NovelToon NovelToon
ABU DARI SIKLUS ABADI

ABU DARI SIKLUS ABADI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Romansa Fantasi / Action / Fantasi Isekai / Komedi
Popularitas:747
Nilai: 5
Nama Author: Varss V

Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 3 - SI PERAK YANG BISU

Wanita berambut perak itu berjalan cepat. Terlalu cepat untuk ukuran orang yang menyusuri hutan lebat. Kakinya melangkah pasti, menghindari akar dan batu dengan gerakan gesit yang seolah sudah menghafal medan ini.

Sedangkan Ash?

Dia nyaris jatuh setiap tiga langkah.

"Eh, Mbak... tunggu dong!" teriak Ash, sambil memegang sebatang pohon untuk menahan napas. "Kau lari seperti dikejar setan! Aku ini manusia biasa, bukan atlet!"

Dia tidak menjawab. Bahkan tidak menoleh. Cuma terus berjalan.

Ash menghela napas. Dalam hati sudah bergumam seribu sumpah serapah. Tapi apa boleh buat. Pilihannya cuma dua: tetap di sini sendirian dengan kemungkinan bertemu monster lagi, atau mengikuti ninja moody ini ke mana pun dia pergi.

Dengan berat hati, Ash mengejarnya lagi.

Mereka berjalan mungkin sekitar setengah jam. Matahari mulai tinggi, menembus kanopi daun dan membuat bayangan aneh di tanah. Suara hutan jadi latar yang konstan: kicau burung, desir daun, dan bisikan aneh yang kadang membuat tengkuk Ash merinding.

Akhirnya, mereka sampai di tempat yang agak terbuka. Sebuah lapangan kecil dengan rumput pendek, dan di tengahnya ada pondok kayu sederhana. Tidak besar. Lebih mirip gubuk darurat. Tapi setidaknya, itu bangunan. Tanda peradaban.

"Masuk," ucap Eveline singkat, sambil mendorong pintu kayu yang reyot.

Ash melongok ke dalam. Gelap. Bau apek dan tanah basah. Tapi lebih baik daripada tidur di bawah pohon.

"Makasih," gumam Ash, lalu melangkah masuk.

Interiornya persis seperti yang dibayangkannya: sederhana sampai menyedihkan. Satu tempat tidur papan dengan alas jerami. Meja kecil dari kayu lapuk. Dan perapian sederhana di sudut yang sudah padam. Tidak ada jendela. Hanya celah-celah di dinding yang memungkinkan sinar matahari masuk seperti garis-garis tipis.

Eveline menutup pintu, membuat ruangan jadi lebih gelap. Lalu dia berjalan ke perapian, mengambil batu api, dan mulai menyalakan kembali sisa kayu bakar.

Ash berdiri di dekat pintu, merasa canggung.

"Jadi... ini rumahmu?"

Eveline mengangguk singkat. Dia berdiri dan berjalan ke sudut lain, mengambil sebuah kantong kulit, lalu mengeluarkan dua potong roti keras dan sepotong kecil daging asap. Satu set dia taruh di meja untuk Ash, satunya lagi dia bawa ke tempat tidur dan mulai makan dengan tenang.

Ash menatap roti itu. Perutnya keroncukan. Tapi ada sesuatu yang mengganjal.

"Kau tidak takut aku maling atau apa?" tanyanya sambil duduk di bangku kayu yang reyot di depan meja.

Eveline meliriknya. Matanya yang kosong itu seperti menilai sesuatu.

"Kau lemah," ucapnya sederhana. "Tidak bisa melukaiaku."

"Oke, fair enough." Ash mengambil roti dan menggigitnya. Keras. Sangat keras. Rasanya seperti menggigit kulit sepatu yang dibumbui tanah. Tapi demi mengisi perut, dia kunyah juga. "Tapi kan masih ada risiko, misalnya aku tipu-tipu kau, ternyata aku jago silat?"

"Kau terlalu ribut," balas Eveline, masih dengan nada datar. "Orang yang berbahaya tidak ribut."

