NovelToon NovelToon
Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / CEO / Sistem / Mafia / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: PENGKHIANATAN DI RING KEMATIAN

# BAB 1: PENGKHIANATAN DI RING KEMATIAN

Bau darah bercampur keringat memenuhi udara pengap arena bawah tanah. Lampu sorot redup bergoyang, menyinari ring yang sudah tak layak disebut ring lagi. Lebih mirip kandang penyembelihan.

Bayu Samudra berdiri di tengah, napas tersengal, dada naik turun seperti mesin tua yang dipaksa bekerja. Tubuhnya penuh lebam, bibir pecah, mata kiri setengah bengkak. Tapi dia masih berdiri. Lawannya? Tergeletak tak sadarkan diri dengan mulut berlumuran darah.

"BAYUUUU! BAYUUUU! BAYUUUU!"

Teriakan penonton memecah keheningan yang sempat mencekam. Puluhan orang berdesakan di sekeliling ring, melambaikan uang, menggebrak pagar besi, mukanya merah karena terlalu banyak berteriak. Mereka tidak peduli siapa yang menang. Yang penting taruhan mereka masuk.

Bayu meludah darah ke lantai. Giginya berdenting. Tubuhnya gemetar, bukan karena takut, tapi karena adrenalin yang masih memompa keras di nadinya.

"Gila... gue hampir mati," gumamnya pelan, suara serak.

Tapi bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Senyum orang yang sudah terbiasa hidup di ujung tanduk.

Wasit, seorang pria botak bertubuh besar dengan kemeja lusuh, masuk ke ring sambil mengangkat tangan Bayu. "PEMENANGNYAAA... BAYU SAMUDRAAA!"

Sorakan makin keras. Uang berterbangan. Ada yang melempar botol kosong. Ada yang menangis karena kalah taruhan. Chaos. Tapi buat Bayu, ini musik paling indah. Musik yang bisa bayar sewa kontrakan ibunya.

Bayu turun dari ring dengan langkah terseok. Kakinya terasa seperti timah. Setiap langkah bikin tulangnya protes. Dia berjalan melewati kerumunan yang masih ribut, menuju sudut gelap di belakang arena tempat para petarung menunggu giliran.

Di sana, Dika sudah berdiri. Senyum lebar terpasang di wajahnya yang lumayan bersih, tidak seperti Bayu yang seperti habis ditabrak truk.

"Brooo!" Dika langsung memeluk Bayu dengan keras, menepuk punggungnya berkali-kali. "Lu gila! Gue pikir lu bakal mampus di ronde ketiga tadi!"

Bayu meringis. Pelukannya sakit. "Iya, gue juga pikir begitu."

Dika melepas pelukan, tangannya masih bertengger di bahu Bayu. Matanya berbinar. "Tau nggak, gue menang taruhan gede gara-gara lu. Bos arena bayar double hari ini. Lu emang saudara gue yang paling gue sayang, tau nggak sih?"

Bayu terkekeh pelan. Dadanya hangat. Dika memang selalu begini. Cerewet, lebay, tapi loyal. Sahabat sejak SMP, teman satu perjuangan di jalanan, orang yang selalu ada saat dunia menendangnya ke tanah.

"Iya, iya. Jangan lebay, tai kucing," Bayu mendorong bahu Dika main-main. "Mana duit gue?"

"Udah gue ambil tadi. Tenang. Gue simpen dulu." Dika mengeluarkan rokok, menyalakan satu, lalu menawarkannya ke Bayu.

Bayu menggeleng. "Nggak usah. Paru-paru gue udah ancur duluan."

Dika mengangkat bahu, lalu menghisap dalam-dalam. Asapnya mengepul tipis di udara lembap. Mereka berdua diam sebentar. Hanya suara riuh penonton yang masih terdengar dari kejauhan.

"Lo capek banget, bro?" tanya Dika pelan, nada suaranya berubah.

Bayu mengangguk. "Capek banget. Rasanya pengen tidur seminggu."

"Gue juga capek."

Ada yang aneh di nada suara Dika. Tapi Bayu terlalu lelah untuk mikir. Kepalanya berdenyut. Matanya berat.

"Bayu."

"Hmm?"

"Maaf, ya."

Bayu mengernyit. "Maaf kenapa?"

Dika tidak menjawab. Tangannya bergerak cepat ke belakang pinggang, mengeluarkan sesuatu yang berkilat di bawah cahaya temaram.

