NovelToon NovelToon
Cinta Salah Sasaran

Cinta Salah Sasaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Persahabatan / Romansa
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia X

Kirana adalah gadis ceria, polos dan kebal bully apa jadinya kalau ia bertemu dengan seorang pemuda raja bully yang tidak sengaja mobilnya ia tabrak saat pulang dari kampus, dan parahnya ia harus rela menjadi pelayan dirumah pemuda itu, karena sang pemuda dendam gara-gara kejadian itu ia diputuskan pacarnya, baca keseruan, kekonyolan dan kekocakan mereka berdua di novel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia X, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka yang manis

Dewa kelabakan mencari pacar uniknya, karena sudah tiga jam ia menunggu diparkiran, tapi Ana tidak juga muncul, ditelfon pun tidak aktif.

“Sialan, kemana si pendek ini, hilangkah, atau nyasar, aduh ribet banget sih, kemana lagi aku mencari,.” Dewa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, matanya langsung berbinar dan memencet no rumah.

“Hallo tuan muda..” sapa Wati sopan.

“Mba, Ana sudah sampe rumah belum?” tanya Dewa tidak sabar.

“Sudah tuan muda, sudah..” belum selesai Wati menjawab sambungan sudah terputus, Wati hanya menggelengkan kepalanya, sikap Dewa memang seblangsak itu.

“Pacar sialan, ditungguin malah sudah sampe rumah, lihat aja entar, gue bacem.” ucap Dewa kesal sembari mengepalkan tangannya gemas, karena ia udah pontang-panting mencari tuh bocah, takut kalau badannya yang kecil itu takut dikira masih SMP dan diculik orang, yang dicari malah sudah sampe rumah, baru kali ini Dewa merasa khawatir, ia langsung tancap gas, melaju dengan kecepatan tinggi, tidak perduli dapat makian dan sumpah serapah pengendara yang lain, yang penting ia cepat sampai rumah, tidak berselang lama mobil itu memasuki halaman dengan tidak sabar ia turun dan langsung naik kelantai atas, menuju kamar Ana.

“Pendek!, teriak Dewa dengan nada kesal.” Ana yang baru saja keluar kamar mandi terjangkit kaget.

“Loe ya, gue nungguin sampai lumutan malah sudah enak-enak an dirumah, tau gak gue kayak orang gak waras nyari loe, takut loe ilang diculik.!” suara Dewa ngegas, Ana yang mendengar itu langsung tersulut emosinya, yang biasanya sabar, kini emosi itu sampai ke ubun-ubun, apa lagi teringat kejadian yang ia alami.

“Kok marah ditinggal, saat mas Dewa ninggalin aku, gak mikir sampai sana, ha!, tau gak setelah mas Dewa pergi apa yang terjadi, tiga curut itu mau mempermalukan aku, mikir gak, kalau mantan mas Dewa itu lebih laknat dari mas Dewa, mau marahin aku sekarang, mikir,” ucap Ana lebih lantang menunjuk dada bidang Dewa dengan telunjuknya menekan dada bidang itu, hingga tubuh Dewa sedikit mundur. Setelahnya Ia berjalan menghampiri tas selempang yang tadi ia pakai mengambil kartu Dewa dan melemparkannya kearah pemuda itu, Dewa yang masih planga-plongo mendapat Omelan Ana, tidak sigap, naas kartu itu mendarat di pelipisnya, saking keras lemparan Ana pelipis Dewa langsung berdarah.

“Aduh..” Dewa meringis memegangi pelipisnya, Ana terdiam, bukan maksud mau menyakiti majikan nya, ia benar-benar tidak sengaja.

“Mas.” buru-buru Ana mendekat.

“Sakit, pendek, kejam banget sih loe.” ucap Dewa cemberut, walau darahnya tidak banyak, tapi terasa perih, dan berdenyut.

“Gak sengaja, duduk, aku ambil plester dulu,” ucap Ana, Dewa nurut tidak mau ditimpuk untuk kedua kalinya, dengan tergesa Ana kembali membawa kapas dan plester imut miliknya.

“Diem dulu aku bersihin lukanya “ perintah Ana, Dewa kembali nurut, membiarkan Ana mengobati, sampai plester bergambar kartun itu menempel di pelipisnya. Dewa pandangi wajah Ana, sebenarnya apa yang menarik dari gadis pendek dihadapannya, hingga ia betah berlama-lama dengannya, padahal sama Oliv dulu, hanya sekedarnya, tapi beda dengan gadis dihadapannya, ia bahkan rela pulang cepat dari kampus dan jarang nongkrong lagi malam, karena lebih senang adu mulut sama Ana, melihat Ana makan dengan lahap, melihat Ana dengan ke randoman nya, bahkan Dewa senang saat Ana yang marah-marah, Agak lain memang.

