Dafsa Ramadan (30 tahun), ASN biasa aja yang siangnya sibuk urusan negara dan sorenya membuka lapak biro jodoh di Blok M. Tangannya “dingin” soal jodoh. Banyak testimoni pasangan yang ia jodohkan nyaris selalu berhasil.
Sampai satu anomali bernama Arcila Astoria (31 tahun) datang.
Seorang CEO perempuan yang cerdas, tajam, cepat bosan, dan mengalami emosi malfungsi minta dicarikan jodoh. Arcila terpaksa kesana karena Ayahnya mengancam akan menjodohkannya sama duda anak lima kalau sampai tahun ini belum menikah.
Dafsa mulai bekerja. Memasangkan dengan banyak kandidat unggulan, tapi semua pria yang ditawarkan ke Arcila gagal total. Bukan karena mereka nggak layak, tapi karena Arcila emang dari awal nggak pernah benar-benar niat cari jodoh.
Untuk pertama kalinya Dafsa merasa ini mustahil. Dan tanpa disadari malah dia sendiri yang mulai terjebak perasaan absurd itu.
Cover Ilustrasi by ig pixysoul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Minta maaf? Ngarang aja!" Dafsa berdecih pelan. Dia jadi kayak perempuan yang gampang misuh-misuh setelah ketemu Arcila kemarin pagi.
Sumpah deh, seharian kemarin Dafsa ngomong ke dirinya sendiri, kalau dia nggak perlu malu atau ngerasa bersalah. Emangnya siapa sih, yang nggak bakalan berburuk sangka kalau pernah berurusan sama Arcila yang selalu ada aja idenya? Dafsa 'kan cuma wanti-wanti diri sendiri. Ya kalau pikirannya nggak sesuai kenyataan, syukur alhamdulillah.
Tapi ... nyatanya Dafsa nggak bisa semuka tembok itu. Tetep aja ada rasa bersalah di hatinya, dicampur sama rasa malu yang sialnya nggak pernah mau pergi.
Dafsa buang napas pendek, niatnya mau balik kerja setelah makan siang di warung deket kantor kecamatan, tapi telepon di ponselnya bikin semua rencananya buyar.
Itu telepon dari Rama. Dafsa udah nggak enak hati duluan. Lagi-lagi dia mikir yang enggak-enggak. Emang nggak ada kapoknya isi kepala Dafsa belakangan ini.
"Assalamualaikum, Om." Dafsa nyapa lebih dulu. Walau bagaimanapun, Rama baik sama dia. Sering nanya kabar, sering nawarin Dafsa main ke rumah. Tapi ya gitu, Dafsa selalu pake seribu alesan supaya nggak perlu berkunjung. Dan anehnya, Rama nggak pernah maksa.
"Waalaikumsalam, Daf, Cila lagi sama kamu, ya?"
"Hah? Cila, Om?" tanya Dafsa mengulang, takutnya dia salah denger.
"Iya, Daf, Cila. Dia lagi sama kamu 'kan?"
Bodohnya, Dafsa pake noleh segala. Takutnya emang bener Arcila tiba-tiba aja dateng terus berdiri di sebelahnya. Tapi nggak ada kok, sekitarnya masih rame sama staf kecamatan yang mau balik ke kantor.
"Nggak, Om. Saya lagi kerja," jawab Dafsa udah bisa sedikit santai.
Di seberang sana, Rama buang napas panjang. Dafsa denger itu, jelas, nempel banget di telinganya. Kalau dia boleh menafsirkan, kayaknya Rama lagi khawatir sama Arcila.
"Maaf, Om, memangnya Arcila nggak pamitan mau ke mana? Em ... harusnya dia ada di hotel, kan?"
"Harusnya memang begitu, Daf, tapi Om udah cek ke hotel, dan dia nggak ada di sana. Masalahnya, dari kemarin Arcila belum pulang, mana hpnya nggak aktif pula."
Dari kemarin.
Dafsa diem, inget kalau kemarin Arcila bilang mau ketemu sama si Andra duda anak lima. Apa jangan-jangan Rama nggak tau soal pertemuan mereka?
