Seyra Avalen, gadis bar-bar yang hobi balapan liar tak pernah menyangka jika kejadian konyol di hidupnya justru membuat dia meninggal dan terjebak di tubuh orang lain.
Seyra menjadi salah satu karakter tidak penting di dalam novel yang di beli sahabatnya, sialnya dia yang ingin hidup tenang justru terseret ke dalam konflik para pemeran utamanya.
Bagaimana Seyra menghadapi kehidupan barunya yang begitu menguras emosi, mampukah Seyra menemukan happy ending dalam situasinya kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Rumah di samping rumah Seyra memiliki air mancur di tengah-tengah halaman, terlihat elegan dan modern di saat yang bersamaan.
"Bukannya ini motor milik Arthur? Apa ini rumahnya Arthur? Tapi setahu gue rumah Arthur bukan di sini deh?" gumam Seyra begitu menyadari motor di halaman depan rumah itu.
Seyra melangkah mendekati pintu mansion besar tersebut. Dia menekan bel di samping pintu rumah beberapa kali hingga pintu besar itu terbuka lebar dan menampilkan desain interior yang sangat mewah.
"Selamat pagi, Tan," sapa Seyra pada perempuan muda yang dia yakini sebagai pemilik rumah.
Perempuan berusia sekitar empat puluh tahun itu tersenyum ramah. "Pagi. Kamu pasti Seyra, kan? Anaknya Lewin."
Seyra merasa heran. Bagaimana bisa wanita itu mengenal namanya, sedangkan mereka baru saja bertemu?
Melihat wajah bingung Seyra, wanita itu terkekeh pelan. "Tante ini rekan satu kantor ayahmu, nama Tante Rahma. Tapi sekarang Tante sudah nggak bekerja lagi di kantor ayahmu."
"Oh begitu. Aku gak tahu, Tan. Soalnya Papa belum pernah cerita."
Rahma tersenyum tipis. "Tante tahu. Ngomong-ngomong, ada apa kamu ke sini?"
Seyra menyerahkan paper bag yang sejak tadi dipegangnya kepada wanita di depannya. "Aku disuruh mengantar ini sama Papa."
"Wah... terima kasih, ya. Sampaikan ke Papa kamu rasa terima kasih dari Tante."
Seyra mengangguk. "Siap, Tan. Kalau begitu aku pulang dulu. Nanti Papa bisa nyari aku."
"Kok cepat sekali? Kamu main di sini dulu saja, temani Tante mengobrol. Di sini nggak ada orang, loh. Masa kamu tega ninggalin Tante sendirian?" ujar Rahma sambil menahan pergelangan tangan Seyra.
Seyra tersenyum kaku. "Eh... bagaimana, ya?"
"Sudah, ayo masuk dulu. Kamu mau minum apa?" Rahma tidak memberi waktu bagi Seyra untuk menolak.
"Terserah Tante saja. Saya makan apa saja, kok. Kecuali batu dan kayu," jawab Seyra enteng.
Rahma terkekeh. Dia mengajak Seyra menuju ruang tamu, lalu beranjak ke dapur dan menyuruh pelayan menyiapkan minuman serta camilan.
Di ruang tamu, Seyra duduk diam layaknya boneka pajangan. Otaknya berperang antara kabur dari rumah itu atau menunggu Rahma kembali.
"Apa gue pulang aja? Gimana nasib game gue sekarang?" gumamnya lesu.
Tak berselang lama, Rahma kembali dengan membawa camilan dan minuman dingin. Dia meletakkannya di atas meja.
"Tante nggak tahu kesukaan kamu, jadi Tante membawa semuanya silahkan ambil yang kamu suka," ucap Rahma sedikit tidak enak.
"Sebenarnya Tante nggak perlu repot-repot, tapi saya berterima kasih sudah diberi makanan." Seyra meraih toples berisi permen dan mengambil satu, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya perlahan.
Saat mereka sedang mengobrol, suara melengking dari arah pintu membuat mereka berdua menoleh bersamaan.
"Mama!" teriak Nino berlari ke arah Seyra dan memeluknya erat.
Sontak Seyra langsung membeku di tempat, pikirannya kosong. Hingga tepukan pelan di pundaknya dari Rahma membuat dia kembali sadar.
"Kamu kenapa, Nak?" Tanya Rahma.
Seyra menggeleng pelan. "Nggak apa-apa, Tan."
"Nino, yang sopan sama tamu," tegur Killian yang baru muncul dari pintu utama.
Seyra menoleh ke arah Nino, lalu ke arah Killian, dan terakhir ke arah Rahma. Dia seakan meminta penjelasan mengapa dua orang itu ada di rumah besar tersebut.
Rahma yang mengerti langsung menjawab, "Killian adik Tante, dan Nino keponakan Tante."
Seketika permen yang ada di mulut Seyra langsung tertelan dan membuatnya tersedak.
"Uhuk... uhuk... a-air." Seyra memegangi tenggorokannya yang sakit.
Dengan sigap, Killian memberikan minum pada Seyra. Dia tersenyum tipis, tingkah gadis itu terasa spontan dan menggemaskan.
"Kamu nggak apa-apa, Seyra?" tanya Rahma cemas.
Seyra mengangguk. "Saya baik-baik saja, Tan."
Tatapan Seyra beralih pada Nino. Dia mengangkat anak itu dan mendudukkannya di pangkuannya. "Apa kabar, Nino?"
