NovelToon NovelToon
Hello Tenggara

Hello Tenggara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Erna Lestari

Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

ACARA PAMERAN YANG PENUH KEBAHAGIAAN

Hari Minggu pagi, sinar matahari menyinari dengan hangat area pameran budaya Universitas Hasanuddin. Khatulistiwa datang bersama Safira dan Rina dengan hati yang penuh semangat – dahinya masih ada bekas perban tipis, namun kondisinya sudah jauh lebih baik. Ayahnya mengantar mereka dengan mobil keluarga, dan sebelum turun, dia memberikan nasihat dengan penuh cinta.

"Jangan terlalu lama berada di bawah terik matahari ya, sayang," ucap Ayah Arif. "Jika merasa lelah, segera cari tempat teduh atau hubungi ayah untuk menjemputmu."

"Baik Ayah, terima kasih," jawab Khatulistiwa dengan senyum. "Kita akan hati-hati kok."

Setelah ayahnya pergi, mereka berjalan menuju area pameran yang sudah ramai dengan pengunjung dari berbagai kalangan. Tenda-tenda berwarna-warni menghiasi halaman kampus, dan suara musik tradisional yang merdu terdengar dari arah panggung yang sudah disiapkan.

"Wah, betapa indahnya tempat ini!" teriak Safira dengan mata yang bersinar melihat berbagai booth yang menarik. "Ada banyak hal yang bisa kita lihat ya, Khatu".

Khatulistiwa mengangguk dengan senyum. Dia sedang mencari sosok Tenggara di antara kerumunan orang ketika tiba-tiba suara yang akrab terdengar dari belakangnya. "Khatulistiwa! Kamu sudah datang ya!"

Mereka menoleh dan melihat Tenggara yang mengenakan baju adat Sulawesi Selatan dengan kain sarung yang indah. Wajahnya penuh dengan senyum kebahagiaan ketika melihat mereka. "Halo Safira, Rina – senang bisa bertemu dengan kalian berdua juga."

"Kamu terlihat sangat keren dengan baju adat itu, Tenggara!" pujian Khatulistiwa dengan penuh kagum.

"Terima kasih ya," jawabnya dengan sedikit memerah. "Ini baju adat dari keluarga saya. Nenek saya bilang cocok untuk dikenakan di acara seperti ini."

Tenggara kemudian mengajak mereka berkeliling ke berbagai booth pameran. Yang pertama adalah booth tenun songket, di mana neneknya Hj. Fatimah sedang menunjukkan proses membuat songket kepada beberapa pengunjung. "Nenek, ini Khatulistiwa yang sering saya ceritakan, dan ini teman-temannya Safira serta Rina," perkenalkannya dengan bangga.

Nenek Fatimah memberikan senyum hangat dan mengulurkan tangannya untuk menyapa mereka. "Senang bertemu dengan kalian semua. Khatulistiwa, kabarmu sudah lebih baik ya? Semoga luka kamu cepat sembuh."

"Terima kasih banyak Bu Fatimah," jawab Khatulistiwa dengan rasa hormat. "Saya sangat kagum dengan keahlian nenek dalam membuat tenun songket. Benar-benar indah sekali hasil kerjanya."

Mereka melihat dengan penuh kagum ketika nenek Fatimah menggerakkan jari-jarinya dengan gesit di antara benang-benang yang terpasang pada alat tenun tradisional. Dia juga menjelaskan tentang makna pola-pola yang ada pada songket, seperti pola buraq yang melambangkan keberuntungan dan pola siger yang merupakan lambang kebesaran kerajaan Gowa.

Setelah itu, Tenggara mengajak mereka ke booth kerajinan tangan yang ditangani oleh Andi. Di sana mereka melihat berbagai macam ukiran kayu berbentuk topeng tradisional, anyaman bambu yang dibuat menjadi keranjang cantik, dan perhiasan dari batu akik lokal.

"Kita juga bisa mencoba membuat anyaman bambu sederhana lho," ucap Andi dengan antusias. "Saya akan mengajari kalian cara membuatnya."

Khatulistiwa dan teman-temannya dengan senang hati mencoba membuat anyaman bambu. Meskipun hasilnya tidak sempurna, mereka merasa sangat senang bisa mencoba sesuatu yang baru dan menarik.

Setelah berkeliling ke beberapa booth lain, mereka mendengar suara musik tradisional yang semakin merdu dari arah panggung. "Ayo kita pergi ke panggung saja," ajak Tenggara.

"Kelompok tari Gandrung Bulo akan segera tampil. Ini tarian tradisional dari Parepare yang sangat indah."

