NovelToon NovelToon
DEWA IBLIS : SHEN YU

DEWA IBLIS : SHEN YU

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sad ending / Antagonis Jahat / Epik Petualangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Mengubah Takdir
Popularitas:36.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Shen Yu, seorang pemuda yang memikul takdir terlarang sebagai pewaris Raja Iblis Purba (Tangan Asura, Mata Iblis, dan Jantung Ketiadaan), memimpin sekelompok jenius buangan untuk melawan takdir mereka: Ye Qing sang Dewa Pedang Bintang, Su Ling pemilik Mata Iblis Surgawi, Feng Jiu sang Ratu Phoenix, dan Long Tu sang Jenderal Setengah Naga.

Setelah menghancurkan ambisi Sekte Mayat dan menolak menjadi wadah pengorbanan bagi Istana Langit Utara, Shen Yu melakukan langkah gila: ia meledakkan Jantung Iblis untuk merobek dinding realitas, membawa timnya melarikan diri ke dalam celah dimensi yang mematikan.

Tiga tahun berlalu dalam kehampaan. Kini, mereka muncul kembali di Benua Roh Abadi, sebuah dunia tingkat tinggi yang jauh lebih buas dan kuno. Dengan kekuatan yang telah berevolusi mencapai ranah Nascent Soul, Shen Yu tidak lagi berniat lari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 16

Arena Koloseum Kekaisaran - Babak Penyisihan.

Sorak sorai jutaan penonton mengguncang langit Ibukota. Di tengah arena raksasa itu, sebuah formasi teleportasi raksasa bersinar terang, memproyeksikan Hutan Ilusi Seribu Li ke layar-layar kristal raksasa yang melayang di udara.

Aturannya sederhana: Pertempuran Acak. Sepuluh ribu peserta dilepas ke dalam hutan. Bertahan hidup selama tiga hari, kumpulkan token musuh. Membunuh diperbolehkan, tapi menyerah (menghancurkan token sendiri) akan memindahkan peserta keluar.

Di tribun kehormatan, para Tetua dari Klan Besar dan Sekte Utama duduk di kursi giok.

"Tahun ini, Klan Su mengirimkan lima puluh murid elit," kata seorang Tetua Klan Su, seorang pria tua kurus dengan janggut putih (Ranah Nascent Soul Puncak). Dia tersenyum bangga. "Leluhur Agung kami (Ranah Transformasi Dewa) sedang mengamati dari Istana Langit. Jangan sampai kita mengecewakan beliau."

Perlu diketahui, standar kekuatan di Benua Roh Abadi bagian Tengah ini jauh lebih mengerikan. Leluhur Klan Besar rata-rata berada di ranah Transformasi Dewa (Soul Transformation), bahkan beberapa legenda tua sudah mencapai setengah langkah Ascendant.

Di sudut tribun yang sepi, Shen Yu duduk dengan tenang, matanya menatap layar proyeksi. Su Ling duduk di sebelahnya, tangannya mengepal erat di balik lengan baju.

"Permainan dimulai," bisik Shen Yu.

Di Dalam Hutan Ilusi.

Kelompok murid Klan Su, yang berjumlah dua puluh orang, bergerak bersama. Mereka dipimpin oleh Su He, sepupu Su Yan, seorang ahli Inti Emas Puncak yang arogan.

"Ingat," perintah Su He. "Target kita adalah mengumpulkan token sebanyak mungkin. Jika bertemu murid dari sekte kecil, rampas barang mereka lalu lumpuhkan. Biarkan mereka tahu siapa penguasa Ibukota."

Mereka tertawa, merasa aman dengan jumlah mereka.

Namun, mereka tidak sadar bahwa Pemburu sedang mengintai.

KRESEK.

Semak di depan mereka bergerak.

"Siapa di sana?!" Su He menghunus pedangnya.

Dari balik semak, muncul seorang pemuda bertelanjang dada, menyeret pedang hitam raksasa di tanah. Wajahnya datar, matanya kosong.

Cang Wu.

"Oh, si Cacat dari gerbang kota?" Su He menyeringai kejam. "Bagus. Nona Muda Su Yan sangat membencimu. Jika aku memotong lidahmu, Nona pasti senang."

"Serang dia!"

Tiga murid Klan Su melesat maju, pedang mereka dialiri Qi Es.

Cang Wu tidak menghindar. Dia menjatuhkan pedang besarnya. Dia tidak butuh senjata untuk mematahkan ranting.

WUUSH!

Cang Wu bergerak. Bukan dengan teknik langkah ringan, tapi dengan ledakan otot kaki murni yang menghancurkan tanah tempatnya berpijak.

Dia muncul di depan murid pertama dalam sekejap mata.

GRAB.

Tangan Cang Wu mencengkeram lengan murid itu yang memegang pedang.

"Satu."

KRAK!

Cang Wu mematahkan lengan itu seperti mematahkan sumpit. Tulang putih mencuat keluar dari kulit.

