NovelToon NovelToon
ISTRIKU SANTRIKU

ISTRIKU SANTRIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: ZIZIPEDI

Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.

Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.

Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.

Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.

Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.

Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.

Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?

Ikuti kisahnya yuk...!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Baab 25 Keinginan Gus Hafiz

Waktu libur berakhir, batas pengantaran santri pukul tiga sore. Mobil berhenti di depan gerbang pondok.

Gus Hafiz turun lebih dulu, membantu menurunkan tas kecil Anisa. Wajahnya tenang, tapi terlihat tergesa.

“Mas ndak bisa lama-lama,” ujarnya pelan. “Harus langsung ke Ponorogo. Ada jadwal kajian.”

Anisa mengangguk.

Biasanya Gus Hafiz akan mengantar Anisa sampai ke kamar. Tapi kali ini tidak. Anisa berdiri di dekat mobil, menatap lelaki itu seolah ingin menghafal wajahnya lebih lama.

“Jaga kesehatan,” pesan Gus Hafiz.

“Nggih, Gus. Hati-hati.”

Gus Hafiz mengangguk.

Beberapa detik hening.

Seolah ada yang ingin dikatakan, tapi tertahan. Lalu mobil itu benar-benar melaju pergi.

Debu tipis terangkat di jalan pesantren yang masih sepi karena masih banyak santri yang belum datang.

Anisa berdiri sendirian di sana.

Tiba-tiba sunyi terasa lebih berat.

Kamar pondok terasa berbeda ketika tak ada suara Gus Hafiz. Tak ada tawa kecilnya. Tak ada tatapan hangatnya.

Sepi yang dulu biasa kini terasa berat.

Anisa baru saja duduk di tepi ranjang ketika ponselnya berdering.

Ia menoleh, di layar tertulis 'Mama'.

Jantungnya langsung seperti berhenti berdetak.

Tangannya tak segera bergerak. Ia biarkan ponsel itu terus berdering. Panggilan pertama terlewat. Masuk lagi yang kedua.

Dadanya mulai sesak.

Kenapa setiap nama itu muncul, ia selalu merasa seperti anak kecil yang bersalah?

Saat dipanggilan ketiga, dengan napas yang sudah ia atur sekuat mungkin, Anisa menggeser layar.

“Halo…”

Suara di seberang terdengar tegas. Datar. Tanpa kehangatan.

“Kenapa lama sekali angkatnya? kenapa libur seminggu nggak pulang, nggak telpon papamu...? bikin papamu hawatir saja.”

Ocehan itu meluncur tanpa jeda.

Anisa terdiam.

Ia tak tahu harus menjawab bagaimana. Pulang ke rumah yang tak pernah benar-benar terasa rumah baginya?

“Kenapa diam? Kamu itu selalu begitu. Ditanya diam,” suara Mama Sarah terdengar sedikit tajam.

Anisa menghela napas pelan.

“Nisa sengaja nggak pulang. Nisa fokus hafalan.”

“Hafalan terus alasanmu. Tapi bagus lah. Kalau pun pulang, kerjamu cuma berantem sama adikmu..." ujar Mama Sarah.

Anisa mengepal keras. "Adik...? dia bahkan bukan adikku, dan dia bahkan bukan keturunan Papa. Tapi kalian lebih menyayanginya dibanding aku." batinnya dengan nada sinis.

Hening sejenak.

Lalu kalimat berikutnya datang tanpa jeda, tanpa empati sedikit pun.

“Oh ya. Kata Papa, uang sakumu nggak dikirim lagi. Kamu kan sudah punya suami. Segala keperluanmu bukan tanggung jawab Papa, Mama lagi.”

Seolah hanya informasi biasa.

Seolah tak ada beban di dalamnya.

Anisa menunduk. Rahangnya mengeras.

Jemarinya menggenggam ujung gamisnya.

“Terserah Mama saja." jawabnya dingin.

Namun dalam hatinya, membatin getir.

Kenapa ndak sekalian namaku kalian keluarkan dari KK?

batin Anisa dengan sikap pemberontaknya.

Bukan karena pembangkang.

Tapi karena ia lelah. Lelah karena selalu tak dianggap, lelah karena selalu dihakimi.

Tak ingin mendebat. Tak ingin memohon. Tak ingin menjelaskan bahwa selama ini pun ia tak pernah meminta lebih, Anies pun tak ingin meminta penjelasan.

