Melihatmu tersenyum lebar dibawah sinar mentari pagi, membuatku semangat menjalani hari.
Dandelion, adakah kesempatan untukku ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KITA PERLU BICARA
Sesampainya di rumah, Deya langsung bergegas menuju kamar. Ia merasa harus segera membilas tubuhnya yang sudah sangat lengket. Setelah membersihkan diri, Deya kembali membawa tubuhnya menuju ruang makan. Di lihat kedua orang tuanya sedang bercengkrama di halaman samping rumah.
“Ayah, ibu.” Sapanya ceria.
“Sayang.” Sahut Ani dengan senyum dan Samsu yang hanya menatapnya kosong.
“Sudah sarapan ?” Tanya Kia yang mengelus surai hitam milik Deya.
“Sudah tadi rumah sakit dengan Rico.”
“Rico sudah pulang ?” Samsu membuka suara.
Deya hanya mengangguk antusias.
Helaan nafas Samsu terdengar sangat berat, “Jangan memberi Bahagia jika hanya berujung luka.”
Samsu berbisik pada angin.
“Maksud ayah apa ?” Tanya Deya dengan penuh selidik.
“Iya itu maksud ayah. Ayah rasa kamu sudah tau.” Balas Samsu dengan menatap tajam ke arah Deya. “Di sini, di tempat ini. Kalimat yang tak pantas di dengar kamu ucapkan padanya seolah kamu tak pernah menginginkannya sama sekali. Namun, setelah itu kamu bersamanya seperti kamu tak pernah berkata bahwa kamu tak mencintainya.” Tambah Samsu dengan jelas serta lugas.
Bibir Deya mendadak keluh dan tatapannya mulai berkaca-kaca. Kia yang berada di antara mereka hanya menatap bergantian tak tahu harus berkata apa.
“Ayah tidak pernah mengajarkan kamu memberikan harapan pada seseorang yang bukan hanya palsu tapi racun untuk hidupnya.” Lagi-lagi Samsu tak memberikan kesempatan pada Deya untuk berbicara.
Sudah tak lagi bisa untuk menahan ucapan sang ayah, Deya memilih beranjak dari tempat duduknya.
“Duduk.” Tegas Samsu dengan penuh penekanan.
Suara tinggi Samsu tak mampu menahan langkah Deya.
“Laksmi Deyandra.” Teriak Samsu membuat Deya mematung seketika. “Kembali dan duduk.”
Bagai Kuda yang di cucuk hidungnya, Deya kembali duduk meski dengan deraian air mata.
Dada Samsu naik turun, ia berusaha menahan amarah yang semakin memuncak. “Apa karena kamu sudah memiliki penghasilan sendiri sehingga kamu bisa seperti ini ? Meninggalkan orang yang sedang berbicara kepada mu, lebih-lebih itu orang tua mu ? Jika kamu tidak mau di nasehati, lalu siapa yang akan menasehati mu kalau bukan kami orang tua mu ?” Nada Samsu sedikit lebih tenang dan menatap Deya dengan tajam.
Perempuan yang sedang berderai air mata itu tak sanggup mengeluarkan kata-kata lagi.
“Jawab.” Pintah Samsu.
“Ayah, sudah cukup.” Lerai Kia dengan cemasnya.
Tatapan tajam Samsu layangkan pada Kia sang istri dan mampu membuat nyali Kia mengecil.
“Kamu seperti mau tidak mau dengan Rico, tinggalkan dia. Biarkan di bertemu dengan gadis lain yang bisa menghargai dia.” Bentak Samsu yang kembali ber api-api.
“Bukan begitu ayah.” Deya mulai berani angkat bicara.
“Lalu ?” Imbuh Samsu. “Pernikahan kalian dua bulan lagi. Jika kamu tidak terima dengan ini jauhi dia, jangan plin plan dengan perasaan mu sendiri. Jika ayah masih melihat mu seperti ini, silahkan jalani hidup mu sendiri.” Peringat Samsu dan meninggalkan Deya bersama Kia.
“Ibu.” Seketika Deya berhamburan dalam pelukan Kia. Sang ibu hanya bisa mengelus punggung putrinya berharap untuk lebih tenang.
Setelah kejadian pagi tadi, Deya benar-benar mengurung diri di kamar. Bahkan untuk makan pun dia enggan. Beberapa pesan dari Rico di abaikan. Dia begitu memikirkan kalimat terkahir sang ayah. Ia tak pernah menyangka jika ini yang akan terjadi.
