Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.
Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.
Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan Berbahaya
Tiga hari berlalu sejak latihan pertama. Tiga hari aku berlatih menembak setiap pagi. Tiga hari tubuhku terasa sakit di tempat-tempat yang tidak pernah kusadari ada. Tapi aku tidak berhenti.
Karena Damian benar. Aku merasakan sesuatu ketika menembak. Sesuatu yang membuat darahku mendidih dengan cara yang menyenangkan.
Hari ini berbeda. Damian tidak ada ketika aku bangun pagi. Hanya ada catatan kecil di nakas.
"Ada urusan, aku akan pulang malam. Jangan keluar mansion. D."
Singkat. Dingin. Seperti biasa.
Tapi ada sesuatu yang menggangguku. Sesuatu di tulisan tangannya yang terburu-buru. Seperti dia menulis dengan cepat sebelum pergi.
Aku menghabiskan hari dengan gelisah. Berlatih menembak sendirian dengan Marco yang mengawasi. Tapi pikiran terus melayang.
Kemana Damian pergi? Kenapa dia tidak bilang apapun? Apakah dia dalam bahaya?
Kenapa aku peduli?
Pertanyaan terakhir itu yang paling menggangguku. Kenapa aku peduli pada pria yang membunuh ayahku? Yang menyiksaku dengan pemandangan mengerikan? Yang mengubahku menjadi ini?
Tapi aku peduli. Entah kenapa. Entah bagaimana. Dan itu membuatku lebih takut dari apapun.
***
Malam datang, tapi Damian belum juga pulang. Aku duduk di kamar, menatap pintu. Menunggu. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Tidak ada kabar, tidak ada telepon, tidak ada apapun.
Dadaku sesak. Napas terasa berat. Ada yang salah. Pasti ada yang salah.
Pukul satu pagi, aku mendengar keributan di bawah. Suara teriakan. Langkah kaki berlarian. Aku melompat dari tempat tidur, berlari ke pintu lalu membukanya. Di koridor, para pengawal berlarian, wajah mereka terlihat begitu panik.
"Ada apa?!" teriakku pada salah satu dari mereka.
"Tuan Damian, dia terluka. Mereka membawanya ke ruang medis."
Ruang medis. Aku tidak berpikir. Hanya berlari menyusuri koridor. Menuruni tangga. Mengikuti suara-suara panik.
Ruang medis ada di lantai dua. Sebuah ruangan yang dilengkapi seperti rumah sakit kecil. Untuk keadaan darurat seperti ini. Ketika aku sampai di pintu, Marco menghalangi.
"Nyonya tidak boleh masuk," katanya. Tapi matanya terlihat sangat khawatir.
"Minggir!" kataku. Suaraku keluar lebih keras dari yang kukira.
"Tapi, Tuan bilang..."
"AKU BILANG MINGGIR!"
Marco tersentak, lalu perlahan melangkah ke samping. Aku mendorong pintu dan masuk. Dan aku melihatnya, Damian terbaring di meja bedah. Baju sudah dilepas, tubuhnya penuh darah, luka tembak di bahu kiri, luka tusuk di perut, dan luka sayatan di bagian dada.
Dokter pribadi yang biasa menangani luka-luka Damian sedang bekerja cepat. Membersihkan luka. Menjahit. Menghentikan pendarahan.
Wajah Damian pucat. Mata tertutup. Napas lemah. Aku belum pernah melihatnya seperti ini. Rentan. Hampir mati. Dan itu menakutiku lebih dari apapun yang pernah kualami.
"Damian," bisikku sambil berjalan mendekat.
Matanya terbuka sedikit. Menatapku. Mencoba tersenyum tapi lebih seperti meringis kesakitan.
"K-kau tidak seharusnya melihat aku seperti ini," suaranya serak. Lemah.
"Diam," kataku sambil meraih tangannya. Tangannya dingin. Sangat dingin. "Jangan bicara."
Dokter terus bekerja. Jarum menusuk kulit. Benang menarik. Darah mengalir.
"Berapa banyak darah yang hilang?" tanyaku pada dokter.
"Banyak, Nyonya," jawabnya tanpa berhenti bekerja. "Tapi masih bisa ditangani. Untung tidak mengenai organ vital."
Untung.
Kata yang sangat relatif. Aku memegang tangan Damian erat. Mencoba memberikan kehangatan pada tangan dinginnya.
"Siapa yang melakukan ini semua?" tanyaku pelan.
