NovelToon NovelToon
Kisah Nyata- Suamiku Berubah Setelah Kaya

Kisah Nyata- Suamiku Berubah Setelah Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / Pelakor jahat / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.

Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.

Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.

Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.

Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:

Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?

Dan ini adalah kisah nyata.

(±120 kata)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Bu Mariam Sang Penolong

#

Dua hari setelah kejadian dengan Ibu Sari, Naura duduk di teras kontrakan sambil menatap kosong ke depan. Perutnya lapar tapi dia tahan. Beras di rumah tinggal sedikit. Harus diirit buat makan Zidan nanti sore. Dia mah nggak apa apa. Biarin aja lapar.

Matanya sembab. Dari kemarin dia nangis terus. Nggak cuma gara gara Ibu Sari. Tapi gara gara semuanya. Hutang yang numpuk. Ibu yang sakit. Kandungannya yang butuh nutrisi tapi dia nggak bisa kasih. Zidan yang kerja sampai hampir mati tapi hasilnya tetep nggak cukup.

Semuanya menumpuk jadi satu. Bikin dadanya sesak. Bikin napasnya berat. Bikin dia pengen menyerah aja.

"Untuk apa aku bertahan? Untuk apa aku terus berjuang kalau hasilnya kayak gini terus? Untuk apa?"

Tangannya dia letakkan di perut yang mulai membesar. "Maafin Ibu ya Nak. Ibu lemah. Ibu capek. Ibu... Ibu nggak kuat lagi."

Air matanya jatuh lagi. Entah yang keberapa kali hari ini.

Tiba tiba ada suara dari samping. Suara lembut. Suara yang hangat.

"Naura Nak, kamu kenapa? Dari kemarin Ibu lihat kamu murung terus."

Naura langsung hapus air matanya cepet cepet terus noleh. Bu Mariam, tetangga yang rumahnya di sebelah kiri kontrakan, berdiri di sana sambil bawa piring. Wajahnya yang keriput penuh senyum. Matanya yang sudah sayu tapi tetep hangat.

Bu Mariam itu janda tua. Suaminya udah meninggal lima tahun lalu. Anaknya cuma satu, kerja di luar kota, jarang pulang. Dia tinggal sendirian di rumah kecil yang cat temboknya udah mengelupas. Tapi dia baik. Sangat baik. Nggak kayak Ibu Sari yang sombong.

"Nggak apa apa kok Bu. Saya cuma... cuma agak pusing."

"Pusing atau sedih Nak?" Bu Mariam melangkah lebih deket terus duduk di samping Naura di teras yang sempit itu. "Ibu tua tapi Ibu nggak buta. Ibu lihat kamu nangis."

Naura terdiam. Nggak tahu harus bilang apa. Malu kalau cerita. Tapi hatinya udah penuh banget. Rasanya pengen cerita ke seseorang. Siapa aja.

"Nak, cerita sama Ibu. Ibu nggak akan ngejudge. Ibu cuma mau dengerin." Bu Mariam megang tangan Naura dengan tangan tuanya yang kasar tapi hangat.

Dan Naura pecah. Nangis keras sambil cerita semuanya. Tentang Ibu Sari. Tentang penghinaan. Tentang hidup yang susah. Tentang Zidan yang kerja tiga tempat tapi hasilnya tetep kurang. Tentang dia yang hamil tapi nggak bisa makan dengan bener. Tentang semuanya.

Bu Mariam dengerin dengan sabar sambil sesekali usap punggung Naura yang bergetar karena nangis.

Setelah Naura selesai cerita sambil masih terisak, Bu Mariam menarik napas panjang terus bicara pelan.

"Nak, Ibu mau cerita sesuatu. Dulu, waktu suami Ibu masih hidup, kami juga hidup susah. Sangat susah. Lebih susah dari kamu sekarang. Suami Ibu kerja jadi tukang bangunan dengan gaji sehari lima belas ribu. Satu hari. Lima belas ribu. Coba kamu bayangin. Kami punya anak satu yang harus disekolahin. Harus makan. Harus dibeliin baju. Dari mana cukup?"

Naura menatap Bu Mariam sambil masih sesegukan.

"Ibu jualan gorengan keliling kampung. Bangun jam tiga pagi goreng pisang, tahu isi, tempe. Terus keliling dari jam enam pagi sampai jam dua siang. Dapet untung bersih dua puluh ribu sehari. Ditambah gaji suami Ibu jadi tiga puluh lima ribu sehari. Cukup nggak? Ya nggak cukup Nak. Tapi kami tetep bertahan."