Ash terdiam. Dia tidak tahu harus tersinggung atau tertawa.

"Aku dianggap tidak berbahaya karena aku cerewet? Itu rasialis banget."

Eveline tidak menjawab. Dia selesai makan, lalu membersihkan sisa remah di tangannya dengan gerakan efisien. Setelah itu, dia berdiri dan mulai memeriksa belati-belati yang disimpan di pinggangnya. Membersihkannya, mengasahnya dengan batu halus.

Ash mengamatinya. Gerakannya presisi. Tidak ada yang sia-sia. Setiap gerakan punya tujuan. Dia seperti mesin yang diprogram untuk bertahan hidup.

"Jadi... kau adventurer? Atau pemburu? Atau... ninja?" tanya Ash lagi, tidak bisa diam.

"Pembunuh."

Jawaban itu keluar dengan mudah, membuat Ash tersedak rotinya.

"P-Pembunuh?!" batuk Ash sambil menepuk dadanya. "Serius?!"

Eveline mengangguk, masih fokus mengasah belatinya.

"Tapi... kenapa kau selamatkan aku? Biasanya kan pembunuh mah bayaran, malah bisa jadi target aku, kan?"

"Kau bukan target," jawab Eveline. "Dan kau tidak punya uang."

"Lalu kenapa?"

Eveline berhenti mengasah. Dia menatap Ash lama-lama, seperti mempertimbangkan sesuatu.

"Kau punya rambut aneh," ucapnya akhirnya. "Dan tadi ada cahaya dari tanganmu."

Ash mengernyit. Jadi dia melihat.

"Aku juga tidak mengerti itu," akuinya. "Itu tadi pertama kalinya. Seperti refleks saja."

"Kau bukan penyihir," kata Eveline. "Penyihir punya tongkat atau fokus. Kau hanya... mengangkat tangan."

"Jadi kau penasaran?"

Eveline mengangguk.

"Oke." Ash menghela napas. "Jadi intinya, kau selamatkan aku karena aku kelinci percobaan?"

"Kurang lebih."

Jujur. Terlalu jujur.

Ash tidak tahu harus merasa terselamatkan atau terancam.

"Dan... kau tidak takut sama kekuatan aneh aku tadi? Mungkin aku berbahaya?"

Eveline kembali mengasah belatinya. Suara gesekan batu dan logam itu memenuhi gubuk.

"Semua berbahaya," ucapnya pelan. "Tapi ketidaktahuan lebih berbahaya. Lebih baik aku yang mengawasi."

Ash terdiam. Ada logika aneh di sana. Mungkin dia benar. Dalam kondisi seperti ini, tidak tahu apa-apa bisa lebih mematikan daripada punya musuh yang jelas.

Malam pun tiba dengan cepat. Api di perapian jadi satu-satunya sumber cahaya. Eveline memberi Ash selimut kasar yang baunya seperti campuran jamur dan tanah, lalu dia sendiri berbaring di tempat tidur papan tanpa selimut, menghadap dinding.

Ash berbaring di lantai dekat perapian, mencoba tidur. Tapi pikirannya berjalan kencang.

Dunia fantasi. Isekai. Goblin. Sihir. Pembunuh.

Dan dia punya sesuatu di dalam dirinya. Cahaya emas itu.

Dia mencoba lagi, mengulurkan tangan ke arah api. Berkonsentrasi. Tapi tidak ada apa-apa. Hanya rasa lelah dan dingin.

"Aku bakal tidur di lantai seperti anjing, ya?" gumamnya pelan.

"Kau bisa tidur di luar kalau mau," suara datar Eveline terdengar dari tempat tidur.

"Ya tidak lah. Di luar ada goblin."

"Goblin takut api."

"Goblin takut api? Baguslah."

"Tapi serigala hutan tidak."

Ash membeku.

"Aku mending di dalam sini."

Dia mendengar suara napas tenang dari tempat tidur. Perlahan, Ash memejamkan mata. Rasa lelah akhirnya menang. Pikirannya mulai berkabut.

