NovelToon NovelToon
Pernikahan Berdarah Mafia

Pernikahan Berdarah Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.

Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.

Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa Bersalah yang Hilang

Aku tidak tidur setelah serangan itu. Hanya berbaring menatap langit-langit dengan mata terbuka lebar. Damian tertidur di sampingku dengan tangan melingkari pinggangku. Napasnya teratur. Tenang.

Sementara aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Wajah pria pertama yang kutembak. Matanya yang membelalak ketika peluru menembus dadanya. Cara tubuhnya jatuh.

Seharusnya aku merasa ngeri, merasa bersalah, dan menyesal. Tapi yang aku rasakan hanya kekosongan. Dan sesuatu yang lain, sesuatu yang membuatku takut pada diriku sendiri.

Ada kepuasan ketika melihat peluru itu menembus daging, ketika tahu aku yang membuatnya jatuh.

Apa yang salah denganku?

Aku mencoba mencari rasa bersalah di hatiku, menggali lebih dalam, dan mencari penyesalan. Tapi benar-benar tidak ada.

Cahaya fajar mulai masuk melalui jendela. Aku melepaskan pelukan Damian dengan hati-hati. Turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah jendela.

Taman di bawah terlihat damai. Tidak ada jejak pertempuran semalam. Semuanya sudah dibersihkan. Dikembalikan normal.

Seperti tidak terjadi apa-apa. Seperti empat orang tidak mati oleh tanganku.

"Kau tidak tidur."

Suara Damian dari belakang. Aku tidak menoleh.

"Tidak bisa," jawabku pelan.

Aku mendengar suara langkah kaki. Lalu tangannya memelukku dari belakang. Dagu bertumpu di bahuku.

"Mimpi buruk?" tanyanya.

Aku menggeleng. "Bukan mimpi buruk. Hanya tidak bisa berhenti berpikir."

"Tentang yang kau bunuh?"

Aku mengangguk.

Damian diam sebentar, tangannya mengeratkan pelukan.

"Kau merasa bersalah?" tanyanya.

Aku ingin bilang ya. Seharusnya aku bilang ya. Orang normal seharusnya merasa bersalah setelah membunuh.

Tapi aku tidak bisa bohong. Tidak padanya. Tidak pada diriku sendiri.

"Tidak," bisikku. "Dan itu yang membuatku takut."

Damian memutar tubuhku. Memaksaku menatapnya. Matanya mencari sesuatu di wajahku.

"Ceritakan," katanya. "Apa yang kau rasakan?"

Aku menarik napas gemetar. "Aku seharusnya merasa ngeri dan menyesal. Tapi yang aku rasakan hanya kosong, seperti itu hal yang wajar. Seperti itu hal yang harus kulakukan."

Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku.

"Dan yang lebih buruk," lanjutku dengan suara yang makin pelan, "Ada sesuatu yang menyenangkan. Ketika melihat mereka jatuh, dan ahu aku, bahwa aku yang melakukannya. Seperti aku ini mempunyai kekuatan."

Aku menatap matanya, mencari ketakutan, rasa jijik, atau apapun itu. Tapi yang kulihat hanya pemahaman.

"Aku monster, kan?" bisikku. "Sama sepertimu."

Damian mengusap air mata di pipiku dengan ibu jarinya.

"Bukan," katanya pelan. "Kau bukan monster."

"Tapi aku tidak merasa bersalah. Aku bahkan sedikit menikmatinya."

"Itu bukan membuatmu monster," potongnya. "Itu membuatmu bertahan hidup."

Tangannya pindah ke rambutku. Mengelus dengan lembut.

"Di dunia ini," lanjutnya, "rasa bersalah akan membunuhmu. Penyesalan akan membuatmu lemah. Kalau kau ragu satu detik sebelum menarik pelatuk, kau yang akan mati."

Dia menarikku ke pelukannya.

"Kau melakukan apa yang harus kau lakukan," bisiknya. "Kau melindungi. Kau bertahan. Dan kau melakukannya dengan sempurna."

"Tapi orang normal tidak merasakan ini," kataku di dadanya. "Orang normal akan merasa ngeri dan trauma. Mereka akan..."

"Kau bukan orang normal," potong Damian. Dia melepaskan pelukan. Menatapku lagi. "Kau tidak pernah normal, Alexa. Kau hanya tidak tahu itu sampai sekarang."

Aku menggeleng. "Aku dulu normal, sebelum semua ini akhirnya terjadi. Sebelum kau..."

"Tidak," katanya tegas. "Kau pikir kau normal karena kau tidak pernah dihadapkan pada situasi yang memaksa kegelapanmu keluar. Tapi kegelapan itu selalu ada. Di dalam dirimu. Di dalam darahmu."

Tangannya menyentuh pipiku lagi.

"Ayahmu pembunuh," lanjutnya. "Dia membantai empat puluh tujuh orang tanpa ragu. Tanpa belas kasihan. Kau pikir gen itu tidak turun padamu?"

