Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Aku memeluk tubuh Arumi, menggenggamnya seolah takut jika ia ikut menghilang. Dadaku naik turun menahan sesak, lalu perlahan aku melepaskan pelukan itu.
“Mas Bram, Rum…” lirihku. Bibirku bergetar hebat, suaraku nyaris tak keluar.
“Iya, Mas Bram kenapa?” tanya Arumi, matanya menatapku cemas.
“Dia menyakitiku.”
Kalimat itu keluar begitu saja, meski tenggorokanku terasa perih.
“Dia selingkuh?” Arumi menelan ludah, suaranya tertahan.
Aku menggeleng. Kepalaku terasa berat, seakan seluruh dunia menekanku.
“Dia KDRT kamu?”
Nada Arumi berubah, ada ketakutan di sana.
Aku menggeleng lagi. Air mata mulai mengaburkan pandanganku.
“Lalu apa, Ran?” desaknya pelan.
Aku menarik napas panjang, tapi tetap saja dada ini seperti diremas.
“Ternyata dia punya istri, Rum.”
“Apa?! Dia menikah lagi?”
Suara Arumi meninggi. Wajahnya pucat, matanya menatapku tak percaya.
“Bukan, Rum…” isakku. Tenggorokanku terasa perih, napasku terputus-putus.
“Lalu?” Arumi mengusap wajahnya frustasi. “Kamu jangan bikin aku pusing, Rania.”
Aku menunduk. Tanganku gemetar di pangkuan, seakan tubuhku tak lagi punya tenaga untuk menyangga kenyataan.
“Aku istri keduanya, Rum,” ucapku lirih, nyaris tak bersuara.
“Hah?!”
Arumi membeku. Mulutnya ternganga, seolah kata-kata itu baru saja menampar kesadarannya dengan keras.
Beberapa detik berlalu dalam diam yang mencekik. Lalu Arumi berdiri tiba-tiba, matanya memerah menahan amarah.
“Ya Allah, Rania…” suaranya melembut, penuh rasa sakit. “Berarti selama ini kamu hidup dalam kebohongan…”
Aku mengangguk pelan. Air mataku jatuh tanpa suara.
“Kurang ajar emang si Bram itu,” geram Arumi. Rahangnya mengeras, matanya berkilat menahan amarah.
“Bram cerita semuanya, atau kamu tahu sendiri, Ran?” tanyanya kemudian, suaranya terdengar lebih hati-hati.
Aku menarik napas panjang. Dadaku terasa sesak saat ingatan itu kembali satu per satu.
“Aku tahu sendiri, Rum…” jawabku lirih.
Perlahan aku menceritakan semuanya—tentang kebohongan kecil yang terus menumpuk, tentang jawaban Bram yang katanya aku rekan bisninya, tentang firasat yang selama ini kutepis karena terlalu percaya.
Arumi mendengarkan tanpa menyela. Setiap ceritaku membuat wajahnya semakin tegang, napasnya memburu, hingga tangannya mengepal kuat.
“Gila…” gumamnya penuh amarah. “Dia sengaja, Ran. Dia sengaja mempermainkan kamu.”
Aku menunduk, air mataku jatuh lagi.
“Sekarang aku nggak tahu harus gimana, Rum…”
Arumi mendekat lalu memelukku erat.
“Kamu nggak sendirian. Apa pun yang kamu putuskan nanti, aku ada di pihak kamu.”
“Jadi sekarang Bram di mana?” Arumi mondar-mandir gelisah. “Pengen banget aku maki-maki dia.”
“Dia nggak pulang,” jawabku pelan. Suaraku terdengar kosong, seperti sudah kehabisan tenaga.
“Dan dari kejadian itu kamu belum ketemu dia lagi?”
Arumi berhenti tepat di depanku, menatapku tajam.
Aku menggeleng pelan. Tenggorokanku terasa tercekat hanya dengan mengingat namanya.
“Gila!” Arumi menghembuskan napas kasar. “Ini bener-bener gila!”
Nada sinisnya sarat amarah—bukan padaku, tapi pada laki-laki yang dengan sadar menghancurkan hidupku.
Arumi menatapku lama, lalu menarik napas dalam.
“Kita cari dia sekarang, Ran. Aku temenin. Aku nggak terima kamu diperlakukan kayak gini.”
Aku menggeleng pelan. Tanganku terangkat, menghentikan langkahnya.
“Jangan, Rum.” Suaraku lirih, tapi kali ini ada ketegasan di sana. “Aku yang mau nyelesain.”
Arumi memicingkan mata, jelas tak setuju.
“Kamu yakin? Dia udah nyakitin kamu sejauh ini.”
