Sasha difitnah hamil oleh adik seorang konglomerat, dan hidupnya hancur dalam semalam. Untuk menutup skandal keluarga, Gio Artha Wijaya dipaksa menikahinya.
Di mata publik, Sasha adalah istri sah pewaris Wijaya. Di dalam rumah itu, ia hanyalah perempuan yang dibeli untuk menjaga reputasi. Gio membencinya. Menganggapnya jebakan.
Sasha membencinya karena telah menjadikan hidupnya alat tawar-menawar. Namun semakin lama mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta itu, Sasha mulai menyadari satu hal yang lebih menakutkan dari kebencian Gio.
Ia mungkin tidak pernah difitnah secara kebetulan. Seseorang telah merencanakan semua ini dan Sasha hanyalah bidak pertama.
Akankah Sasha mengetahui siapa dalang dari kejadian yang menimpanya selama ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama yang Tidak Seharusnya
“Rafael.”
Nama itu menggantung di udara seperti sesuatu yang tidak boleh diucapkan. Sasha menatap Gio dengan napas tercekat. “Rafael? Maksud kamu… Rafael adikmu itu?”
Gio tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, matanya gelap.
“Itu suaranya,” katanya pelan. “Aku tidak mungkin salah.”
Sasha menggeleng cepat. “Tapi kenapa? Kenapa dia melakukan ini padaku? Aku bahkan tidak pernah dekat dengannya!”
“Karena ini bukan tentang kamu,” jawab Gio dingin. “Ini tentang aku.”
Kalimat itu membuat Sasha terdiam.
Gio berjalan menjauh, tangannya mengepal. “Rafael sudah lama ingin menjatuhkanku. Tapi aku tidak pernah mengira dia akan memakai orang luar untuk melakukannya.”
“Orang luar… maksudmu aku?” suara Sasha pelan.
Gio menatapnya sekilas. “Kamu target paling mudah.”
Sasha menelan ludah. Lagi-lagi ia hanyalah bidak.
“Tapi kenapa sampai sejauh ini?” tanya Sasha. “Pasang kamera? Menyewa orang? Mengawasi aku?”
Gio terdiam beberapa detik.
“Karena dia tidak hanya ingin menjatuhkanku,” katanya pelan. “Dia ingin menghancurkan semuanya pelan-pelan.”
Sasha memeluk dirinya sendiri. Rasa takut itu kembali. Kalau benar Rafael pelakunya… Berarti orang yang selama ini terlihat paling santai di keluarga ini justru yang paling berbahaya.
“Dia tahu tentang gosip itu sejak awal?” tanya Sasha.
Gio mengangguk pelan. “Dia orang pertama yang membawanya ke rumah.”
Jantung Sasha berdegup keras.
“Berarti… foto itu… gosip itu… semua itu…”
“Dirancang,” potong Gio.
Sasha terdiam. Semuanya tiba-tiba terasa masuk akal, cara Rafael menatapnya pertama kali, cara ia seperti terlalu santai dengan situasi ini, dan cara ia tidak pernah benar-benar terlihat kaget.
“Dia sedang bermain,” gumam Sasha.
Gio menoleh. “Dan kita baru sadar permainannya.”
Keesokkan paginya rumah Wijaya terasa begitu aneh. Seolah tak terjadi apa pun, suasana terlalu tenang. Semua staf lama sudah diganti sementara. Satpam malam menghilang tanpa jejak. Polisi belum dilibatkan atas permintaan Gio sendiri.
“Kita tidak bisa membuat ini jadi berita,” katanya singkat.
Sasha duduk di ruang makan, tapi tidak benar-benar makan. Seolah dia merasa diawasi padahal tidak ada siapa pun. Langkah kaki terdengar dari arah tangga membuat Sasha menoleh, dan membuat jantungnya langsung berdegup keras.
Rafael turun dengan santai, mengenakan kemeja rapi. Rambut tertata, dan wajahnya terlihat… biasa. Terlalu biasa.
“Pagi,” sapanya ringan.
Sasha menatapnya tanpa sadar.
Rafael balas menatap.
Dan untuk sepersekian detik, Sasha merasakan sesuatu yang membuat kulitnya merinding. Tatapan itu, bukan tatapan orang kaget atau tatapan orang bingung. Tapi tatapan orang yang sedang menikmati rahasia.
Gio datang dari belakang Sasha.
“Kamu semalam ke mana?” tanya Gio datar.
Rafael mengangkat alis. “Ke mana bagaimana?”
“Satpam malam kabur.”
Rafael terlihat terkejut. Tapi reaksinya… terlambat.
“Serius?” katanya. “Kenapa?”
Gio menatapnya tajam. “Itu yang sedang aku cari tahu.”
Rafael tertawa kecil. “Kok jadi lihat aku begitu?”
Sasha tidak bisa berhenti memperhatikan wajah Rafael. Ia mencoba mencari jejak suara itu. Nada itu.. Tawa itu. Dan tiba-tiba jantungnya seperti dihantam keras.
Matanya membelalak mendengar Rafael tertawa, tawanya itu sangat mirip sekali.
Rafael menoleh ke Sasha. “Kamu kelihatan pucat. Tidak tidur?”
Sasha menahan napas.
Gio menjawab lebih dulu. “Dia pindah kamar.”
