"Bara, sebaiknya kamu ceraikan saja Aira. Kita bukan orang kaya, dari mana uang sebanyak itu untuk membiayai pengobatannya? " bujuk Norma.
"Bu, uang bisa di usahakan. Bara tak mungkin meninggalkan Aira begitu saja. Aira anak yatim Bu, Bara sudah janji pada kepala panti akan menjaganya."
Bara memohon dengan mata memelas.
Dari dalam kamar, Aira tertunduk mendengar keributan suami dan ibu mertuanya.
Ia menghela nafas dalam. Antara pasrah dan juga berharap.
Aira menatap lekat kertas hasil diagnosa dokter yang masih ada di tangannya. Bulir air mata, menetes satu-satu membasahi kertas itu.
"Apa aku bercerai saja ya dari Mas Bara?" gumam Aira lirih.
Mungkinkah kehidupan rumah tangga yang baru hitungan hari itu mampu bertahan dari ujian itu?
Ikuti kisahnya dalam "WANITA AMNESIA ITU ISTRIKU"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TEKAD
Aira menatap amplop coklat berkop kantor pengadilan agama yang ada di tangannya dengan jantung berdegup. Tangannya gemetar, tak menyangka pernikahan yang masih berusia jagung itu berakhir dengan perceraian.
Ia membuka perlahan dan menatap setiap kata yang tertata rapi dengan tinta hitam.
Aira menarik nafas panjang, memenuhi paru-parunya. Ia melipat surat itu dan memasukannya kembali dalam Amplop.
Laci terbuka, ia simpan amplop itu bersama berkasnya yang lain. Sambil tertunduk ia duduk di sisi ranjang, mencoba menenangkan diri dengan mensyukuri nikmat Allah yang banyak.
"Aku pasti bisa melaluinya, " gumamnya lirih.
Ia teringat pesan Bara sebelum pergi.
"Mulai hari ini, kamu bebas, Aira. Kamu bukan lagi istri Bara. Kamu adalah Aira yang mandiri, seperti saat pertama kali kita bertemu di panti ini dulu."
Aira paham, Bara ingin ia bangkit menjadi Aira yang dulu selalu bersemangat mendampingi anak-anak di panti. Semangat yang membuat Bara jatuh hati padanya. Semangat yang penuh dengan ketulusan.
Aira bertekad akan memulai kebebasannya dengan memenuhi keinginan Bara.
KEESOKAN HARINYA
Pagi hari itu mendung, matahari seolah enggan menampakkan sinarnya. Namun Aira masih bersemangat ke rumah sakit pagi-pagi sekali untuk kontrol setelah diminta mengkonsumsi antibiotik sejak beberapa bulan yang lalu.
Aira duduk cemas di hadapan dokter Faisal yang sedang menatap lembar CT SCAN otaknya yang di pindai beberapa hari sebelumnya.
Dokter Faisal tersenyum, lalu menatap Aira. yang cemas.
"Bu Aira, alhamdulillah hasil pengobatan yang dijalani menunjukkan hasil yang baik. Karena diagnosis terakhir infeksi otak ibu di tingkat menengah, di ketahui lebih awal dan ditangani segera oleh pak Bara, hasil dari pindahan otak Ibu sangat diluar dugaan kami. Alhamdulillah ibu sudah sembuh secara total"
Aira melafazkan dzikir hamdalah berkali-kali dengan suara lirih, airmata menggantung di pelupuknya.
"Terima kasih dokter, " ucapnya lirih.
Tubuhnya berguncang, kepalanya menunduk. Airmata sudah tak terbendung. Dokter Faisal tersenyum dan ikut menarik nafas lega. Ia biarkan Aira melepaskan rasa syukurnya.
Tak lama, Aira akhirnya pamit pulang membawa hasil pindaian otaknya setelah mendapat arahan perawatan mandiri di rumah pasca kesembuhan.
Langkahnya ringan menuju pintu, ia mengangguk dan tersenyum pada dokter Faisal dan perawat sebelum menutup pintu.
"Alhamdulillah ala kulli hal. Terima kasih ya Allah, " ucapnya lagi lirih sambil menatap ke langit saat akan meninggalkan rumah sakit.
Sesampainya di panti, Aira tak tahan untuk segera menyampaikan kabar baik itu pada Siska dan Dharma.
Mereka memeluk Aira bergantian, mengucap selamat dan doa untuk Aira.
"Ibu ikut lega Aira, " ujar Siska haru.
"Selamat sekali lagi Aira, Bi Dharma ikut senang. "
Mereka berpelukan bertiga, air mata mereka berderai ikut merasakan kebahagiaan Aira.
Aira ke kamarnya meletakkan tas dan Map putih hasil pindaian dari rumah sakit tadi. Ia membuka jilbabnya berganti jilbab instan rumahan. Ia menatap diri di cermin yang tergantung di dinding.
Rambutnya yang sempat menipis kini mulai tumbuh kembali, sehat dan berkilau, seiring dengan hatinya yang mulai damai.
***
Bara berdiri di balkon kantornya menikmati kopi hitam yang ia seduh di pantry setelah makan siang tadi. Matanya menatap jauh ke jalanan yang penuh dengan kendaraan.