"Baik, Mama gima—"
"Apa?!" suara berat yang tidak asing di telinga Seyra terdengar dari lantai atas.
Semua orang mendongak dan melihat Arthur sedang berlari menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Dia berjalan cepat ke arah Seyra lalu menurunkan Nino dari pangkuan gadis itu.
"Enak saja kamu mau ambil pacarku!" protes Arthur sengit, kemudian memeluk Seyra erat.
Nino merengut jengkel. "Dia Mama aku!"
"Bukan, dia pacar aku!" Arthur menatap Killian. "Om, bilangin anaknya dong jangan main serobot aja."
Killian hanya bisa tersenyum melihat kekacauan kecil di depan matanya. Dia sendiri terkejut mengetahui jika Seyra adalah kekasih Arthur, namun dia segera menutupi keterkejutannya dengan santai.
"Kenapa kamu nggak meminjamkan pacarmu sebentar, Ar?" Ujarnya tenang.
Arthur menatap Killian sejenak, lalu beralih kembali ke Seyra. "Enak saja. Seyra cuma milik aku, dan nggak bakal aku bagi-bagi."
Seyra memutar kedua bola matanya malas. "Arthur, nggak usah kayak anak kecil deh."
"Tapi lo mau diambil sama bocah itu. Gue harus jauhin lo dari dia!" jawab Arthur serius.
Merasa kesal dengan tingkah Arthur, Seyra mencubit keras lengan pemuda itu hingga dia melepaskan pelukannya.
"Ish, lo KDRT. Belum juga nikah, gimana nanti kalau sudah jadi istri gue bisa-bisa gue babak belur dong," protes Arthur sambil mengusap lengannya.
"Siapa juga yang mau nikah sama lo?"
Mimik wajah Arthur berubah syok. Suara tawa dari Killian terdengar jelas begitu mendengar jawaban Seyra.
Rahma yang menyaksikan keributan itu tidak tahan untuk tidak tertawa. "Kalian berdua ini seperti anak kecil saja."
Nino yang masih merengut berkata, "Tapi aku ingin Mama hanya untuk aku!"
Arthur menggeleng keras. "Dia bukan Mama kamu, bocah."
Killian menggelengkan kepalanya, merasa geli sekaligus kasihan melihat betapa seriusnya mereka. "Baiklah, kami ke sini juga cuma mau pamit."
"Kamu jadu ke luar negeri lagi?" tanya Rahma penasaran.
Killian mengangguk, senyumnya sedikit pudar. "Iya, ada beberapa urusan yang harus diselesaikan di sana. Tapi tentu saja bukan berarti aku nggak akan kembali lagi ke sini, Kak."
Rahma mengerutkan dahi. "Tapi kita baru saja mulai menikmati waktu bersama. Kamu tahu kan, aku berharap kita bisa lebih banyak menghabiskan waktu sebelum kamu pergi?"
Killian menatap Rahma, matanya berkilau dengan nostalgia. "Aku tahu, dan aku juga merasakannya. Tapi ini kesempatan yang nggak bisa aku lewatkan."
"Ya, ya, aku mengerti," Rahma menghela napas. "Setidaknya makan malam dulu di sini?"
Killian menggeleng tegas. "Maaf, Kak. Aku harus pergi sekarang. Pesawatnya satu jam lagi berangkat."
"Yah, kamu memang selalu seperti ini. Baiklah, hati-hati di jalan," ujar Rahma menepuk pundak Killian pelan.
Killian mengangguk, lalu menatap Arthur. "Jaga baik-baik pacarmu. Awas kalau kamu lepas, nanti Om ambil."
"Tentu saja tanpa Om suruh juga aku bakal lakuin. Sana pergi saja, ganggu terus," usir Arthur kesal.
Killian terkekeh. Dia bisa melihat bagaimana Arthur benar-benar menyukai Seyra. Namun, melihat reaksi gadis itu yang cenderung acuh, sedikit membuatnya iba.
Sepertinya Arthur memang belum berhasil meluluhkan hati Seyra.
Setelah bercengkerama beberapa saat, Killian akhirnya pergi bersama Nino. Rahma memilih masuk ke kamar, meninggalkan Seyra dan Arthur di ruang tamu.
"Lo kenal di mana sama Nino?" Arthur memainkan rambut Seyra yang dikuncir kuda.
"Bandara," jawabnya singkat. Seyra berdiri dari sofa. "Gue pulang dulu."
Arthur menahan tangan Seyra. "Gue antar."
Tidak bisa menolak, Seyra pasrah ketika Arthur mengajaknya keluar rumah. Begitu tiba di depan pintu, mereka berpapasan dengan Gio. Sontak Seyra menaikkan satu alisnya.
"Loh, ini siapa?" tanya Seyra penasaran.
Kening Gio berkerut halus. "Gue Gio, lo siapa?"
"Bentar, lo temannya Arthur?"
Tanpa ragu Gio menggeleng. "Bukan, gue dan Arthur saudara beda ibu."
Bagaikan tersambar petir, Seyra yang syok tidak mampu menahan kesadarannya hingga dia pingsan di pelukan Arthur.
apa milik bapak bapak dengan satu anak itu ya
sayang nya valeri bukan wanita kuat seperti adiknya
ngebut aq bacanya thor🤣