"UAAAAARGHH!!" Murid itu menjerit.

Cang Wu tidak berhenti. Dia menendang lutut murid itu.

KRETEK!

Kaki patah terlipat ke belakang. Murid itu jatuh, melolong kesakitan. Cang Wu mengangkat kakinya, lalu menginjak tepat di Dantian (pusat energi) murid itu.

PUKK.

Dantian hancur. Kultivasi seumur hidup... hilang.

"I-Iblis!" Dua murid lainnya mencoba mundur ketakutan.

Tapi Cang Wu sudah menerjang lagi. Dia menangkap leher murid kedua dan ketiga, lalu membenturkan kepala mereka satu sama lain.

DUG!

Mereka jatuh pingsan dengan tengkorak retak. Cang Wu dengan metodis mematahkan tangan dan kaki mereka satu per satu.

Krak. Krak. Krak.

Suara tulang patah itu menjadi melodi mengerikan di hutan sunyi.

Su He gemetar. "Bunuh dia! Gunakan Jimat Peledak!"

Tapi sebelum Su He bisa melempar jimat...

"Hei, lihat ke atas."

Bisikan dingin terdengar tepat di telinga Su He.

Su He mendongak.

Di dahan pohon di atasnya, Ye Qing duduk santai sambil memegang sebilah rumput di mulutnya. Peti pedangnya terbuka sedikit.

"Kau..."

"Jangan bergerak," kata Ye Qing. "Atau kepalamu lepas."

ZIIING!

Seberkas sinar pedang tak kasat mata melesat.

Bukan memenggal kepala. Sinar pedang itu memotong urat tendon di kedua pergelangan tangan dan kaki seluruh sisa murid Klan Su dalam satu detik.

SPLAT! SPLAT! SPLAT!

Tujuh belas murid Klan Su jatuh serentak ke tanah, lumpuh total. Darah menyembur dari pergelangan tangan mereka.

Mereka tidak mati. Mereka sadar sepenuhnya. Mereka hanya tidak bisa bergerak.

Ye Qing melompat turun. Dia berjalan mendekati Su He yang terkapar, menatapnya dengan senyum iblis.

"Saudaraku suka suara tulang patah. Aku lebih suka suara teriakan putus asa."

Ye Qing menempelkan jarinya ke dahi Su He.

Ilusi Pedang Hati.

Dia menanamkan Niat Pedang ke dalam syaraf rasa sakit Su He, memperkuat rasa sakit fisiknya seratus kali lipat.

"AAAARGHHHH!!! BUNUH AKU!! KUMOHON BUNUH AKU!!" jerit Su He.

Cang Wu datang menyeret tiga korban pertamanya. Dia menatap Ye Qing.

"Tumpuk?" tanya Cang Wu.

"Ya, tumpuk," jawab Ye Qing. "Buat gunung yang tinggi agar terlihat di layar."

Mereka berdua mulai menyeret tubuh-tubuh murid Klan Su yang lumpuh dan meratap itu. Mereka menumpuknya satu per satu di tengah tanah lapang, membentuk piramida manusia yang hidup, berdarah, dan menjerit.

Di puncak tumpukan itu, Ye Qing menancapkan bendera Klan Su yang sudah robek dan berlumuran darah.

Lalu, Ye Qing menatap langsung ke arah "Mata Formasi" yang merekam kejadian itu. Dia tersenyum, lalu membuat gerakan menyayat leher.

Di Luar Arena - Tribun Penonton.

Keheningan yang mencekam melanda jutaan penonton.

Di layar raksasa, mereka melihat pemandangan horor itu. Sebuah gunung manusia yang terdiri dari murid-murid jenius Klan Su, semuanya cacat, Dantian hancur, dan meratap minta mati.

Tetua Klan Su di kursi VIP berdiri, wajahnya merah padam lalu berubah ungu.

Di tangannya, dia memegang papan Lampu Jiwa.

Lampu-lampu itu... Redup. Semuanya berkedip nyaris mati, tapi tidak ada satu pun yang padam.

Itu artinya murid-murid mereka sedang disiksa hidup-hidup.

"KEJAM! INI IBLIS!" raung Tetua Su. "Hentikan pertandingan! Mereka melanggar aturan!"

Wasit Turnamen (Seorang Tetua dari Sekte Pedang Langit) menggelengkan kepala.

"Aturan turnamen: Dilarang membunuh jika lawan sudah menyerah. Tapi lawanmu... belum menghancurkan token mereka (karena tangan mereka patah semua). Dan mereka belum mati. Tidak ada aturan yang dilanggar."

"KAU!!" Tetua Su muntah darah karena marah. Dia merasakan penghinaan yang belum pernah terjadi dalam sejarah ribuan tahun Klan Su.

Di sudut tribun, Su Ling menatap layar itu. Dia melihat sepupu-sepupunya yang dulu sombong kini menjadi onggokan daging.

Dia tidak merasa kasihan. Dia hanya merasakan dingin.

