Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.
Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Bayangan Di Balik Hujan
Hujan deras mengguyur Kota Arcapura tanpa ampun, menciptakan tirai air yang menyamarkan pandangan di jalanan aspal yang licin. Elara Senja duduk terpaku di kursi penumpang depan, tangannya mencengkeram sabuk pengaman begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, sementara napasnya masih memburu seirama dengan detak jantung yang menggila. Di sampingnya, Pak Darto mengemudikan mobil sedan tua miliknya dengan fokus penuh, matanya menyipit menembus kegelapan malam yang hanya diterangi oleh lampu jalan temaram dan kilatan petir yang sesekali menyambar langit.
Mereka baru saja lolos dari gerbang belakang RSU Cakra Buana, meninggalkan bangunan kolonial yang menyimpan kengerian di lantai bawah tanahnya itu semakin jauh di belakang. Suara mesin mobil yang menderu kasar seolah menjadi satu-satunya penanda kehidupan di tengah keheningan mencekam yang menyelimuti kabin kendaraan tersebut. Elara menoleh ke belakang sekilas, memastikan tidak ada sorot lampu kendaraan lain yang mengikuti mereka, meski rasa paranoid itu tetap menancap kuat di benaknya.
"Kita mau ke mana, Pak? Mereka pasti akan mengejar kita sampai ke ujung dunia," tanya Elara dengan suara bergetar, matanya kembali menatap jalanan yang basah di depan.
Pak Darto tidak langsung menjawab, ia memutar kemudi dengan tajam untuk berbelok masuk ke sebuah gang sempit di distrik pinggiran kota yang kumuh. Pria paruh baya itu tampak tenang di luar, namun keringat dingin yang mengalir di pelipisnya mengkhianati ketegangan yang ia rasakan. Ia tahu betul siapa yang mereka hadapi; Dr. Arisandi bukan sekadar dokter kepala biasa, melainkan seseorang yang memegang kunci rahasia kelam antara dunia medis dan hal-hal yang tak kasat mata.
"Kita tidak bisa pulang ke rumahmu atau ke tempatku, itu lokasi pertama yang akan mereka datangi," jawab Pak Darto dengan nada berat namun tegas, matanya tetap waspada mengawasi setiap sudut jalan.
"Ada sebuah tempat di Kampung Wesi, bekas toko obat milik mendiang kakak saya yang sudah lama tutup," lanjutnya setelah jeda sejenak, "Lokasinya tersembunyi di antara pasar loak dan perumahan padat, sinyal di sana buruk, tapi itu justru menguntungkan kita agar tidak mudah dilacak."
Elara hanya mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang dingin, membiarkan getaran mobil merambat ke tubuhnya yang masih gemetar. Bayangan makhluk-makhluk di Kamar Jenazah Level 4 masih menghantui pelupuk matanya, sosok-sosok yang terikat antara hidup dan mati, hasil eksperimen keji yang dibalut dengan ritual mistis. Ia meraba saku jaketnya, memastikan benda kecil berbentuk persegi—sebuah flashdisk yang ia curi dari ruang kerja Dr. Arisandi—masih ada di sana dengan aman.
Sementara itu, di lantai teratas RSU Cakra Buana, Dr. Arisandi berdiri menghadap jendela besar yang menampilkan panorama kelabu Kota Arcapura. Tangannya bertaut di belakang punggung, wajahnya datar tanpa ekspresi meski sorot matanya memancarkan kemarahan yang dingin dan mematikan. Di belakangnya, dua orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam menunduk hormat, menunggu perintah dari sang tuan yang baru saja kehilangan buruannya.
"Mereka membawa data 'Proyek Lazarus', dan yang lebih buruk, gadis itu melihat 'Wadah' yang belum sempurna," ucap Dr. Arisandi pelan, namun suaranya menggema di ruangan luas itu dengan aura intimidasi yang kuat.
"Kerahkan unit pembersih, sisir seluruh kota, terutama daerah-daerah kumuh tempat tikus-tikus biasanya bersembunyi," perintahnya kemudian sambil membalikkan badan, menatap kedua bawahannya dengan tatapan tajam setajam pisau bedah. "Jangan libatkan polisi lokal, kita tidak butuh birokrasi, bawa mereka kembali hidup atau mati, tapi pastikan flashdisk itu kembali utuh."
Kembali ke jalanan Arcapura, mobil sedan Pak Darto mulai melambat saat memasuki kawasan Kampung Wesi yang padat dan semrawut. Lorong-lorong di sini begitu sempit hingga spion mobil nyaris menyenggol dinding-dinding rumah warga yang terbuat dari batako tanpa plester. Aroma amis dari pasar ikan yang tak jauh dari sana bercampur dengan bau sampah basah, menciptakan atmosfer yang menyesakkan namun entah mengapa terasa lebih aman dibandingkan aroma antiseptik rumah sakit.
