Dua Benua. Satu Darah Campuran. Sebuah Takdir yang Terbuang.
Maria Joanna adalah kesalahan terindah dalam sejarah kerajaan. Terlahir dari perpaduan darah Kekaisaran China dan Kerajaan Spanyol, identitasnya adalah rahasia yang lebih mematikan daripada perang itu sendiri. Ia dibuang, disembunyikan, dan diasah menjadi senjata rahasia.
Namun, kesunyian itu berakhir ketika Adrian, bangsawan haus kekuasaan, menculik sosok paling berharga dalam hidupnya.
Di puncak Montserrat yang diselimuti kabut, Maria Joanna melepaskan amarahnya. Dengan Shadow Step dari Timur dan Estocada dari Barat, ia menumpahkan darah demi keadilan. Di tengah dentingan pedang dan intrik pengkhianatan yang melibatkan ayah kandung yang tak pernah dikenalnya, Maria harus memilih: menjadi pion dalam permainan takhta, atau menjadi Ratu sejati yang menyatukan dunia di bawah kekuatannya.
Siapapun yang berani mengusik kedamaiannya, akan merasakan amukan Sang Ratu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PELURU UNTUK SANG PUTRI
Sebastian berdiri di sisi panggung konferensi pers, tangannya tersembunyi di balik jas, menggenggam gagang senjata apinya dengan siaga. Ruangan hotel ballroom itu dipenuhi oleh lebih dari lima ratus wartawan internasional dari CNN, BBC, hingga media nasional. Kilatan lampu kamera (flash) menyambar-nyambar seperti badai petir saat Raja Arthur melangkah masuk bersama Maria Joanna yang tampak anggun luar biasa.
Namun, di telinga Sebastian, radio komunikasi terus berderit dengan nada peringatan dari tim penembak jitu (sniper) kerajaan yang berjaga di gedung seberang.
"Unit Satu melaporkan pergerakan mencurigakan di gedung sektor utara. Jam sepuluh. Ada pantulan lensa!" suara di radio terdengar tegang.
Sebastian menajamkan matanya. Ia melihat Maria sedang berdiri di depan mikrofon, siap mengucapkan kata-kata pertamanya sebagai Putri Kerajaan Spanyol. Arthur berdiri tepat di sampingnya, memberikan dukungan penuh. Di dada Maria, tepat di atas bros singa emasnya, Sebastian melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku.
Sebuah titik merah laser kecil. Bergetar di atas kain putih gaun Maria.
"Tiara! Lindungi Putri!" teriak Sebastian tanpa memedulikan protokol diplomatik lagi.
POV Maria Joanna
Aku baru saja hendak membuka mulut untuk menyapa para wartawan saat tiba-tiba tubuhku ditarik dengan kasar oleh Sebastian. Dalam hitungan detik, suara ledakan kecil terdengar—bukan dari kembang api, melainkan suara kaca yang pecah di belakangku.
PRANG!
"Tiara! Semuanya merunduk!" teriak Ayahku, Arthur. Ia langsung mendekapku, menggunakan tubuhnya sendiri sebagai tameng hidup.
Kekacauan pecah dalam sekejap. Wartawan berlarian ke segala arah, kamera-kamera terjatuh, dan jeritan histeris memenuhi ruangan. Aku merasakan jantungku berdegup begitu kencang hingga telingaku berdenging. Sebastian dan para pengawal berseragam hitam segera membentuk barikade manusia di sekeliling kami, sementara beberapa pengawal lainnya membalas tembakan ke arah jendela gedung seberang.
"Apakah kau terluka, Maria?!" Ayah memegang wajahku, matanya memancarkan ketakutan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ia tidak peduli pada keamanan dirinya sendiri; ia hanya peduli padaku.
"Aku... aku tidak apa-apa, Ayah," suaraku bergetar hebat. Aku menatap ke arah tempat aku berdiri tadi. Sebuah lubang peluru kecil bersarang tepat di dinding kayu, tepat di posisi kepalaku berada beberapa detik yang lalu.
"Bawa Putri ke ruangan aman! Sekarang!" perintah Arthur pada Sebastian. Suara Ayah kini berubah, tidak lagi seperti ayah yang penyayang, tapi seperti seorang panglima perang yang haus darah. "Dan Sebastian... aku ingin penembak itu hidup-hidup. Aku ingin tahu siapa yang mengirimnya."
Arthur berdiri tegak di tengah kekacauan, mengabaikan peringatan ajudannya untuk segera dievakuasi. Ia menatap ke arah jendela yang pecah dengan amarah yang mendidih. Di tangannya, ia memegang sebuah peluru yang berhasil diamankan oleh tim intelijennya beberapa menit kemudian.
