NovelToon NovelToon
Cinta Pandangan Pertama

Cinta Pandangan Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Romantis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Lanaiq

Alvaro Rayhan, seorang fotografer freelance yang biasa merekam kehidupan orang lain, tidak pernah mengira bahwa suatu sore yang biasa di sebuah kafe kecil akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.

Di bawah sinar senja yang lembut dan wangi kopi, ia melihat Aurellia Kinanti—seorang karyawan kafe dengan senyum yang hangat, dan momen itu tertangkap oleh kameranya tanpa ada rencana sebelumnya.

Perjumpaan singkat tersebut menjadi permulaan dari perjalanan emosional yang berlangsung perlahan, tenang, dan penuh keraguan. Alvaro, yang selalu menutupi perasaannya dengan lensa kamera, harus belajar untuk menghadapi ketakutannya akan kehilangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanaiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak Sengaja

Kafe siang itu tampak lebih padat dari biasanya.

Waktu makan siang selalu mirip gelombang: tiba-tiba datang, menghantam, lalu meninggalkan piring kotor dan pesanan yang menumpuk. Aurellia bergerak dengan cepat di balik meja—mencatat pesanan, menyeduh kopi, dan menyapa pelanggan dengan senyuman profesional yang telah menjadi bagian dari dirinya.

Namun, setelah percakapan dengan Alvaro beberapa hari yang lalu, terdapat kebiasaan baru yang terbentuk tanpa disadari.

Ia kini lebih sering memandang ke arah pintu.

Lebih sering mengamati wajah-wajah di sekitar ruangan.

Bukan karena curiga terhadap semua orang—tapi lebih kepada kewaspadaan, seperti seseorang yang baru menyadari bahwa ketenangan bisa saja hancur kapan saja.

Alvaro sudah kembali sejak sore kemarin. Ia sempat mampir sebentar untuk bertemu, kemudian pamit karena ada sesi pemotretan pagi ini. Mereka sepakat untuk lebih waspada, tetapi tanpa membuat suasana menjadi tegang.

Aurellia berusaha untuk bersikap seperti biasa.

Hingga tanpa sengaja, ia melihatnya.

Seorang perempuan duduk di meja dekat jendela—bukan tempat favorit Alvaro, namun masih di area yang terlihat jelas dari kasir. Perempuan itu mengenakan blus dengan warna netral, rambut hitam panjangnya terurai rapi. Wajahnya menarik dengan ekspresi tenang, tetapi matanya. . . tajam.

Aurellia tidak langsung merasa curiga.

Banyak pelanggan yang duduk sendirian, menunggu atau mengerjakan sesuatu. Hal itu bukan hal yang aneh.

Ia kembali berkonsentrasi pada pesanan.

Namun, beberapa menit kemudian, saat Aurellia mengangkat kepala untuk memanggil pesanan, tatapan itu kembali menangkap perhatiannya.

Perempuan itu sedang memandang ke arah kasir.

Tepat ke arah Aurellia.

Aurellia sempat menahan napas.

Bukan karena ketakutan, tetapi karena instingnya merasakan sesuatu yang tidak nyaman.

Tatapan itu tidak biasa, seperti pelanggan yang sedang menunggu minuman.

Tatapan itu terlihat seperti. . . sedang mengevaluasi.

Aurellia berpaling, berpura-pura sibuk mengambil gelas. Ia berusaha untuk mengabaikan.

Mungkin hanya kebetulan, pikirnya.

Tetapi setelah beberapa pesanan, saat ia bergerak ke area mesin kopi, matanya bertemu sekali lagi dengan mata perempuan itu.

Kali ini, perempuan itu tidak cepat-cepat mengalihkan pandangannya.

Bahkan ia tersenyum sedikit.

Senyum tipis yang terasa dingin.

Aurellia menelan ludah.

Di dekatnya, rekannya memanggil, “Rel, bisa bantu ambil pesanan meja tiga? ”

“Iya,” balas Aurellia cepat, berusaha mengatur suaranya agar terdengar biasa saja.

Ia pergi ke meja tiga, mencatat pesanan, lalu kembali ke kasir. Namun, setiap kali ia bergerak, ia merasakan tatapan itu terus mengikuti.

Rasa ini bukan hanya khayalan.

Ia benar-benar merasa. . . diawasi.

Aurellia mencoba untuk menarik napas perlahan.

Ia melirik jam di dinding.

Masih siang.

Kafe ramai.