Mereka duduk di area penonton yang sudah disiapkan – Tenggara bahkan telah menyediakan tempat duduk khusus untuk Khatulistiwa agar dia tidak perlu berdiri terlalu lama. Saat tarian dimulai, semua orang terpukau dengan gerakan yang anggun dan kostum tradisional yang sangat cantik. Khatulistiwa merasa sangat terkesan dengan keindahan budaya yang ada di daerahnya sendiri, sesuatu yang belum pernah dia rasakan dengan begitu mendalam sebelumnya.

Setelah pertunjukan tari selesai, mereka pergi ke booth makanan khas yang ditangani oleh Siti. "Mari kita cicipi makanan tradisional kita ya," ajak Siti dengan senyum. "Saya sarankan kalian mencoba coto Makassar atau pallubasa – rasanya sangat lezat!"

Mereka duduk di meja yang sudah disiapkan dan menikmati hidangan yang lezat. Tenggara menceritakan tentang asal-usul setiap makanan yang mereka makan, seperti bagaimana coto Makassar dibuat dari bagian dalam sapi yang dimasak dengan bumbu khas yang sudah turun temurun.

"Saya tidak menyangka bahwa budaya kita memiliki begitu banyak hal yang menarik," ucap Khatulistiwa dengan penuh kagum. "Terima kasih sudah mengajak saya datang ke acara ini, Tenggara. Saya belajar banyak hal baru hari ini."

"Senang bisa membantu kamu mengenal budaya kita lebih baik," jawabnya dengan senyum. "Ini juga tujuan dari acara pameran ini – agar kita semua bisa bangga dengan warisan budaya yang kita miliki dan menjaganya agar tidak terlupakan."

Sebelum acara mulai memasuki babak akhir, Tenggara mengajak Khatulistiwa ke area taman kecil yang lebih sepi di belakang fakultas. "Khatulistiwa, saya punya sesuatu yang ingin saya berikan," katanya dengan sedikit ragu sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil dari kantongnya.

Dia membuka kotaknya dan menunjukkan sebuah kalung dengan liontin berbentuk siger yang dibuat dari perak. "Ini hadiah kecil dari saya dan nenek saya. Liontin siger melambangkan keberanian dan kebijaksanaan. Semoga bisa memberikan keberuntungan bagi kamu."

Khatulistiwa menerima kalungnya dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih banyak, Tenggara. Ini adalah hadiah yang paling indah yang pernah saya terima. Saya akan selalu mengenakannya."

Tenggara dengan hati-hati memasangkan kalung itu di leher Khatulistiwa. Ketika dia melihat kalung yang terpasang dengan cantik, dia merasa hatiinya penuh dengan kebahagiaan yang luar biasa.

"Sekarang, ayo kita kembali ke teman-teman saja ya," ucapnya dengan lembut. "Mereka pasti sudah menunggu kita untuk foto bersama sebagai kenang-kenangan dari acara hari ini."

Mereka kembali ke area pameran dan bergabung dengan teman-teman Tenggara serta beberapa pengunjung lainnya untuk berfoto bersama. Suasana penuh dengan tawa dan candaan yang hangat. Khatulistiwa merasa sangat bersyukur telah bisa datang ke acara ini – tidak hanya karena dia belajar banyak hal baru tentang budaya daerahnya, namun juga karena dia semakin merasa dekat dengan Tenggara dan teman-temannya yang baik hati.

Ketika malam mulai menjelang dan acara akan segera berakhir, Khatulistiwa menghubungi ayahnya untuk menjemputnya. Sebelum berpisah, Tenggara memberikan pesan padanya. "Khatulistiwa, jika kamu ingin belajar lebih banyak tentang budaya kita atau ingin membantu dalam acara-acara seperti ini di masa depan, jangan sungkan untuk menghubungi saya ya."

"Pasti saya akan hubungi kamu," jawabnya dengan senyum lebar. "Saya bahkan sudah tidak sabar untuk mengikuti kelas tenun songket yang akan dibuka oleh nenekmu minggu depan."

Setelah ayahnya datang menjemputnya, Khatulistiwa berpisah dengan Tenggara dan teman-temannya dengan hati yang penuh kebahagiaan. Di jalan pulang, dia terus melihat kalung yang dikenakannya dan tersenyum sendiri. Hari ini telah menjadi hari yang sangat berarti baginya – hari di mana dia semakin mencintai budaya daerahnya dan merasa bahwa dirinya telah menemukan tempat di mana dia benar-benar merasa nyaman dan diterima.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!