Tidak. Aku tidak mau percaya itu.

"Aku bukan seperti ayah," bisikku. "Aku tidak..."

"Kau persis seperti ayahmu," potong Damian. "Bedanya, dia membunuh untuk keserakahan. Kau membunuh untuk melindungi. Tapi esensinya sama. Kemampuan untuk mengambil nyawa tanpa ragu."

Dia tersenyum tipis.

"Dan itu yang membuatmu sempurna untukku," bisiknya. "Kau terlahir untuk dunia ini, sayang. Darahmu sama gelapnya denganku."

Aku ingin menolak. Ingin berteriak bahwa dia salah. Tapi bagaimana aku bisa menolak ketika buktinya sudah jelas?

Aku membunuh empat orang dalam satu malam, dan aku tidak merasakan apapun. Bahkan aku merasa sedikit bangga pada diriku.

"Aku takut," bisikku akhirnya. "Aku takut pada diriku sendiri."

Damian menarikku ke pelukannya lagi. Lebih erat kali ini.

"Aku tahu," bisiknya. "Aku juga takut pada diriku sendiri pada awalnya. Ketika aku membunuh untuk pertama kali. Ketika aku menyadari aku tidak merasa bersalah."

Tangannya mengelus punggungku.

"Tapi seiring waktu," lanjutnya, "kau akan belajar menerima. Belajar memeluk kegelapan itu. Karena kegelapan itu yang membuatmu kuat. Yang membuatmu bertahan."

"Dan kalau aku tidak mau menerimanya?" tanyaku. "Kalau aku ingin kembali jadi seperti dulu?"

Damian diam lama. Lalu dia menjawab dengan suara yang sangat lembut tapi sangat tegas.

"Kau tidak bisa kembali," katanya. "Garis sudah dilanggar, kau sudah melihat apa yang ada di sisi lain. Sudah merasakan kekuatan itu, dan tidak ada jalan untuk kembali, Alexa."

Air mata mengalir lebih deras, karena aku tahu bahwa dia memang benar. Tidak ada jalan untuk kembali.

Gadis yang dulu membaca buku di perpustakaan sudah mati, gadis yang tersenyum polos kini sudah hilang. Yang tersisa hanya wanita yang bisa membunuh tanpa ragu, dan merasakan kepuasan dari kematian.

"Peluk aku," bisikku. "Kumohon. Peluk aku dan jangan lepaskan."

Damian memelukku dengan sangat erat. Seperti mencoba menahan sesuatu yang akan hancur.

Dan kami berdiri di sana, di depan jendela dengan cahaya fajar menerangi kami, dua jiwa gelap yang saling berpegangan di tengah kegelapan mereka sendiri.

***

Siang itu Marco datang dengan laporan. Aku duduk di ruang kerja Damian, di sofa di sudut, sambil Damian mendengarkan laporan di mejanya.

"Bratva kehilangan dua belas orang semalam," kata Marco. "Termasuk Yuri, tangan kanan Volkov. Ini pukulan besar buat mereka."

"Bagus," kata Damian sambil menyalakan cerutu. "Kapan mereka akan balas?"

"Intel kami bilang mereka sedang regrouping. Mungkin seminggu. Mungkin dua minggu. Tapi mereka pasti akan balas."

Damian mengangguk. "Tingkatkan keamanan. Dobel pengawal di setiap titik. Dan siapkan orang-orang di luar juga. Aku tidak mau mereka sampai masuk lagi."

"Baik, Tuan." Marco berhenti sebentar. Melirikku. "Dan, tentang Nyonya..."

"Apa?" tanya Damian. Nada suaranya berubah. Waspada.

"Orang-orang mereka terlihat terkesan," kata Marco. "Empat kill di pertempuran pertama. Clean shot semua. Mereka bilang Nyonya berbakat."

Damian tersenyum. Senyum yang penuh kebanggaan.

"Tentu saja dia berbakat," katanya. "Dia istriku."

Marco mengangguk. Lalu dia menatapku langsung.

"Nyonya," panggilnya. "Atas nama semua orang, terima kasih sudah menyelamatkan Tuan semalam."

Aku terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa.

"Tanpa Nyonya," lanjut Marco, "Tuan mungkin sudah mati. Kami semua berhutang pada Nyonya."

Lalu dia membungkuk. Penghormatan yang dalam. Dan aku menyadari bahwa mereka melihatku berbeda sekarang, bukan lagi sebagai tawanan ataupun sebagai korban. Tapi sebagai bagian dari mereka, sebagai salah satu pembunuh.

"Kau boleh pergi, Marco," kata Damian.

Marco membungkuk lagi lalu keluar, meninggalkan aku dan Damian sendirian. Damian berdiri dari mejanya. Berjalan ke arahku. Duduk di sampingku di sofa.

