Setelah enam tahun tak bertemu, Senja kembali bertemu mantan kekasihnya Arsean.
Pertemuan kembali mereka, mengingatkan luka dan rasa sakit pada dirinya Senja.
Karena di saat itu dia tengah hamil anaknya Sean, namun Sean tak tau. Kedua orang tua Sean pun seolah bungkam dan menginginkan anak dalam kandungannya Senja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
"Kata dokter, kamu sudah bisa pulang." Ucap Dirgantara yang tiba-tiba masuk ke ruangan Senja.
"Baguslah kalau gitu. Aku juga takut, nanti anakku cariin aku." Senja berusaha tersenyum, meski wajahnya masih pucat.
Dirgantara menatap Sean yang masih duduk terdiam.
"Saya yang antar kamu atau kamu mau diantar orang lain?"
"Kalau anda merasa tak repot, saya mohon bantuannya untuk mengantar saya." Ucap Senja dan menurut dia ini pilihan terbaik dari pada diantar Sean.
"Sean, aku akan antar Senja pulang. Kamu juga bisa pulang sekarang!" ujar Dirgantara terhadap Sean.
"Hmmm..baiklah . Aku pulang duluan." Sean sudah tau kalau Senja tak akan mau diantar olehnya.
"Senja.. Kamu cepat sembuh. Aku pulang dulu." Sean mengusap lembut kepala Senja, seperti dulu ketika mereka sempat bersama.
Senja mengangguk, meski membuang pandangan ke arah jendela kaca.
Setelah Sean pergi, tak lama kemudian suster datang untuk membuka infus yang masih menempel di tangan Senja.
Dirgantara terus memperhatikan Senja. Dia bisa menilai kalau ekspresi Senja berubah setelah berbicara dengan Sean tadi.
" Ayo, kita pulang! "Ajak Dirgantara dengan pelan.
Senja mengangguk tapi tatapan matanya masih kosong dan entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
Dirgantara membantu memegang Senja berjalan ke parkiran. Setibanya di parkiran, Dirgantara membantu Senja naik ke dalam mobil.
Dirgantara kemudian melajukan mobil sepelan mungkin agar tak mengganggu Senja yang sepertinya tertidur. Sebenarnya ada ribuan pertanyaan di benaknya yang ingin dia tanyakan ke Senja. Namun dia memilih diam dan tak ingin Senja berfikiran banyak.
Di perjalanan, Dirgantara melihat mini minimarket dan berhenti sejenak. Karena ini sudah agak sore, pasti anak nya Senja sudah di rumah. Dirgantara berinisiatif membeli beberapa cemilan untuk anaknya Senja.
Senja yang tadinya tertidur akhirnya terbangun. Dia cukup terkejut karena hanya dirinya di dalam mobil dan tak ada Dirgantara.
"Apa dia lagi beli sesuatu?" gumam Senja menatap ke pintu minimarket.
Tak lama kemudian Dirgantara datang dengan membawa kantong belanjaan.
"Anda.." ucap Senja menatap banyaknya snack di dalam kantong tersebut.
"Ini untuk anak kamu. Dia pasti cemas karena ku belum pulang juga," potong Dirgantara cepat.
"Tapi ini benar-benar gak perlu kok. Dia juga pasti mengerti," ucap Senja.
"Saya belikan untuk anak kamu, bukan untuk kamu. Jadi kamu gak perlu protes!" Dirgantara kemudian kembali melakukan mobilnya.
Suasana di dalam mobil awalnya hening. Apalagi wajah Dirgantara seperti merasa kesal dari tadi dan Senja tau itu.
"Anda sedang punya masalah?" tanya Senja memberanikan diri.
"Tidak!" jawab Dirgantara singkat.
"Owh." jawab Senja tak ingin bertanya lagi.
Namun sepertinya Dirgantara tak tahan untuk tidak berbicara.
" Apa seperhatian itu Sean terhadap kamu? "
Senja langsung menatap Dirgantara.
" Dulu mungkin iya, sekarang kamu hanyalah dia orang asing. "
"Tapi tatapan dia terhadap kamu tidak seperti orang lain. Dia masih memiliki rasa itu terhadap kamu!"
