Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.
"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa
Jehan menerawang jauh ke masa lalu. Ayusa adalah sahabat Sebria meski begitu mereka tidak terlalu dekat. Selama pernikahan pun mereka menjalani nya tidak terlalu intens seperti pernikahan pada umumnya. Semuanya hanya sebatas tanggung jawab. Jehan menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan putranya.
"Mama kamu adalah orang yang paling mencintai kamu."
"Benarkah?" Byan meraih pigura foto. Jari-jari kecilnya mengusap permukaan kaca penuh kasih sayang. "Mama pasti cantik seperti tante bunga."
"Nanti, kalau Byan sudah besar papa ceritakan tentang mama, papa dan seseorang tapi saat ini kamu belum mengerti apa-apa. Yang pasti mama kamu adalah orang yang paling mencintai kamu."
Byan mengangguk. "Seseorang?"
"Iya seseorang." Jehan tersenyum tipis. "Jangan di pikirkan, Jadi besok kita kemana?"
Anak laki-laki itu meletak kembali pigura foto ke atas meja. Lalu memutar tubuhnya menghadap sang papa. "Aku mau ke rumah mama."
Jehan mengacak-mengacak rambut Byan gemas. "Bangun pagi kalau begitu." Ucap nya sambil berdiri. "Tidurlah."
Byan merebahkan tubuhnya sambil menarik selimut. Waktu memang bergulir sangat cepat padahal baru saja selesai makan malam. "Selamat malam, Pa."
"Selamat malam. Tidur yang nyenyak." Satu kecupan mendaratkan di kening Byan.
Jehan membawa langkahnya keluar menuju kamarnya sendiri. Pria satu anak itu mengambil ponselnya lalu menggeser layar mendapatkan pesan dari Arka—sahabatnya.
Membalas cepat Jehan mengirim pesan balasan. Lalu ia melangkah ke arah balkon kamarnya. Memandang langit malam yang agak menghitam. Tidak ada cahaya apa pun disana semuanya gelap seperti pertanda akan hujan. Hawa dingin juga terasa merayap di kulit memeluk tubuh. Tidak kencang tapi lembut menerpa.
Jehan duduk di kursi rotan sambil menatap kejauhan. Ingatannya melayang kembali pada dimana ia mengunjungi Sebria di rumah sakit saat jatuh dari tangga. Saat itu juga ia memutuskan tidak lagi menoleh ke masa lalu nya. Ia benar-benar melepas Sebria sepenuhnya. Tidak lagi mengharap wanita itu kembali atau menanamkan doa-doa jahat agar Sebria kembali padanya. Jehan melepaskan tapi bukan berarti ia melupakan. Faktanya apa saja yang pernah dilihat dan dirasakannya saat ini. Kadang dejavu.
...----------------...
"Mandi air hangat, Bria. Sudah malam seperti nya sebentar lagi hujan." Ibu Sandrina bicara sambil melangkah ke arah kamarnya.
"Iya Ma." Sahut wanita itu sambil mencari keberadaan adiknya. "Keona, kakak mau makan mie instan kamu mau?"
"Kalian mau makan mie, selarut ini?" Pak Fendy menyahut ketika suara putri sulungnya menggema di ruang cukup sunyi itu.
"Iya Pa, cuma malam ini kok."
"Jangan banyak-banyak." Pria paruh baya itu menyusul sang istri ke dalam kamar.
Sementara Sebria melemparkan senyum sambil menarik tangan Keona. Walau pun adik nya tidak menjawab tapi dari anggukan mantan idola itu menyetujui.
Perjalanan dari panti yang lumayan jauh sudah membuat Sebria lapar padahal sebelum pulang tadi mereka makan bersama anak panti.
"Besok kakak mau kemana?"
Sambil memasak mie Sebria menjawab. "Joging setelahnya pulang ke rumah saja."
Keona mengangguk. "Besok janji ya jangan kemana-mana. Kita istirahat saja. Bangunkan aku besok pagi kita joging sama-sama."
Sebria memberikan semangkok mie. "Iya, cepat dimakan nanti mama turun dan ngomel. Tuan putri itu tidak pernah makan mie instan rupanya sampai heboh seolah kita merugikan negara saja."
Keona terkekeh. Rumah mewah itu lebih berwarna sejak kedua orang tua nya membawa Sebria pulang.