"Padahal masalah di hotel sudah selesai, tapi kenapa dia masih sibuk sendiri. Anak itu selalu bikin khawatir orang tua."
Masalah di hotel ....
Refleks Dafsa nelen ludah. Ternyata, Arcila sedang menghadapi masalah super berat, dan dia nggak tahu apa-apa soal itu.
"Eh, urusannya sama kamu apa, Daf? Arcila cuma orang lain."
"Om, kemarin Arcila ketemu sama Andra di perusahaan milik Andra," ungkap Dafsa, yang udah pasti berlainan sama hatinya sendiri. Tadinya dia mau cuek. Tapi apalah daya, Dafsa nggak bisa diem aja.
Jujur, ada sedikit rasa khawatir. Takutnya Arcila kenapa-kenapa.
"Oh, ya? Buat apa dia ketemu sama Andra? Dia ngasih tau kamu, tapi sembunyi-sembunyi dari Om." Rama mengomel, nggak denger interupsi dari Dafsa, kalau sebenarnya dia nggak tau apa-apa.
"Om boleh minta tolong sama kamu, Daf? Tolong bujuk Arcila pulang. Bilang sama dia, ganti rugi ke tamu hotel sudah lebih dari cukup, soal rating buruk di aplikasi nggak perlu dipikirin sampai segitunya, toh orang-orang tahu kualitas Hotel Astoria seperti apa." Rama meminta, tapi nadanya masih setengah mengomel.
Sekarang, apa keputusan Dafsa?
Jujur, dia yakin Arcila udah bohong sama Rama, dengan bilang kalau dia tahu masalah apa yang terjadi di hotel. Padahal pada kenyataannya, Dafsa buta informasi soal Arcila. Sekali lagi, dia nggak tahu apa-apa.
"Daf, bisa kamu izin setengah hari? Om butuh sekali bantuan kamu."
Mata Dafsa terpejam sejenak. Ini adalah permintaan seorang ayah, tulus dari hati, berasal dari keputusasaan yang nggak boleh dibiarin makin meluas.
"Bisa, Om, saya cari Arcila sekarang," ucap Dafsa penuh tekad.
"Makasih banyak, Daf, kamu kabari Om kalau sudah ketemu Arcila."
Dafsa ngangguk sambil jawab pelan. Sambungan diputus. Dafsa balik ke kantor kecamatan buat ngambil surat absen, sekaligus ngambil motornya.
Gampang buat Dafsa dapetin izin pulang, karena selama ini dia nggak pernah aneh-aneh. Kerja Dafsa jujur, selalu tepat waktu dan sesuai target.
Motor Dafsa ninggalin kantor kecamatan, melaju pasti ke perusahaan Andra. Dia yakin, si duda anak lima itu tahu di mana keberadaan Arcila sekarang. Tapi sebelum itu, Dafsa harus tahu dulu masalah apa yang sebetulnya lagi dihadapi sama Arcila, sampai-sampai perempuan itu nggak pulang dan nggak ngasih kabar ke orang rumah.
Motor Dafsa menepi di angkringan. Dia ketik nama Hotel Astoria. Rating di Google langsung terpampang. Lima puluh akun kompak ngasih bintang satu sejak seminggu lalu, karena ada sebuah insiden terjadi di hotel.
Ada satu tamu yang merasa dirugikan, karena dia kena grebek istri sah di lobby hotel. Bukannya sadar diri kalau dia salah, si tamu ini malah mengecam pihak hotel yang katanya nggak bisa jaga rahasia tamu yang dateng. Kenyataanya, si tamu bahkan belum sempat check-in, cuma baru dateng aja sama selingkuhannya.
Masalah melebar, dan Arcila dituntut ganti rugi. Yang Dafsa yakini, Arcila yang biasa perfeksionis, pasti ngerasa stres sama masalah ini.
"Inilah nggak baiknya punya rasa ambisius berlebihan," kata Dafsa dalam hati, masukin lagi ponselnya ke tas. Dia jalan lagi.
