NovelToon NovelToon
Api Jatayu Di Laut Banda

Api Jatayu Di Laut Banda

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Kutukan / Dokter / Romansa Fantasi / Ruang Bawah Tanah dan Naga / Harem
Popularitas:383
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retak Pertama

Malam itu angin Merapi berhembus pelan, tapi membawa bau belerang yang lebih tajam dari biasanya. Sari duduk bersila di depan altar batu dalam kuil rahasia, lilin Phoenix kecil di tangannya menyala stabil, cahayanya memantul di cangkang telur yang semakin banyak retak. Retak-retak itu sudah tidak lagi acak; mereka membentuk pola seperti bintang pecah atau urat daun yang terbakar—merah menyala di dalam celah, seperti darah api yang ingin keluar.

Sari tidak lagi takut. Sudah tiga bulan ia menjaga telur ini sendirian setiap malam, setelah Ki Ageng Wiratama jatuh sakit akibat menghirup terlalu banyak abu vulkanik. Para tetua lain bergantian menjaga siang hari, tapi malam adalah waktu Sari. Waktu ketika telur itu “berbicara” padanya—bukan dengan kata, tapi dengan denyut, dengan panas yang naik ke telapak tangannya saat ia mendekat, dengan mimpi yang datang setiap kali ia tertidur di depan altar.

Malam ini mimpi datang lebih cepat dari biasanya.

Dalam mimpi, Sari melihat dirinya berdiri di kawah Merapi saat letusan pertama. Lava mengalir seperti sungai darah, tapi di tengah sungai itu, telur muncul—bukan dari lava, melainkan dari celah cahaya yang tiba-tiba terbuka di langit. Cahaya itu berbentuk naga raksasa berwarna perak keemasan, mata seperti matahari pagi. Naga itu menjatuhkan telur ke lava, lalu menghilang kembali ke awan.

Seorang wanita berdiri di tepi kawah—seorang Phoenix dengan sayap api yang membara, rambut merah menyala panjang. Ia menangis, tapi air matanya jatuh sebagai tetesan api yang tidak padam. “Maafkan aku,” bisik wanita itu. “Aku tidak bisa menjagamu. Tapi kau akan lahir… dan kau akan membakar apa yang harus dibakar.”

Wanita itu menoleh ke Sari. Wajahnya samar, tapi matanya hijau zamrud seperti milik Sari sendiri.

“Lindungi dia,” bisik wanita itu. “Karena kalau dia mati… api akan padam selamanya.”

Sari terbangun dengan napas tersengal. Telur di depannya berdenyut sangat cepat—lebih cepat dari sebelumnya. Retak terbesar di cangkang bagian atas melebar sedikit. Dari dalam celah itu, cahaya merah menyala terang, menerangi seluruh ruangan kuil seperti fajar yang terlalu dini.

Sari mengulurkan tangan lagi, kali ini jarinya benar-benar menyentuh cangkang. Panas menyengat, tapi bukan panas yang membakar—panas yang hidup, yang mengalir ke nadinya seperti darah baru. Ia merasakan detak jantung telur itu—cepat, kuat, penuh keinginan untuk lahir.

“Sebentar lagi,” bisik Sari. “Aku tahu kau mau keluar. Tapi dunia di luar… belum siap untukmu.”

Tiba-tiba pintu kuil terbuka dengan keras. Tiga tetua Phoenix masuk—Raden Surya di depan, dua lainnya membawa rantai api yang menyala terang.

“Waktunya sudah habis,” kata Raden Surya. Suaranya dingin, tapi ada getar di dalamnya. “Dewi Lara sudah memutuskan. Telur itu harus dihancurkan sebelum ia lahir. Retaknya sudah terlalu banyak. Kalau ia lahir sekarang… keseimbangan akan rusak lagi.”

Sari berdiri di depan altar, tubuhnya menghalangi telur. Api Phoenix di dadanya menyala tanpa ia sadari—api yang lebih terang dari biasanya, hampir sama merahnya dengan telur itu.