“Ya sudah. Mama cuma ngasih tahu,” jawab Sarah singkat.

Tak ada pertanyaan, kamu sehat?

Bagaimana sekolahmu?

Atau sekedar basabasi, jaga diri baik-baik.

Sarah main matikan telepon tanpa pesan bermakna.

Sunyi kembali memenuhi kamar.

Anisa masih memegang ponselnya, menatap layar yang sudah gelap. Ada jarak nyata yang sengaja dibangun.

Sejak kecil, ia selalu merasa ada tembok tipis antara dirinya dan Mama Sarah.

Tidak kasar, tidak membentak.

Tidak pernah benar-benar memukul.

Tapi juga tak pernah memeluk.

Kini ia paham.Setelah ia tahu kebenaran yang selama ini disembunyikan. Bahwa ia bukan anak kandung Mama Sarah.

Bahwa ia adalah anak dari perempuan lain, madu suaminya.

Pantas saja tatapan itu berbeda.

Pantas saja ada dingin yang tak pernah mencair dari sorot matanya.

Mungkin…Anies harus bersyukur.

Karena setidaknya Sarah masih menerimanya tinggal di rumah itu. Masih mengizinkannya tumbuh di bawah atap yang sama. Walau tanpa kehangatan.

Air mata jatuh lagi, tapi kali ini bukan karena cinta. Melainkan karena kesadaran pahit,

bahwa sejak kecil, ia memang belajar berdiri sendiri.

Ia menunduk, menatap lantai kamar pondok yang sederhana. Ternyata benar.

Sepi bukan hanya ketika ditinggal suami pulang.

Sepi bagi Anies adalah, ketika ia sadar,

rumah pun tak pernah benar-benar memanggilnya pulang.

***

Sementara perjalanan dari Kudus ke Ponorogo terasa lebih panjang dari biasanya yang Gus Hafiz rasakan.

Sepanjang jalan, bayangan wajah Anisa terus terlintas di benaknya. Senyumnya yang manis, bibirnya yang lembut, suara manjanya yang membuat dada Gus Hafiz suka sesak mendadak.

Gus Hafiz tersenyum, tanpa sadar tangannya menyentuh bibirnya sendiri, seolah masih ada jejak ciuman Anisa di sana.

Mobil terus melakukan, tanpa sadar kuda besi itu membawanya di depan gerbang pondok pesantren.

Gus Hafiz turun dari mobil.

Setibanya di ndalem, ia tak punya waktu untuk merenung.

Begitu turun dari mobil, suara langkah cepat menyambutnya.

“Alhamdulillah, sudah pulang?”

Umi Laila berdiri di serambi, wajahnya heran sekaligus lega.

“Katanya dari Jakarta masih ada agenda?”

Gus Hafiz menyalami tangan ibunya dengan takzim.

“Sudah selesai, Mi. Ada urusan mendadak di luar kota setelah kegiatan Jakarta, jadi sekalian langsung pulang mampir ke Kudus.”

Nada suaranya tenang.

Umi Laila menatapnya beberapa detik, seolah memastikan tak ada yang disembunyikan.

“Urusan apa?”

Tanya Umi Laila.

“Sedikit urusan administrasi pondok cabang,” jawabnya singkat.

Tak sepenuhnya bohong.

Hanya… tak sepenuhnya jujur.

Umi Laila mengangguk pelan.

“Capek to. Wajahmu kelihatan lelah.”

“Sedikit, Mi.”

Tak ada pertanyaan lebih jauh.

Tak ada kecurigaan di mata Umi Laila.

Baru saja ia hendak masuk ke dalam, seorang santri Abdi ndalem datang tergesa.

“Ngapunten Umi, Romo Yai memanggil. Ada tamu yang soan dari Madiun.”

Umi Laila langsung berbalik.

"Oh... nggih." Sahutnya.

“Ya sudah, Fiz istirahat dulu. Nanti malam jangan lupa kajian ba’da Isya.”

Begitu ibunya menghilang menuju pendopo, Gus Hafiz menghela napas panjang.

Lega.

Setidaknya untuk sementara, tak ada yang tahu ia baru saja dari Kudus menginap bersama Anisa, menjemput hati istri tercinta.

Ia melangkah masuk ke kamar, melepaskan jam tangannya, lalu menatap cermin.

Wajahnya terlihat tenang.

Tapi matanya menyimpan sesuatu, rasa rindu yang menggantung di dadanya.

