NovelToon NovelToon
Pamanku Ternyata Jodohku

Pamanku Ternyata Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: RUNTUHNYA PERTAHANAN.

Suara tawa dari ruang makan itu terdengar seperti duri yang menusuk pendengaran Valerie. Di balik pilar marmer yang dingin, ia berdiri mematung, meremas ujung sweter usangnya. Di sana, di bawah pendar lampu kristal yang mewah, sebuah perjamuan sedang berlangsung. Perjamuan yang merayakan keberhasilan Kak Adrian sebagai dokter muda, sekaligus perjamuan yang mengubur keberadaan Valerie sedalam mungkin.

​"Adrian adalah kebanggaan keluarga ini," suara Ayah menggelegar, penuh dengan nada kemenangan. "Ayah sudah menyiapkan kunci mobil baru di atas meja kerjamu. Itu hadiah kecil untuk statusmu yang sekarang."

​Ibu menimpali dengan senyum yang tak pernah ia berikan pada putri bungsunya.

"Tentu saja. Investasi kami pada Adrian tidak pernah sia-sia. Tidak seperti..." Ibu menggantung kalimatnya, namun matanya melirik sinis ke arah tangga, seolah tahu Valerie ada di sana. "Tidak seperti anak yang hanya tahu cara menghabiskan uang tanpa memberikan hasil apa pun."

​Valerie memejamkan mata. Setiap kata adalah sembilu. Di rumah ini, ia bukan lagi seorang anak, melainkan sebuah kesalahan dalam catatan keluarga Adiwijaya. Bakat melukisnya dianggap sampah, dan keberadaannya hanya dianggap sebagai beban finansial.

​Malam itu, keputusan Valerie sudah bulat. Dengan ransel hitam yang hanya berisi beberapa helai baju dan sisa tabungan recehannya, ia memanjat keluar jendela kamar. Ia meninggalkan sebuah catatan singkat di atas meja yang berdebu: “Jangan cari aku, karena aku memang tidak pernah ada bagi kalian.”

Ia berlari menembus hujan, membiarkan tubuhnya menggigil demi sebuah rasa yang ia sebut kebebasan. Namun, kebebasan ternyata memiliki harga yang mahal.

​*Tiga bulan kemudian*

​Udara di dalam kelab malam 'The Void' terasa pengap, jenuh oleh aroma tembakau, keringat, dan alkohol murah. Musik techno berdentum liar, menggetarkan lantai kayu yang lengket. Valerie duduk di sudut sofa yang robek, menatap hampa pada kerumunan manusia yang sedang kehilangan arah.

​Riasan smokey eyes yang tebal menyembunyikan luka di matanya, sementara jaket denim yang penuh coretan spidol menjadi perisai bagi kerapuhannya. Ia dikenal sebagai 'si penyendiri' di tempat ini. Meski dikelilingi pergaulan bebas, Valerie tetap menjaga jarak. Ia butuh tempat untuk menghilang, bukan untuk hancur.

​"Valerie?"

​Sebuah suara berat dan berwibawa memecah kebisingan tepat di atas kepalanya. Suara itu begitu tenang, namun memiliki daya ledak yang membuat jantung Valerie berhenti berdetak sejenak.

​Valerie mendongak. Di depannya berdiri seorang pria yang tampak seperti anomali di tengah sarang penyamun ini. Kemeja putihnya yang licin, kacamata bingkai tipis, dan tatapan matanya yang tajam di balik lensa kaca memperlihatkan kelas yang berbeda.

​"Paman... Revan?" bisik Valerie nyaris tak terdengar.

​Revanza Malik. Adik angkat ibunya yang sudah bertahun-tahun menghilang di luar negeri untuk mengejar gelar akademisnya. Kini, pria itu berdiri di sana, menatap Valerie dengan kilatan amarah yang dingin.

​"Jadi ini tempatmu bersembunyi?" Revan bertanya, suaranya rendah namun mengandung tekanan yang luar biasa. "Bergaul dengan sampah jalanan dan membuang martabatmu?"

​"Apa pedulimu!" Valerie mencoba berdiri, namun kepalanya mendadak pening, mungkin karena pengaruh seteguk minuman yang dipaksakan temannya tadi. "Pergi! Kau bukan siapa-siapaku!"

​Revan tidak bergeming. Ia justru maju satu langkah, memperpendek jarak hingga Valerie bisa mencium aroma kayu manis yang maskulin dari tubuh pria itu. Tiba-tiba, tangan Revan mencengkeram pergelangan tangan Valerie. Kuat, hangat, dan seolah tidak akan pernah melepaskannya lagi.