"Bratva," jawab Damian. Mata masih tertutup. "Sindikat Rusia, mereka ingin wilayah timur. Tapi aku menolak, dan mereka tidak senang."
Dia batuk. Darah keluar dari sudut bibirnya.
Dokter menyeka darah itu. "Jangan bicara, Tuan. Simpan tenagamu."
Tapi Damian tidak peduli, dia membuka matanya lalu menatapku.
"Aku membunuh tujuh orang malam ini," katanya. "Tapi mereka punya dua puluh. Terlalu banyak. Bahkan untukku."
"Lalu bagaimana kau bisa kabur?"
"Marco," jawabnya. "Dia dan yang lain datang tepat waktu. Tapi tidak sebelum aku dapat ini."
Dia meringis lagi ketika dokter mulai mengeluarkan peluru dari bahunya. Aku merasakan air mata menggenang di pelupuk mataku. Tapi aku menahannya. Tidak mau menangis di depannya.
"Bodoh," bisikku. "Kau bodoh, dengan pergi sendirian."
Damian tersenyum. Senyum tipis tapi nyata.
"Aku tidak sendirian," katanya. "Aku punya Marco dan sepuluh orang lain. Tapi tetap kalah jumlah."
"Kenapa kau tidak bilang padaku? Kenapa kau tidak..."
"Karena aku tidak mau kau khawatir," potongnya. Tangannya menggenggam tanganku lebih erat. "Karena aku tidak mau kau melihat aku lemah."
Lemah.
Dia pikir ini lemah. Dia yang baru membunuh tujuh orang sambil tertembak dan tertusuk.
"Kau tidak lemah," kataku. "Kau hanya manusia."
Damian tertawa, tawa yang berubah jadi batuk darah lagi.
"Manusia," ulangnya. "Sudah lama aku tidak merasa seperti manusia."
Dokter selesai dengan luka tembak. Mulai menjahit luka tusuk di perut.
"Ini akan sakit, Tuan," katanya.
"Lakukan saja," jawab Damian.
Jarum menusuk. Benang menarik. Damian mengerang. Tangannya mencengkeram tanganku sampai sakit.
Tapi aku tidak protes. Hanya terus memegang tangannya. Memberikan sesuatu untuk dia cengkeram. Proses itu berlangsung dua jam. Dua jam yang terasa seperti selamanya.
Ketika dokter akhirnya selesai, Damian tertutup perban di mana-mana. Putih bersih yang kontras dengan kulit yang masih bernoda darah.
"Dia butuh istirahat," kata dokter padaku. "Minimal satu minggu tanpa aktivitas berat. Dan ganti perban dua kali sehari."
Aku mengangguk. "Aku yang akan merawatnya."
Dokter menatapku sebentar. Lalu mengangguk. "Baik, Nyonya. Saya sudah siapkan semua keperluan di kamar Tuan."
***
Kami memindahkan Damian ke kamarnya. Atau kamar kami sekarang. Karena aku sudah tidak tidur terpisah dengannya lagi sejak malam dia mengakui perasaannya.
Damian terbaring di tempat tidur dengan wajah yang masih pucat. Tapi napasnya sudah lebih teratur. Lebih kuat.
Aku duduk di tepi tempat tidur. Menatapnya. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar melihatnya. Tidak sebagai monster. Tidak sebagai pembunuh.
Tapi sebagai pria yang terluka. Yang rapuh. Yang hampir mati. Pria yang mencintaiku dengan cara yang rusak.
Pria yang aku... apa?
Cinta? Mungkinkah aku mencintainya?
Pria yang membunuh ayahku, menyiksaku, bahkan dia mengubahku. Tapi juga pria yang melindungiku. Yang melatihku. Yang memelukku di malam hari ketika mimpi buruk datang.
Tanganku bergerak sendiri. Menyentuh wajahnya. Mengusap rambutnya yang basah oleh keringat, matanya terbuka sedikit.
"Kau masih di sini," bisiknya.
"Kemana lagi aku harus pergi?" jawabku.
Dia tersenyum. "Aku pikir kau akan senang melihatku hampir mati."
"Jangan bicara begitu," kataku. Suaraku bergetar. "Jangan pernah bicara begitu."
"Kenapa?" tanyanya. Matanya menatapku dengan tatapan yang intens walau lemah. "Kenapa kau peduli kalau aku mati atau hidup?"
Kenapa?
Pertanyaan yang tidak bisa kujawab. Karena aku sendiri tidak tahu.
