NovelToon NovelToon
Bahu Yang Memikul Langit Prau

Bahu Yang Memikul Langit Prau

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Mengubah Takdir / Keluarga
Popularitas:880
Nilai: 5
Nama Author: Nonaniiss

Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan Menuju Tanah Kosong

Sesal mungkin sedang berkecamuk di dada Ayah setelah ancaman malam itu. Ia tahu ancamannya hanya gertakan dari raga yang sudah remuk, namun ia tak ingin aku menyimpan ketakutan. Di tengah sisa isak tangisku yang mulai mereda, Ayah menarik napas panjang, mencoba memeras sisa-sisa kreativitasnya untuk mengalihkan duka yang mengendap di hatiku.

"Nak," panggilnya lembut, matanya menatapku lekat di bawah temaram lampu minyak. "Di desa sebelah, katanya ada tontonan wayang kulit. Kamu mau lihat?"

Aku mendongak. Di tengah rasa hampa dan rindu pada Ibu, tawaran itu seperti setitik cahaya. Aku mengangguk pelan, menyeka sisa air mata di pipi dengan punggung tangan. Tanpa membuang waktu, Ayah mengambil kain jarik, kain yang biasanya dibawa Ibu. Dengan cekatan melilitkannya di bahu untuk menggendongku.

Pukul sepuluh malam. Desa kami sudah mati suri, hanya menyisakan kegelapan dan kabut tipis yang mulai turun dari lereng gunung. Ayah melangkah keluar rumah, mengunci pintu kayu kami yang berderit, lalu mulai berjalan.

Aku merasankan langkah kaki Ayah yang mantap namun sebenarnya menyimpan beban yang luar biasa. Kaki itu sudah mendaki gunung sejak subuh, bahu itu sudah memikul kayu hingga lecet, dan kini ia rela berjalan jauh menembus dinginnya malam demi sebuah harapan bernama "hiburan". Kami melewati jalanan desa yang sunyi senyap, melewati rimbun bambu yang bergoyang tertiup angin malam, hanya ditemani suara jangkrik yang bersahut-sahutan.

"Sabar ya, sebentar lagi sampai. Pasti ramai di sana," bisik Ayah, lebih untuk menyemangati dirinya sendiri daripada aku.

Namun, ketika kami sampai di tanah lapang desa sebelah, kenyataan pahit menyambut kami. Tidak ada lampu kelap-kelip, tidak ada suara gamelan yang riuh, apalagi bayangan wayang yang menari di balik layar putih. Yang ada hanyalah lapangan rumput yang luas, gelap, dan kosong melompong. Hanya angin malam yang berembus bebas di sana.

Ayah tertegun sejenak. Ia memandangi lapangan kosong itu dengan bahu yang tampak sedikit layu.

"Lho, ternyata tidak ada..." gumamnya, suaranya terdengar sangat kecewa. "Kosong, Nak. Tidak ada apa-apa."

Ia menurunkanku sebentar, menoleh ke kiri dan ke kanan, barangkali ia salah jadwal atau salah tempat. Namun, kesunyian itu terlalu nyata. Suara binatang malam seolah menertawakan usaha sia-sia kami malam itu.

"Mungkin Ayah salah dengar kabar. Maaf ya, Sayang," katanya sambil menatapku penuh penyesalan. "Ternyata tidak ada. Kita pulang saja ya? Mungkin besok baru ada tontonannya."

Aku menatap wajah Ayah. Di bawah sinar bulan yang redup, wajah itu tampak sangat kuyu. Keringat dingin mengucur di pelipisnya meski udara sangat dingin. Aku tidak merasa marah karena tidak jadi melihat wayang. Sebaliknya, hatiku justru terasa penuh melihat usaha Ayah. Entah Ayah memang benar-benar salah dengar, atau itu hanyalah "bohong putih" agar aku berhenti menangis dan mau keluar rumah, bagiku itu tidak penting lagi.

Aku kembali naik ke punggungnya dan memeluk lehernya sangat erat, lebih erat dari biasanya. "Iya, Yah. Tidak apa-apa. Kita pulang saja."

Di sepanjang jalan pulang yang sepi, aku menyandarkan kepalaku di bahunya yang lecet itu. Aku menyadari bahwa malam ini aku mendapatkan tontonan yang jauh lebih berharga dari sekadar wayang kulit. Aku melihat kasih sayang seorang laki-laki yang rela menghabiskan sisa tenaganya untuk menipu rasa lelahnya sendiri, hanya demi membuat anaknya berhenti bersedih.

Malam itu, kerinduanku pada Ibu tidak hilang sepenuhnya, tapi pelukan eratku pada Ayah menjadi tanda bahwa aku mulai mengerti. Ayah sedang berjuang sekuat tenaga untuk menjadi segalanya bagiku.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Zanahhan226: terima kasih, Kak..
🥰🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!