"Mereka menghancurkan keluargaku di Alam Bawah tanpa sisa," bisik Su Ling. "Sekarang mereka merasakan bagaimana rasanya dihancurkan."

Shen Yu memegang tangan Su Ling.

"Ini baru hidangan pembuka," kata Shen Yu.

Tiba-tiba, tekanan spiritual yang mahadahsyat turun dari langit. Awan-awan di atas ibukota berputar membentuk wajah raksasa seorang pria tua yang agung dan marah.

Leluhur Klan Su. Ranah: Transformasi Dewa (Soul Transformation).

"SIAPA YANG BERANI MENYENTUH KETURUNANKU?!"

Suara itu menggelegar seperti guntur, membuat kultivator Inti Emas di stadion berlutut dan muntah darah. Tekanan jiwa itu diarahkan langsung ke dalam hutan ilusi, berniat meremukkan Ye Qing dan Cang Wu dari jarak jauh.

Shen Yu mendongak. Matanya menyipit.

"Orang tua bangka itu ikut campur."

Shen Yu tidak bergerak, tapi di dalam Cincin Ruangnya, Mo Yuan (Naga Iblis) membuka matanya.

Namun, sebelum Shen Yu sempat bertindak, sebuah aura pedang yang tak kalah dahsyat memotong tekanan Leluhur Su itu.

ZIIING!

Langit terbelah. Seorang pria paruh baya dengan pedang di punggungnya muncul di udara.

Master Sekte Pedang Langit. Ranah: Transformasi Dewa Puncak.

"Leluhur Su," kata Master Sekte itu tenang namun tegas. "Ini adalah Turnamen Suci Kekaisaran. Jika kau ikut campur terhadap junior, kau menampar wajah Kekaisaran dan Sekte Pedang Langit."

Wajah raksasa di langit itu menggeram, tapi perlahan memudar.

"Bagus. Sangat bagus. Setelah anak-anak itu keluar dari hutan... Aku sendiri yang akan menguliti mereka."

Ancaman itu menggantung di udara.

Shen Yu tersenyum sinis.

"Menguliti mereka? Kau harus antre, Orang Tua."

Kembali ke Hutan Ilusi.

Ye Qing dan Cang Wu sudah meninggalkan tumpukan manusia itu. Mereka melanjutkan perburuan.

"Bos bilang jangan bunuh yang bermarga Su," kata Ye Qing sambil membersihkan darah di tangannya. "Tapi dia tidak bilang apa-apa soal Klan Wang atau sekte lain yang berafiliasi dengan Klan Su."

Cang Wu mengangguk. "Wang... patahkan juga?"

"Patahkan," setuju Ye Qing.

Hari itu menjadi hari tergelap dalam sejarah Turnamen. Hutan itu tidak lagi disebut Hutan Ilusi, melainkan Hutan Jeritan.

Siapapun yang memiliki hubungan dengan Klan Su diburu. Tidak ada yang dibunuh, tapi nasib mereka lebih buruk dari kematian. Mereka kehilangan masa depan kultivasi mereka.

Di akhir hari pertama, dari 50 murid Klan Su, 49 sudah menjadi tumpukan daging di "Gunung Manusia".

Hanya satu yang tersisa.

Su Yan (Nona Muda).

Dia bersembunyi di dalam gua, gemetar ketakutan, memeluk lututnya. Dia melihat pembantaian itu lewat jimat komunikasi. Dia melihat bagaimana Cang Wu mematahkan tulang sepupunya seperti mematahkan ranting kering.

"Monster... mereka monster..."

Dia tidak tahu bahwa monster yang sesungguhnya sedang berjalan santai menuju tempat persembunyiannya, dipandu oleh Mata Iblis Surgawi Su Ling yang bisa melihat menembus segala ilusi dari luar arena (lewat koneksi batin dengan Shen Yu yang memberitahu Ye Qing).

"Ketemu," suara Ye Qing terdengar dari luar gua.

"Nona Su Yan... mau main patah tulang?"

1
saniscara patriawuha.
gassdd manggg shennnn...
teguh andriyanto
🤣🤣🤣
Fatur Fatur
cepat bantai yama dengan cara paling kejam thor bantai keluarganya juga thor
Dzik Cam
baguss dangat bagus kekurangan nya hanya 1 bab perhari
Dzik Cam
hadehhh 1 bab sehari
10 bab sehari kek pelit bener
MyOne
Ⓜ️🤬😡🤬Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👿😈👿Ⓜ️
saniscara patriawuha.
tunjukannn kesadisanmuuuu....
MyOne
Ⓜ️🤨🤨🤨Ⓜ️
saniscara patriawuha.
runtuhhhhhkannnnnn....
saniscara patriawuha.
nahhhh lohhhh....
MyOne
Ⓜ️😎😎😎Ⓜ️
Mamat Stone
⚒️⚔️⚒️
Mamat Stone
😈😈😈
Mamat Stone
/Hammer/
Mamat Stone
⚒️
saniscara patriawuha.
gasssd pollllll...
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!