Tapi sebelum benar-benar tertidur, dia mendengar suara Eveline lagi, sangat pelan, seperti bisikan angin.

"Besok, kau akan kubawa ke kota."

"Kenapa?" gumam Ash setengah sadar.

"Untuk mengetahui apa kau."

"Dan kalau aku berbahaya?"

"Kubunuh."

Kata-kata itu menggantung di udara. Dingin. Tajam.

Tapi anehnya, Ash tidak merasa takut. Mungkin karena sudah terlalu lelah. Atau mungkin karena suara Eveline tidak bernuansa ancaman. Itu hanya pernyataan fakta. Seperti mengatakan 'besok akan hujan'.

"Oke," balas Ash sambil memeluk selimut kasar itu. "Tapi janji, jangan pakai tusuk-tusuk. Aku takut sakit."

Tidak ada jawaban.

Hanya suara api yang berdesis, dan napas dua orang asing yang terperangkap di gubuk kecil di tengah hutan gelap.

Ash tertidur dengan satu pikiran terakhir.

Aku kena isekai, tapi malah jadi tahanan ninja cewek yang bisu. Plotnya tidak seperti di novel-novel itu.

---

Pagi datang dengan sinar matahari yang menyelinap lewat celah dinding. Ash bangun dengan pegal di sekujur tubuh. Tidur di lantai kayu tanpa alas ternyata tidak segembira di film-film.

Eveline sudah bangun lebih dulu. Dia sedang membungkus sesuatu dengan kain, mungkin persediaan makanan. Di pinggangnya, sudah terpasang empat belati berbeda ukuran.

"Kita pergi," ucapnya tanpa basa-basi begitu melihat Ash membuka mata.

"Bangun saja langsung disuruh jalan lagi?" gerutu Ash sambil berdiri dan meregangkan punggungnya yang kaku. "Tidak ada sarapan?"

Eveline melemparkan sepotong roti keras, sama seperti semalam, ke arah Ash. Dia menangkapnya dengan refleks.

"Makan sambil jalan."

"Keras banget nih roti. Bisa buat patahin gigi goblin."

"Kalau tidak mau, berikan kembali."

"Jangan! Aku lapar!"

Ash menggigit roti itu sambil mengikuti Eveline keluar dari gubuk. Udara pagi di hutan terasa segar dan dingin. Kabut tipis masih menyelimuti pepohonan.

Mereka berjalan. Kali ini, Ash mencoba mengingat jalannya. Tapi semua pohon terlihat sama. Akar besar, daun lebat, cahaya yang temaram. Dia benar-benar tersesat kalau sendirian.

"Kota terdekat apa namanya?" tanya Ash setelah sepuluh menit berjalan dalam sunyi.

"Vairlion."

"Vairlion? Keren namanya. Seperti nama karakter final fantasy."

Eveline tidak menanggapi.

"Jauh tidak?"

"Tiga hari jalan kaki."

"TIGA HARI?!" Ash nyaris tersedak rotinya. "Kau bercanda? Aku tidak bakal kuat!"

"Kau bisa tinggal di hutan."

"..."

Ash menghela napas panjang. Tiga hari. Dengan roti sekeras batu dan pemandu yang bicaranya lebih sedikit dari patung.

Ini akan menjadi perjalanan terpanjang dalam hidupnya.

Tapi setidaknya, dia tidak sendirian.

Atau... mungkin lebih baik sendirian.

"Eh, Eveline," panggil Ash lagi, tidak bisa diam. "Kau jadi pembunuh dari kapan? Sudah berapa lama?"

"Sejak kecil."

"Wah, dari kecil sudah mulai membunuh? Berat juga."

Eveline tidak menjawab. Tapi Ash merasa ada ketegangan kecil di pundaknya.

"Kau tidak punya keluarga?"

"Tidak."

"Teman?"

"Tidak perlu."

"Lalu... kau hidup buat apa?"

Pertanyaan itu membuat Eveline berhenti berjalan. Dia menoleh, mata kosongnya menatap Ash. Ada sesuatu yang berkilat di sana, tapi cepat hilang.

