.

Kedua tangan Arga menyentuh kedua pundak Rania, "tarik napas pelan-pelan," ucap Arga demi menenangkan sang istri.

"Ayo ikutin saya, tarik napas pelan-pelan...," ujar Arga menginstruksikannya, Rania mengikuti arahan yang diberikan sang suami.

Arga memperagakan napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan.

Rania mengikuti arahan yang di berikan suaminya, lalu setelah lebih tenang Arga menyuruh sang istri istigfar.

"Ikutin saya, Astagfirullah hal azim." Arga mengucapkan ini.

Rania menatap dadanya lalu istigfar, mengikuti kalimat yang Arga berikan.

Setelah lebih tenang Arga memeluk istrinya agar lebih damai.

"Bagus, ayo kita cari masjid solat dulu abis itu makan malam," kata Arga masih setia memeluk istrinya.

Di senja sore ini Arga memeluk istrinya, dan Rania kali ini tak menolak jika Arga memeluknya dengan erat.

"Rania, aku berjanji akan jadi imam untukmu yang baik...juga aku akan jaga makmumku," ucap Arga dalam hati masih setia memeluk sang istri.

Rania memejamkan matanya, entah mengapa dirinya merasakan nyaman saat di peluk oleh Arga.

Arga mencium kening Rania yang sudah mulai tenang, Arga berdiri di hadapannya melepaskan pelukan Rania.

"Maaf Arga aku tadi tiba-tiba---" ucapan Rania terhenti.

Arga menggelengkan kepalanya dengan cepat lalu memotong ucapan istrinya, "Nggak perlu minta maaf kamu nggak salah," jawab Arga dengan cepat.

"Ayo naik ke mobil," ajak Arga membukakan pintu mobil.

Rania hanya mengangguk patuh, saat sudah duduk di dalam mobil.

Tangan Rania memegang dadanya, matanya terpejam, dirinya merutuki kebodohannya----kenapa dirinya tadi tak bisa mengendalikan diri.

Trauma masa lalunya masih ada, Rania ingat saat dulu Karin selalu senang saat Arga dan gengnya memukulinya tanpa ampun.

Arga menyetir mobilnya keluar area alun-alun kota,  sementara Rania hanya masih terdiam.

Rania masih diam tak bergeming, keceriaannya hilang begitu saja saat ada sekelompok anak remaja tertawa----Hal yang mengingatkan akan masa lalunya yang kelam.

Pria yang tengah menyetir itu akhirnya membuka percakapan, kepada istrinya masih diam tak bergeming.

"Ya allah apa yang sudah hamba lakukan di masa lalu...sehingga membuat Rania setrauma ini," ujar Arga.

Mobil itu melaju ke sebuah masjid yang mau melaksanakan solat magrib berjamaah, dan Rania juga turun dari sana.

Waktu terus berjalan, Rania duduk sendirian di teras masjid setelah melakukan solat asar.

Matanya menatap mobil milik sang suami hanya diam, menunggu sang suami.

Kepala Rania mendongak ke atas menatap langit malam, hatinya terasa sunyi saat ini---Untuk mencintai Arga rasanya maju dan mundur.

"Kenapa Ya allah, engkau menjodohkan hamba dengan Arga...Jika hamba dan Arga jodoh sejak lama, lalu kenapa engkau memberikan kenangan buruk?" kata Rania berdoa mengadu pada sang pencipta.

Tak berselang lama, sebuah tangan menyentuh punggungnya.

Kepala Rania secara refleks menoleh ke belakang, dan disana sudah ada sang suami.

"Ayo kita makan dulu baru pulang," ajak Arga.

Rania menganggukkan kepalanya, lalu dirinya mengandeng tangan suaminya untuk segara makan di pecel lele pinggir jalan yang tak jauh dari area masjid.

Untuk mobilnya sangat aman di parkir depan masjid, karena disana tak melarang dan bahkan banyak yang melakukan itu.

Di tambah tadi ada ustad yang mendekati keduanya, karena sudah terlihat jika suami dan istri ini ada masalah.

Rania memikirkan apa yang tadi ustad itu katakan soal rumah tangganya, sedangkan Arga memesan pecel lele.

"Kamu mau pesan apa?" tanya Arga.

"Ngikut kamu aja, Mas."

Arga amat senang Rania sudah lebih tenang, keduanya makan malam dengan damai. Dan tanpa sadar Rania menyebut Arga dengan sebutan 'Mas' yang di harapkan Arga.

Panggilan itu bagi Arga tampak membuatnya bahagia, sedangkan Rania tanpa sadar mengatakan itu---Apa Rania sudah mulai mencintai Arga.

*

1
DewiKar72501823
kak putri cerita mu bagus sekali..the best 👍🏻🥰
Putri Sabina: makasih kakak udah mampir🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!