"Karena..." suaraku tertahan. "Karena aku tidak tahu apa yang akan kulakukan kalau kau mati."
Air mata akhirnya jatuh. Mengalir di pipiku.
"Aku seharusnya membencimu," bisikku. "Aku seharusnya senang kau terluka. Tapi aku tidak bisa. Aku..."
Tangan Damian terangkat, lalu mengusap air mataku.
"Aku tahu," bisiknya. "Aku tahu, sayang."
Dia menarikku lebih dekat. Dan aku membiarkan diri berbaring di sampingnya. Hati-hati supaya tidak menyakiti lukanya.
Tangannya memelukku. Lemah tapi hangat.
"Aku sudah mencintaimu sejak lima tahun lalu," bisiknya tiba-tiba. Suaranya mulai mengantuk. Efek obat penghilang rasa sakit.
"Apa yang kau katakan?" bisikku.
"Lima tahun lalu," ulangnya. Matanya mulai tertutup. "Bahkan sebelum kau tahu aku ada."
"Ba-bagaimana mungkin."
"Perpustakaan kota," katanya. Suaranya makin pelan. "Kau duduk di sudut. Membaca buku tebal. Rambutmu diikat kuncir kuda. Kau pakai dress kuning."
Perpustakaan kota. Lima tahun lalu. Aku berusia delapan belas tahun. Aku ingat. Aku sering ke perpustakaan waktu itu, tempat favoritku.
"Aku sedang mengawasi ayahmu," lanjut Damian. Napasnya mulai teratur. Mengantuk. "Tapi yang kulakukan malah menatapmu. Selama tiga jam kau duduk di sana. Hanya membaca. Sesekali tersenyum pada halaman buku."
Tangannya mengeratkan pelukan.
"Dan aku jatuh cinta," bisiknya. "Pada gadis yang tersenyum pada buku. Pada gadis yang tidak tahu dunia segelap apa di luar perpustakaan itu."
Air mata mengalir lebih deras di pipiku.
"Aku mencoba melawan," katanya. Suaranya hampir tidak terdengar sekarang. "Mencoba membenci. Tapi tidak bisa. Jadi aku membuat rencana. Rencana untuk memilikimu. Apapun caranya."
Matanya tertutup sepenuhnya.
"Bahkan kalau caranya membunuh ayahmu di depan matamu," bisiknya. "Maafkan aku."
Lalu dia tertidur, meninggalkanku terjaga dengan air mata yang mengalir dan jantung yang hancur berkeping-keping.
Lima tahun, dia mengawasiku selama lima tahun. Merencanakan semua ini selama lima tahun. Jatuh cinta padaku selama lima tahun, sambil merencanakan pembunuhan ayahku.
Bagaimana seseorang bisa mencintai dan membenci pada waktu bersamaan seperti itu?
Bagaimana seseorang bisa merencanakan pernikahan dan pembunuhan bersamaan?
Dan pertanyaan yang paling menakutkan.
Bagaimana aku bisa jatuh cinta pada seseorang yang begitu rusak? Karena aku jatuh cinta, aku sudah tidak bisa menyangkalnya lagi.
Aku mencintai Damian Alexandro Vincenzo. Pembunuh ayahku, penyiksa jiwaku, dan penghancur hidupku. Dan aku membenci diriku sendiri karenanya.
Aku memeluknya lebih erat. Menenggelamkan wajahku di dadanya yang berperban. Menangis dalam diam.
Menangis untuk ayah yang mati. Untuk ibu Damian yang dibunuh. Untuk bayi yang tidak sempat lahir. Untuk anak berusia delapan tahun yang harus menyaksikan ibunya mati. Untuk gadis berusia delapan belas tahun di perpustakaan yang tidak tahu monster sedang jatuh cinta padanya.
Dan menangis untuk diriku sekarang. Yang sudah terlalu jauh terjebak dalam kegelapan untuk kembali. Tapi yang paling menyakitkan, aku tidak yakin aku masih ingin kembali.
Apakah dia benar-benar mengawasiku selama lima tahun? Apakah dia pernah datang ke perpustakaan itu lagi?
Dan pertanyaan yang paling menakutkan, jika dia sudah merencanakan semua ini sejak lima tahun lalu, apa lagi yang sudah dia rencanakan?
Apa lagi yang dia sembunyikan? Dan seberapa dalam lagi aku harus terjatuh, sebelum benar-benar tidak bisa kembali?