Tidak mungkin ada yang terlalu buruk terjadi di tempat seramai ini, bukan?

Namun, saat ia mengambil baki dan melewati area dekat jendela, ia menoleh lagi.

Dan kali ini, ia melihat sesuatu yang membuat dadanya berdebar.

Perempuan itu mengangkat ponselnya yang seolah ingin memotret kemudian menurunkannya lagi saat Aurellia melihat.

Gerakan yang sangat cepat.

Hampir seperti reaksi seseorang yang ketahuan.

Aurellia berhenti sejenak.

Tidak terlalu mencolok, tetapi cukup untuk meyakinkannya.

Perempuan itu memang sedang mengambil gambar.

Dan sasarannya. . . kemungkinan besar bukan menu dari kafe.

Aurellia merasakan tangannya dingin.

Ia melangkah kembali ke kasir dengan lebih cepat. Meskipun wajahnya tetap tenang, pikirannya sudah berputar.

Apa ini yang dimaksud?

Pesan "aku liat kamu di tempat yang sama".

Perempuan asing yang mengamati.

Terlalu banyak kebetulan untuk dianggap sebagai kebetulan semata.

Aurellia merogoh saku apron dan diam-diam mengeluarkan ponselnya. Ia menunduk seolah sedang memeriksa pesanan, padahal sebenarnya membuka kamera.

Tangannya sedikit bergetar.

Ia tidak suka melakukan tindakan ini. Ia tidak suka menuduh orang lain. Namun, instingnya—ditambah ekspresi cemas Alvaro kemarin membuatnya merasa perlu untuk memastikan.

Aurellia menunggu momen yang tepat.

Ketika rekannya memanggil pelanggan lain, Aurellia berpura-pura mengambil air dari dispenser yang menghadap area meja jendela.

Dari sudut itu, ia memiliki sudut pandang yang cukup jelas.

Ia mengangkat ponselnya setinggi dada, berpura-pura mengetik, lalu menekan tombol kamera.

Klik.

Satu foto.

Ia segera menunduk lagi, seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun sesaat setelah itu, perempuan itu menoleh tepat ke arah Aurellia.

Mata mereka bertemu.

Aurellia menahan napas.

Wanita itu memandangnya selama beberapa detik, cukup lama hingga membuat punggung Aurellia merinding lalu perlahan menarik sudut bibirnya.

Senyuman yang sama.

Senyuman yang tidak hangat.

Setelah itu, wanita itu menundukkan kepala, seolah kembali sibuk dengan ponselnya.

Aurellia mundur perlahan, kembali ke meja kasir. Jantungnya berdetak kencang.

Ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi.

Dengan tangan yang masih bergetar, ia membuka obrolan dengan Alvaro.

>Var, aku kayaknya liat orang yang… aneh di kafe.

Ia melampirkan foto yang baru diambilnya.

Kemudian ia mengetik lagi:

>Dia dari tadi perhatiin aku. Barusan kayaknya juga motret. Apa kamu kenal?

Pesan terkirim.

Aurellia menggigit bibirnya, berusaha untuk tetap melanjutkan pekerjaannya seperti biasa. Ia meracik kopi, memanggil nama pesanan, tersenyum pada pelanggan. Namun, pikirannya terus beralih ke meja dekat jendela.

Wanita itu masih di situ.

Masih duduk dengan tenang.

Sesekali mencuri pandang.

Seolah menunggu sesuatu.

Beberapa menit setelah itu, ponsel Aurellia bergetar.

Balasan dari Alvaro.

>Aurellia…

Hanya satu kata.

Tanpa emotikon. Tanpa tambahan lainnya.

Aurellia menahan napas dan segera mengetik dengan cepat.

>Kenapa?

Beberapa detik kemudian berlalu.

Balasan masuk lagi, kali ini lebih panjang, yang seketika membuat seluruh tubuh Aurellia terasa kedinginan.

>Itu Laura.

Aurellia tertegun.

Tangan yang memegang ponsel terasa lemas mendadak.

Suara mesin kopi, suara pelanggan, semua seperti menghilang.

Ia menatap foto itu sekali lagi.

Wajah wanita itu.

Rambut panjang.

Tatapan tajam.

Senyum tipis.

Laura…

Aurellia menelan ludah.

>Var, kamu yakin? ia cepat mengetik.

Balasan datang hampir seketika.

>Aku yakin. Itu dia. Aku gak mungkin salah.

Jantung Aurellia berdegup kencang.

Ia perlahan mengangkat kepala, menatap ke arah meja dekat jendela.