"Untuk bertahan," jawabnya singkat. Lalu dia berjalan lagi, lebih cepat.

Ash terdiam sebentar. Dia merasa baru saja menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak disentuh. Tapi rasa penasarannya lebih besar.

Dia mengejar lagi.

"Aku juga tidak punya keluarga di sini," ucap Ash, tiba-tiba serius. "Maksudku, di dunia ini. Aku... dari tempat lain."

Eveline meliriknya. "Dari mana?"

"Dari tempat yang jauh. Di mana tidak ada goblin, tidak ada sihir. Di mana orang bisa hidup tanpa harus membunuh untuk bertahan."

"Kedengarannya lemah."

Ash tertawa. "Iya, mungkin. Tapi di sana, aku bisa tertawa sama teman-teman, main game, makan mie instan sampai pagi. Hidup sederhana."

"Game? Mie instan?" Eveline mengulangi kata-kata asing itu.

"Ah, lupa. Kau tidak mengerti." Ash tersenyum getir. "Intinya, hidupku dulu biasa saja. Tidak spesial. Tapi sekarang... aku di sini. Dengan rambut aneh dan cahaya aneh. Dan aku tidak mengerti apa-apa."

Mereka berjalan lagi dalam sunyi. Tapi kali ini, sunyinya tidak terlalu tegang.

Sampai tiba-tiba, Eveline berhenti lagi. Tangannya melesat ke belakang, mengambil salah satu belatinya.

Ash langsung waspada. "Ada apa?"

"Di sana," bisik Eveline, matanya tajam menatap ke arah semak-semak di sebelah kiri.

Ash mengikuti arah pandangnya. Awalnya tidak ada apa-apa. Tapi lalu, dia melihatnya. Sesuatu bergerak. Besar. Gelap.

Dan kemudian, munculah seekor... babi?

Tapi bukan babi biasa.

Besar. Sangat besar. Tingginya mungkin setara pinggang orang dewasa. Bulunya hijau tua dengan bercak-bercak lumut. Taringnya melengkung keluar seperti gading mini. Dan yang paling mencolok adalah punggungnya yang ditumbuhi duri-duri kristal tajam yang berkilau di bawah sinar matahari.

"Spike Back Boar," bisik Eveline. "Tier 4 monster. Mereka buta, tapi pendengarannya sangat tajam. Kita harus memutar."

Ash menatap babi-babi itu, ternyata ada empat ekor, sedang mengorek-ngorek tanah dengan moncongnya yang besar.

"Memangnya apa seramnya babi dari angry bird?" bisik Ash balik.

"Jangan konyol. Satu terjangan bisa membuat ususmu keluar untuk menyapa dunia luar," Eveline memperingatkan.

Tapi Ash justru berdiri. "Sabar, Eveline. Ini saatnya aku mencoba sesuatu. Aku baru ingat, kalau di film-film, biasanya kalau kita punya niat baik, hewan liar itu tidak bakal menyerang."

"Ash, jangan—"

Terlambat. Ash sudah melangkah maju dengan tangan terbuka, seolah-olah ingin memeluk babi raksasa itu.

"Halo, Mas Babi. Piggy-piggy..." Ash bicara dengan nada yang sangat ramah dan polos.

Babi-babi itu berhenti makan. Telinga mereka yang lebar berputar ke arah Ash.

"Aku cuma mau tanya jalan ke kota. Kau tahu tidak?" lanjut Ash.

Eveline di belakang semak-semak sudah menepuk jidatnya sendiri. Dia sudah menyiapkan belatinya, yakin bahwa sedetik lagi dia harus memunguti potongan tubuh Ash.

Salah satu babi itu mengeluarkan suara mendengus keras. Dia menghentakkan kakinya ke tanah. Dung! Dung!

"Wah, kau mau main ya? Oke, oke. Aku punya trik!" Ash tiba-tiba melakukan gerakan tangan yang aneh. "Lihat nih! KUCHIYOSE NO JUTSU!"

Ash menghantamkan telapak tangannya ke tanah dengan penuh gaya.

