NovelToon NovelToon
Cahaya Abadi Shatila

Cahaya Abadi Shatila

Status: tamat
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Cinta setelah menikah / Romansa / Tamat
Popularitas:372
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
​"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
​Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Langkah yang Patah

Suasana di area pemakaman yang baru saja mereda dari aksi kekerasan kini berubah menjadi medan pertempuran batin yang jauh lebih menyesakkan. Kehadiran Kiai Abdullah di sana seolah membawa beban ribuan ton yang menekan pundak siapa saja yang berada di tempat itu. Angin pagi bertiup kencang, menerbangkan kelopak bunga kamboja yang jatuh di atas tanah merah yang masih basah.

Hannan berdiri mematung. Luka memar di sudut bibirnya akibat pukulan preman tadi masih berdenyut, namun rasa perih itu tak sebanding dengan tatapan tajam sang ayah yang seolah menguliti harga dirinya.

"Abah..." suara Hannan tercekat di tenggorokan.

Kiai Abdullah melangkah maju. Sepatu pantofelnya yang bersih kini ternoda tanah makam, namun ia tak peduli.

"Sudah puas kamu mempermalukan nama pesantren, Hannan? Kamu melarikan diri dari Amerika, mengabaikan pendidikanmu, dan sekarang kamu menyeret Ummi serta adikmu ke tengah bahaya demi wanita ini?"

Amara yang berdiri di belakang Hannan merasa dunianya seakan berputar. Ia menatap wajah Kiai Abdullah—wajah yang begitu mirip dengan Hannan, namun penuh dengan garis ketegasan yang tak tertawar. Ia melihat bagaimana Ummi Salamah tertunduk diam, dan bagaimana Aisyah menggigil ketakutan.

Amara menyadari satu hal yang sangat menyakitkan: kehadirannya adalah racun bagi keluarga ini. Sejak ia muncul di kehidupan Hannan, pria yang sangat ia cintai itu kehilangan segalanya. Kehilangan restu, kehilangan masa depan di Amerika, kehilangan martabat di depan keluarganya, dan kini hampir kehilangan nyawa karena serangan preman tadi.

"Abah, ini bukan salah Amara," bela Hannan dengan nada rendah namun teguh. "Hannan yang memutuskan untuk menjaganya. Hannan yang memilih untuk menikahinya karena Allah."

"Menikah karena Allah?!" bentak Kiai Abdullah. Suaranya menggelegar di tengah kesunyian makam. "Jangan bawa-bawa nama Allah untuk menutupi nafsumu, Hannan! Kamu tahu aturan pesantren. Kamu tahu harapan ribuan santri di pundakmu. Sekarang lihat! Kamu kotor, terluka, dan menjadi incaran kriminal. Apakah ini yang kamu sebut jalan Allah?"

Kiai Abdullah kemudian menunjuk ke arah Amara dengan jari yang bergetar karena amarah. "Wanita ini... dia hanya akan membawa kehancuran bagimu. Jika kamu masih ingin menjadi anakku, jika kamu masih ingin menginjakkan kaki di pesantren, tinggalkan dia sekarang juga. Biarkan dia mengurus masalahnya sendiri!"

"Abah!" Ummi Salamah mencoba memprotes, namun Kiai Abdullah mengangkat tangannya, memberi isyarat agar istrinya diam.

Amara merasa jantungnya seperti diremas. Ia menatap Hannan yang masih berdiri kokoh di depannya. Ia tahu Hannan tidak akan pernah meninggalkannya. Ia tahu Hannan akan memilih untuk diusir daripada melepas tangannya. Dan justru itulah yang membuat Amara merasa menjadi wanita paling egois di dunia.

Aku mencintainya, batin Amara pilu. Dan karena aku mencintainya, aku tidak boleh menghancurkan hidupnya lebih jauh lagi.

Amara perlahan melepaskan pegangan tangannya pada lengan jaket Hannan. Hannan menoleh dengan tatapan bingung sekaligus cemas. "Amara?"

Amara memaksakan sebuah senyum tipis yang hancur. Ia menatap Hannan untuk terakhir kalinya, merekam setiap lekuk wajah pria yang telah memberinya cahaya di tengah kegelapan itu ke dalam ingatannya.

"Mas Hannan..." suara Amara tenang, namun di balik ketenangan itu ada badai yang sedang mengamuk.

"Abah benar. Aku hanya membawa kesulitan untukmu. Selama ini aku hanya lari dan bersembunyi di balik punggungmu. Aku membuatmu kehilangan orang tuamu, pesantrenmu, dan masa depanmu."

"Apa yang kamu bicarakan, Amara? Jangan dengarkan itu," ujar Hannan panik. Ia mencoba meraih tangan Amara kembali, namun Amara mundur selangkah.

"Maafkan aku, Mas. Terima kasih sudah mengantarkan Bunda ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Terima kasih sudah mengenalkanku pada Tuhanmu. Tapi... aku tidak bisa membiarkanmu hancur karenaku."

Amara berpaling ke arah Kiai Abdullah. Ia menunduk dalam, memberikan penghormatan terakhirnya. "Kiai... Anda tidak perlu khawatir. Saya akan pergi. Tolong, jangan benci putra Anda. Dia adalah orang paling mulia yang pernah saya temui. Dia melakukan semua ini hanya karena dia memiliki hati yang terlalu baik."

"Amara! Berhenti!" teriak Hannan.

Namun Amara sudah berlari. Ia berlari menembus deretan nisan, mengabaikan rasa perih di kakinya dan sesak di dadanya. Ia menuju ke arah jalan raya, di mana sebuah taksi kebetulan baru saja menurunkan penumpang lain di gerbang pemakaman.

"Amara!"

Hannan hendak mengejar, namun Kiai Abdullah menahan lengannya dengan sangat kuat.

"Biarkan dia pergi, Hannan! Jika kamu mengejarnya, maka detik ini juga aku haramkan namamu disebut di pesantrenku!" ancam Kiai Abdullah dengan nada yang tidak main-main.

Hannan tertegun. Ia melihat taksi yang dinaiki Amara mulai bergerak menjauh. Ia terjepit di antara dua cinta yang paling besar dalam hidupnya: bakti kepada ayahnya dan tanggung jawab kepada istrinya.

"Amaraaaaa!" raungan Hannan memecah pagi yang sunyi itu. Ia jatuh berlutut di atas tanah, memukul tanah makam dengan kepalan tangannya yang gemetar.

Di dalam taksi yang melaju menjauh, Amara menangis tersedu-sedu sambil menutup mulutnya agar supir taksi tidak mendengar. Ia mematikan ponselnya, mengeluarkan kartu SIM-nya, lalu membuangnya ke luar jendela. Ia tidak tahu ke mana ia harus pergi. Ia tidak punya siapa-siapa lagi di Jakarta. Rumahnya sudah disita, bundanya sudah tiada, dan kini ia melepaskan satu-satunya sumber kekuatannya.

"Pak, ke arah stasiun... ke mana saja," ucap Amara dengan suara yang hampir habis.

Amara memutuskan untuk hilang. Ia akan menjadi bayangan lagi, demi memastikan Hannan kembali menjadi matahari bagi ribuan santrinya. Ia tidak tahu bahwa di balik keputusannya itu, takdir sedang menyiapkan ujian yang jauh lebih berat bagi mereka berdua, karena cinta yang dipisahkan oleh pengorbanan adalah cinta yang paling sulit untuk dipadamkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!