Pisau.

Sebelum Bayu sempat bereaksi, benda tajam itu sudah menancap dalam di punggungnya.

"ARGH!"

Rasa sakit meledak seperti petir. Bayu tersungkur ke depan, lututnya membentur lantai beton kasar. Tangannya reflek meraih punggung, merasakan gagang pisau yang masih menancap di sana, dan... basah. Darah. Banyak sekali.

"D... Dika..."

Suaranya gemetar. Tidak percaya. Ini mimpi buruk. Pasti mimpi buruk.

Tapi Dika sudah berdiri di hadapannya, wajahnya datar. Tidak ada penyesalan. Tidak ada rasa bersalah. Hanya tatapan kosong yang dingin.

"Maaf bro," kata Dika sambil berjongkok, sejajar dengan mata Bayu yang mulai kabur. "Uangnya terlalu gede. Bos arena bayar gue sepuluh kali lipat buat nyingkirin lu. Lu terlalu jago. Lu bikin bandar rugi terus. Mereka butuh lu mati."

Bayu mencoba bicara, tapi mulutnya hanya mengeluarkan darah. Napasnya sesak. Dadanya terasa ditimpa batu besar.

"Gue... percaya... sama lu..."

Kata-kata itu keluar terputus-putus, nyaris tidak terdengar.

Dika tersenyum tipis. Senyum yang sama. Senyum yang dulu selalu bikin Bayu merasa aman. Sekarang jadi hal paling menyakitkan yang pernah dia lihat.

"Gue tau, bro. Makanya gampang." Dika berdiri, menarik pisaunya keluar dengan gerakan cepat.

"AAAAHHH!"

Bayu berteriak, tapi suaranya lemah. Tubuhnya ambruk total. Pipinya menyentuh lantai dingin yang sekarang basah oleh darahnya sendiri.

"Jangan salahkan gue. Salahkan nasib lu yang sial." Dika mengelap pisaunya di celana, lalu memasukkannya kembali. "Oh iya, uang kemenangan lu tadi? Gue ambil semua. Buat modal gue nikah bulan depan. Makasih ya, bro."

Langkah kaki Dika menjauh. Pelan. Santai. Seperti tidak ada yang terjadi.

Bayu terbaring sendirian. Dingin mulai merayap dari ujung jari kakinya. Penglihatannya mengabur. Tapi telinganya masih bisa mendengar. Suara tawa Dika yang menggema dari kejauhan.

Ketawa.

Dia ketawa.

"Sialan..."

Air mata mengalir tanpa permisi. Bukan karena sakit. Bukan karena takut mati. Tapi karena... dia percaya. Dia bodoh. Dia kira punya seseorang yang tidak akan meninggalkannya.

Ternyata semua orang punya harga.

Bahkan sahabat.

Napasnya makin pendek. Matanya menatap kosong ke langit-langit arena yang penuh retakan. Suara penonton masih terdengar samar. Mereka masih tertawa. Masih bertaruh. Tidak ada yang peduli ada satu nyawa mati di sudut gelap.

Bayu merasakan tubuhnya makin ringan. Seperti mengambang. Dinginnya hilang. Rasa sakitnya perlahan memudar.

Ini akhirnya.

Dua puluh tiga tahun hidup di jalanan. Apa yang dia dapat? Tidak ada. Ibunya meninggal tahun lalu karena sakit yang tidak bisa dia obati. Tidak punya keluarga. Tidak punya masa depan. Cuma tinju dan darah.

Dan sekarang... dikhianati.

"Kalau... ada kehidupan lain..."

Bibirnya bergerak pelan, nyaris bisikan.

"Gue nggak mau... jadi orang lemah lagi..."

Kegelapan menelannya. Total. Seperti jatuh ke jurang tanpa dasar.

Tapi ada sesuatu. Di kegelapan itu. Sesuatu yang menariknya. Kuat. Paksa.

Kesadarannya tersedot cepat, seperti dihisap pusaran air raksasa.

Lalu... cahaya.

Cahaya putih menyilaukan.

Dan suara.

Suara asing yang berbunyi di kepalanya.

**[SISTEM PEMBURU TELAH AKTIF]**

**[SELAMAT DATANG, PENGGUNA BARU]**

**[PROSES TRANSFER JIWA... SELESAI]**

1
REY ASMODEUS
mantap
aa ge _ Andri Author Geje: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!