Seorang gadis kecil yang dipaksa menjadi 'ibu' bagi kakaknya di tengah reruntuhan rumah tangga orang tuanya, harus berjuang melawan kemiskinan dan rahasia kelam pelecehan demi menemukan arti kesucian yang sesungguhnya."
Maya tidak pernah memilih untuk dewasa lebih cepat. Namun, aroma toge di dapur ibunya dan tamparan keras ayahnya adalah guru pertama yang mengajarinya tentang pahitnya dunia. Ditelantarkan di rumah nenek yang dingin dan paman yang ringan tangan, Maya bertahan hidup dengan memungut besi tua dan menjual biji jambu monyet. Di balik ketangguhannya, ia menyimpan rahasia keji yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun: sebuah pengkhianatan dari tetangga yang menghancurkan persepsinya tentang harga diri.
Tahun-tahun berlalu, Maya tumbuh menjadi wanita sukses yang mandiri secara finansial. Namun, ketika bayang-bayang masa lalu kembali menghantui, ia harus menjawab pertanyaan paling menyakitkan dalam hidupnya: Setelah semua yang terjadi, apakah aku masih suci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertaruhan Di Ambang Maut
Hari itu seharusnya menjadi puncak dari segala penantian. Sesuai perhitungan dokter, janin di rahimku sudah siap melihat dunia. Aku sudah menyiapkan segalanya dengan ketelitian seorang akuntan: tas rumah sakit yang rapi, pakaian bayi yang sudah dicuci bersih dengan detergen khusus, dan yang paling penting, amplop cadangan berisi uang tunai untuk biaya persalinan yang sudah kupisahkan dari dana cicilan bank. Aku ingin semuanya sempurna. Aku ingin anakku lahir tanpa meninggalkan setetes pun utang atau kekhawatiran finansial.
Namun, tubuh manusia bukan mesin yang bisa diatur dengan angka-angka. Di tengah malam yang sunyi, saat aku sedang mencoba tidur di pelukan Mas Aris, rasa sakit itu datang. Bukan mulas biasa, melainkan rasa nyeri yang tajam, seperti ada sesuatu yang robek di dalam perutku. Aku terjaga dengan keringat dingin membasahi seluruh tubuh, dan saat aku mencoba berdiri, aku melihat noda merah yang pekat membasahi sprei putih kami.
"Mas... Mas Aris, bangun..." bisikku dengan suara yang tercekat di tenggorokan.
Dalam sekejap, rumah baru kami yang tenang berubah menjadi medan kepanikan. Mas Aris dengan sigap membopongku ke mobil, sementara Ayah dan Ibu hanya bisa berdiri terpaku di ambang pintu dengan wajah pucat pasi. Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, aku terus menggenggam tangan Aris, sambil membisikkan doa agar anakku selamat. Aku tidak peduli pada rasa sakitnya; aku hanya takut jika aku kehilangan apa yang sudah susah payah kubangun di rahimku ini.
Sesampainya di rumah sakit, suasana menjadi sangat tegang. Dokter jaga segera membawaku ke ruang tindakan. Diagnosisnya buruk: solusio plasenta. Plasentaku terlepas sebelum waktunya, menyebabkan pendarahan hebat yang mengancam nyawaku dan bayiku.
"Kita harus melakukan operasi sesar darurat sekarang juga," ujar dokter dengan nada mendesak. "Tapi ada komplikasi. Maya membutuhkan beberapa kantong darah khusus dan penanganan di ruang ICU setelah operasi karena kondisi jantungnya yang melemah akibat pendarahan."
Mas Aris ditarik ke ruang administrasi. Di sana, ia dihadapkan pada kenyataan pahit. Karena komplikasi ini, biaya yang awalnya kami perkirakan hanya belasan juta, melonjak menjadi hampir seratus juta rupiah karena prosedur darurat dan perawatan intensif. Asuransi kantor kami hanya menanggung sebagian kecil.
Aku melihat Aris masuk ke ruang pra-operasi dengan wajah yang hancur. Ia menggenggam tanganku, matanya berkaca-kaca.
"May... dokter bilang biayanya sangat besar. Uang tabungan kita untuk cicilan rumah enam bulan ke depan... harus kita pakai semua. Bahkan mungkin kita harus cari pinjaman tambahan," bisiknya dengan suara bergetar.
Di tengah rasa sakit yang luar biasa, pikiranku masih sempat berlari ke arah rumah. Rumah itu. Dinding-dinding yang kubangun dengan darah dan air mata sejak aku masih mengupas bawang. Jika uang itu dipakai, kami akan menunggak cicilan. Kami bisa terkena denda, atau lebih buruk lagi, nama kami akan masuk daftar hitam bank. Aku merasa seolah-olah pondasi rumahku sedang diguncang gempa.
Namun, saat aku menatap perutku yang terasa dingin, aku menyadari satu hal. Apa gunanya rumah megah jika di dalamnya tidak ada kehidupan? Apa gunanya dinding beton jika aku tidak ada di sana untuk menikmatinya bersama anakku?