PUFF!

Tidak ada asap. Tidak ada kodok raksasa yang muncul. Yang ada hanyalah debu tanah yang terbang dan mengenai wajah Ash sendiri.

"Uhuk! Uhuk! Aduh, salah mantra ya?" Ash mengusap matanya.

Babi raksasa itu merasa terprovokasi. Dia mengeluarkan raungan nyaring dan langsung menerjang ke arah Ash dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk ukurannya.

"WADUH! BABI NGAMUK! BABI NGAMUK!" Ash berbalik dan lari secepat kilat. "EVELINE! TOLONG! BABINYA TIDAK MAU DIAJAK KOMPROMI! DIA TIDAK SUKA NARUTO!"

"LARI KE ARAH KIRI, BODOH!" teriak Eveline sambil melepaskan dua belati sekaligus.

Wusss! Jleb! Jleb!

Dua belati itu mengenai kaki si babi, membuatnya tersungkur dan berguling-guling. Tapi babi yang lain, total ada empat ekor, sekarang semuanya mengincar Ash.

"KENAPA SEMUANYA KE AKU?!" teriak Ash sambil zigzag di antara pohon. "AKU BUKAN SAYURAN!"

Ash melihat sebuah pohon dengan dahan yang agak rendah. Dengan kekuatan adrenalin yang meledak, dia melompat dan memanjat secepat monyet yang ketakutan.

Dia berhasil duduk di dahan tepat saat seekor babi menghantam batang pohon itu.

BRAKKK!

Pohon itu bergetar hebat. Ash hampir jatuh.

"Woi! Pelan-pelan! Ini pohon cagar alam!" teriak Ash dari atas. "Eveline! Lakukan sesuatu! Pakai jurus pamungkasmu! Apa saja! Excalibur! Buruan!"

Eveline bergerak dengan sangat efisien. Dia melompat dari satu pohon ke pohon lain, melemparkan belati dengan akurasi mematikan. Dalam beberapa menit, tiga babi tumbang dengan belati di mata atau leher mereka. Tersisa satu yang paling besar, yang terus-menerus mencoba menumbangkan pohon tempat Ash berada.

Eveline mendarat di tanah, menarik napas pendek. "Ash, lompat sekarang!"

"Hah? Kau gila? Aku tinggi banget ini! Aku punya fobia ketinggian kalau lagi tidak di pesawat!"

"LOMPAT ATAU KAU MATI SAAT POHON ITU ROBOH!"

Ash melihat batang pohonnya mulai retak.

"OKE, OKE! AKU LOMPAT! TANGKAP AKU YA, MBAK CAKEP!"

Ash menutup matanya dan terjun bebas.

"GERONIMOOOOOO!"

Tentu saja, Eveline tidak menangkapnya dengan tangan. Dia hanya bergeser sedikit, membiarkan Ash jatuh berdebum di atas tumpukan daun kering.

"Aduh... pantatku... sepertinya pecah jadi empat bagian," keluh Ash sambil meringis.

Eveline tidak menghiraukan keluhannya. Dia melesat maju, menginjak punggung babi terakhir yang sedang bingung, dan menghujamkan belatinya tepat di sela-sela duri kristal di tengkuknya. Babi itu tumbang seketika.

Hening kembali menguasai hutan.

Eveline berdiri di atas bangkai monster itu, membersihkan darah di belatinya dengan tenang. Dia menoleh ke arah Ash yang masih berguling-guling di tanah.

"Kau benar-benar makhluk paling tidak berguna yang pernah kutemui," ucap Eveline datar.

Ash duduk, rambut peraknya berantakan dan penuh daun kering. "Eh, jangan salah. Tanpa aku sebagai umpan, kau tidak bakal bisa dapat kill sebanyak itu. Aku itu tipikal support yang mengorbankan diri demi carry."

"Kau bukan support. Kau itu gangguan alam," Eveline menyarungkan belatinya. Dia berjalan mendekati salah satu bangkai babi dan mulai memotong bagian dagingnya dengan ahli.

