NovelToon NovelToon
Cinta Pandangan Pertama

Cinta Pandangan Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Cintapertama
Popularitas:778
Nilai: 5
Nama Author: Lanaiq

Alvaro Rayhan, seorang fotografer freelance yang biasa merekam kehidupan orang lain, tidak pernah mengira bahwa suatu sore yang biasa di sebuah kafe kecil akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.

Di bawah sinar senja yang lembut dan wangi kopi, ia melihat Aurellia Kinanti—seorang karyawan kafe dengan senyum yang hangat, dan momen itu tertangkap oleh kameranya tanpa ada rencana sebelumnya.

Perjumpaan singkat tersebut menjadi permulaan dari perjalanan emosional yang berlangsung perlahan, tenang, dan penuh keraguan. Alvaro, yang selalu menutupi perasaannya dengan lensa kamera, harus belajar untuk menghadapi ketakutannya akan kehilangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanaiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aktivitas

Kesibukan muncul seperti biasanya, tanpa pemberitahuan.

Pagi dimulai dengan suara alarm yang terlalu awal, diikuti langkah tergesa-gesa, pakaian kerja yang disetrika setengah hati, dan pikiran yang masih dipenuhi sisa mimpi. Tidak ada yang berbeda dari luar. Namun di dalam, Aurellia merasakan—ada sesuatu yang terasa lebih damai dari biasanya.

Hubungannya dengan Alvaro.

Setelah percakapan panjang tersebut, setelah keterbukaan yang sempat membuat Aurellia merasa bersalah, malah jarak di antara mereka semakin berkurang. Mereka tidak menjadi lebih banyak berbicara. Tapi setiap kalimat menjadi lebih tulus. Lebih pelan. Lebih saling menjaga.

Siang itu Aurellia memulai shift siang. Kafe mulai dipenuhi pengunjung setelah waktu makan siang. Aroma kopi bercampur dengan suara gelas dan tawa ringan pengunjung memenuhi ruang tersebut.

“Aurel, meja tujuh minta tambahan gula,” teriak Nindy dari balik bar.

“Oke! ” sahut Aurellia seraya mengambil sachet gula.

Nindy melirik sambil menyipitkan mata. “Kamu aneh banget hari ini, keliatan lebih tenang. ”

Aurellia mengernyit. “Tenang apanya? ”

“Biasanya lo keliatan kayak dikejar deadline,” kata Nindy dengan santai. “Sekarang rasanya lebih damai. ”

Aurellia tertawa kecil. “Lo berlebihan. ”

Nindy mendengus. “Berlebihan dari mana. Ini analisis profesional. ”

Aurellia hanya menggelengkan kepala dan berlalu. Namun ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya yang kecil.

Di luar kafe, Alvaro baru saja menyelesaikan sesi pemotretan produk. Kamera masih menggantung di lehernya saat ia melihat jam. Masih ada waktu sebelum sore.

Ia berdiri sejenak di seberang jalan, mengamati kafe tempat Aurellia bekerja. Dari luar, ia melihat sosok Aurellia bergegas dari satu meja ke meja lainnya.

Tanpa ada rencana besar, Alvaro melangkah menyeberang.

Bel pintu kafe berbunyi lembut.

Nindy menjadi yang pertama menyadari kedatangannya. Ia menyentuh lengan Aurellia yang sedang menuang minuman.

“Pacarmu dateng tuh. ”

Aurellia secara otomatis menoleh. Matanya langsung bertemu dengan Alvaro.

Alvaro melambaikan tangan. “Hai. ”

Senyum Aurellia tiba-tiba muncul. “Kamu dateng kemari? ”

“Lagi lewat,” jawab Alvaro. “Dan… kangen kamu. ”

Aurellia terkecoh tertawa kecil, sedikit malu karena beberapa pasang mata pengunjung tertuju pada mereka.

Nindy mendekat dan bersandar di meja bar. “Mas, mau pesan apa? ”

“Americano,” jawab Alvaro.

Nindy mengangguk sambil tersenyum. “Satu americano untuk pacar barista favorit. ”

Alvaro tersenyum kembali. “Iya. ”

Nindy berpaling kepada Aurellia. “Liatt, denger itu, barista favorit. Bukan pacar favorit. Kerja tetap nomor satu. ”

Aurellia menepuk lengan Nindy dengan lembut. “Nin. ”

“Tenang aja, aku cuma menjalankan tugas,” jawab Nindy dengan santai.

Alvaro mengambil duduk di dekat bar. Ia memperhatikan Aurellia bekerja—cara ia menyapa pengunjung, cara ia sedikit menunduk saat menaruh pesanan, cara ia tertawa kecil dalam candaan singkat.

Tidak ada rasa canggung. Tidak ada jarak.

Kadang-kadang, mata mereka saling bertemu, lalu tersenyum, seolah saling mengatakan aku di sini tanpa perlu berbicara.

Americano ditempatkan di depan Alvaro.

“Ini,” kata Nindy. “Gratis senyumnya, tapi pajaknya tinggi. Harus tahan di-roasting. ”

Alvaro tertawa. “Siap. ”

Aurellia menghela napas. “Kenapa sih lo. ”

Nindy menunjuk mereka bergantian. “Kalian mirip iklan hubungan yang sehat tanpa sponsor. Bikin orang iri, lho. ”

Seorang pengunjung perempuan di meja dekat bar ikut tertawa. “Iya mbak, keliatan cocok banget. ”

Aurellia tersipu. “Makasih. ”

Alvaro sedikit menunduk. “Makasih, mbak. ”

Nindy segera menanggapi. “Nah kan, pengunjung aja mengakui. ”

Suasana kafe semakin akrab. Ini bukan hanya karena mesin kopi yang terus beroperasi, tetapi juga karena suasana ringan yang terasa.