Air mata Bu Mariam mulai jatuh.

"Terus suami Ibu sakit. Stroke. Kayak ibumu sekarang. Harus dirawat di rumah sakit. Biayanya mahal. Kami hutang sana sini. Ibu sampai jual anting anting emas satu satunya warisan dari ibu Ibu. Tapi tetep nggak cukup. Suami Ibu akhirnya meninggal di rumah sakit karena Ibu nggak sanggup bayar biaya operasi yang puluhan juta."

Naura nangis makin keras dengerin cerita Bu Mariam.

"Waktu itu Ibu hampir gila Nak. Hampir bunuh diri. Ibu mikir buat apa hidup kalau susah terus? Buat apa bertahan kalau ujungnya tetep ditinggal orang yang kita sayang? Tapi Ibu inget, Ibu punya anak. Anak yang masih butuh Ibu. Ibu nggak boleh egois."

Bu Mariam menatap Naura dalam.

"Kamu juga gitu Nak. Kamu punya suami yang sayang kamu. Kamu punya calon anak di perut kamu. Mereka butuh kamu. Kamu nggak boleh menyerah. Kesusahan ini sementara. Allah sedang mendidikmu jadi kuat. Sedang ngajarin kamu makna sabar yang sesungguhnya. Percaya sama Ibu."

"Tapi Bu... saya capek. Saya nggak kuat lagi."

"Kamu kuat Nak. Jauh lebih kuat dari yang kamu pikir. Kamu cuma perlu bantuan kecil buat bangkit lagi."

Bu Mariam ngasih piring yang dari tadi dia bawa. Di atas piring itu ada nasi putih, ayam goreng, sayur sop, sama kerupuk.

"Ini buat kamu. Makan. Perutmu bunyi dari tadi Ibu denger."

Naura menggeleng sambil nangis. "Nggak usah Bu. Saya nggak bisa terima. Bu juga butuh makan. Saya..."

"Ibu udah makan Nak. Ini lebih. Daripada dibuang mending kamu makan. Lagian kamu hamil. Kamu butuh nutrisi. Ayo makan. Nggak usah malu."

Naura akhirnya nerima piring itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih Bu. Terima kasih banyak. Saya... saya nggak tahu harus balas gimana."

"Nggak usah dibalas. Ibu ikhlas. Anggap aja kamu cucunya Ibu sendiri."

Naura langsung makan dengan lahap. Perutnya memang lapar banget. Dari kemarin dia cuma makan nasi sama kecap. Sekarang bisa makan ayam, sayur, rasanya kayak di surga.

Bu Mariam tersenyum liat Naura makan dengan lahap. "Besok dateng lagi ke rumah Ibu jam dua belas siang. Ibu kasih makan siang. Gratis. Setiap hari."

Naura berhenti ngunyah. Noleh dengan mata berkaca kaca. "Nggak usah Bu. Saya nggak enak. Ibu juga pasti butuh..."

"Ibu bilang nggak usah dibalas. Ibu seneng bisa bantu kamu. Lagian rumah Ibu sepi. Nggak ada temen ngobrol. Kamu dateng tiap hari lumayan buat Ibu ada temen."

"Tapi Bu..."

"Udah nggak usah banyak bacot. Makan yang banyak terus besok dateng ke rumah Ibu."

Naura ngangguk pelan sambil nangis. "Terima kasih Bu. Terima kasih banyak. Saya doain Bu Mariam sehat selalu. Panjang umur. Dilancarkan rezekinya."

"Aamiin. Kamu juga ya Nak. Semoga cepet dibukain jalan sama Allah."

Setelah Bu Mariam pulang, Naura duduk di teras sambil megang piring yang udah kosong. Dadanya masih sesak tapi sekarang bukan karena sedih. Tapi karena terharu.

Di dunia yang kejam ini, masih ada orang baik kayak Bu Mariam. Orang yang nggak ngehina. Nggak meremehkan. Malah ngulurkan tangan buat bantu.

"Ya Allah, terima kasih udah kirimin Bu Mariam di hidup saya. Terima kasih ya Allah."

Keesokan harinya, Naura dateng ke rumah Bu Mariam jam dua belas siang seperti yang diminta. Rumahnya kecil dan sederhana tapi bersih. Wangi masakan menguar dari dapur.