“Kenapa?” tanya Rafael ringan.
“Karena kamarnya tidak aman.”
Untuk pertama kalinya, ekspresi Rafael berubah menjadi sangat halus. Tapi Sasha melihatnya, kedipan mata yang terlalu cepat, dan rahang yang sedikit menegang. Sepersekian detik saja. Lalu ia tersenyum lagi.
“Wah. Rumah sendiri kok jadi tidak aman?”
Sasha merasa mual mendengar perkataan yang dilontarkan Rafael. Orang ini tahu, ia tahu persis apa yang terjadi selama ini. Dan sekarang ia berdiri di sini, berpura-pura tidak tahu apa pun hingga Rafael pergi begitu saja.
Siang harinya, Sasha sendirian di kamar Gio. Ia mencoba menenangkan pikirannya, semua terasa seperti mimpi buruk yang tidak selesai.
Ponselnya bergetar, ada satu pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Hal itu membuat Sasha ragu, tetapi karena penasaran juga Sasha lalu membukanya.
Satu foto terkirim membuat tangannya langsung gemetar. Y, itu foto dirinya sedang di dalam kamar ketika malam pengantin mereka yang tanpa ada malam pertama layaklah suami-istri kebanyakan.
Saat ia terduduk di lantai dan menangis. Diambil dari sudut atas, dari kamera yang mereka temukan tadi malam. Air mata Sasha langsung jatuh.
Pesan berikutnya masuk.
"Kamu cantik kalau menangis."
Napas Sasha memburu.
Pesan lagi masuk.
"Dan kamu akan menangis lebih banyak lagi."
Sasha menjatuhkan ponselnya, pesan masuk itu membuatnya terpaku, tangannya dingin, dan kakinya lemas. Ia tidak sadar Gio sudah berdiri di ambang pintu.
“Sasha?”
Sasha menoleh pelan dengan wajah pucat.
Gio melihat layar ponsel itu dan wajahnya langsung mengeras.
“Dia kirim ini sekarang?” tanya Gio.
Sasha mengangguk pelan.
Sesuai dugaan Gio, berarti orang itu… Masih bisa melihat mereka. Masih ada kamera yang belum ditemukan atau…Masih ada orang di dalam rumah ini. Gio langsung berbalik keluar kamar.
“Sasha, jangan keluar dari kamar ini. Kunci pintu.”
“Apa yang mau kamu lakukan?”
Gio tidak menjawab hanya membuat langkahnya lebih cepat. Terlalu cepat.
Sasha berdiri di tengah kamar dengan napas tidak teratur. Ponselnya bergetar lagi.
Pesan baru masuk.
Sasha melihat layar dengan jantung hampir berhenti. Pesan itu bukan foto, bukan teks. Tapi… video. Sebuah video yang berdurasi: 12 detik.
Tangan Sasha gemetar saat menekan tombol putar. Layar menampilkan lorong rumah Wijaya. Waktu rekaman tertulis jelas pada waktu sekarang.
Kamera bergerak pelan. Seolah seseorang sedang berjalan. Menuju kamar tempat Sasha berdiri saat ini, hal itu membuat Sasha membeku karena di ujung video… terlihat pintu kamar Gio dan ada bayangan seseorang berhenti tepat di depannya.
Video berhenti di situ. Dan mendadak terdengar satu ketukan pelan dari arah luar pintu.
Tok.
Sasha membeku membuat napasnya tertahan di tenggorokan.
Tok.
Ketukan itu terdengar lagi. Pelan. Sabar. Seolah orang di luar tahu persis bahwa ia sedang ketakutan.
“Sasha…”
Suara Gio terdengar dari luar pintu. Tapi Sasha tidak langsung bergerak. Karena di saat yang sama, ponselnya bergetar lagi.
Pesan baru masuk.
"Jangan buka pintu itu!"
Jantung Sasha seperti berhenti. Ia menatap layar, lalu menatap pintu.
“Buka, Sasha. Ini aku,” suara Gio terdengar lagi. Lebih tegas.
Air mata Sasha mulai jatuh.
Pesan berikutnya masuk.
Kalau kamu buka, kamu akan tahu siapa yang berdiri di luar.
Tok.
Ketukan ketiga lebih keras. Sasha berdiri gemetar di tengah kamar.
Di satu sisi, suara Gio.
Di sisi lain, pesan dari orang yang melihatnya.
Dan Sasha tidak lagi yakin… Siapa yang sebenarnya berada di balik pintu itu.
“Sasha, cepat buka!” suara Gio terdengar lebih keras sekarang.
Tapi Sasha justru mundur satu langkah, tangannya gemetar hebat, dan ponselnya kembali bergetar. Dia tidak sendiri, air mata Sasha mengalir tanpa suara. Ia menatap gagang pintu yang terasa sangat jauh.
“Sasha!” kali ini Gio terdengar memukul pintu pelan.
Tok! Tok!
Ketukan dari luar kini bercampur dengan suara Gio. Kepalanya terasa mau pecah. Entah mana yang benar? Mana yang jebakan?
Pesan terakhir masuk.
"Coba lihat dari lubang pintu."
Napas Sasha memburu Perlahan… sangat pelan Ia melangkah mendekati lubang pintu, mata Sasha mengintip dari lubang kecil di pintu. Dan detik itu juga… tubuhnya langsung kaku seketika.