“Hafiz…” gumamnya pelan pada bayangan dirinya sendiri.

Ia tahu ia tak sepenuhnya salah.

Ia hanya belum siap menjelaskan semuanya pada orang tuanya.

Tentang Anisa. Tentang kegelisahan yang ia rasakan.Tentang betapa ia kini tak bisa lagi bersikap biasa.

Air keran menyala. Ia membasuh wajahnya lama.

Air dingin menyentuh kulit, menenangkan sedikit kegundahan yang tak ia akui pada siapa pun kecuali pada Anisa.

Beberapa menit kemudian, ia sudah mengenakan baju koko bersih dan sarung rapi.

Di luar, suara santri mulai memenuhi halaman. Libur hampir usai. Pondok kembali hidup.

Gus Hafiz melangkah menuju masjid untuk mengisi kajian malam.

Wajahnya kembali teduh. Suaranya kembali tenang saat membahas tafsir dan sabar.

Tak ada satu pun yang tahu, di sela penjelasan tentang keikhlasan dan tawakal,

pikirannya sesekali melayang ke seorang gadis di Kudus.

Usai kajian, para santri satu per satu menyalami tangannya.

Gus Hafiz membalas dengan senyum teduh, wibawa seorang putra kiai tak pernah benar-benar lepas darinya.

Namun malam itu, ada hal yang lebih berat daripada sekadar mengisi pengajian.

Ia melangkah menuju ndalem.

Di ruang tamu ndalem, Umi Laila duduk tenang. Di sampingnya, Kiai Arsyad tampak tenang dengan tasbih yang terus berputar di jemarinya.

“Sepurane, Mi. Romo,” ucap Gus Hafiz pelan.

“Inggih, lungguh, Hafiz,” jawab Kiai Arsyad singkat namun tegas.

Gus Hafiz duduk bersila dengan takzim. Beberapa detik hening. Hanya suara tasbih yang terdengar.

“Ada yang ingin Hafiz sampaikan,” ujarnya akhirnya.

Umi Laila menatap putranya. Tatapan seorang ibu nyai, lembut, tapi menembus jantung.

“Tentang Anisa?”

Gus Hafiz mengangguk pelan.

“Jika Anisa sudah tamat nanti… Hafiz ingin meresmikan pernikahan kami secara administrasi negara. Biar sah bukan hanya di mata agama, tapi juga hukum negara. Supaya jelas. Supaya tidak ada fitnah.”

Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.

Tasbih di tangan Kiai Arsyad berhenti.

Umi Laila menurunkan pandangannya sejenak, lalu mengangkat kembali dengan napas teratur.

“Hafiz…” suaranya lembut, tapi berat.

“Umi tidak sepakat.”

Kata-kata itu jatuh pelan.

Namun cukup membuat Gus Hafiz terdiam.

“Maaf, Mi?” tanyanya hati-hati.

“Umi tidak ingin pernikahan itu diteruskan.”

Kalimat itu kini lebih jelas. Lebih tegas.

Gus Hafiz menatap ibunya, berusaha memastikan ia tak salah dengar.

“Anisa masih sangat muda. Biarkan dia meraih impiannya,” lanjut Umi Laila tenang. “Dia anak yang cerdas. Berprestasi. Kalau kamu mengumumkan pernikahan kalian, Hafiz… itu sama saja kamu membunuh masa depannya.”

Gus Hafiz terdiam. Bukan karena tak punya jawaban. Tapi karena tak menyangka jawaban itu datang dari perempuan yang dulu justru paling menggebu agar ia segera menikahi Anisa.

Bukankah dulu Umi yang berkata, jangan menunda hal baik?

Kenapa sekarang berbeda?

Pertanyaan itu bergema dalam batinnya.

Namun sebagai seorang putra kiai, ia tak membantah dengan emosi.

“Ngapunten, Mi,” suaranya tetap terjaga, “menikah bukan berarti berhenti bermimpi. Anisa tetap bisa kuliah. Tetap bisa meraih cita-citanya. Hafiz tidak akan menghalanginya.”

Umi Laila tersenyum. Senyum yang sulit ditebak maknanya.

“Hafiz,” ujarnya pelan, “menikah itu bukan sekadar sah. Bukan sekadar halal. Ada beban nama. Ada beban keluarga. Ada pandangan masyarakat luas yang siap mempertanyakan, siapa Anisa.”

