menceritakan perjalanan waktu saka,yang berusaha mengubah masa depan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14 Perjamuan Terakhir di Menara Oblivion
Guncangan dahsyat meretakkan fondasi Menara Oblivion. Saka mendongak, matanya pedih melihat sosok ibunya yang kini diselimuti aura putih perak yang menyilaukan. Wanita itu bukan lagi ibu yang dulu sering mengomelinya karena pulang terlambat; ia telah menjadi wadah bagi The Source, energi purba yang menopang seluruh ingatan yang hilang di semesta.
"Ibu, turunlah! Ini aku, Saka!" teriak Saka, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin statis.
Ibunya menatapnya, namun tatapannya kosong. "Saka... nama itu... hanyalah beban. Di sini, tidak ada nama. Hanya ada keabadian tanpa rasa sakit."
"Jangan mendekat, Saka!" Luna menarik bahu Saka. "Dia bukan lagi manusia. Jika kamu menyentuhnya sekarang, kamu akan tersedot ke dalam kesadarannya dan menjadi bagian dari kehampaan ini selamanya."
Rian dewasa melangkah maju, koper besinya kini terbuka lebar, mengeluarkan cahaya biru yang berdenyut seirama dengan jantungnya. "Saka, perhatikan baik-baik. Ini adalah satu-satunya cara. The Source membutuhkan sauh (jangkar). Jika bukan ibumu, maka harus ada jiwa lain yang menggantikannya."
"Rian, apa yang mau kamu lakukan?"
"Aku sudah hidup terlalu lama di garis waktu yang hancur, Saka. Aku adalah 'kesalahan' yang berjalan. Tapi kamu... kamu adalah masa depan yang punya harapan bersama Anita," Rian tersenyum pahit. "Biarkan aku melakukan satu hal yang benar sebelum aku benar-benar terlupakan."
Rian dewasa berlari menerjang pilar cahaya di puncak menara. Ia melepaskan koper besinya, membiarkan kristal memori ibumu melayang menuju wanita itu. Saat kristal itu menyentuh dahi ibunya, ledakan emosi meledak—kilasan kenangan tentang masa kecil Saka, aroma dapur, dan tawa keluarga kembali mengalir ke tubuh ibunya, mengusir aura gelap dari The Source.
"SEKARANG, SAKA! AMBIL DIA!" teriak Rian dewasa saat tubuhnya mulai tersedot ke pusat menara, menggantikan posisi ibunya sebagai jantung Zona Nol.
Saka melompat, menggunakan sisa kekuatan dari luka hitam di tangannya. Ia menangkap tubuh ibunya yang pingsan saat wanita itu jatuh dari singgasana cahaya. Di saat yang sama, sosok Rian dewasa mulai memudar, berubah menjadi partikel cahaya biru yang menyatu dengan mesin-mesin jam di menara.
"Terima kasih, sahabatku," bisik Saka.
Namun, Zona Nol mulai runtuh. Tanpa jantung yang stabil, dimensi ini mulai melipat dirinya sendiri. Pintu keluar—sebuah retakan cahaya di langit—mulai mengecil.
"Luna, ayo!" teriak Saka sambil menggendong ibunya.
Mereka berlari menuruni menara yang hancur. Di belakang mereka, The Remnants menjerit-jerit, mencoba meraih mereka agar tetap tinggal. Saat mereka hampir mencapai pintu keluar, sesosok bayangan besar menghalangi jalan. Itu adalah The Eraser—atau sisa-sisa energinya yang masih menyimpan dendam.
"Kalian tidak akan pernah kembali ke rumah!" bayangan itu menerjang.
Saka tidak punya waktu lagi untuk bertarung secara fisik. Ia menyentuh arloji saku di dadanya, arloji yang kini berdetak seirama dengan detak jantung ibunya. Ia melakukan sesuatu yang nekat: Reverse Synchrony. Ia membagikan ingatan tentang "kebahagiaan" kepada bayangan itu.
Bayangan The Eraser membeku. Untuk sesaat, pria di balik bayangan itu melihat wajah istrinya yang telah lama hilang. Keheningan terjadi. Dendamnya luluh oleh rasa rindu yang luar biasa.
"Pergilah..." bisik bayangan itu, sebelum akhirnya hancur menjadi debu.
Saka, Luna, dan ibunya melompat menembus retakan cahaya tepat sebelum Zona Nol tertutup selamanya.
Brak!
Saka mendarat di lantai kayu toko jam Ki Ganda di Jalan Braga. Udara malam Bandung yang sejuk menyambut mereka. Ibunya terbaring di lantai, napasnya mulai stabil.
"Saka?" ibunya membuka mata perlahan. Ia menatap Saka, lalu air matanya menetes. "Anakku... kenapa kamu... kenapa wajahmu terlihat sangat dewasa?"
Saka memeluk ibunya erat, menangis tanpa suara. Ibunya mengingatnya. Sejarah telah diperbaiki, meskipun dengan harga satu jiwa sahabatnya yang hilang selamanya dari semua garis waktu.
Namun, di luar toko, Anita sedang berdiri, menatap pintu toko dengan bingung. Ia merasa baru saja melupakan sesuatu yang sangat penting, namun ketika melihat Saka keluar dengan wajah lega, ia hanya bisa tersenyum tanpa tahu alasannya.
"Selamat datang kembali, Saka," ucap Luna pelan, sebelum ia berjalan menghilang ke dalam kerumunan orang di Jalan Braga.