Langit seakan tumpah. Hujan tidak sekadar menyapa, melainkan mengguyur bumi dengan intensitas yang tak kenal ampun. Gelap malam berangsur menipis digantikan semburat abu-abu pagi, namun deru hujan tidak kunjung surut.
Pagi ini, aroma tanah basah menyeruak, bercampur dengan dingin yang menusuk tulang. Hujan malam hingga pagi ini bukan sekadar fenomena cuaca, melainkan kisah tentang keabadian air yang membasahi bumi, memaksa pagi datang dengan suasana sunyi dan syahdu, memberi jeda pada hiruk-pikuk dunia untuk sementara waktu.
"Cepat dikit pa." Suara cempreng terdengar tidak sabar. Kaki kecilnya menapaki jalan dengan hati-hati. Bekas hujan yang masih menyisakan gerimis itu terasa licin.
"Pelan-pelan Byan jalan nya licin. Jalan nya juga agak gelap."
Byan menghentikan langkahnya lalu merotasi kan tubuh separuh. "Ini sudah lumayan terang coba lepas kaca mata nya."
"Oh, papa lupa pantas saja masih gelap langitnya juga masih mendung jadi agak gelap."
Byan melanjutkan langkah. "Papa juga aneh cuaca tidak panas malah pakai kaca mata hitam."
"Biar keren."
Langkah mereka berhenti pada makam Ayusa. Tapi fokus mereka pada bunga lili yang tergeletak di atasnya. Bunga-bunga itu masih segar sepertinya terlihat baru saja di taruh disana.
Jantung Jehan berdebar sambil melebarkan pandang ke segala arah. Yang mengunjungi makan itu hanya diri nya dan Byan. Siapa yang datang pagi ini?
"Pa, sepertinya ada yang mengunjungi mama sebelum kita."
"Iya, ayo sapa mama kamu."
"Mama, ini aku datang. Tadi ada yang kesini ya sebelum aku sama papa. Ma, aku punya teman baru nama nya tante bunga orang nya cantik sekali dan juga baik sama aku." Byan menutupi makam Ayusa dengan bunga taburan. Mulutnya berceloteh bercerita banyak hal.
Sementara Jehan fokus mendengarkan lalu meraup bunga tabur itu lalu menghamburkannya. Tidak ada kata atau sapaan. Selama ini memang seperti itu dan Byan tidak pernah bertanya karena sibuk menceritakan hal-hal baru meski tidak ada sahutan.
"Ayo ke makam nenek sama kakek." Ajak Jehan membawa Byan ke makam orang tuanya.
Hanya berjarak beberapa meter dari makam Ayusa. Jehan sudah menemukan makam sang ayah tidak jauh dari situ makam ibu Diana—ibu nya. Lagi, Jehan terkejut melihat bunga lili tergeletak disana. Benak nya mulai menerka jika yang datang adalah orang lama. Yang mengenal kedua orang tua nya dan Ayusa.
"Kita ke makam nenek sama kakek satu nya lagi, Pa."
"Iya ayo ! Pelan-pelan." Sambil kaki nya melangkah Jehan terus memikirkan orang itu.
Siapa ?
"Pa, disini juga ada bunga lili. Wah kaya nya yang datang memang kenal sama keluarga kita. Siapa ya pa?"
Jehan hanya diam membiarkan pertanyaan Byan menggantung di udara. Benar kata Byan orang yang datang memang mengenal keluarga nya dan keluarga Ayusa.
...----------------...
"Tante, kemana kemaren?"
Sebria tersentak saat membuka kunci toko nya. Suara cempreng di belakangnya tidak nyaring tapi sangat mengejutkan. "Byan..."
"Tante kemana kemaren?" Pertanyaan itu berulang dari bibir mungil Byan.
"Tante libur. Dalam satu minggu kadang tante ambil waktu dua hari atau satu hari. Kamu ke sekolah dulu ya nanti terlambat hari ini senin loh."
Byan mengangguk tapi wajahnya datar. "Jangan pulang dulu ya tunggu aku kesini sepulang sekolah." Anak itu memutar tumitnya ke arah zebra cross. Kesal dan rindu bercampur dalam dada anak itu. Entah kenapa ia merasa di khianati jika Sebria memang punya anak.