"Naura! Sini masuk! Ibu lagi masak!" teriak Bu Mariam dari dapur.

Naura masuk terus duduk di kursi kayu tua di ruang tamu. Nggak lama kemudian Bu Mariam keluar bawa dua piring nasi. Satu buat Naura, satu buat dia.

"Ayo makan bareng Ibu."

Mereka makan berdua sambil ngobrol ringan. Bu Mariam nanya kabar kandungan Naura, kabar Zidan, kabar Ibu Siti. Naura cerita semua dengan jujur. Nggak ada yang disembunyiin.

Setelah selesai makan, Bu Mariam tiba tiba bilang sesuatu.

"Nak, Ibu mau ajarin kamu sesuatu. Mau nggak?"

"Ajarin apa Bu?"

"Ajarin kamu masak gorengan buat jualan. Kamu kan butuh uang tambahan. Daripada kamu cuma diem di rumah, mending kamu jualan. Lumayan kan hasilnya buat bantu suamimu."

Naura terdiam. Jualan? Dia nggak pernah jualan sebelumnya. Dia cuma bisa jahit. Itu aja hasilnya recehan.

"Tapi Bu, saya nggak bisa masak dengan bagus. Saya takut nggak laku."

"Makanya Ibu mau ajarin. Ibu udah puluhan tahun jualan gorengan. Ibu tahu resep yang enak dan laku. Ibu akan ajarin kamu semua. Gratis."

"Gratis? Kenapa Bu mau bantuin saya sebanyak ini?"

Bu Mariam tersenyum sambil usap pipi Naura lembut. "Karena Ibu lihat kamu kayak liat Ibu dulu waktu muda. Susah tapi tetep tegar. Ibu pengen bantu kamu biar nggak sengsara kayak Ibu dulu. Ibu nggak mau kamu sampai kehilangan orang yang kamu sayang kayak Ibu kehilangan suami Ibu."

Naura langsung nangis sambil peluk Bu Mariam. "Terima kasih Bu. Terima kasih banyak. Saya nggak tahu harus bilang apa lagi."

"Nggak usah bilang apa apa. Besok kita mulai ya. Ibu akan ajarin kamu bikin pisang goreng, tahu isi, tempe mendoan, bakwan jagung. Semuanya."

Mulai hari itu, setiap pagi jam enam, Naura dateng ke rumah Bu Mariam buat belajar masak gorengan. Bu Mariam ngajarin dengan sabar. Dari cara motong pisang yang bener, cara bikin adonan yang pas, cara nggoreng biar mateng merata, sampai cara ngitung harga jual biar untung.

Naura belajar dengan serius. Dia catat semua resep di buku kecil lusuh. Dia praktek berkali kali sampai bisa. Kadang gagal. Pisangnya gosong. Adonannya keenceran. Tapi Bu Mariam nggak pernah marah. Malah terus nyemangatin.

"Nggak apa apa Nak. Namanya juga belajar. Besok coba lagi."

Seminggu kemudian, Naura udah bisa bikin gorengan yang lumayan enak. Bu Mariam nyobain dan bilang, "Bagus! Ini enak! Pasti laku!"

"Beneran Bu?"

"Beneran! Sekarang kamu tinggal mulai jualan. Ibu bantuin modal awal ya. Anggap aja hutang. Nanti kalau udah laku baru dibayar. Nggak usah pake bunga."

Bu Mariam ngasih uang seratus ribu buat modal awal. Naura terima dengan tangan gemetar sambil nangis.

"Bu, kenapa Bu baik banget sama saya? Saya kan bukan siapa siapa Bu."

"Kamu siapa siapa kok Nak. Kamu tetangga Ibu. Kamu anak baik. Kamu istri yang setia. Kamu calon ibu. Itu udah lebih dari cukup buat Ibu sayang sama kamu."

Hari itu juga, Naura beli bahan bahan di pasar. Pisang, tahu, tempe, tepung, minyak goreng. Dia masak di kontrakan dari sore sampai malam. Zidan yang pulang kerja kaget lihat istrinya lagi nggoreng banyak banget.

"Naura, kamu ngapain? Nggoreng sebanyak ini buat apa?"

"Mas, aku mau jualan gorengan. Bu Mariam udah ajarin aku. Aku mau bantu Mas cari uang. Aku nggak mau cuma diem aja di rumah."