Setelah beberapa waktu, Alvaro berdiri. “Aku cuma bentar. Mau liat kamu. ”

Aurellia mengangguk. “Hati-hati di jalan. ”

Alvaro bergerak sedikit lebih dekat, suaranya menjadi pelan. “Nanti malam aku bakal chat kamu. ”

“Iya. ”

Alvaro melirik Nindy. “Tolong jaga dia ya. ”

Nindy mengangguk dengan berlebihan. “Tenang saja. Aku akan menjaga. . . sambil jailin. ”

Aurellia tertawa.

Alvaro pergi. Bunyi bel pintu terdengar lagi.

Nindy memandang Aurellia dengan tatapan yang bermakna. “Kalian beda, ya. ”

Aurellia mengangkat alisnya. “Beda dalam hal apa? ”

“Berbeda setelah berbincang serius,” jawab Nindy. “Biasanya abis deep talk, orang jadi canggung atau pura-pura. Kalian justru keliatan lebih saling memahami. ”

Aurellia terdiam sejenak. “Mungkin karena kita nggak memaksakan. ”

Nindy mengangguk. “Iya, itu dia. ”

Hari-hari selanjutnya berlalu dengan cepat.

Alvaro semakin sibuk. Jadwal pemotretan yang padat. Terkadang di pagi hari, terkadang hingga malam. Aurellia juga tidak kalah lelah dengan perubahan shift yang sering.

Pertemuan mereka menjadi jarang. Namun, selalu ada pesan singkat yang saling dikirim.

Sudah makan?

Jangan lupa minum.

Aku pulang agak malam.

Sederhana. Tidak merasa memiliki.

Suatu sore, Alvaro kembali berkunjung ke kafe. Kali ini, kafe lebih ramai dibandingkan biasanya. Aurellia bertugas bersama Nindy lagi.

“Ini pacarnya Aurel lagi,” bisik Nindy keras kepada pengunjung di bar.

Alvaro tertawa. “Aku terkenal ya. ”

“Iya,” jawab Nindy. “Sebagai standar cowok normal. ”

Beberapa pengunjung tertawa.

Aurellia menutup wajahnya. “Boleh gak aku resign? ”

Nindy menggeleng. “Nggak bisa. Ini hiburan gratis. ”

Alvaro memandangi Aurellia dengan senyuman lembut. Di balik semua candaan, ada rasa nyaman yang perlahan tumbuh.

Kesibukan tidak mengganggu mereka. Justru membuat mereka belajar menghargai setiap momen, sekecil apapun.

Di tengah kelelahan dan kesibukan, mereka menemukan bentuk hubungan yang tenang—namun penuh kehangatan.

Tanpa disadari, hubungan itu mulai terasa nyata. Bukan sekadar rasa suka, tetapi tentang memilih untuk bertahan di tengah rutinitas.

Sebuah fase hidup yang tenang. . . sebelum segalanya benar-benar diuji.

Alvaro baru merasakan emosi itu ketika ia sudah melangkah jauh dari kafe. Suara lonceng pintu masih terngiang di pikirannya, disertai tawa kecil—Nindy, seorang pengunjung, dan Aurellia. Semuanya menyatu dalam satu kesan.

Ia berhenti sejenak di tepi jalan, menurunkan kameranya, kemudian menghela napas dengan pelan.

Aneh sekali, pikirnya dalam hati. Kenapa rasanya begitu hangat.

Ini bukan hanya karena senyuman Aurellia kepadanya. Melainkan juga karena orang-orang di sekelilingnya. Cara Nindy bercanda tanpa niat buruk. Cara para pengunjung ikut tersenyum dan bahkan mendoakan. Hal-hal kecil yang tidak pernah ia alami dalam hubungan sebelumnya.

Alvaro tersenyum kepada dirinya sendiri, segera menahan senyumnya karena merasa aneh. Jika ada yang melihat, mungkin ia akan dianggap berlebihan.

Dukungan mereka tulus, ia merenung. Padahal mereka tidak mengenalnya dengan baik.

Ia teringat kenangan masa lalu—hubungan yang tersembunyi, perasaan suka yang selalu setengah hati, dan dirinya yang sering merasa kurang. Kini terasa berbeda. Bersama Aurellia, ia tidak merasa perlu membuktikan apapun. Ia hanya… diterima apa adanya.

Ada keinginan untuk langsung meneruskan perasaannya kepada Aurellia, tentang betapa bahagianya ia. Betapa bersyukurnya ia. Tapi Alvaro menyadari bahwa ia akan tersipu sebelum kata-kata tersebut keluar.

Nanti saja, ia membatin. Perlahan-lahan.

Ia menghidupkan motor, senyum itu masih tersisa di wajahnya. Untuk pertama kalinya setelah lama, Alvaro merasa—hubungan ini bukan hanya milik mereka berdua, tetapi juga diterima oleh dunia dengan penuh kehangatan.

1
deepey
semangat kk, salam kenal..
Lanaiq: makasi kak 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!