Matanya semakin sembab karena menangis, kini ia mulai lelah untuk menangis. Ingin sekali rasanya berbagi dengan Rico. Namun, lagi-lagi Rico lah alasan utama kejadian ini terjadi.
***
Seminggu sudah sejak perdebatannya dengan Samsu, Deya berusaha menjalani hari-harinya seperti biasa. Rico seperti biasa selalu menunjukkan perasaan tulusnya pada Deya. Meskipun gadis itu sama sekali tak membalas pesan maupun perasaan yang Rico punya. Bagi Rico itu tak masalah, perasaan itu akan tumbuh seiring dengan waktu. Akan tetapi coba saja putar waktu itu kembali, sudah berapa lama mereka dekat tapi tak ada kemajuan sama sekali. Deya masih seperti awal dikenal, perasaannya masih sama, masih hambar untuknya.
Malam ini, untuk ketiga kalinya Rico dan kedua orang tuanya datang melamar Deya. Rico sudah bisa menebak jawaban “tidak” akan di ucapkan Deya. Namun, ternyata Samsu lah yang menjawab dan mengiyakan lamaran itu.
Deya bagitu enggan untuk bertemu Rico, namun malam itu Rico menatap tatapan sendu Deya yang berada di depan kamarnya. Gadis itu memperhatikan Rico dengan sangat teliti. Seolah ingin merekam setiap inci dari bagian tubuh laki-laki yang melamarnya itu.
Rico bisa menebak isi pikiran Deya, gadis itu pasti sedang menyumpahinya, hatinya sedang meraung ingin bersuara dan mengatakan “tidak”. Namun, ia sudah tak punya cukup tenaga untuk melawan sang ayah.
Pernikahan mereka akan dilangsungkan dua bulan lagi, seperti yang pernah di ucapkan Samsu pada Deya sebelumnya. Mendengar ucapan sang ayah di ruang tamu, dada Deya begitu sesak. Bagai ada benda besar yang sedang menimpanya. Di langkahkan kaki munuju kamar, dan hujan dari mata mulai menetes dan membasahi pipi mulusnya.
“Ayah, aku tak mencintai laki-laki itu. Bagiamana mungkin engkau tega memberikan aku pada laki-laki yang aku sendiri tak pernah memberinya lebih.” Lirihnya menatap figura berisi foto kedua orang tuanya.
Langit begitu cerah malam ini, seolah berkhianat pada Deya. Dia berusaha membalut luka dengan senyum palsu, dengan lengkungan bibir yang dibuat sebaik yang di bisa. Tetapi mata sembab dan tatapannya menjelaskan semuanya.
Sendu dia menatap Rico dan kedua orang tuanya pamit pulang, setetes cairan bening kembali lolos dari matanya. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini, tetapi yang jelas dia hanya menatap dengan kosong dan tak bisa di artikan.
“De, kenapa ?” Notif pesan masuk ke ponsel Deya yang di tinggalnya di atas nakas.
Perempuan itu masih saja sibuk menatap langit malam dengan gemintangnya yang seakan tak pernah peduli dengan suasana hatinya beberapa hari ini. Malam semakin larut, angin semakin menusuk tubuhnya. Hingga dia pun memilih menutup pintu balkon. Sayup-sayup di dengar perdebatan kedua orang tuanya yang masih berada di lantai bawah.
“Bu, ini sudah malam. Kita istirahat saja.”Ajak Samsu pada istrinya.
“Istirahat, ayah masih bisa istirahat dengan tenang. Setelah apa yang ayah lakukan pada anakku satu-satunya ?” Hardik Kia pada suaminya.
“Aku melakukan apa yang seharusnya ku lakukan sebagai seorang ayah. Rico itu baik, dia dari keluarga baik-baik.” Jelas Samsu tak mau kalah.
“Tapi Deya tidak mencintai laki-laki itu.”
“Lalu, kenapa dia seperhatian itu, jika dia tidak mencintai Rico. Jangan berlindung di balik kata dia baik maka akupun juga baik. Ibu mau melihat dia seperti itu ? Mau dia memberikan perhatian namun tidak bisa memutuskan bagaimana perasaannya yang sebenarnya ?” Samsu semakin mengeraskan suaranya di tengah jarum jam yang semakin jelas berdentang.
Dada Kia hanya bisa naik turun tanpa kembali berbicara. Dia menatap lekat laki-laki yang telah bersamanya selama hampir tiga puluh tahun itu.
“Ini sudah malam, ayo istirahat.” Ajak Samsu dan meninggalkan Kia.
Deya menarik nafas dalam setelah mendengar suara pintu yang ditutup kasar oleh Samsu, kemudian memilih mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.