​Tubuh Valerie mendadak lemas. Namun, di saat yang bersamaan, ia menangkap pergerakan berbahaya di belakang punggung Revan.

​Bara, seorang preman kelab yang sejak tadi mengincar Valerie, mulai melangkah mendekat. Di tangannya ada botol pecah yang mengancam, matanya merah penuh kilat permusuhan karena merasa wilayahnya diganggu oleh pria asing berjas rapi ini.

​Belum sempat Valerie berteriak memperingatkan Revan, ia melihat hal lain yang jauh lebih mengerikan. Di sudut remang-remang, seorang pria lain sedang mengarahkan kamera ponselnya tepat ke arah mereka. Kilatan lampu flash yang redup menangkap momen intim namun menyesatkan itu: seorang dosen terhormat yang tampak sedang bersitegang dengan seorang gadis remaja di sebuah kelab malam kelas bawah.

​Valerie tidak menyadari bahwa detik itu, sebuah jebakan besar sedang mengintai mereka berdua. Sebuah skandal yang telah dirancang oleh keadaan atau mungkin oleh takdir yang licik.

​Skandal itulah yang akan menyeret pria dingin di depannya ini ke dalam hidup Valerie selamanya. Bukan lagi sebagai seorang paman yang dihormati, melainkan sebagai pria yang akan mengikatnya dalam janji suci di depan penghulu, dalam sebuah pernikahan yang dibangun di atas reruntuhan reputasi.

​Pelarian Valerie baru saja menemui jalan buntu yang paling gelap, dan pria yang mencengkeram tangannya ini adalah satu-satunya pintu yang tersisa.

"Lepaskan aku!" suara Valerie melengking, berusaha menyaingi dentuman musik yang memekakkan telinga. Ia meronta, mencoba menarik tangannya dari cengkeraman kokoh Revan. Namun, jemari pria itu seperti borgol besi; dingin, namun mustahil untuk dilepaskan.

Revan tidak membalas dengan kata-kata. Rahangnya mengeras, memperlihatkan gurat kemarahan yang tertahan di balik wajah tenang nan akademisnya. Ia tidak butuh penjelasan mengapa keponakan angkatnya berada di tempat kotor seperti ini. Aroma alkohol yang menguar dari meja di depan Valerie sudah cukup menjelaskan segalanya.

"Kau pulang denganku. Sekarang," perintah Revan, suaranya rendah namun penuh otoritas yang tak terbantahkan.

"Aku tidak mau! Siapa kau berani mengaturku?!" Valerie berteriak, air mata mulai menggenang karena rasa frustrasi yang memuncak.

Melihat perlawanan Valerie yang semakin liar, kesabaran Revan mencapai batasnya. Tanpa aba-aba, Revan merengkuh pinggang Valerie dan menyentakkannya ke dalam gendongan. Ia membopong gadis itu di bahunya seolah Valerie tidak lebih dari beban ringan yang harus segera dipindahkan.

"Revan! Turunkan aku! Kau gila!" Valerie memukul-mukul punggung tegap Revan, kakinya menendang udara dengan sia-sia.

Langkah Revan terhenti saat sesosok tubuh tegap menghadang jalan mereka. Itu Bara. Pria itu berdiri dengan botol pecah di tangannya, napasnya berbau alkohol tajam, dan matanya menatap Revan dengan penuh kebencian.

​"Hei, bung! Turunkan dia," desis Bara, ujung botol pecah itu mengarah tepat ke dada Revan. "Valerie tidak ingin ikut denganmu. Jangan sok jagoan di tempat orang kalau tidak mau pulang tinggal nama."

​Suasana di sekitar mereka mendadak tegang. Teman-teman Valerie yang lain mulai membentuk lingkaran, menonton drama yang terjadi di tengah lantai dansa. Valerie berhenti meronta, jantungnya berdegup kencang karena ketakutan. Ia tahu Bara adalah tipe pria yang tidak segan-segan bermain fisik.

​Revan menatap Bara dengan sorot mata yang begitu dingin, hingga nyali pria di depannya itu tampak sedikit menciut. Ia tidak tampak gentar sedikit pun oleh pecahan botol di tangan Bara.

​"Minggir," ucap Revan pelan, namun setiap katanya terasa setajam belati.

​"Siapa kau?" tantang Bara lagi, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya.

"Kekasihnya? Dia tidak butuh pria tua sepertimu!"

1
Nur Mei
semangat ngetiknya kak😁
EILI sasmaya: Terimakasih, 🥰
total 1 replies
sweet chil
tetap semangat Thor .. 🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!