“Tidak,” katanya tegas. “Kalian tidak akan menyentuhnya.”

Raden Surya melangkah maju. “Sari, mundur. Ini perintah Dewi. Kau tahu apa yang terjadi terakhir kali ada darah campuran. Kutukan lama hampir menghancurkan kita semua.”

Sari menggeleng. “Kutukan lama sudah dipatahkan. Telur ini bukan kutukan. Aku merasakannya. Ia lahir untuk sesuatu yang lebih besar. Kalau kalian hancurkan dia… kalian akan membunuh harapan, bukan ancaman.”

Salah satu tetua mengangkat rantai api. “Kami tidak punya pilihan. Mundur, atau kami paksa.”

Sari tidak mundur. Api di dadanya meledak lebih terang—bukan untuk menyerang, tapi untuk melindungi. Lingkaran api di sekitar altar menyala lebih tinggi, membentuk dinding pelindung di depan telur.

Raden Surya menghela napas. “Kau memilih jalan ini.”

Ia mengayunkan rantai api ke arah Sari. Rantai itu membara, tapi saat menyentuh dinding api Sari, rantai itu meleleh seperti lilin di panas terlalu tinggi.

Tetua kedua dan ketiga maju. Mereka melemparkan bola api ke arah Sari—api Phoenix murni, seharusnya bisa menembus pertahanan Sari. Tapi api Sari lebih kuat malam ini. Api itu menyerap bola-bola api itu, membuat dinding pelindung semakin tebal.

Telur di belakang Sari berdenyut sangat cepat—seperti jantung yang panik, tapi juga seperti jantung yang senang.

Raden Surya mundur setengah langkah. “Kau… kau melindungi telur itu seperti anak sendiri.”

Sari menatapnya tajam. “Karena ia seperti anak. Dan aku tidak akan biarkan kalian membunuh anak yang belum lahir hanya karena takut.”

Ketiga tetua saling pandang. Raden Surya menghela napas panjang.

“Kami akan laporkan ini ke Dewi Lara. Tapi ingat, Sari… kalau telur itu lahir dan membawa kehancuran, kau yang akan bertanggung jawab.”

Mereka pergi, meninggalkan Sari sendirian dengan telur itu.

Sari berlutut di depan altar lagi. Retak di telur sekarang sudah membentuk pola seperti sayap yang terbuka. Cahaya merah dari dalam semakin terang, menerangi wajah Sari yang basah oleh air mata emas.

“Aku tidak tahu apa kau,” bisiknya. “Aku tidak tahu dari mana kau datang. Tapi aku janji… aku akan lindungi kau. Sampai kau bisa lindungi dirimu sendiri.”

Telur berdenyut sekali lagi—pelan, hangat, seperti ucapan terima kasih.

Di luar kuil, angin malam semakin kencang. Abu dari letusan lama beterbangan lagi, seolah gunung sendiri sedang bernapas menunggu kelahiran.

Dan di dalam telur, sesuatu mulai bergerak lebih kuat—seperti sayap kecil yang pertama kali mencoba terbentang.

Retak ketiga muncul, lebih lebar dari sebelumnya.

Dan Sari tahu: kelahiran sudah sangat dekat.

1
Sibungas
Alur cerita mudah d mengerti dan mengalir lancar.
Sibungas
patahkan kutukan emang perlu perjuangan.. semngat💪💪💪
Sibungas
mantab thor ceritane lanjutttt. 👍
Kashvatama: makasih supportnya🙏
total 1 replies
Sibungas
alur cerita nya bagus. 👍
Kashvatama: terimakasih banyak. semoga bisa kasih karya yg konsisten menarik 🙏
total 1 replies
Sibungas
cerita cukup menarik utk d ikuti.. lanjutt thor🤭
Kashvatama: terimakasih supportnya 😍
total 1 replies
Kashvatama
kisah fantasi petualang dan romansa antara Jatayu dari kaum Phoenix dan Banda sang reinkarnasi Naga Laut 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!