Sampai di kantor Andra, Dafsa harus datengin resepsionis. Anehnya waktu pertama kali nyebutin nama, staf resepsionis yang telfon sekretaris Andra langsung bilang kalau Dafsa boleh naik ke ruangan lelaki itu. Seakan Andra tahu siapa Dafsa.
Untuk pertama kalinya, Dafsa ngerasa nggak tenang. Takutnya ada fakta soal Arcila yang bikin dia sakit hati.
Eh, kenapa dia mikir ke arah sana, ya? Harusnya Dafsa nggak peduli apa-apa soal Arcila, kan? Mereka orang asing. Nggak terikat hubungan apa pun, setelah jalinan bisnis di antara mereka diputus dengan cara yang kejam sama Dafsa di kebun tetangganya dua minggu lalu.
"Kamu harus banyakin refreshing, Daf, biar nggak ikutan stres kayak Arcila," gumamnya bertepatan dengan pintu lift terbuka lebar.
Dafsa diarahkan masuk ke ruangan Andra. Lelaki gagah, matang, dan berwibawa langsung berdiri dari duduknya. Senyumnya lebar, tapi Dafsa ngeliat sendiri ada kilat persaingan di mata si duda anak lima ini.
"Dia masih ngincer Arcila," simpul Dafsa dalam hati.
"Jadi ini yang katanya Dafsa Ramadan, ASN biasa-biasa saja sekaligus pemilik ruko sempit di kawasan Blok M?"
Itu bukan sambutan yang bikin hati seneng, tapi serupa kibaran bendera perang. Dafsa natap lurus, nggak ada ekspresi marah di wajahnya.
"Saya ke sini cuma ingin menanyakan keberadaan Arcila."
"Arcila? Apa hubungannya kamu dengan Arcila?"
"Saya calon suaminya." Pengakuan itu ... keluar sendiri dari mulut Dafsa. Dia tahu sebabnya. Iya, karena harga dirinya kayak lagi direndahkan.
Soalnya, tadi Andra terang-terang bilang Dafsa cuma ASN biasa aja. Terus rukonya juga dikatain sempit. Si duda anak lima itu nggak tau aja, Dafsa sampai berdarah-darah biar bisa dapetin posisinya sekarang. Semua perjuangannya nggak boleh dipandang remeh. Dafsa nggak suka. Dia bakalan ngelawan pake caranya sendiri.
"Kamu? Calon suaminya Arcila?" ejek Andra, yang ternyata nggak sekeren pikiran Dafsa selama ini.
Andra persis ABG labil yang nggak mau kalah waktu gebetannya jadian sama yang lain. Caranya ngomong di depan Dafsa, caranya ngeliat Dafsa dari ujung kepala sampai ujung kaki, beneran nggak mencerminkan kalau dia pemimpin perusahaan, sekaligus ayah dari lima anak.
"Hubungan kami resmi diketahui dua pihak keluarga. Om Rama sendiri yang meminta saya datang ke sini."
"Kamu pesuruh?"
Sialan!
Dafsa makin marah. Dia nggak pernah nyangka mulut Andra mirip ibu-ibu gosip di warung sayur deket rumahnya.
"Di mana calon istri saya?" tanya Dafsa sekali lagi.
Andra nggak jawab apa-apa, dia cuma natap pintu. Nggak lama, Arcila muncul dari sana. Ngeliat perempuan itu baik-baik aja, Dafsa kontan buang napas panjang. Dia lega.
"Suruh laki-laki ini keluar, dia bukan calon suami saya," katanya tegas, tanpa ekspresi.
Tingkah lakunya sama persis di kali pertama Arcila dateng ke Kios Makcomblang Dafsa. Dingin, teratur, nggak terbaca. Satu hal yang bikin Dafsa diem, dia tahu Arcila nggak mau berurusan lagi sama dia. Perempuan itu beneran sakit hati, masukin Dafsa ke daftar hitam yang nggak bakalan pernah dilirik lagi.
Secara kilat, keadaan berubah. Sekarang, malah Dafsa yang ngerasa hampa sekaligus sakit hati.