Laura masih di sana.

Dan ketika Aurellia menatap, Laura seolah sudah menunggu saat itu—ia mengangkat wajahnya dan menatap balik, lurus, tanpa ragu.

Aurellia terdiam.

Ada sesuatu yang merayap di dadanya—bukan perasaan cemburu, bukan kemarahan.

Lebih tepatnya… ancaman yang halus.

Aurellia menelan ludah sekali lagi, lalu menulis pesan dengan jemari yang kini terasa lebih dingin.

>Dia ngapain di sini, Var?

Balasan dari Alvaro membuat napas Aurellia tercekat.

Aku nggak tahu. Tapi kamu jangan sendirian. Aku bakal ke sana.

Aurellia ingin bilang jangan, takut Alvaro terburu-buru. Tapi sebelum sempat mengetik, Laura sudah berdiri dari kursinya.

Langkahnya pelan dan elegan, seolah tidak terburu-buru. Ia mendekati meja kasir.

Aurellia secara refleks mengangkat tubuhnya.

Dimas melirik. “Rel, apa pelanggan itu mau pesan? ”

Aurellia berusaha untuk tidak menunjukkan rasa paniknya. “Iya… kayaknya. ”

Laura berhenti persis di depan meja kasir.

Jarak mereka kini hanya beberapa puluh sentimeter, terpisah oleh meja kayu dan mesin kasir.

Aurellia bisa mencium aroma parfum wanita itu—lembut, mahal, tapi entah kenapa terasa dingin.

Laura melihat papan menu sebentar, lalu mengalihkan pandangannya ke Aurellia.

Mata mereka bertemu lagi.

“Americano,” kata Laura akhirnya, suaranya tenang, datar, seolah ini adalah transaksi biasa.

Aurellia berusaha menjaga suaranya tetap normal. “Hot atau iced? ”

“Hot. ”

Aurellia mengetik pesanan di mesin kasir, tangannya berusaha agar tak terlihat bergetar.

“Nama? ” tanya Aurellia, suaranya sedikit serak namun tertahan.

Laura menatapnya.

Lama.

Kemudian tersenyum kecil.

“Laura,” jawabnya pelan.

Satu kata itu seperti paku yang ditancapkan pelan ke dada Aurellia.

Ia sudah tahu, tetapi mendengar langsung membuat semuanya terasa nyata, lebih tajam, lebih berat.

Aurellia mengangguk singkat, memaksakan diri untuk tetap profesional.

“Oke. Ditunggu ya, Kak. ”

Laura tidak pergi.

Ia tetap berada di sana selama beberapa detik, memandangi Aurellia dengan tatapan yang sulit ditafsirkan. Kemudian, dengan nada suara yang lebih pelan, hanya cukup agar Aurellia dapat mendengarnya—Laura mengucapkan dengan lembut,

"Kamu. . . Aurellia, kan? "

Aurellia terdiam.

Gimana wanita itu mengetahui namanya?

Aurellia berusaha menggerakkan bibirnya. "Maaf, apa kita saling kenal? "

Laura tersenyum tipis sekali lagi, kali ini tampak lebih jelas.

“Oh, belum,” balasnya. “Tapi… aku kenal Alvaro. ”

Nama itu keluar dari mulut Laura dengan begitu mudah, seolah-olah itu hal yang biasa.

Aurellia menahan napas, berusaha untuk tidak menunjukkan reaksi. "Pesanan kamu akan segera siap. "

Laura mengangguk pelan, lalu berbalik dan kembali ke mejanya. Namun sebelum duduk, ia menoleh sekali lagi.

Tatapannya kembali tajam.

Seolah berkata: aku tahu kamu sudah menyadari.

Aurellia memandang ponselnya lagi, menanti pesan dari Alvaro yang mungkin mengatakan ia sudah dekat.

Tapi yang lebih menggetarkan daripada suara notifikasi adalah satu hal yang kini jelas:

Pesan misterius itu bukan hanya sebuah ancaman di layar.

Laura sudah ada di sini.

Dan dia tidak datang hanya untuk minum kopi.

1
deepey
semangat kk, saling support ya ka. 💪😄
deepey
bukan tampak lagi tp beneran bahagia 😍
Lanaiq: baper yaa kak 🤭
total 1 replies
deepey
good Nara, jelasin ke kk kamunya lg di fase penyangkalan
deepey
semangat kk, salam kenal..
Lanaiq: makasi kak 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!