NovelToon NovelToon
The Wrong Proposal

The Wrong Proposal

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Ketika Adrian Richard memutuskan untuk melamar di atap gedung yang romantis, ia mengira semuanya sudah terencana sempurna.
Namun saat ia berlutut, wanita yang berbalik bukanlah kekasihnya, melainkan orang asing bernama Briana Edmond.
Apa yang dimulai sebagai tawa bersama atas kesalahan konyol berubah menjadi bencana saat kekasih Adrian datang dan menyaksikan apa yang tampak seperti pengkhianatan.

Kini, saat satu hubungan hancur, ikatan tak terduga mulai muncul di antara dua orang asing yang tidak seharusnya bertemu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Siang itu, atmosfir di lantai 22 The Sterling Hotel salah satu aset properti milik keluarga besar Azkara, terasa begitu dingin dan mencekam. Alana Richard terpilih sebagai muse utama untuk kampanye busana Muslimah internasional, dan pihak agensi memutuskan untuk menggunakan executive suite hotel ini sebagai ruang ganti eksklusif karena pencahayaannya yang sempurna.

Alana baru saja menyelesaikan sesi pertama. Ia masuk ke dalam kamar ganti yang luas, berniat mengganti gaun sutranya dengan koleksi terbaru yang lebih berani dalam potongan namun tetap santun. Namun, saat ia baru saja menurunkan ritsleting gaunnya hingga ke pinggang, memperlihatkan bahu mulusnya yang hanya tertutup pakaian dalam tipis, pintu kamar terbuka dan terkunci seketika.

Itu Azkara.

Pria itu berdiri di sana dengan mata yang merah, bukan karena alkohol, melainkan karena kemarahan dan obsesi yang gelap. Ia tampak sangat muak melihat bagaimana semua orang di hotelnya memuja Alana seolah wanita itu adalah malaikat tanpa celah.

"Ternyata begini wujud kesucian yang dipuja seluruh New York?" suara Azkara bergetar, penuh racun. Ia melangkah maju, menutup jarak dengan cepat hingga Alana terpojok di antara meja rias dan dinding.

Alana mencoba tetap tenang. Sebagai wanita modern yang tangguh, ia tidak langsung histeris. "Azkara, keluar. Kau melanggar privasi dan kontrak kerja ini," ucap Alana dengan nada yang berusaha ia buat sedingin es, meski jantungnya berdegup kencang.

"Kontrak? Ini hotel keluargaku, Alana! Aku bisa melakukan apa saja di sini," Azkara tertawa sinis, wajahnya mendekat hingga Alana bisa merasakan napas pria itu yang memburu. "Aku muak melihatmu berpura-pura tenang. Aku ingin melihatmu hancur. Aku ingin melihatmu memohon seperti wanita yang pernah meninggalkanku!"

Azkara kehilangan kendali. Luka masa lalu yang ia simpan terhadap wanita berhijab seolah meledak di depan Alana. Tanpa peringatan, ia merenggut tangan Alana dan menekannya ke dinding. Ia mulai menciumi leher Alana dengan kasar, sebuah tindakan yang bukan didasari oleh cinta, melainkan keinginan untuk menaklukkan dan merusak.

"Hentikan, Azkara... kumohon," bisik Alana. Ia mencoba mendorong dada bidang pria itu, namun tenaga Azkara jauh lebih kuat.

"Tidak, Alana. Aku akan membuat wanita sepertimu bertekuk lutut. Jangan memintaku berhenti," desis Azkara di telinga Alana.

Ciuman Azkara turun ke bahu dan selangka Alana, meninggalkan bekas kemerahan yang banyak di sana, tanda yang sangat kontras dengan kulit putih bersih Alana. Alana merasakan kehancuran yang nyata. Ia merasa kedaulatan atas tubuhnya sedang dirampas oleh kebencian seorang pria yang bahkan tidak ia kenal dengan baik.

"Hentikan! Tolong! Seseorang tolong aku!" Alana berteriak sekuat tenaga.

Azkara tertawa getir di sela sentuhan kasarnya. "Berteriaklah sesukamu. Kau tahu kamar ini kedap suara, Alana. Tidak ada yang akan datang menyelamatkanmu. Di sini, hanya ada aku dan kepalsuanmu."

Air mata Alana mulai jatuh. Ia merasa sesak, bukan hanya karena sentuhan fisik Azkara yang kasar, tapi karena ia melihat betapa hancurnya jiwa pria di depannya ini hingga tega melakukan hal sekeji ini hanya untuk memuaskan rasa sakit hatinya.

Saat tangan Azkara mulai bergerak lebih jauh, berusaha menanggalkan sisa gaun yang melekat di tubuh Alana, Alana mengumpulkan seluruh keberanian dan martabatnya. Ia berhenti melawan secara fisik, dan memilih untuk menyentuh nurani Azkara yang ia tahu masih ada di balik lapisan tato itu.