"Bagaimana perasaanmu?" tanyanya.

Aku menatap tanganku. Tangan yang kemarin memegang pistol. Yang menekan pelatuk empat kali.

"Aku... aku tidak tahu," jawabku jujur. "Tadi pagi aku takut pada diriku sendiri. Tapi sekarang aku hanya merasa kosong."

"Kosong?"

"Ya. Seperti ini sudah jadi bagian dari aku. Hal seperti ini, bukanlah hal yang besar lagi."

Damian meraih tanganku. Menggenggamnya.

"Itu karena kau sudah menerimanya," katanya. "Kau sudah menerima siapa kau sebenarnya."

Aku menatapnya. "Dan siapa aku sebenarnya?"

Damian tersenyum. Senyum yang membuatku merinding.

"Ratuku," bisiknya. "Ratu yang bisa membunuh dengan mata dingin. Yang bisa berdiri di sampingku di medan perang. Yang bisa menguasai dunia berdarah ini bersamaku."

Tangannya pindah ke pipiku.

"Kau sempurna," bisiknya. "Benar-benar sempurna."

Lalu dia menciumku. Lembut tapi intens. Dan aku membalas ciumannya dengan intensitas yang sama.

Karena dia benar, aku sudah menerimanya. Menerima kegelapan di dalam diriku, bahwa aku bukan lagi gadis polos yang dulu.

Aku sudah berubah untuk selamanya, dan yang paling menakutkan, aku tidak yakin bahwa aku ingin kembali.

Karena kekuatan ini, untuk mengendalikan hidup dan mati, rasanya sungguh memabukkan, dan aku mulai ketagihan dengan semua ini.

***

Malam itu aku bermimpi lagi, tapi bukan mimpi buruk seperti biasa. Aku bermimpi berdiri di atas gunung mayat. Dengan pistol di tangan. Darah membasahi gaunku.

Dan Damian berdiri di sampingku. Menatapku dengan mata penuh cinta dan kebanggaan.

"Ini kerajaanmu," katanya sambil menggenggam tanganku. "Kerajaan yang kita bangun bersama. Dengan darah dan api."

Aku menatap ke bawah. Melihat semua mayat it, wajah-wajah yang tidak kukenal. Dan aku tersenyum pada kehancuran yang kami ciptakan.

Aku terbangun dengan napas tercekat, keringat membasahi tubuhku. Damian masih tidur di sampingku, wajahnya damai di bawah cahaya bulan.

Aku menatapnya lama, pria yang menghancurkanku, membangunku kembali menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang begitu gelap.

Pria yang kucintai dengan cara yang sama rusaknya, seperti dia mencintaiku. Aku menyentuh wajahnya dengan lembut, lalu mengusap rambutnya.

"Aku mencintaimu," bisikku. "Dan aku membenci diriku sendiri karenanya. Tapi aku tidak bisa berhenti."

Matanya terbuka perlahan, menatapku di kegelapan.

"Aku tahu," bisiknya. "Dan aku mencintaimu karena itu. Karena kau sama rusaknya denganku."

Dia menarikku ke pelukannya.

"Kita cocok," bisiknya. "Dua monster yang menemukan rumah di dalam kegelapan satu sama lain."

Dan aku tidak membantah, karena dia memang benar. Kami cocok dengan cara yang paling rusak dan berbahaya.

Dan aku sudah tidak peduli lagi, apakah itu salah atau benar. Yang kupedulikan hanya kami bersam, di kegelapan yang kami ciptakan bersama.

Tapi satu pertanyaan terus menghantuiku, bahkan ketika aku tertidur kembali di pelukannya: apakah kegelapan ini, memang sudah ada sejak awal di dalam diriku, hanya saja menunggu untuk dibangunkan?

Atau Damian yang menanamnya, perlahan, selama lima tahun mengawasiku, merencanakan, membentukku menjadi pasangan sempurna untuknya?

Dan pertanyaan yang paling menakutkan, apakah masih ada yang tersisa dari diriku yang lama, ataukah dia sudah mati sepenuhnya, digantikan oleh monster, yang sekarang kulihat di cermin setiap pagi?

1
Lubis Margana
posisi mu sangat sulit alexa berpihaklh sementara pada suami mu agar kau dapat cela..bisa lari dari suami mu
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
karya yang aku baca dengan menghabiskan 1/2 hari dengan fon...
Leoruna: knapa lgi tuh/Shy/
total 1 replies
kesyyyy
mantep bangett
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
cerita tentang kau dan aku🎼🎶🎵
Leoruna: astaga, knapa jdi kesana/Facepalm/
total 1 replies
kesyyyy
serem, tapi seruuu🤭
Leoruna: mkasih kak🤭🙏
total 1 replies
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
wow!!!!!
Leoruna: knapa tuh/Shy/
total 1 replies
Rahmawaty24
Ceritanya bagus
Leoruna: makasih, kak☺🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!