Zidan terdiam. Matanya berkaca kaca. "Naura... kamu hamil. Kamu nggak usah kerja keras kayak gini. Nanti kecapekan."

"Aku nggak apa apa Mas. Aku kuat. Lagian cuma nggoreng doang. Nggak berat kok. Yang penting aku bisa bantu Mas."

Zidan memeluk istrinya dari belakang sambil nangis. "Maafin aku ya. Maafin aku belum bisa kasih kamu kehidupan yang layak. Sampai kamu yang hamil harus kerja juga."

"Mas jangan bilang kayak gitu. Kita suami istri. Kita harus bantu satu sama lain. Aku ikhlas kok. Aku seneng malah bisa bantu Mas."

Keesokan harinya, Naura mulai jualan. Dia taruh meja kecil di depan kontrakan. Di atas meja dia susun gorengan yang udah dia bungkus pake kertas minyak. Pisang goreng seribu. Tahu isi seribu. Tempe mendoan lima ratus. Bakwan jagung seribu.

Awalnya sepi. Nggak ada yang beli. Naura duduk di belakang meja sambil nunggu dengan deg degan. Sejam. Dua jam. Belum ada pembeli.

Dia mulai berkecil hati. "Apa gorenganku nggak enak ya? Apa harganya kemahalan?"

Tapi dia nggak menyerah. Dia tetep duduk di sana sambil sesekali teriak, "Gorengan! Gorengan enak! Murah!"

Jam sepuluh pagi, akhirnya ada yang dateng. Bapak bapak tukang ojek yang biasa mangkal di ujung gang.

"Mbak, beli pisang goreng dua, tahu isi tiga."

"Baik Pak!" Naura langsung ambil dengan tangan gemetar karena seneng banget. Ini pembeli pertama!

"Totalnya lima ribu ya Pak."

Bapak itu bayar terus langsung gigit pisang gorengnya. Matanya melotot. "Eh ini enak lho Mbak! Manis pisangnya. Adonannya juga kriuk. Enak!"

Naura senyum lebar. "Terima kasih Pak! Besok dateng lagi ya!"

"Pasti! Nanti aku kasih tahu temen temen yang lain."

Sejak itu, pelanggan mulai berdatangan. Tukang ojek. Ibu ibu yang lewat. Anak sekolahan. Mereka bilang gorengan Naura enak dan murah. Dalam dua jam, gorengan yang Naura bawa udah habis semua.

Dia hitung uang hasil jualan. Total lima puluh ribu kotor. Dikurangi modal tiga puluh ribu, untungnya dua puluh ribu.

Dua puluh ribu!

Dalam satu hari!

Naura nangis sambil pegang uang itu erat erat. "Ya Allah terima kasih. Terima kasih udah kasih aku jalan. Terima kasih udah kirimin Bu Mariam. Terima kasih ya Allah."

Sore harinya, waktu Zidan pulang, Naura langsung kasih uang dua puluh ribu itu ke suaminya.

"Mas, ini hasil jualan aku hari ini. Lumayan kan? Dua puluh ribu!"

Zidan megang uang itu sambil nangis. "Naura... terima kasih. Terima kasih udah mau berjuang bareng aku. Aku janji, aku akan kerja lebih keras lagi. Biar kamu nggak perlu jualan lagi. Biar kamu bisa istirahat dengan tenang."

"Aku ikhlas kok Mas. Malah seneng. Aku ngerasa berguna. Ngerasa bisa bantu Mas."

Mereka berpelukan sambil nangis bahagia.

Di jendela rumahnya, Bu Mariam ngeliatin mereka berdua sambil tersenyum. Air matanya jatuh tapi ini air mata bahagia.

"Alhamdulillah. Anak itu udah mulai bangkit. Semoga Allah terus berikan mereka kekuatan. Aamiin."

Malam harinya, setelah sholat Isya, Naura dan Zidan duduk di kasur sambil ngitung uang hasil jualan ditambah gaji Zidan hari ini. Total enam puluh ribu.

"Mas, kalau aku jualan terus tiap hari, sebulan bisa dapet enam ratus ribu. Lumayan kan buat bantu bayar hutang sama biaya Ibu?"

Zidan ngangguk sambil senyum. "Iya. Lumayan banget. Tapi kamu jangan terlalu capek. Inget kandunganmu."

"Aku janji akan hati hati."