Alana menatap langsung ke mata Azkara yang liar. "Azkara, lihat aku!" teriak Alana dengan nada yang penuh wibawa namun bergetar.

Azkara terhenti sejenak, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Alana.

"Kalau kamu memang sangat menginginkan hal ini... kalau kamu merasa ini satu-satunya cara untuk menyembuhkan lukamu... maka nikahi aku dulu, Azkara," ucap Alana dengan tegas. Suaranya tidak lagi menunjukkan ketakutan, melainkan sebuah prinsip yang teguh. "Jadikan aku milikmu secara sah di depan Tuhan dan hukum. Jangan seperti ini. Jangan menjadi pria pengecut yang merusak wanita hanya karena kau pernah disakiti."

Deg.

Kata-kata itu menghantam Azkara seperti petir di siang bolong. Kata Nikah dan Tuhan yang diucapkan Alana dengan penuh keberanian, bukan dengan kemunafikan seolah menyiram api kemarahan di dalam dirinya.

Azkara terpaku. Ia menatap mata Alana yang basah oleh air mata, namun tetap memancarkan harga diri yang tinggi. Ia melihat bekas merah yang ia buat di leher Alana, dan tiba-tiba, ia melihat bayangan dirinya sendiri sebagai monster.

Tangan Azkara yang tadinya mencengkeram kuat, perlahan melemas dan terlepas. Ia mundur dua langkah, napasnya tersengal-sengal. Kesadaran menghujamnya dengan keras.

"Maaf... maafkan aku, Alana..." suara Azkara pecah. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, gemetar hebat. "Aku... aku benar-benar gila. Apa yang sudah kulakukan?"

Suasana kamar yang tadinya panas karena ketegangan, kini berubah menjadi hening yang menyakitkan. Azkara terduduk di lantai, menyandarkan punggungnya pada tempat tidur, tampak sangat hancur oleh rasa malunya sendiri. Ia baru saja mencoba melakukan hal yang paling ia benci, menjadi pria yang tidak menghargai wanita.

Alana menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur detak jantungnya. Sebagai wanita yang tangguh, ia tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam trauma yang berkepanjangan. Ia membetulkan gaunnya yang berantakan dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

Tanpa diduga, Azkara bangkit dengan kepala tertunduk. Ia tidak melarikan diri. Dengan tangan yang gemetar, ia mendekati Alana lagi, namun kali ini bukan untuk menyerang. Ia meraih bagian belakang gaun Alana yang terbuka dan membantu menaikkan ritsletingnya dengan sangat hati-hati, seolah takut menyentuh kulit Alana lagi.

"Aku minta maaf, Alana. Aku tidak tahu apa yang merasukiku," bisik Azkara, suaranya dipenuhi penyesalan yang murni. "Aku akan keluar sekarang. Aku akan memastikan tidak ada yang masuk ke sini sampai kau siap."

Alana berbalik, menatap punggung Azkara yang berjalan menuju pintu. Ia melihat tanda-tato di leher pria itu, namun kali ini, ia juga melihat beban berat yang dipikul pria itu.

"Azkara," panggil Alana pelan sebelum pria itu membuka pintu.

Azkara berhenti, namun tidak berani menoleh.

"Jangan pernah biarkan masa lalu mu menjadikanmu pria yang tidak kau kenali lagi," ucap Alana tenang. "Aku tidak akan memasukkan kejadian ini ke dalam hati sebagai kebencian, tapi aku ingin kau tahu... tidak semua wanita adalah pengkhianat."

Azkara terdiam cukup lama, sebelum akhirnya ia keluar dari kamar itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Namun di balik pintu yang tertutup, Azkara bersandar di dinding, menangis dalam diam. Ia menyadari bahwa Alana Richard bukan hanya seorang model dengan wajah cantik, dia adalah wanita pertama yang mampu menembus tembok kebenciannya dengan cara yang paling tidak terduga.

Di dalam kamar, Alana menatap pantulan dirinya di cermin. Ia menyentuh bekas merah di lehernya yang harus ia tutupi dengan foundation tebal untuk sesi foto berikutnya. Ia tahu, mulai hari ini, hubungannya dengan Azkara tidak akan pernah sama lagi. Ada sesuatu yang telah pecah, namun mungkin, ada sesuatu yang juga mulai tumbuh dari reruntuhan itu.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
irma hidayat
lancar sukses rencananya alana
chika aprilia
harusnya 23 tahun kemudian bukan 23 tahun lalu, othor nya salah
ros 🍂: makasih kak udah ingatin 😍🙏
total 1 replies
Mei Mei
/Kiss/
Mei Mei
suka cerita nya
ros 🍂: Makasih kak😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
bagus .. bagus karyamu Thor

tetep sehat
selalu semangat

karyamu jadi relaksasi tersendiri utk ku
ros 🍂: Ma'aciww 😍😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
ditunggu upload nya....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!