Pak Darto mematikan mesin mobil di depan sebuah ruko tua berlantai dua dengan cat hijau lumut yang sudah mengelupas di sana-sini. Pintu rolling door besinya tampak berkarat, tertutup rapat seolah menyembunyikan rahasia masa lalu yang tak ingin diusik oleh siapa pun. Hujan masih turun rintik-rintik saat mereka turun dari mobil, suara cipratan air di genangan menjadi musik latar keputusasaan mereka malam itu.
"Ayo cepat masuk, jangan sampai ada yang melihat wajah kita terlalu jelas," bisik Pak Darto sambil merogoh saku celananya, mengeluarkan rangkaian kunci yang berdenting pelan.
Elara bergegas mengikuti langkah Pak Darto, menarik tudung jaketnya menutupi kepala untuk menghalau air hujan dan tatapan mata dari beberapa pemuda yang nongkrong di pos ronda tak jauh dari sana. Suara kunci yang berputar di gembok tua terdengar nyaring memecah keheningan malam, diikuti dengan derit pintu besi yang diangkat perlahan. Aroma debu dan rempah-rempah kering langsung menyeruak keluar menyambut kedatangan mereka, aroma khas toko obat tradisional yang sudah lama ditinggalkan.
Di dalam, ruangan itu gelap gulita, hanya diterangi oleh cahaya lampu jalan yang menerobos masuk melalui celah-celah ventilasi di atas pintu. Pak Darto menyalakan senter kecil, menyorot ke sekeliling ruangan yang dipenuhi rak-rak kayu kosong dan beberapa toples kaca berdebu. Ia mengarahkan Elara menuju tangga kayu di sudut ruangan yang menuju ke lantai dua, tempat yang akan menjadi tempat persembunyian sementara mereka.
"Di atas ada sofa dan sedikit perbekalan darurat yang selalu saya simpan, istirahatlah dulu, Elara," ujar Pak Darto sambil mengunci kembali pintu dari dalam, memastikan palang besi terpasang dengan kuat.
"Bagaimana saya bisa istirahat, Pak? Kita baru saja melihat mayat yang hidup kembali!" seru Elara dengan nada frustrasi yang tak bisa lagi ia bendung, suaranya memantul di dinding-dinding kosong ruko itu.
Pak Darto menghela napas panjang, ia berjalan mendekati Elara dan menepuk bahu gadis itu dengan lembut, mencoba menyalurkan sedikit ketenangan. Wajah pria tua itu tampak lelah, garis-garis keriput di wajahnya semakin tegas di bawah sorotan cahaya senter yang temaram. Ia tahu Elara benar, apa yang mereka saksikan malam ini telah meruntuhkan logika dan akal sehat siapa pun yang melihatnya.
"Justru karena itu kita harus tetap waras, Nak. Kalau kita panik, Arisandi menang," kata Pak Darto dengan tatapan mata yang dalam, "Sekarang, coba kau cek apa isi flashdisk itu, kita butuh senjata untuk melawan balik."
Elara menelan ludah, tangannya yang gemetar merogoh saku jaket dan mengeluarkan benda kecil berwarna hitam itu. Ia duduk di lantai kayu yang berdebu, membuka laptop tua milik Pak Darto yang sudah tersedia di sana, dan menancapkan flashdisk tersebut. Layar laptop berkedip sejenak sebelum menampilkan deretan folder dengan nama-nama sandi yang membingungkan, namun satu folder menarik perhatiannya: 'Subjek 001 - Perjanjian Tanah'.
Jantung Elara berdegup kencang saat ia mengklik folder tersebut, menampilkan sebuah video rekaman CCTV tertanggal sepuluh tahun yang lalu. Di layar yang bersemut itu, terlihat sosok Dr. Arisandi yang masih muda sedang melakukan ritual aneh di depan sebuah lubang besar di dasar basement RSU Cakra Buana. Bukan hanya medis, video itu merekam sebuah negosiasi dengan sesuatu yang berada di dalam lubang itu—sesuatu yang bukan manusia.
"Ya Tuhan... ini bukan sekadar malpraktik, Pak," bisik Elara dengan mata terbelalak ngeri, tangannya menutup mulut menahan mual.
"Mereka memberi makan 'tanah' itu dengan pasien-pasien buangan agar rumah sakit tetap berdiri kokoh dan sukses," sambungnya dengan suara tercekat, "Dr. Arisandi adalah perantaranya."
Di luar, guruh menggelegar dahsyat seolah merespons penemuan mengerikan itu, sementara di kejauhan, sirine mobil patroli swasta mulai terdengar sayup-sayup mendekat ke arah Kampung Wesi.