Mereka berbaring sambil berpelukan. Zidan usap perut istrinya yang makin membesar.

"Dedek, Ibu kamu hebat ya. Meski hamil tapi tetep mau kerja keras buat bantu Ayah. Kamu harus sayang Ibu. Harus nurut sama Ibu. Ibu itu pahlawan kita."

Naura tersenyum sambil ikut usap perutnya. "Ayah kamu juga hebat Nak. Ayah kerja dari pagi sampai malam buat kita. Kita harus sayang Ayah juga."

Mereka tertidur dengan senyum di wajah.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, mereka tidur dengan hati yang tenang.

Masih banyak masalah yang harus diselesaikan.

Hutang masih numpuk.

Ibu Siti masih sakit.

Uang masih pas pasan.

Tapi setidaknya sekarang ada secercah harapan.

Ada cahaya kecil di ujung terowongan gelap.

Dan mereka akan terus berjalan menuju cahaya itu.

Bersama sama.

Saling menguatkan.

Seperti yang seharusnya dilakukan suami istri.

1
checangel_
Jangan heran, Zidan. Hidup di perkampungan memang seperti itu, jadi harus sabar seluas samudera 🤝
checangel_
Andai saja saat itu mereka terdaftar dalam KIS 🤧
checangel_
lebih tepatnya melawan ego diri sendiri dari setiap orang yang datang dan juga pergi🤧
checangel_
Lagi dan lagi-lagi ku mendengar janji 🤣, sudahi janji-janji itu bisa nggak🤧, biasanya yang berbau janji, hanya bergeming di perbatasan antara luka dan bahagia
Ema Susanti
cerita ini real bget, terjadi di kehidupanku. sampe aku di ceraikan karena wanita lain yang berstatus janda dan berkedok pula teman kerja.
aa ge _ Andri Author Geje: iya kak.. ini juga kayak gini cerita nya semua karna harta orang bisa lupa
total 1 replies
ceuceu
Bayar bunga doang 2 juta tapi hutang tetep blm kebayar,itulah makanya jgn pinjem rentenir selain dosa besar tap nyekek.
ceuceu
Naura suami pulang kerja jgn ngadu yg bikin hati suami sakit,ademin suami klo pulang kerja,nanti ceritanya klw udah santai.
ceuceu
Naura knp ga jagain ibunya dirumah sakit?
kasihan ibunya stroke ga ada yg jaga
ceuceu
kok malam abis penyatuan subuh langsung wudhu?
harusnya mandi hadast besar dulu thor,ini mah mandinya pagi sebelum kerja
aa ge _ Andri Author Geje: makasih dah ingetin revisi
total 2 replies
checangel_
Bentar, nggak ada KIS kah?
aa ge _ Andri Author Geje: bisa di bilang kan belum semua nya dapat
total 2 replies
checangel_
No, jangan lebih dari apa pun! Ingat, karena yang lebih hanya milik Allah 😇
checangel_
Gimana tuh nangis dalam diam? 🤧
aa ge _ Andri Author Geje: pura pura kelilipan lahhh🤣
total 3 replies
checangel_
الله اكبر
checangel_
Begitulah perasaan wanita, jika sudah terluka, walaupun hanya sebatas omongan tetangga/Facepalm/, tapi .... kembali lagi pada pribadi yang kuat dan tentunya cuek aja🤭
checangel_
Komitmenmu harus abadi ya, Mas Zidan 🤝
aa ge _ Andri Author Geje: semoga aja...tapi ya namanya manusia

Indosat (ingat doa saat gelap)
lupa akan prosesnya
total 1 replies
checangel_
Anggap saja kehadiran mereka seperti angin lewat yang tak pernah ada (abaikan jangan diambil pusing perkataan mereka yang tak penting)/Facepalm/
checangel_
Wah, pernikahan islami yang indah 😇, berbeda dengan realita zaman sekarang ...... tahulah seperti apa keadaan latar panggungnya /Facepalm/
checangel_
Biasalah, anggap saja riuh mereka seperti iklan drama lewat (cuek aja, dengarkan lalu hempaskan)/Hey//Facepalm/
checangel_
Yang bener Mas Zidan?/Chuckle/
aa ge _ Andri Author Geje: begitu lah relalita kehidupan nya
total 1 replies
checangel_
Kata hati memang selalu tepat sih, tapi tak semua 🤧
aa ge _ Andri Author Geje: benar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!