Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
PERTEMUAN DI TEMPAT AWAL MEREKA BERTEMU
Hari Minggu pagi, sinar matahari menyinari lantai lantai toko buku Gramedia Makassar dengan hangat. Khatulistiwa datang lebih awal dari jadwal yang telah disepakati dengan Tenggara – dia membawa beberapa kotak kecil kukis buatan ibunya sebagai ucapan terima kasih yang sebenarnya. Setelah kejadian beberapa hari yang lalu ketika Tenggara menyelamatkannya dari Jesika, dia merasa ingin memberikan sesuatu yang spesial untuknya.
Setelah beberapa menit menjelajahi rak buku novel remaja, dia melihat sosok yang akrab sedang berdiri di bagian sejarah daerah, memegang buku tentang kerajinan tradisional Sulawesi Selatan. "Tenggara!" panggilnya dengan suara ceria.
Tenggara menoleh dan langsung memberikan senyum lebar ketika melihatnya. "Wah, Khatulistiwa! Kamu sudah datang ya? Maaf sedikit terlambat."
"Tidak apa-apa, aku juga baru saja datang kok," jawabnya sambil mendekat ke arahnya. "aku membawa sesuatu untuk kamu."
Dia memberikan kotak kecil berwarna merah muda dengan hati-hati. "Ini kukis buatan ibuku. Dia bilang ingin mengucapkan terima kasih karena telah membantu dan melindungi saya beberapa hari yang lalu."
Tenggara menerima kotaknya dengan ekspresi wajah yang penuh rasa terima kasih. "Terima kasih banyak ya! Bau nya sudah sangat harum, pastimi ini rasanya enakk
Mereka kemudian pergi ke ruang baca yang sudah tidak asing lagi bagi mereka berdua. Tenggara membuka kotak kukis dan langsung mengambil satu buah kukis berbentuk bunga kenanga. "Wah, enak sekali rasanya! Katanya ini resep khusus dari ibumu ya?"
"Iya, itu resep turun temurun dari nenek saya,oh iyya lama mi kah di makassar "ucap Khatulistiwa
"Owh baruka 3 tahun ini "Jawab tenggara
Setelah menikmati beberapa buah kukis bersama dengan teh hangat yang mereka pesan, Tenggara mulai merasa sedikit gugup untuk menyampaikan apa yang ingin dia katakan.
"Khatulistiwa, sebenarnya saya ada sesuatu yang ingin saya ajak kamu."
"Oh? Apa itu?" tanya Khatulistiwa dengan penuh perhatian.
"Teman-teman saya di kampus akan menggelar acara pameran budaya Universitas Hasanuddin minggu depan," jelasnya dengan semangat. "Acara ini akan menampilkan berbagai macam kebudayaan dari seluruh Sulawesi Selatan – mulai dari tenun songket, ukiran kayu, tarian tradisional, hingga makanan khas daerah. Bahkan nenek saya juga akan tampil untuk menunjukkan proses membuat tenun songket secara langsung."
Khatulistiwa mengangkat alisnya dengan kagum. "Wah, itu terdengar sangat menarik sekali! Saya selalu ingin lebih mengenal budaya daerah sini, tapi belum pernah punya kesempatan untuk melihat acara seperti itu."
"Kalau begitu, mau tidak kamu datang bersama saya ke acara itu?" ajaknya dengan sedikit ragu.
"Saya akan memperkenalkan kamu pada teman-teman saya dan juga membantu kamu menjelajahi setiap bagian pameran. Pastinya kamu akan sangat menikmatinya."
Khatulistiwa langsung mengangguk dengan senyum lebar. "Tentu saja mau! Saya sangat senang bisa datang. Apakah saya perlu membayar tiket masuk atau membawa sesuatu?"
"Tidak perlu sama sekali," jawab Tenggara dengan senyum lega. "Acara ini terbuka untuk umum dan gratis. Kamu hanya perlu datang saja dengan senang hati. Selain itu, mungkin kamu juga bisa mengenalkan usaha kukis keluarga kamu pada teman-teman saya – siapa tahu ada yang ingin memesan untuk acara mereka nanti."
Mereka kemudian mulai membicarakan detail acara – kapan dimulai, di mana lokasinya, dan apa saja yang akan ditampilkan. Tenggara menjelaskan dengan antusias tentang setiap bagian pameran, mulai dari pameran foto sejarah kerajaan Gowa-Tallo hingga area di mana pengunjung bisa mencoba membuat kerajinan tangan sederhana dengan bimbingan dari pengrajin lokal.
"Kamu tahu tidak, saya juga akan membantu menjelaskan tentang sejarah beberapa benda pusaka yang akan dipamerkan," ucap Tenggara dengan bangga.
"Kakek saya yang membantu mempersiapkan materi penjelasannya. Dia bilang ini adalah cara yang baik untuk melestarikan dan memperkenalkan budaya kita kepada generasi muda."
Khatulistiwa merasa sangat kagum dengan semangat Tenggara terhadap budaya daerahnya. "Saya sangat menghargai bagaimana kamu dan keluarga kamu begitu peduli dengan budaya lokal. Saya juga ingin belajar lebih banyak tentangnya agar bisa membantu memperkenalkannya kepada teman-teman saya di sekolah."
Setelah beberapa jam berlalu dengan penuh cerita dan candaan, mereka menyadari bahwa sudah mulai sore. Tenggara mengantar Khatulistiwa ke gerbang toko buku dengan hati yang penuh kebahagiaan.
"Saya akan mengirimkan lokasi dan jadwal acara melalui pesan ya, "Jangan lupa datang, saya sudah tidak sabar untuk memperkenalkan kamu pada teman-teman saya dan menunjukkan semua keindahan budaya kita."
"Tidak akan saya lupa kok," janjinya dengan senyum. "Saya bahkan sudah tidak sabar untuk memberitahu teman-teman saya di sekolah