Di bawah kuasa Kaisar Jian Feng yang dingin dan tak terpuaskan, Mei Lin hanyalah pelayan jelata yang menyembunyikan kecantikannya di balik masker. Namun, satu pertemuan di ruang kerja sang Kaisar mengubah segalanya. Aroma jasmine dan tatapan lugu Mei Lin membangkitkan hasrat liar sang Penguasa yang selama ini mati rasa. Kini, Mei Lin terjebak dalam obsesi berbahaya pria yang paling ditakuti di seantero negeri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzahraira Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sangkar kegelapan dan murka sang naga
Lord Kaelen membawa Mei Lin jauh ke dalam Hutan Kegelapan, menuju bentengnya yang megah namun diselimuti kabut abadi dan aura dingin. Begitu tiba, Mei Lin tidak ditempatkan di kamar tamu. Sebaliknya, Kaelen melemparkannya ke dalam sebuah sel batu di bawah tanah, yang lebih mirip kandang hewan daripada sebuah ruangan. Lantainya kotor dan lembap, hanya ada segenggam jerami kering sebagai alas tidur, dan jendelanya hanyalah celah sempit yang ditutupi jeruji besi tebal.
"Di sini, kau akan aman dari Jian Feng," suara Kaelen terdengar di telinganya sebelum pintu besi itu tertutup dengan derak yang memekakkan. "Tapi jangan harap kau akan hidup lebih baik. Di bentengku, kau adalah tawanan. Kau akan menunggu sampai naga itu datang menjemputmu, dan menyaksikan sendiri bagaimana ia kehilangan segalanya."
Mei Lin menangis tersedu-sedu, meringkuk di sudut sel yang gelap. Ia benar-benar seperti binatang buangan, dikurung dan dijadikan umpan dalam permainan kekuasaan dua monster. Aroma kotoran dan lembapnya tanah memenuhi indranya, jauh berbeda dari harum cendana dan sutra di istana Jian Feng. Ia melarikan diri dari satu penjara, hanya untuk masuk ke penjara lain yang lebih kejam.
Sementara itu, di perbatasan Hutan Kegelapan, ribuan pasukan elit Kaisar Jian Feng terhenti. Barisan mereka yang kokoh kini tampak ragu-ragu di hadapan deretan pohon mati yang menjadi gerbang hutan. Udara di sana terasa berat, seperti ada kutukan yang siap menerkam siapa saja yang berani melangkah lebih jauh.
Komandan pasukan, Jenderal Wei, akhirnya memutuskan untuk kembali ke istana. Ia tahu melangkah ke Hutan Kegelapan berarti mengorbankan pasukannya secara sia-sia. Dengan hati yang menciut, ia melaporkan kegagalannya kepada Kaisar.
Di Aula Naga, tempat Jian Feng biasanya menerima laporan dan memimpin rapat, suasana terasa sangat dingin. Kaisar duduk di singgasananya, jubahnya hitam kelam seperti malam tanpa bintang. Matanya menyala merah, membakar setiap prajurit yang berani menatapnya.
"Apa katamu?" desis Jian Feng, suaranya pelan namun penuh racun. "Hutan Kegelapan? Perbatasan? Apakah kau mengatakan bahwa aku, Kaisar Jian Feng, tidak bisa masuk ke hutan busuk itu hanya untuk merebut kembali milikku?"
Jenderal Wei berlutut, wajahnya pucat pasi. "Ampun, Yang Mulia. Lord Kaelen... dia telah menandai hutan itu dengan sihir kuno. Setiap prajurit yang mencoba masuk akan... menghilang tanpa jejak. Kami menemukan beberapa mayat yang tercabik-cabik di perbatasan, dan kami yakin Mei Lin berada di dalam sana, di bawah kekuasaan Kaelen."
Mendengar nama Kaelen, kemarahan Jian Feng meledak. Ia membenci Lord Hutan Kegelapan itu, saingannya yang selalu menjadi duri dalam dagingnya. Dan kini, pria itu berani mengambil Mei Lin darinya!
"Kegagalan?" raung Jian Feng. Ia bangkit dari singgasananya, melangkah turun dengan aura kematian yang mengerikan. "Kegagalan adalah sebuah aib! Dan aib harus dibayar dengan darah!"
Dengan gerakan secepat kilat, Jian Feng menghunus pedang besarnya yang selalu terselip di pinggang. Tanpa ampun, ia menebas leher Jenderal Wei. Darah muncrat membasahi lantai marmer, membuat para prajurit lain gemetar.
"Kalian semua! Tidak ada yang boleh hidup jika Mei Lin tidak kembali!" Jian Feng menunjuk ke arah prajurit yang gagal dan beberapa pelayan yang kebetulan lewat. "Bunuh mereka semua! Biarkan darah mereka membasahi lantai istana ini sebagai pengingat akan harga sebuah kegagalan!"
Seketika, aula itu berubah menjadi medan pembantaian. Para pengawal Jian Feng yang loyal segera melaksanakan perintah, membunuh prajurit dan pelayan yang tidak bersalah tanpa ampun. Darah mengalir seperti sungai kecil, dan jeritan kesakitan bergema di seluruh istana. Jian Feng sendiri tidak berhenti. Ia terus menebaskan pedangnya, melampiaskan amarahnya yang membabi buta. Mei Lin adalah miliknya, dan tidak ada satu pun yang bisa mengambilnya, apalagi Kaelen.
"Kaelen! Aku bersumpah, aku akan menghancurkanmu dan merebutnya kembali! Kau akan mati dengan cara yang paling menyakitkan!" raung Jian Feng, wajahnya kini dipenuhi cipratan darah, namun matanya masih memancarkan api kemarahan.
bersambung