Aroma melati yang merebak di gedung itu terasa mencekik paru-paru Rina. Harusnya, hari ini menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya. Namun, di balik riasan bold dan kebaya putih mewah yang melekat di tubuhnya, ada hati yang sedang hancur berkeping-keping.
Di sampingnya, duduk Gus Azkar. Pria itu tampak tenang, nyaris tanpa cela. Dua bulan lalu, saat Azkar datang melamar ke rumahnya, Rina tak punya kuasa untuk menolak keinginan orang tuanya. Azkar adalah menantu idaman—seorang ustadz muda yang dihormati, santun, dan memiliki garis keturunan pemuka agama yang terpandang.
Tapi bagi Rina, Azkar adalah orang asing yang memisahkan dunianya dengan Bian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7 Luka yang Tersembunyi
"Kamu tidak tahu apa-apa tentang dia!" Bian mendorong Azkar hingga punggungnya membentur dinding. "Kamu hanya tahu cara mengklaim dia sebagai milikmu, tapi kamu tidak tahu seberapa hancur mentalnya selama ini!"
Bian tertawa pahit, air mata jatuh di pipinya. "Rina itu gadis ceria di luar, tapi di dalam dia rapuh, Gus. Sebelum dia sama saya, dia sudah berkali-kali bilang ingin menyerah pada hidup. Kamu tahu kenapa? Karena sejak kecil dia selalu dituntut untuk mengerti semua orang! Orang tuanya, sekolahnya, lingkungannya... tapi tidak ada satu pun orang yang mencoba mengerti dia!"
Azkar tertegun. Ia teringat bagaimana tadi Rina bergumam meminta nyawanya dicabut.
"Hanya saya yang ada saat dia gagal dalam pertemanan, hanya saya yang mendukungnya saat dia merasa gagal di keluarga! Dia memikul beban yang terlalu berat untuk anak seusianya. Dan sekarang..."
Bian menunjuk pintu IGD dengan tangan gemetar. "Sekarang kamu datang, memaksanya menikah, mengancamnya, dan merampas satu-satunya mimpinya untuk sekolah. Kamu bukan suaminya, Gus. Kamu itu bebannya yang paling berat!"
Penyesalan Sang Gus
Kalimat Bian seperti belati yang menguliti harga diri Azkar. Ia yang selama ini merasa paling benar karena memiliki "hak sah" atas Rina, kini merasa seperti monster. Ia baru menyadari bahwa Rina bukan sekadar santri yang harus didisiplinkan, atau aset yang harus dijaga. Rina adalah jiwa yang sedang luka, dan ia justru menambah luka itu semakin dalam.
"Saya... saya tidak tahu kalau dia sehancur itu," ucap Azkar lirih. Suaranya nyaris hilang.
"Memang kamu tidak tahu! Karena kamu terlalu sibuk dengan cemburumu!" Bian melepaskan kerah baju Azkar dengan kasar. "Dengarkan saya, Gus. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Rina, saya tidak peduli kamu anak siapa atau ustadz besar sekalipun. Saya akan mengambil dia dari kamu, dengan cara apa pun."
Azkar jatuh terduduk kembali di lantai koridor yang dingin. Ia menatap tangannya yang berlumuran darah Rina. Ucapan Bian benar; ia telah gagal menjadi tempat bersandar. Ia justru menjadi penjara bagi gadis yang bahkan belum sempat menikmati masa mudanya.
Langkah Berikutnya
Dokter keluar dari ruang IGD dengan wajah serius. Keadaan Rina kritis karena kehilangan banyak darah dan tekanan mental yang hebat.
Kata-kata dokter bagaikan petir di siang bolong bagi kedua pria yang sedang bersitegang itu. Dunia seolah berhenti berputar saat dokter melepas masker dan menghela napas panjang.
"Keluarga Ny. Rina?" tanya dokter dengan nada rendah.
Gus Azkar dan Bian serentak mendekat. "Saya suaminya, Dok. Bagaimana keadaan istri saya?" suara Azkar bergetar hebat.
Dokter menggelengkan kepala perlahan. "Kondisi pasien sangat kritis. Kehilangan darah yang cukup banyak bukan satu-satunya masalah. Sepertinya pasien mengalami tekanan batin yang sangat hebat—semacam trauma psikis yang membuat keinginan untuk bertahan hidupnya sangat rendah. Saat ini... Ny. Rina mengalami koma."
Kehancuran yang Sempurna
Lutut Gus Azkar terasa lemas. Ia ambruk, jatuh bertumpu pada kedua kakinya di lantai rumah sakit. Kalimat Rina tadi, "Ambil saja nyawaku," ternyata bukan sekadar igauan. Rina benar-benar melepaskan genggamannya pada kehidupan.
Bian yang mendengar itu langsung meninju dinding rumah sakit dengan keras. "Puas kamu, Gus?! Kamu lihat sekarang? Dia lebih memilih tidur dalam kegelapan daripada harus bangun dan melihat wajah kamu!" tangis Bian pecah. Pria itu merosot di depan pintu IGD, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Gus Azkar tidak membalas. Ia hanya menatap pintu kaca yang tertutup rapat, di mana di baliknya, Rina sedang berjuang antara hidup dan mati. Baju kokonya yang berlumuran darah Rina kini terasa sangat berat, seolah darah itu adalah dosa yang harus ia tanggung selamanya