"Pakai uangnya, Mas," bisikku lemah di sisa kesadaranku. "Selamatkan anak kita. Rumah bisa dicari... tapi dia tidak ada gantinya."
Operasi itu terasa seperti mimpi buruk yang panjang. Aku merasa jiwaku melayang di antara langit-langit ruang operasi yang putih bersih dan aroma antiseptik yang menyengat. Di tengah ketidaksadaranku, aku kembali ke masa kecilku. Aku melihat diriku berdiri di depan rumah panggung Nenek, memegang segenggam biji jambu monyet.
Gadis kecil di mimpiku itu tersenyum dan berkata, "Jangan takut, Maya. Kamu sudah membayar semua utangmu. Sekarang, waktunya kamu hidup untuk dirimu sendiri."
Saat aku terbangun, hal pertama yang kurasakan adalah rasa sakit yang menusuk di perut, namun diikuti oleh suara tangisan yang sangat nyaring. Suara yang memecah kesunyian ruang pemulihan. Seorang suster mendekat, membawa bungkusan kecil berwarna merah muda.
"Selamat, Bu Maya. Bayinya perempuan. Sangat kuat, seperti ibunya," ujar suster itu sambil meletakkan bayi itu di dadaku.
Seketika, seluruh dunia di sekitarku lenyap. Rasa sakit, ketakutan akan cicilan bank yang tertunda, dan memori kelam masa lalu, semuanya seolah menguap saat kulit lembut bayi itu menyentuh kulitku. Ia begitu mungil, begitu bersih, dan begitu suci. Aku menangis sejadi-jadinya bukan karena sedih, tapi karena aku merasa akhirnya telah melahirkan sesuatu yang tidak ternoda oleh dunia.
Seminggu kemudian, aku pulang ke rumah. Namun, kepulanganku kali ini disambut dengan tumpukan tagihan yang membengkak. Mas Aris harus bekerja dua kali lipat lebih keras. Kami harus merestrukturisasi utang kami di bank. Kami kembali ke pola hidup sangat hemat, bahkan lebih ketat daripada saat kami pertama kali membangun rumah ini.
Ibu dan Ayah ikut membantu sebisa mungkin. Ibu menjaga bayiku sementara aku mencoba pulih, dan Ayah seringkali duduk di samping box bayi, menjaganya dengan penuh kasih. Kehadiran bayi ini, yang kami beri nama Nayla , seolah menjadi perekat yang menyatukan kembali retakan-retakan di rumah kami.
Namun, beban mental itu tetap ada. Setiap kali aku melihat surat teguran dari bank karena keterlambatan cicilan bulan itu, jantungku berdegup kencang. Aku merasa gagal sebagai "manajer keuangan" keluarga.
"May, lihat Nayla," ujar Mas Aris suatu malam saat ia melihatku melamun menatap buku tabungan yang hampir kosong. "Dia sehat. Dia ada di sini. Rumah ini mungkin akan sedikit terlambat lunasnya, tapi kita punya sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sertifikat tanah. Kita punya masa depan yang sedang tidur di sana."
Aku menatap Nayla yang sedang terlelap. Aku menyadari bahwa perjuanganku kini telah berubah bentuk. Dulu, aku berjuang untuk membuktikan diri pada dunia dan membalas dendam pada kemiskinan. Kini, aku berjuang untuk memastikan Nayla tidak perlu merasakan apa yang kualami.
Kami mulai menjual beberapa aset kecil perhiasan yang kubeli saat bonus kantor turun, dan beberapa barang elektronik yang tidak terlalu penting hanya untuk menutupi kekurangan cicilan. Rasanya perih melihat barang-barang itu pergi, tapi setiap kali aku mencium aroma bayi Nayla, rasa perih itu hilang.
Aku kembali bekerja lebih cepat dari yang disarankan dokter. Aku harus. Tubuhku mungkin masih lemah, tapi semangatku adalah semangat seorang ibu yang tidak akan membiarkan rumahnya disita. Aku berangkat kantor dengan membawa pompa ASI, bekerja di sela-sela waktu menyusui, dan pulang dengan rasa lelah yang luar biasa.
Namun, ada perbedaan besar. Dulu, aku bekerja dengan amarah. Sekarang, aku bekerja dengan cinta. Dulu, aku takut pada bank. Sekarang, aku hanya takut jika aku tidak bisa memberikan pelukan terbaik untuk Nayla setiap malam.
Cicilan rumah kami bertambah panjang durasinya karena penyesuaian bunga dan denda, namun aku tidak lagi merasa sebagai tawanan bank. Aku menyadari bahwa hidup adalah tentang membuat pilihan. Dan malam itu, di ruang operasi, aku telah memilih kehidupan di atas harta.
Aku adalah Maya. Wanita yang pernah dihancurkan namun kini menjadi pencipta kehidupan. Rumahku mungkin masih berutang pada bank, tapi hatiku sudah lunas dari segala rasa takut akan masa lalu. Nayla adalah bukti bahwa dari tanah yang paling gersang dan penuh luka sekalipun, sebuah bunga yang paling indah tetap bisa mekar dengan sempurna.