"Anda sok tau!" Senja tersenyum tipis dengan perkataan Dirgantara.
"Saya bukan sok tau. Saya seorang laki-laki dan saya tau bagaimana tatapan seorang pria terhadap seorang wanita."
"Sean hanya terbawa suasana karena alergi aku kambuh. Dia hanya merasa bersalah dengan apa yang terjadi terhadap aku. Dia sudah memiliki Rea." Ucap Senja menatap lurus ke depan.
" Bagaimana kalau dia tak memiliki Rea? Apakah kamu akan kembali bersamanya?"
Senja terdiam sejenak.
" Misal pun masih ada perasaan di antara kami, aku akan memilih untuk tidak bersama nya. Dia berhak mendapatkan pasangan yang setara dan cocok dengan dirinya. Sedangkan aku memilih tak bersamanya, karena aku tak ingin mengulang perasaan yang lama."ujar Senja dengan tenang.
" Anda tau cinta itu tak harus tetap bersama. Saling merelakan adalah hal terbaik menurut saya." lanjut Senja.
" Gelas yang retak tak akan bisa seperti semula, meski direkatkan seperti bentuk awalnya."
"Owh.." jawab Dirgantara.
Entah mengapa perasaan Dirgantara menjadi lega mendengar jawaban Senja. Bukan karena kejujuran dari perasaan Senja, namun jawaban Senja yang mengatakan kalau dirinya dan Sean mustahil untuk bersama lagi.
**
Tak lama kemudian Dirgantara dan Senja sudah sampai di tempat tinggalnya Senja.
Baru saja turun dari mobil, Angkasa berlari kecil dari dalam rumah.
"Ibu.." Panggil Angkasa memeluk Senja.
" Wajah ibu kenapa? " Angkasa menatap heran wajah ibunya.
"Tadi ibu kamu alergi, makanya ada ruam-ruam seperti itu." jawab Dirgantara.
"Beneran Bu?"
Senja mengangguk pelan.
"Kalau gitu ayo kita masuk,Bu. Ibu harus istirahat supaya sakit cepat sembuh." ucap Angkasa dengan polosnya.
"Baiklah!"
Angkasa kemudian menatap Dirgantara.
"Ayo om,masuk!" ajak Angkasa.
"Hmmm baiklah,jika kamu memaksa." Ucap Dirgantara mengambil kantong belanjaannya tadi dan duluan masuk ke dalam rumah Senja.
"Om silahkan duduk!" ucap Angkasa.
Dirgantara kemudian duduk lesehan ,karena memang tak ada sofa di dalam rumah Senja.
" Sudah berapa lama kamu tinggal di sini?" tanya Dirgantara.
" Hampir seumur Angkasa," jawab Senja.
"Hmmm.." Dirgantara mengangguk-angguk paham.
"Oh ya,kamu istirahat saja beberapa hari ini. Setelah kamu merasa baikan,baru kamu masuk kerja lagi!"
"Baik pak Dirgantara.Dan.. Terimakasih sudah membawa saya ke rumah sakit, bahkan mengantarkan saya pulang."
" Itu sudah tugas saya,sebagai atasan kamu!"
"Kalau gitu,saya pulang dulu." Ucap Dirgantara pamit.
"Angkasa,ini ada beberapa jajanan buat kamu. Jangan lupa habiskan ya!" Dirgantara mengusap lembut kepalanya Angkasa sebelum keluar dari rumahnya Senja.
" Om itu baik juga ya,Bu. Jadi pusing angkasa milih antara om tampan dan om tadi buat jadi ayahnya Angkasa."Celetuk Angkasa tanpa sadar.
" Om tampan?" Tanya Senja pada anaknya.
" Itu Bu.. Om-om yang katanya teman ibu juga." Angkasa sedikit gugup takut ibunya curiga kalau dia bertemu dengan Om tampan,yang tak lain adalah Sean.
" Angkasa..mereka hanya kenalan ibu saja,bukan berarti mereka akan jadi ayah kamu!" Senja mengusap kepala Angkasa,agar anaknya itu mengerti.
" Iya,Bu. Angkasa mengerti ,"jawab Angkasa meski dia sedikit kecewa dengan jawaban ibunya.