“Aku tahu,” jawabku sambil menunduk. Dadaku bergetar menahan perasaan yang berantakan. “Tapi ini urusanku. Aku yang nikah sama dia. Aku yang harus dengar penjelasannya… langsung dari mulutnya.”
Arumi terdiam. Beberapa detik terasa panjang sebelum akhirnya ia menghela napas berat.
“Rania,” katanya pelan, “aku takut kamu malah makin terluka.”
Aku mengangkat wajahku. Mataku basah, tapi tekadku sudah bulat.
“Kalau aku terus lari dan sembunyi, aku nggak akan pernah benar-benar selesai, Rum.”
Arumi mendekat, memelukku erat.
“Baik. Tapi janji satu hal.”
Aku menatapnya.
“Kalau dia menyakiti kamu lagi—dalam bentuk apa pun—kamu langsung cari aku. Jangan sendirian.”
Aku mengangguk pelan.
----
Malam itu aku duduk sendiri di ruang tamu. Lampu sengaja tak kuhidupkan seluruhnya, hanya satu yang redup, menemani kesunyian yang makin terasa menyesakkan.
Di luar, hujan turun tanpa jeda. Suaranya bertabrakan dengan atap, seperti ikut meluapkan kegaduhan di kepalaku. Jalanan sepi. Jam di dinding berdetak terlalu keras di telingaku.
Aku menunggu.
Bukan dengan amarah yang meluap, tapi dengan hati yang lelah.
Sesekali aku melirik ponsel di atas meja. Layar gelap. Tak ada pesan. Tak ada panggilan. Seolah namaku sudah tak lagi penting baginya.
Jam menunjukkan lewat tengah malam ketika suara mobil akhirnya terdengar pelan memasuki halaman. Jantungku berdegup kencang, tak karuan.
Aku berdiri. Kakiku gemetar, tapi aku memaksa diri tetap tegak.
Pintu terbuka.
Sosok Bram muncul di ambang pintu, basah oleh hujan, wajahnya lelah—dan bagiku, asing.
Untuk sesaat, kami saling menatap dalam diam.
Hujan masih turun di luar, tapi badai sesungguhnya… baru akan dimulai di dalam rumah ini.
Bram menutup pintu pelan. Sepatunya ia lepas seperti biasa, gerakannya tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menghancurkan hidup orang lain.
“Kamu belum tidur?” tanyanya datar, seolah malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya.
“Aku nunggu kamu,” jawabku singkat.
Ia melirik jam tangannya. “Udah malam.”
“Aku tahu.”
Hening. Hanya suara hujan yang masih setia jatuh di luar.
Bram melangkah mendekat, lalu berhenti ketika melihat wajahku yang tak lagi menampilkan senyum.
“Ada apa?” tanyanya, masih dengan nada yang sama.
“Kamu udah punya istri sebelum nikah sama aku,” ucapku pelan. Bukan bertanya. Menyatakan.
"Rania, aku—”
“Aku apa?!” potongku tajam. Dadaku naik turun, tapi aku memaksa suaraku tetap jelas.
“Apa maksud kamu, Bram? Kenapa kamu nggak jujur dari awal?” Aku menatapnya lurus.
“Kalau aku tahu kamu sudah beristri, aku
pasti menolak menikah dengan kamu, Bram!”
Tanganku mengepal, kuku-kukuku menekan telapak. Aku menelan emosi yang ingin meledak, memaksa diriku tetap berdiri tegak.
“Aku minta maaf, Ran…” katanya akhirnya. Suaranya melembut, seolah itu cukup untuk menghapus segalanya.
“Aku sungguh nggak bisa nahan rasa ingin memiliki kamu. Pria mana yang nggak tertarik dengan perempuan secantik dan semenarik kamu?” Ia melangkah sedikit mendekat.
“Selain cantik, kamu baik… kamu cerdas.”
Aku tersenyum kecil. Hambar.
“Jadi itu alasanmu?” tanyaku pelan. “Kamu ingin memiliki aku?”
Bram terdiam.
“Aku bukan barang, Bram,” lanjutku dingin. “Aku manusia. Aku butuh kejujuran, bukan pujian.”
“Aku cinta kamu,” katanya cepat, hampir seperti panik.
Aku menggeleng.
“Cinta nggak datang bareng kebohongan,” ucapku lirih tapi tegas.
“Kalau kamu cinta, kamu nggak akan mengorbankan hidupku demi keinginanmu sendiri.”
Ia menatapku, tak lagi punya kata.
“Malam ini aku dengar semuanya,” kataku sambil menghela napas panjang.
“Tapi jangan minta aku pura-pura baik-baik saja. Aku butuh waktu… dan kamu butuh belajar bertanggung jawab.”
****