Peluru itu unik. Di ujungnya terdapat ukiran kecil berbentuk Bunga Peony.
"Bunga Peony..." gumam Arthur dengan wajah yang mendadak pucat. "Simbol keluarga besar Julia di China."
Sebastian kembali dengan napas memburu. "Yang Mulia, kami berhasil melacak asal tembakan. Namun, penembak itu menelan racun sebelum sempat ditangkap. Di sakunya, kami menemukan ini."
Sebastian menyerahkan sebuah foto lama yang sudah menguning. Foto itu menunjukkan Julia sedang menggendong bayi—yang tak lain adalah Maria—namun di samping Julia, ada seorang pria lain yang wajahnya sengaja dicoret dengan tinta merah. Di balik foto itu tertulis: "Darah naga tidak boleh bercampur dengan darah singa. Maria adalah aib bagi kami."
Arthur meremas foto itu hingga hancur. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: Musuh Maria bukan hanya istri pertamanya yang sudah meninggal, tapi juga sebagian dari keluarga besar Julia di China yang tidak menyetujui hubungan mereka dulu.
POV Maria Joanna
Aku duduk di dalam ruangan bunker bawah tanah hotel, memeluk lututku. Kebahagiaan menjadi seorang putri ternyata hanya berlangsung singkat sebelum maut menjemputku. Sebastian masuk dengan wajah serius, membawakanku segelas teh hangat untuk menenangkan sarafku.
"Sebastian, siapa yang mencoba membunuhku?" tanyaku dengan tatapan kosong.
Sebastian ragu sejenak sebelum berlutut di depanku. "Putri, dunia ini tidak sesederhana yang Anda bayangkan. Ibumu, Julia, melarikan diri dari China karena ia menolak perjodohan politik demi mengejar cintanya pada Raja Arthur. Keluarganya menganggap itu sebagai penghinaan besar terhadap garis keturunan kekaisaran."
"Jadi... kakekku membohongiku di telepon tadi?" tanyaku dengan suara serak.
"Tidak, Kakek Anda benar-benar mencintai Anda. Namun, Kekaisaran China memiliki banyak faksi. Ada faksi tua yang masih sangat konservatif dan membenci fakta bahwa pewaris mereka memiliki darah Eropa," Sebastian menjelaskan secara perlahan.
Aku menunduk, menatap kalung singa emas pemberian Ibu. Tiba-tiba, aku teringat kotak hitam semalam. Aku mengambilnya dari tas kecilku yang sempat kuselamatkan. Di dasar kotak itu, di bawah lapisan kain beludru, aku menemukan sebuah kompartemen rahasia. Di dalamnya ada sebuah flashdisk kecil dan selembar kertas catatan medis dari sebuah rumah sakit jiwa rahasia di perbatasan Spanyol-Prancis tertanggal tahun lalu.
Aku menunduk, menatap kalung singa emas pemberian Ibu. Tiba-tiba, aku teringat kotak hitam semalam. Aku mengambilnya dari tas kecilku yang sempat kuselamatkan. Di dasar kotak itu, di bawah lapisan kain beludru, aku menemukan sebuah kompartemen rahasia. Di dalamnya ada sebuah flashdisk kecil dan selembar kertas catatan medis dari sebuah rumah sakit jiwa rahasia di perbatasan Spanyol-Prancis tertanggal tahun lalu.
Nama pasien yang tertera di sana adalah: Pasien X - Nama Alias: Julia de Borbón.
Jantungku hampir berhenti. Jika laporan medis ini benar, maka Ibuku... Ibuku tidak meninggal di Indonesia dua puluh tahun lalu. Dia disekap di suatu tempat selama ini.
Aku mengepalkan tanganku. Rasa takutku menghilang, digantikan oleh kobaran semangat yang belum pernah kurasakan. Jika Adrian hanyalah kerikil kecil, maka orang-orang yang menyekap Ibuku adalah gunung yang harus kuruntuhkan.
"Sebastian," panggilku dengan nada suara yang kini sangat mirip dengan Ayahku.
"Ya, Putri?"
"Jangan beritahu Ayah tentang laporan medis ini dulu. Aku ingin kau mencari tahu siapa pengirim kotak ini secara diam-diam. Kita akan memulai permainan ini dengan aturan kita sendiri."
Saat Maria Joanna sedang menatap laporan medis ibunya, pintu bunker terbuka. Raja Arthur masuk dengan wajah tegang. "Maria, ada tamu dari Beijing yang ingin bertemu dengannmu. Dia mengaku sebagai kakak kandung ibumu, pamanmu, General Zhao."
Sebastian membisikkan sesuatu di telinga Maria: "Hati-hati, Putri. General Zhao adalah pemimpin faksi yang paling menentang pernikahan ibu Anda dulu."