Beliau melanjutkan,

“Anisa itu santri. Masih belajar. Kalau tiba-tiba diumumkan dia istri seorang Gus, apakah menurutmu hidupnya akan tetap sama?”

Gus Hafiz terdiam.

“Ditanya orang setiap hari. Diperhatikan setiap langkahnya. Disorot setiap kesalahannya. Itu berat, Nak.”

Kiai Arsyad akhirnya angkat bicara.

“Menjaga nama itu yang tidak mudah, Hafiz”

Gus Hafiz menunduk hormat.

“Tapi niat Hafiz baik, Romo. Hafiz ingin bertanggung jawab sepenuhnya.”

“Umi tahu niatmu baik,” potong Umi Laila lembut. “Tapi niat baik belum tentu cukup.”

Lalu beliau menatap lebih dalam.

“Tanyakan pada Anisa. Setelah lulus nanti, dia ingin ke mana? menikah atau melanjutkan kuliah? jika melanjutkan kuliah, jangan pernah halangi dia.”

Pertanyaan itu sederhana.

Namun menghantam.

Apakah ia benar-benar tahu jawaban itu?

Apakah selama ini ia lebih sibuk memastikan cintanya sendiri, tanpa memastikan arah mimpi Anisa?

Ruangan kembali hening.

Gus Hafiz menelan ludah pelan.

Percakapan itu selesai tanpa benar-benar selesai malam itu.

Gus Hafiz pamit, mencium tangan kedua orang tuanya dengan takzim. Wajahnya tetap teduh, seolah tak ada gelombang di dalam dadanya.

Namun begitu ia melangkah keluar dari ndalem, Umi Laila tidak langsung beranjak ke ruang dalam seperti biasa.

Beliau duduk beberapa saat, diam.

Tasbih di jemarinya kembali bergerak, tapi kali ini lebih pelan.

Tatapannya kosong, seolah sedang menimbang sesuatu yang tak bisa diucapkan di depan suami dan putranya.

Beberapa detik kemudian, Umi Laila berdiri.

“Romo. Kula teng kamar rumiyin,” pamitnya lembut pada Kiai Arsyad.

Beliau masuk ke kamar pribadi.

Pintu ditutup rapat.Tidak seperti biasanya.

Lampu kamar menyala temaram. Umi Laila duduk di tepi ranjang, lalu meraih ponsel di atas meja kecil.

Jemarinya berhenti sejenak di atas layar.

Seolah sedang menguatkan hati.

Lalu satu nama ditekan.

Telepon tersambung.

Suara di seberang terdengar samar. Perempuan. Usianya tak jauh berbeda.

Nada bicaranya berubah.

Tak lagi seperti ibu nyai yang berwibawa di depan santri. Kini lebih pribadi. Lebih hati-hati. Nada itu serius.

Bahkan pintu kamar yang tertutup rapat seakan menjadi saksi bahwa pembicaraan ini bukan untuk didengar siapa pun.

“Saya hanya bilang belum waktunya… alasan pendidikan… masa depan.”

Beliau menghela napas panjang.

Di seberang, suara itu seperti memberi jawaban yang membuat Umi Laila terdiam cukup lama.

Kalimatnya menggantung.

Wajahnya tak lagi setenang tadi di ruang tamu. Ada kecemasan yang disembunyikan.

Telepon berakhir setelah percakapan yang cukup panjang. Umi Laila menurunkan ponselnya perlahan.Tatapannya kosong ke arah jendela kamar.

Di luar, angin malam Ponorogo berdesir pelan. Beliau memejamkan mata.

“Maafkan Umi, Hafiz…” lirihnya hampir tak terdengar. “Kadang menjaga itu harus melukai lebih dulu.” Batinya.

1
Elen Gunarti
huh mlai dilema
Pa Dadan
karyanya bagus
Simkuring, Prabu
mana kelanjutannya
Alim
akhirnya
Elen Gunarti
jujur lah Anisa biar semua jelas
Alim
😭😭😭
Listio Wati
mewek baca y
Elen Gunarti
huh nyesek bingot ceritay, double up Thor
Listio Wati
kasihan bener si anisa
Titik Sofiah
lanjut Thor
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor
Elen Gunarti
ceritanya bgus tp up-nya lama Thor
Zizi Pedi: makasi kk🥰
total 1 replies
Elen Gunarti
kuintip bolak balik blm up🤭
Elen Gunarti
double up Thor 👍👍👍👍
Elen Gunarti
lanjut
Elen Gunarti
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!