“Kok malah bengong, masih sakit gak?” tanya Ana, Dewa menggeleng.

“Maaf..” ucap Dewa tanpa sadar, kata yang paling keramat untuk Dewa ucapkan, kali ini terucap, mungkin kalau teman-temannya mendengar, bisa langsung pingsan ditempat, apa lagi kata itu terucap untuk seorang Ana, yang nota bene adalah bahan Bullyan mereka.

“Besok, kita beli baju lagi,” ucap Dewa, Ana menghela nafas duduk disamping Dewa.

“Gak usah mas, aku beli dirumah saja, nanti sama emak dan adek.” Jawab Ana menghindar.

“Gak bisa gitu, aku kan dah janji,” sela Dewa tidak terima.

“Aku gak mau ya, nanti ketemu tiga curut itu lagi, dan ada masalah, ngadepi mas Dewa aja udah butuh kesabaran ekstra, aku gak mau ya nambah beban.” jawab Ana jujur.

“Jadi aku beban, padahal aku tidak minta gendong, beban dari mana coba, ya kita beli di pasar malam, biar gak ketemu ma mereka, ok, pasti ok ya, gak boleh gak ok, seorang Dewa pantang mengingkari janji.” Ucap Dewa dengan senyum manis, senyum membujuk.

“Tau ah, malas, nanti ditinggal lagi.” jawab Ana memasang wajah cemberut.

“Hah, iya maaf, itu kan darurat, kalau mereka tahu kan bahaya, kampus pasti gempar kalau tahu gue sama loe belanja bareng, seandainya walau pun itu hanya sekedar temen, pasti mereka memandang aneh, soalnya gue gak pernah belanja sama cewek, duit gue dong yang sama mereka.” Lanjut Dewa jujur.

“Iya, aku juga sadar diri kok mas, paling gak kan mas Dewa bisa disana, gak harus bilang mas Dewa sama aku, kan bisa.” jawab Ana yang masih jengkel.

“Gak bisa, itu kan toko untuk cewek, kalau aku disana gak ada cewek yang aku bawa, apa gak curiga mereka, dah lah gak usah dibahas, gue dah minta maaf,” ucap Dewa memelas, sungguh itu diluar nalar, Dewa memasang wajah melas. Ana menghela nafas panjang.

“ Ya udah dimaafin.” Dewa tersenyum.

“Baiklah, besok kita ke pasar malam, seperti yang loe inginkan, tapi loe yang nyari pasar malamnya, soal nya gue tidak tahu tempatnya, gue balik kekamar dulu, mau tidur.” ucap Dewa dengan senyum sumringah, keluar dari kamar Ana, tekat mau memarahi gadis itu lenyap entah kemana, mungkin terbawa Omelan Ana yang panjang, sedangkan Ana malah planga-plongo tidak jelas, bingung, karena ia sendiri juga tidak tahu dimana tempat pasar malam dikota itu, selama ini ia, hanya kekampus, ngurus bayi besar dan beli apa pun ke minimarket yang tidak jauh dari rumah Dewa, Ana kembali menghela nafas panjang, berpikir keras sampai nama mba Wati terlintas di otaknya, Ana tersenyum girang, karena masalahnya terselesaikan.

Sedangkan Dewa melamun di kamar nya, yang ia pikirkan adalah selama sepuluh hari Ana akan libur, dan baru balik lagi ke tempat nya, bagaimana ia akan menjalani semua itu tanpa Ana, Dewa tidak bisa membayangkan.

“Ada apa denganku, jangan-jangan aku di pelet sama si pendek,” kayaknya itu yang paling masuk akal dalam otak Dewa saat ini. Memang ngawur Dewa, masih bisa bocah berasumsi seperti itu, padahal Dewa tahu itu tidak mungkin. Akhirnya Dewa merebahkan tubuhnya, mencari posisi nyaman, dan tidak lama ia tertidur.

 

1
Ria Ningsih
up nya 2 x sehari kak klau bsa
Sabia X: Waduuh, keriting nanti otak sama jariku kak Ria, 🤣 diusahakan.
total 1 replies
Heni Mulyani
lanjut
Heni Mulyani
lanjut.tetap semangat up nya
Heni Mulyani: tetap semangat
total 2 replies
Ria Ningsih
ceritanya seru
Sabia X: terimakasih..👍
total 1 replies
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!