"Wah, kita mau pesta barbekyu?" Ash mendekat dengan antusias. "Aku punya ide. Gimana kalau kita kasih nama menu ini 'Babi Kristal Saus Isekai'? Pasti laku keras kalau dijual di kota."

Eveline berhenti memotong dan menatap Ash tajam. "Jika kau bicara satu kata lagi tentang makanan atau sistem duniamu yang aneh itu, aku akan memasukkan daging mentah ini ke dalam kerongkonganmu sampai kau tersedak."

Ash langsung melakukan gerakan menutup mulut dengan ritsleting imajiner. Tapi hanya bertahan tiga detik.

"Eveline, satu lagi. Serius. Kau punya korek api? Atau sihir api? Karena kalau kita makan mentah, nanti kita cacingan. Aku tidak mau di isekai cuma buat mati karena cacing pita."

Eveline hanya menghela napas panjang, menatap langit seolah bertanya kepada dewa kenapa dia harus dipertemukan dengan manusia seperti ini.

"Aku punya batu pemantik api. Sekarang diam, dan kumpulkan kayu bakar. Jika kau melakukan hal konyol lagi, aku akan meninggalkanmu di sini sebagai makanan goblin berikutnya."

"Siap, Bos! Laksanakan!" Ash hormat ala militer dengan semangat. "Aku bakal cari kayu bakar kualitas premium. Kayu yang kalau dibakar baunya seperti aroma terapi!"

Ash berlari kecil mencari ranting, sementara Eveline memperhatikannya dari belakang. Ada sesuatu yang aneh.

Meskipun pria itu sangat menyebalkan dan tampak lemah, dia sama sekali tidak menunjukkan rasa takut yang normal. Di dunia yang penuh monster ini, orang biasanya akan gemetar atau menangis, tapi pria bernama Ash ini... dia bertingkah seolah seluruh dunia ini adalah sebuah panggung sandiwara yang lucu.

"Dunia asalmu... tempat macam apa itu, Ash?" bisik Eveline pelan sehingga tidak terdengar.

"OI! EVELINE! AKU NEMU KAYU YANG BENTUKNYA SEPERTI LOGO APPLE! KEREN BANGET!" teriak Ash dari kejauhan sambil mengangkat sebuah dahan patah.

Eveline memejamkan matanya sebentar.

"Lupakan pertanyaanku. Pasti tempat itu isinya orang-orang gila."

---

Malam pun mulai turun di hutan. Di tengah kegelapan, sebuah api unggun kecil menyala. Ash duduk di samping api, mencoba memanggang daging babi dengan ranting pohon, sambil terus bergumam tentang betapa dia merindukan saus sambal dan nasi hangat.

Dia tidak tahu, bahwa jauh di dalam dirinya, sesuatu yang berwarna emas sedang berdenyut pelan, merespon setiap emosi dan kegilaan yang dia tunjukkan. Sesuatu yang sedang menunggu saat yang tepat untuk bangun.

Tapi untuk sekarang, Ash hanya peduli tentang satu hal.

"Mbak, ini dagingnya kalau dikasih garam dikit lagi pasti mantap. Kau tidak punya garam?"

"Diam dan makan, Ash."

"Oke, oke. Galak amat. Pantesan jomblo."

Syuuuut! Jleb!

Sebuah belati menancap tepat di antara celah jari kaki Ash.

"Kau tahu, aku pikir kau wanita tercantik di dunia. Bahkan jika ada peri dia akan minder di depanmu."

Eveline tidak menjawab, tapi Ash bisa bersumpah melihat sudut bibirnya terangkat sedikit.

Sangat sedikit.

Hampir tidak terlihat.

Tapi ada.

1
anak panda
lantorrr thorrrr
anak panda
🔥🔥🔥
Varss V
Di usahakan secepat, dan sebanyaknya ka, kalo suka tolong kasih rating dan like nya ya🙏
anak panda
upp torre
Varss V
oke, makasih
anggita
ikut ng👍like aja, iklan👆.
anak panda
semangat torr
Varss V: Makasih ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!