Namun, pikirannya melintasi gedung-gedung di hadapannya, tertuju pada sebuah bangunan panti di sudut kota yang jauh.
Tiba-tiba, ponsel di saku celananya bergetar.
Panggilan dari Dokter Faisal, spesialis saraf yang selama ini menangani Aira.
"Halo, Assalamualaikum, Dokter."
Suara Bara terdengar sangat tegang. Setiap kali Faisal menelepon, jantung Bara seolah berhenti sejenak.
"Waalaikumsalam, Bara. Saya punya hasil pindai CT Scan terbaru milik Aira. Dia baru saja melakukan kontrol terakhir pagi ini."
Suara Dokter Faisal terdengar sangat tenang, bahkan ada nada lega di sana.
Bara mencengkeram pagar balkon.
"Bagaimana hasilnya, Dok? Apa infeksinya masih ada?"
"Bara, tarik napas dalam-dalam. Hasilnya sempurna. Infeksi otaknya dinyatakan sembuh total. Tidak ada lagi peradangan, jaringan otaknya sudah pulih dengan sangat baik. Amnesianya pun sudah bisa dikatakan pulih seratus persen karena memori jangka pendek dan panjangnya sudah sinkron kembali. Secara medis, Aira adalah wanita yang sehat sepenuhnya."
Bara terdiam. Ia memejamkan mata rapat-rapat, air mata syukur mengalir di pipinya.
"Sembuh total, Dok? Benar-benar tidak ada risiko kambuh?"
"Dengan pola hidup dan lingkungan tenang yang kamu bangun untuknya selama ini, risikonya hampir nol. Dia sudah kuat, Bara."
"Terima kasih, Dokter Faisal. Terima kasih banyak. Entah bagaimana saya harus membalas bantuan Dokter yang sudah menjaga Aira secara rahasia selama beberapa bulan ini."
"Sudah tugas saya, Bara. Tapi jujur, kesembuhannya adalah keajaiban dari semangatnya sendiri dan tentu saja, dukunganmu yang tak putus meski dari jauh."
"Alhamdulillah, saya tak banyak membantu dok, itu kehendak Aira yang kuat. Terima kasih sekali Dok."
Telpon berakhir. Meletakkan cangkir di lantai balkon spontan bersujud menyandarkan keningnya di lantai balkon.
Airmatanya kembali mengalir deras, sambil bibir terus melafalkan dzikir syukur pada Allah.
Ini adalah obat untuk hatinya yang sempat perih setelah menerima surat akta cerai yang dikirimkan pengadilan agama ke kantornya pagi tadi.
Bara bangkit, lalu melangkah menuju ruang kerjanya.
Saat baru sampai di ruang kerjanya, sebuah notifikasi pesan video masuk dari Siska terdengar dari ponselnya. Bara segera membukanya. Di video itu, Aira terlihat sedang tertawa bersama anak-anak panti, wajahnya bersinar, kulitnya segar, dan matanya memancarkan kecerdasan yang dulu sempat hilang.
[Assalamu'alaikum, Bara. Alhamdulillah pagi tadi Aira ke rumah sakit untuk kontrol, hasilnya sangat membahagiakan. Aira sudah sembuh total. ]
^^^[Alhamdulillah, Bu. Barusan dokter Faisal telpon Bara kasih info itu. Bara ikut senang, Bu. ]^^^
[Alhamdulillah, Bara. Ibu lihat sendiri bagaimana tekad dan semangatnya sejak kamu pergi waktu itu. Aira berjanji menjalankan pesanmu untuk terus berobat dan mengabdi di panti. Ia banyak berubah. ]
^^^[Alhamdulillah, Bu. Melihat video yang ibu kirim tadi, Bara yakin, yang ibu katakan benar. Aira jadi lebih baik. ]^^^
[Dia rindu padamu, Bara. Ingin mengucapkan terima kasih langsung, tapi ia takut kamu tak ingin bicara dengannya. ]
^^^[Untuk sementara biara begini saja, Bu. Bara ingin Aira bebas menjadi dirinya dan mengejar impiannya. ]^^^
[ Baik, Bara. Ibu mengerti]
Bara menatap layar penuh haru.
"Aku juga rindu Aira, " gumamnya lirih.
Bara menatap layar ponsel dengan perasaan ringan yang belum pernah ia rasakan selama beberapa bulan terakhir. Beban rasa bersalah terhadap kesehatan Aira telah terangkat.
Bara membuka blokir kontak ibunya, lalu menekan kolom chat. Sudah beberapa bulan ia menghindar dari ibunya.
^^^[Assalamu'alaikum, Bu. Maaf, besok Bara pulang kembali ke rumah. Mari kita bicarakan semuanya baik-baik. Bara harap, kita bisa memperbaiki semua. Bara butuh dukungan ibu. "^^^
[Baik, Bara. Ibu tunggu besok di rumah]
Kini, ia akan bertekad memperbaiki hubungan dengan Norma ibunya. Langkah awal untuk menata kembali semua yang tercerai berai.